Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Langkah kaki Agnesia terdengar menjauh setelah Nikolas memberikan kunci mobilnya dan memintanya pulang lebih dulu dengan taksi. Gadis itu sempat ragu, menatap punggung Nik yang kaku dengan kekhawatiran yang nyata, namun ia tahu bahwa ada wilayah di hati Nikolas yang tidak bisa ia masuki hari ini. Nik butuh waktu, katanya. Tapi kebenarannya, Nik tidak sedang butuh waktu. Ia butuh sisa-sisa nyawa dari masa lalunya.
Nikolas tidak meninggalkan mal itu. Ia berdiri di balik pilar marmer besar, menyembunyikan tubuh tegapnya di balik kerumunan pengunjung yang lalu lalang. Matanya yang memerah, sisa dari konfrontasi singkat yang menghancurkan jiwanya tadi, kini terkunci pada sosok wanita yang sedang duduk di kursi tunggu butik bayi.
Salene.
Dari kejauhan, Nik melihat bagaimana Salene mengusap air matanya dengan tisu, lalu menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan kembali pecahan-pecahan kekuatannya. Bayi laki-laki di gendongannya—Axel mulai merengek kecil, dan dengan gerakan yang begitu luwes, Salene menimangnya.
Nikolas tertegun. Di matanya, Salene bukan lagi gadis porselen yang kaku dan selalu khawatir tentang diet 48 kilogramnya. Salene yang sekarang tampak lebih berisi, pipinya merona sehat, dan ada kelembutan maternal yang memancar dari setiap gerakannya. Ia tampak... nyata. Ia tampak seperti wanita yang akhirnya menemukan alasan untuk tetap berpijak di bumi, meski alasan itu bukan dirinya.
Nikolas mengikuti dari jarak yang aman saat Salene mulai bangkit dan memasuki butik perlahan. Ia melihat Salene memilih beberapa baju hangat berbahan wol lembut, membelai kain itu seolah sedang memastikan kenyamanan untuk sang putra. Saat Axel tertawa kecil karena Salene menggelitik perutnya dengan ujung jari, Nik melihat Salene tersenyum.
Senyum itu.
Senyum yang dulu hanya menjadi miliknya di malam-malam rahasia London. Sekarang, senyum itu ditumpahkan sepenuhnya untuk bayi laki-laki bermarga Johnson itu. Perih. Hati Nik rasanya seperti disiram air raksa, membakar hingga ke sumsum tulang. Namun, di balik rasa hancur itu, sudut bibir Nik sedikit terangkat. Ada senyum getir yang muncul saat ia melihat betapa "hidup"nya Salene sekarang.
"Kau jauh lebih cantik saat kau bahagia seperti itu, Sal," bisik Nik lirih, suaranya tenggelam oleh musik mal yang ceria.
Di dalam butik, Salene sedang bergelut dengan badai batinnya sendiri. Ia hampir saja mengatakannya. Tadi, saat menatap mata Nik yang penuh kebencian, ia hampir saja berteriak bahwa Axel bukan darah dagingnya. Ia hampir saja menghancurkan kontrak bisnis jutaan dolar dan reputasi keluarga Lumiere hanya demi satu tatapan pengampunan dari Nikolas.
Namun, ia teringat wajah Axel. Ia menatap bayi yang kini sedang asyik memainkan kancing bajunya itu.
"Maafkan Mommy, Sayang," bisik Salene sambil mencium puncak kepala Axel yang berbau bedak bayi. "Kau putra Mommy. Kau anak Mommy yang paling ganteng. Maafkan Mommy karena sempat ingin menjadikanmu tameng untuk kesalahanku sendiri."
Salene tahu, jika ia membeberkan fakta itu sekarang, ia tidak hanya akan menghancurkan hidupnya sendiri, tapi juga masa depan Axel. Elena tidak menginginkan bayi ini, dan Taylor hanya menganggapnya sebagai pewaris sah. Tanpa perlindungan status "anak Salene Lumiere", Axel hanya akan menjadi pion yang dibuang.
Salene menghela napas, mencoba menguatkan hatinya. Ia harus tetap menjadi Salene Johnson, setidaknya sampai badai ini mereda.
Nikolas masih mengawasi dari balik rak pajangan tas mewah di seberang jalan. Ia melihat bagaimana Salene dengan telaten membetulkan posisi gendongan, bagaimana ia berbicara kecil pada Axel seolah bayi itu mengerti setiap keluh kesahnya.
Pikiran Nik melayang pada Kent dan Lauren. Ia teringat betapa riuhnya rumah mereka dengan kehadiran Lorelei. Ia teringat Kent yang dulu dingin, kini bisa berubah menjadi sosok ayah yang begitu lembut.
Andai saja, realitanya kita memiliki bayi sendiri, Salene, batin Nik. Matanya semakin memerah, menahan sesak yang kembali menghimpit paru-parunya.
Apa kau akan sebahagia itu menggendong putra kita? Apa kita akan berjalan di mal ini tanpa harus bersembunyi dari siapa pun? Aku akan membelikan mu semua isi toko ini, dan aku akan menggendong anak kita di pundakku, memamerkannya pada dunia bahwa dia adalah perpaduan dari aspal yang kasar dan porselen yang indah.
Nikolas mengepalkan tangannya di saku kemeja. Bayangan itu terlalu indah untuk seorang pria yang baru saja terbangun dari kematian. Realitanya, ia hanyalah penonton di balik pilar, melihat wanita yang ia cintai mengasuh anak pria lain.
Ia melihat Salene berjalan menuju kasir, membayar belanjaannya dengan kartu kredit yang mungkin atas nama Taylor Johnson. Setiap detail itu menyakitinya. Nama itu, uang itu, kehidupan itu—semuanya adalah penghinaan bagi cinta yang pernah mereka bangun di atas motor dan mie instan.
Saat Salene berjalan keluar dari butik menuju lobi untuk memanggil mobil jemputannya, Nikolas tetap membuntutinya seperti bayangan yang tak diinginkan. Ia melihat Salene berhenti sejenak di depan pintu kaca besar, menatap langit London yang mulai gelap, persis seperti yang ia lakukan tadi di balkon mal.
Salene tampak lelah, namun matanya bercahaya setiap kali ia menatap Axel.
Nikolas berhenti melangkah saat melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan Salene. Ia tahu itu adalah akhir dari pengintaiannya hari ini. Ia melihat supir membukakan pintu, dan Salene masuk dengan sangat anggun, menghilang di balik kaca film yang gelap.
Mobil itu melaju pergi, membawa separuh jiwanya lagi.
Nikolas berdiri mematung di pinggir jalan yang ramai. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa kosong. Rasa benci yang tadi membara kini berubah menjadi kesedihan yang tenang namun mematikan.
"Mungkin benar kata mereka, Sal," gumam Nik saat mobil itu menghilang dari pandangan. "Kau memang ditakdirkan untuk menjadi Tuan Putri. Dan aku... aku hanya pengawal yang tertidur terlalu lama hingga lupa bahwa kau sudah menemukan kerajaanmu sendiri."
Nikolas berbalik, berjalan menuju tempat parkir dengan langkah yang lebih berat. Ia tahu, setelah hari ini, ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Ia harus memilih: terus menjadi bayangan yang tersiksa, atau benar-benar menghancurkan segalanya—termasuk kebahagiaan palsu Salene—agar ia bisa bernapas kembali.
Di dalam mobilnya yang sunyi, Nikolas menyalakan mesin. Suara deru knalpotnya bergema di parkiran bawah tanah, seolah-olah berteriak atas nama hatinya yang hancur. Ia tidak akan pulang ke rumah. Ia akan pergi ke bengkel, menenggelamkan diri dalam oli dan logam, karena hanya benda mati yang tidak akan pernah mengkhianati janjinya.
Sementara di dalam mobil mewahnya, Salene memeluk Axel erat-erat, menangisi pria yang ia lihat di mal tadi—pria yang tampak begitu dingin namun tetap menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak dengan benar di kota yang kelabu ini.
🌷🌷🌷🌷