Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Pewaris Cahaya
Malam di Akademi Duskveil semakin larut.
Sebagian besar lampu di koridor sudah dipadamkan, menyisakan hanya beberapa kristal cahaya yang bersinar redup di sepanjang dinding batu.
Langit di luar jendela tinggi tampak gelap pekat.
Bintang-bintang bersinar tajam seperti pecahan kaca di lautan hitam.
Namun di dalam perpustakaan—
Tiga murid masih berdiri dalam diam.
Arkan, Leyna, dan Solan belum bergerak sejak bayangan itu menghilang.
Seolah mereka masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Leyna akhirnya memecah keheningan.
“Baiklah.”
Ia menghembuskan napas panjang.
“Aku yakin kita semua sepakat bahwa ini sudah jauh melewati batas penyelidikan biasa.”
Solan mengangguk pelan.
“Makhluk bayangan muncul di dalam akademi.”
Ia melipat tangannya.
“Dan Arkan mengusirnya dengan kekuatan yang bahkan dia sendiri tidak mengerti.”
Leyna menatap Arkan.
“Kau yakin benar-benar baik-baik saja?”
Arkan masih melihat tangannya sendiri.
Seolah mencoba memastikan bahwa itu benar-benar tangannya.
“Aku tidak merasakan sesuatu yang aneh.”
Ia berhenti sejenak.
“Kecuali…”
Solan langsung bertanya,
“Kecuali apa?”
Arkan menatap mereka berdua.
“Nyanyian itu belum benar-benar hilang.”
Leyna mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
Arkan menyentuh pelipisnya.
“Sekarang lebih pelan.”
“Tapi masih ada.”
Solan tampak tidak terkejut.
“Kalau buku itu benar… mungkin nyanyian itu tidak akan benar-benar berhenti.”
Leyna berkata pelan,
“Selama gerbang bayangan masih terbuka.”
Arkan menutup buku hitam itu dan memasukkannya kembali ke rak.
“Kita sudah tahu cukup banyak untuk malam ini.”
Solan mengangkat alis.
“Artinya?”
“Kita harus mencari Sylvara dan Aurelius.”
Leyna mengangguk.
“Besok.”
Solan melihat sekeliling ruangan sekali lagi.
“Dan sebelum itu…”
Ia menunjuk rak tempat buku itu berada.
“…mungkin lebih baik kita tidak meninggalkan buku ini di tempat terbuka.”
Arkan setuju.
Ia mengambil buku itu lagi dan memasukkannya ke dalam tasnya.
Leyna tersenyum tipis.
“Kurasa perpustakaan tidak akan merindukan satu buku misterius.”
Solan berkata santai,
“Terutama jika buku itu berisi ramalan tentang kehancuran dunia.”
Mereka bertiga akhirnya berjalan menuju tangga batu.
Langkah kaki mereka bergema pelan saat naik kembali ke perpustakaan utama.
Ketika mereka membuka pintu batu dan masuk kembali ke ruang perpustakaan—
Ruangan itu hampir kosong.
Hanya satu atau dua murid yang masih membaca di meja jauh.
Lampu kristal bersinar lembut di antara rak-rak buku tinggi.
Namun bagi Arkan—
Bayangan di ruangan itu sekarang terlihat sedikit berbeda.
Ia tidak bisa menjelaskan kenapa.
Namun seolah ia bisa merasakan bayangan itu.
Seperti aliran air yang tenang.
Leyna memperhatikan Arkan yang sedikit melambat.
“Kau melihat sesuatu lagi?”
Arkan menggeleng.
“Tidak.”
Ia berjalan lagi.
“Tapi aku merasa… bayangan di sekitar kita tidak lagi sepenuhnya diam.”
Solan menghela napas.
“Bagus.”
“Sekarang kau bisa berbicara dengan bayangan juga?”
Arkan hampir tersenyum.
“Hanya merasa.”
Mereka keluar dari perpustakaan beberapa menit kemudian.
Udara malam terasa dingin dan segar.
Halaman akademi diterangi cahaya bulan.
Menara-menara batu menjulang tinggi di kejauhan.
Beberapa jendela masih menyala.
Tanda bahwa sebagian murid masih belajar atau berlatih sihir.
Leyna meregangkan bahunya.
“Baiklah.”
“Besok kita cari Sylvara.”
Solan berkata,
“Dan Aurelius.”
Leyna memandang Arkan.
“Menurutmu siapa yang harus kita temui dulu?”
Arkan berpikir sejenak.
“Seris Aurelius.”
Solan tampak sedikit terkejut.
“Kenapa?”
Arkan menatap menara Lightveil yang terlihat di kejauhan.
“Karena cahaya biasanya lebih cepat bereaksi terhadap bayangan.”
Leyna tersenyum kecil.
“Masuk akal.”
Solan mengangguk.
“Baiklah.”
Ia menguap pelan.
“Sekarang kita tidur sebelum semuanya menjadi lebih aneh.”
Mereka berpisah di persimpangan jalan batu.
Leyna menuju asrama Natureveil.
Solan menuju area murid Lightveil.
Arkan berjalan sendirian menuju menara Darkveil.
Namun saat ia berjalan melewati taman akademi—
Nyanyian itu kembali muncul.
Sangat pelan.
Namun jelas.
Arkan berhenti berjalan.
Ia menoleh ke arah pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin malam.
Bayangan pohon memanjang di tanah.
Dan untuk sesaat—
Bayangan itu bergerak sedikit.
Seolah menyadari kehadirannya.
Arkan menatapnya beberapa detik.
Lalu ia melanjutkan berjalan.
“Aku tidak punya waktu untuk ini malam ini,” gumamnya.
Namun jauh di dalam pikirannya—
Nyanyian itu tetap bergema.
---
Keesokan paginya—
Akademi Duskveil kembali hidup dengan aktivitas.
Murdi-murid berjalan di koridor.
Beberapa membawa buku.
Beberapa berlatih sihir di halaman terbuka.
Arkan berdiri di depan aula utama bersama Leyna dan Solan.
Leyna sedang memakan roti sambil berbicara.
“Jadi kita langsung ke area Lightveil?”
Solan mengangguk.
“Seris biasanya berlatih di halaman cahaya pagi.”
Leyna menatapnya curiga.
“Kau tahu jadwalnya?”
Solan tersenyum santai.
“Semua orang tahu.”
“Maksudnya?”
“Dia cukup terkenal.”
Mereka berjalan menuju bagian timur akademi.
Menara Lightveil berdiri tinggi di sana.
Dindingnya terbuat dari batu putih yang memantulkan cahaya matahari.
Halaman di depannya dipenuhi lingkaran latihan sihir.
Beberapa murid Lightveil sedang berlatih mantra cahaya.
Namun satu orang langsung menarik perhatian mereka.
Seorang gadis berdiri di tengah halaman.
Rambutnya panjang berwarna emas pucat.
Seragam Lightveilnya rapi.
Di tangannya—
Cahaya putih terang berputar seperti bintang kecil.
Leyna berbisik,
“Itu dia?”
Solan mengangguk.
“Seris Aurelius.”
Gadis itu mengangkat tangannya.
Cahaya di telapak tangannya membesar.
Lalu berubah menjadi beberapa lingkaran sihir kecil yang melayang di udara.
Ia menggerakkan tangannya.
Lingkaran itu bergerak cepat.
Menyusun pola rumit.
Lalu—
Kilatan cahaya melesat ke udara.
Ledakan cahaya kecil terjadi di atas halaman latihan.
Beberapa murid lain berhenti berlatih untuk melihatnya.
Leyna terlihat terkesan.
“Dia memang kuat.”
Solan berkata,
“Dia juga sangat presisi.”
Seris menurunkan tangannya.
Cahaya di sekitarnya perlahan memudar.
Ia menarik napas pelan.
Lalu menoleh.
Langsung ke arah Arkan.
Seolah ia sudah menyadari mereka sejak tadi.
Leyna berbisik,
“Apakah dia melihat kita?”
Solan menjawab,
“Sepertinya.”
Seris berjalan mendekati mereka.
Langkahnya tenang.
Matanya berwarna emas terang.
Ia berhenti beberapa langkah di depan mereka.
“Aku tidak sering melihat murid Darkveil dan Natureveil berdiri bersama di halaman Lightveil.”
Suaranya tenang.
Namun tajam.
Solan tersenyum ramah.
“Pagi, Seris.”
Seris mengangguk sedikit.
“Halo, Solan.”
Lalu matanya beralih ke Arkan.
Ia memandangnya beberapa detik.
Seolah menilai sesuatu yang tidak terlihat.
Leyna menyadarinya.
“Ada yang salah?”
Seris berkata pelan.
“Tidak.”
Namun ekspresinya berubah sedikit serius.
Ia menatap Arkan lagi.
“Namun aku merasakan sesuatu yang aneh.”
Solan bertanya,
“Aneh bagaimana?”
Seris tidak langsung menjawab.
Ia mengangkat tangannya.
Cahaya kecil muncul di telapak tangannya.
Lingkaran cahaya itu berdenyut pelan.
Kemudian—
Cahaya itu bergerak menuju Arkan.
Namun sebelum menyentuhnya—
Cahaya itu berkedip.
Lalu tiba-tiba padam.
Seris terlihat terkejut.
Leyna juga.
“Apa yang terjadi?”
Seris menatap Arkan dengan lebih serius sekarang.
“Ada bayangan yang sangat kuat di sekitarmu.”
Keheningan muncul di antara mereka.
Solan akhirnya berkata,
“Ya.”
“Itu sebabnya kami mencarimu.”
Seris menyilangkan tangan.
“Kenapa?”
Arkan membuka tasnya.
Ia mengeluarkan buku hitam dari perpustakaan.
Seris melihatnya.
Matanya langsung berubah tajam.
“Dari mana kalian mendapatkan itu?”
Arkan menjawab pelan.
“Perpustakaan bawah tanah.”
Seris terlihat tidak senang.
“Bagian itu tidak seharusnya diakses murid biasa.”
Leyna berkata,
“Percayalah, kami tidak mencarinya dengan santai.”
Solan menambahkan,
“Terutama setelah bayangan mulai muncul di dalam akademi.”
Seris menatap mereka bertiga.
“Jelaskan.”
Arkan membuka halaman yang menunjukkan tiga keluarga penjaga segel.
Ia menunjuk nama di sana.
Noctis.
Sylvara.
Aurelius.
Seris membaca tulisan itu perlahan.
Ekspresinya berubah sedikit.
Kemudian ia berkata pelan,
“Jadi akhirnya seseorang menemukan catatan lama itu.”
Leyna berkedip.
“Tunggu.”
“Kau sudah tahu?”
Seris mengangguk.
“Keluarga Aurelius menjaga pengetahuan tentang segel itu selama berabad-abad.”
Ia menutup buku itu perlahan.
Lalu menatap Arkan.
“Dan jika kau benar-benar pewaris Noctis…”
Cahaya kecil muncul lagi di matanya.
“…maka ini jauh lebih buruk dari yang kalian bayangkan.”
Solan menghela napas.
“Aku punya firasat kau akan mengatakan sesuatu seperti itu.”
Seris berkata pelan.
“Karena jika Nyanyian Malam sudah mulai terdengar…”
Ia menatap Arkan dengan sangat serius.
“…maka makhluk yang bangun bukan hanya bayangan biasa.”
Angin pagi berhembus melewati halaman Lightveil.
Dan untuk sesaat—
Bayangan di kaki Arkan bergerak sedikit.
Seolah mendengar percakapan itu.