"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Bu Hartawan sontak berdiri. "Apa maksud Anda--"
"Saya kenal Teresa sejak dia SMP." Tatapan perempuan itu lurus ke arah Violet. "Ini bukan Teresa Hartawan. Ini anak pungutnya."
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tapi efeknya langsung terasa.
Violet tidak bergerak.
Ia bisa merasakan ratusan mata beralih ke arahnya. Panas di wajahnya bukan dari lampu.
Di sampingnya, Adriel akhirnya menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak akad, mata mereka bertemu tanpa jeda.
Ekspresi laki-laki itu tidak berubah sama sekali.
Lalu semuanya pecah.
Suara Bu Hartawan meninggi. Ia tidak terima. "kalau ngomong dipikir- pikir dulu buk! ibu mengenalnya dari SMP sedangkan saya ibunya dari dia sejak kandungan, kok jadi ibu yang sok tau kalau ini bukan putri saya?! " Suaranya ngegas, di penuhi amarah.
Wanita tua berkacamata itu tetap terlihat santai. "Berarti kau tidak mengenali putri mu sendiri dengan baik. "
Bu Hartawan semakin meradang. "Jangan asal ngomong! Kalau begitu mana buktinya kalau ucapan anda itu benar?! "
"Buka saja tudungnya. "
Lantas dengan wajah mengeras, bu Hartawan meminta agar tudung yang menutupi wajah pengantin wanita dibuka.
Dan....
Alangkah terkejutnya mereka semua, karena ucapan wanita tua itu bukan bualan biasa. Bukan karangan, karena wajah violet lah yang terpampang nyata dengan raut terkejut dan ketakutan.
Jenderal Hartawan sontak berdiri dengan wajah tegang. Bisikan tamu meledak di mana-mana. Bahkan ada yang tertawa kecil, suara yang rasanya tidak seharusnya ada di situ.
Lantas dari belakang, langkah Bu Hartawan terdengar cepat mendekat.
Violet sempat ingin berdiri. Ingin bicara. Hendak menjelaskan. meski ia sendiri tidak tahu apa yang bisa dijelaskan.
Tapi sudah terlambat.
Plakkk!
Tamparan itu mendarat di pipi kirinya.
Keras.
Bunyinya terdengar jelas di ruangan yang tiba-tiba sunyi tersebut.
Violet tidak jatuh. Kepalanya hanya terdorong ke samping. Rasa panas langsung menjalar ke pelipisnya tajam dan terasa sangat nyata.
Matanya tidak berkaca.
Ia tetap menatap ke depan. Lalu menunduk dengan nafas yang terengah, menatap kosong ke arah lantai
"Dasar anak tidak tahu diri! Kau mempermalukan keluarga ini." Suara Bu Hartawan bergetar. "Dua puluh dua tahun kami memberimu tempat tinggal, makanan dan ini balasannya? Kepada keluarga yang sudah membesarkanmu?"
Membesarkanmu.
Kata itu terasa lebih menyakitkan dari tamparan tadi.
Violet tetap diam.
Di sekelilingnya, orang-orang menatap dengan berbagai ekspresi kaget, kasihan, bahkan… ada yang seperti menikmati seolah mereka sedang menonton sebuah drama.
Ia tidak tahu mana yang lebih berat.
Lalu terdengar langkah dari arah sampingnya.
Pelan dan eratur. Seolah lngkah orang yang tidak pernah terburu-buru karena tahu ruangan manapun akan menunggu ketika ia bergerak.
Adriel berdiri di antara Violet dan Bu Hartawan.
Punggungnya lurus. Bahunya tidak turun. Dan wajahnya ketika menatap Bu Hartawan adalah wajah yang sama seperti ketika menahan pergelangan tangan pengusaha tua di pesta Wiranto, tidak marah yang meledak-ledak, hanya dingin yang jauh lebih berbahaya dari itu.
Suaranya keluar rendah dan sangat terkontrol.
"Dia istriku." Matanya tidak bergeser dari Bu Hartawan sedetik pun. "Siapapun yang menyentuhnya lagi akan berhadapan denganku."
Lalu, ruangan itu sunyi seperti semua orang di dalamnya menahan napas pada waktu yang sama.
Bu Hartawan yang bahkan tidak pernah mundur dari siapapun berdiri mematung dengan tangan yang masih sedikit gemetar di udara, menatap laki-laki di depannya, dan untuk pertama kalinya malam itu ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Di belakang Adriel, Violet berdiri dengan pipi yang masih berdenyut.
Ia menatap punggung laki-laki itu.
Dua bulan lalu, nama itu membuat Teresa menangis di kamarnya.
Sekarang…
ia berdiri di depan Violet.
Di antara dirinya dan seluruh ruangan yang sedang menghakiminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Naik."
Satu kata yang terdengar begitu datar. Seperti perintah yang tidak bisa ditolak.
Violet menatap mobil hitam besar di depan gedung, lalu menatap Adriel yang sudah berdiri di samping pintu. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan apa-apa. Di belakang mereka, suasana pesta masih berantakan. Suara Bu Hartawan yang menangis masih terdengar. Bisikan tamu-tamu bercampur jadi satu. Dan Jenderal Hartawan berbicara dengan nada rendah pada seseorang yang tidak sempat Violet lihat.
Namun tidak ada suara Teresa sama sekali.
Violet menarik napas singkat, lalu masuk ke dalam mobil.
Adriel masuk dari sisi lain. Lalu pintu tertutup. Supir langsung menjalankan mobil tanpa menunggu perintah, seolah sudah tahu tujuan mereka.
Violet memandang keluar jendela. Gedung itu makin jauh, mengecil di kaca spion, lalu hilang di tikungan.
Di sampingnya, Adriel diam.
Violet juga.
Mereka duduk berjarak tidak sampai satu meter, tapi terasa seperti terpisah jauh. Sepanjang perjalanan, Violet hanya menatap jalanan kota yang masih ramai sambil mengatur napasnya pelan-pelan.
Pipinya masih terasa panas, tapi ia tidak menyentuhnya.
***
Mereka sampai di sebuah pelataran rumah.
Kediaman megah itu berada di ujung kawasan perumahan elite. Pohon-pohon tinggi berjajar rapat, membuat suasana terasa lebih teduh, hampir seperti sore meski matahari belum benar-benar turun.
Pagar besi hitam terbuka otomatis saat mobil masuk. Halamannya luas, rumputnya rapi, dan lampu taman belum menyala berjejer.
Bangunannya dua lantai. Warna putih gading, jendela besar di beberapa sisi. Tidak banyak hiasan. Tidak ada sesuatu yang mencolok. Tapi justru itu yang membuatnya terlihat mahal dengan caranya sendiri. Berbeda dengan rumah Hartawan yang penuh ornamen.
Seorang perempuan setengah baya sudah berdiri di depan pintu utama. Sikapnya rapi, tangan di depan, wajahnya tenang seperti sudah terbiasa menunggu tanpa menunjukkan rasa lelah.
Adriel turun lebih dulu. Violet menyusul, dengan masih memegang buket bunga yang mulai layu tanpa tahu harus diapakan.
"Nyonya." Perempuan itu sedikit membungkuk. "Nama saya Matilda. Saya yang mengurus rumah ini. Kamar anda sudah disiapkan."
Violet sempat ingin menoleh ke belakang, memastikan sapaan itu memang untuknya.
Tidak ada orang lain.
Violet hampir membalikkan badan untuk melihat apakah ada orang lain di belakangnya yang sedang disapa. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana selain mobil yang sudah masuk ke garasi.
Nyonya?
Kata itu terasa asing di telinganya dengan cara yang sulit dijelaskan.
"Terima kasih," kata Violet pelan.
Matilda mengangguk lalu masuk lebih dulu. Violet mengikuti. Adriel berjalan di sampingnya, menjaga jarak, seperti dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Bagian dalam rumah itu lebih luas dari yang terlihat dari luar. Ruang tamunya besar, furniturnya didominasi warna gelap. Rak buku penuh, tapi tidak ada foto. Tidak ada benda kecil yang terasa personal. Semuanya rapi, tapi entah kenapa terasa dingin.
Seperti rumah yang tidak pernah ditinggali oleh pemiliknya selama bertahun-tahun.
Matilda lalu membawa mereka ke lantai dua.
"Kamar Tuan di ujung kanan." Ia menunjuk salah satu pintu. "Dan ini kamar Nyonya."
Violet menatap pintu di depannya.
Saat ia menoleh, Adriel sudah melenggang pergi. Tidak berhenti, tidak bicara, langsung masuk ke kamarnya sendiri di ujung lorong. Pintu tertutup tanpa suara keras, tapi cukup jelas bahwa hari ini selesai.
Matilda menatap Violet. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Tidak." Violet memegang gagang pintu. "Terima kasih, Matilda."
Tapi dalam hati dadanya terasa sesak, memikirkan bagaimana ia harus menghadapi kehidupan bersama laki-laki sedingin kutub ini?
Sedangkan disisi lain, tanpa violet tahu. Teresa melihat semua kejadian yang ada di gedung pernikahan yang seharusnya menjadi miliknya dengan tertawa geli.
Pembawa berita merekam kejadian dan menyiarkannya lebih cepat dari yang dia duga.
Seringai muncul di wajahnya yang tampak berbeda.
"Dasar kakak angkat bodoh, mau saja di kibuli. Sekarang nikmati kehidupan mu bersama laki-laki kejam dan breng*sek itu. Terimakasih karena memberikan ku kehidupan yang bebas.
Lalu tawanya menggema di ruangan club VVIP yang ekslusif itu.
*****
BERSAMBUNG