Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan dari Maudy
Suasana canggung di dalam kamar itu masih menyisakan debar jantung yang tak beraturan. Dita berdiri mematung di sisi ranjang, sementara Arjuna berdehem berkali-kali sambil membetulkan letak bantalnya, mencoba menutupi rasa salah tingkah yang menyerangnya secara tiba-tiba.
Namun, di balik pintu kayu yang tertutup rapat, sebuah rencana kecil sedang dilancarkan. Siena berdiri di sudut lorong, matanya berbinar penuh persekongkolan. Ia menoleh ke arah Maudy yang sudah bersiap dengan sebuah nampan kecil berisi segelas air putih dan beberapa butir obat.
Siena memberikan isyarat dengan mengacungkan kedua jempolnya ke arah Maudy, lalu ia segera berjongkok, bersembunyi di balik pot bunga besar dekat pintu kamar agar bisa mengintip apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ceklek!
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Maudy melangkah masuk dengan wajah yang dibuat-buat cemas.
"Mas Juna! Ini obatnya harus segera diminum supaya lukanya tidak infeksi," seru Maudy dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, seolah-olah sedang menjalankan misi penyelamatan nyawa.
Dita tersentak dan langsung menjauh dari ranjang, sementara Arjuna mengerutkan kening, tampak terganggu dengan penyelaan yang tiba-tiba itu.
"Maudy? Kan bisa ketuk pintu dulu," tegur Arjuna dengan suara baritonnya yang rendah.
Maudy seolah tidak mendengar teguran itu. Ia berjalan mendekat, sengaja menyelip di antara Arjuna dan Dita, hingga Dita terpaksa mundur selangkah lagi.
"Aduh, maaf Mas, aku tadi terlalu khawatir. Lagipula, Dita kan masih kecil, takutnya dia salah kasih dosis atau malah lupa jadwal minum obatmu. Sini, biar aku saja yang urus."
Maudy meletakkan nampan di nakas dan dengan berani menyentuh lengan Arjuna yang tidak terluka. "Ayo, Mas, minum dulu. Aku sudah siapkan air hangatnya juga."
Dita hanya bisa terdiam di pojok ruangan, meremas jemarinya sendiri. Ada rasa sesak yang aneh saat melihat Maudy begitu luwes menyentuh suaminya. Ia ingin membela diri, mengatakan bahwa ia baru saja akan mengambilkan obat, namun lidahnya terasa kelu.
Di luar pintu, Siena menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa kemenangan melihat "Nenek Sihir" itu tersingkir dari sisi ayahnya.
Arjuna menghela napas panjang, ia menepis halus tangan Maudy. "Terima kasih, Maudy. Tapi Dita sudah tahu apa yang harus dilakukan. Letakkan saja obatnya di situ, nanti aku minum."
Wajah Maudy sedikit berubah mendung, namun ia tidak menyerah. Ia melirik Dita dengan tatapan sinis. "Mas, jangan dipaksakan kalau Dita memang belum terbiasa mengurus orang sakit. Nanti kalau Mas Juna malah tambah parah bagaimana? Biar aku di sini saja menemani Mas sampai obatnya habis."
Arjuna menatap Dita yang tertunduk, lalu kembali menatap Maudy dengan tegas. "Maudy, ini kamar pribadiku dan istriku. Sebaiknya kau keluar sekarang. Dita sudah cukup cakap mengurusku."
Mendengar kata "istriku" disebut dengan penekanan yang jelas, Maudy menggigit bibir bawahnya, menahan rasa malu dan kesal yang luar biasa. Ia pun terpaksa berbalik arah, melangkah keluar dengan hentakan kaki yang kesal.
Saat pintu tertutup, Siena yang bersembunyi langsung menarik tangan Maudy menjauh. "Tante, kenapa cepat sekali keluar?!" bisiknya kesal.
Maudy hanya mendengus, "Sabar, Siena. Kita cari cara lain. Nenek sihir itu tidak akan menang semudah itu."
Sementara di dalam kamar, suasana kembali sunyi. Arjuna menatap Dita yang masih terdiam.
"Dit... jangan dengarkan dia. Sini, bantu aku minum obatnya."
*
*
Di luar kamar, Maudy berdiri mematung sejenak, namun perlahan bibirnya tertarik membentuk seringai yang sangat licik. Tangan kanannya meraba saku pakaian, menggenggam ponselnya yang berisi sebuah "bom" waktu. Sebuah foto yang memperlihatkan Dita dan Angga berpelukan erat di jalan setapak taman belakang sekolah, sebuah bukti yang bisa menghancurkan reputasi Dita dalam sekejap mata.
'Nikmatilah kemesraan palsu ini selagi bisa, Dita," bisik Maudy penuh kebencian. "Sekali Mas Juna melihat ini, kau akan didepak keluar dari rumah ini tanpa ampun.' batinnya sambil tertawa dalam hati, berharap rencananya akan berjalan mulus
Dita berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman setelah gangguan dari Maudy tadi. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar "anak bawang" yang tidak bisa diandalkan. Dengan gerakan perlahan, ia meraih botol obat dan menuangkan air ke dalam gelas.
"Biar aku bantu, Pak," ucap Dita lembut.
Arjuna menatap tangan kanannya yang masih terbalut perban tebal dan terasa kaku. Ia kemudian menatap Dita, lalu dengan santai membuka mulutnya sedikit, memberi isyarat agar Dita menyuapinya.
Deg!
Dita tertegun. Jantungnya berdebar kencang. "E... eh... Bapak mau disuapi?"
"Tanganku masih mati rasa, Dit. Tidak mungkin aku memegang butiran kecil itu," jawab Arjuna dengan nada tenang, namun matanya menatap Dita tanpa berkedip.
Dita menelan ludah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil butiran obat tersebut. Ia mendekat, perlahan mengarahkan tangannya ke mulut Arjuna. Saat obat itu masuk, ujung jari jemari Dita tanpa sengaja bersentuhan dengan bibir Arjuna yang hangat dan tegas.
Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik. Dita mematung, sementara Arjuna tetap diam, menatap dalam ke arah manik mata Dita seolah sedang mencari sesuatu di sana. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya deru napas mereka yang terdengar saling bersahutan.
Dita buru-buru menarik tangannya kembali dan memberikan gelas air dengan gerakan kaku. "I... ini airnya, Pak."
Setelah Arjuna meminum obatnya, Dita segera memalingkan wajah, menyibukkan diri dengan merapikan nampan agar rona merah di pipinya tidak terlihat.
"Oh iya, Pak... hampir lupa. Tadi Tante Elsa dan Kak Mimi menelepon. Katanya nanti sore mereka mau datang menjenguk ke sini," ucap Dita dengan nada bicara yang dipercepat untuk menutupi kecanggungannya.
Arjuna meletakkan gelasnya, senyum tipis terukir di wajahnya yang tegas. Mendengar keluarga Dita akan datang, ia merasa senang karena itu berarti Dita akan merasa lebih nyaman di rumah ini.
"Baguslah kalau mereka datang. Aku akan minta Ibu untuk menyiapkan jamuan yang layak untuk mereka. Kau jangan khawatir, mereka keluarga kita juga sekarang," sahut Arjuna dengan hangat.
Dita hanya mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia mulai merasa cemas. Kedatangan Tante Elsa dan Mimi biasanya membawa drama tersendiri, ditambah lagi ada Maudy dan foto "rahasia" yang siap meledak kapan saja.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna
s Maudy tuh tegur udh kasih racun ke Siena jd bawannya buruk trus sama Dita