Indira berprofesi sebagai pengacara, ia dijuluki pendekar ulung karena selalu memenangkan kasus yang dia tangani. karena kesibukannya dia lupa akan statusnya sebagai kaum jomblo sejati hingga membuat mamanya turun tangan untuk mencarikannya jodoh. hingga akhirnya dia dijodohkan dengan anak temannya yang bernama Gibran (pemilik PT Murni alam) yang berstatus duda anak 3. setelah menikah Indira dihadapkan dengan konflik keluarga hingga akhirnya dia menemukan titik kebahagian nya dengan suaminya Gibran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daisy Puppy 1412, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengacara Indira, istri baru papaku
...Indira kembali melajukan mobilnya hingga sampai di rumah Gibran, di dalam mobil Justin memeluk Indira “terimakasih…. Maaa”....
...“Kamu panggil aku apa?”...
...“Ma…ma” jawab Justin lalu dengan buru buru turun dari mobil meninggalkan Indira yang masih terpaku dengan ucapan Justin, Indira tersenyum tipis melihat Justin....
...Di Dalam rumah sudah ada Gibran sedang duduk di ruang tamu dalam kondisi masih memakai selang infus, setelah Indira pergi Gibran membujuk pihak rumah sakit untuk memulangkannya. Dengan wajah yang masih pucat Gibran berusaha menahan emosinya, Gibran melambaikan tiga jarinya di hadapan Justin agar Justin mendekatinya lalu duduk disampingnya. Belum sampai Gibran mengucapkan sepatah kata, Justin berlutut di hadapan papanya meminta maaf, air matanya berlinang membanjiri ruang matanya yang jernih....
...Indira duduk disamping Gibran “kenapa kamu pulang bukannya di rumah sakit? Kondisi kamu kan masih belum stabil, tuh lihat wajah kamu pucat” ucap Indira sambil mengusap pipi Gibran....
...Indira melihat mata Gibran yang melotot ke arah Justin penuh kemarahan mencoba untuk mencairkan suasana, “heeee udah urusan Justin sudah aku selesaikan, kamu gak usah buang tenaga untuk memarahi nya sekarang aku temani kamu masuk ke kamar untuk istirahat” Indira membujuk Gibran, dia juga memberikan kode mata kepada Justin agar pergi masuk ke kamar nya....
...“Ini juga Brilia belum pulang” sahut Gibran....
...“Tenang Brilia bentar lagi pulang” Indira memapah Gibran sambil membawa botol infus. Indira membantu Gibran membaringkan badannya lalu menyelimuti badan suaminya, dia melihat wajah cantik Indira tersenyum manis kepadanya....
...Indira keluar kamar menuju kamar tamu karena mendengar suara motor berhenti, “kamu cepetan masuk, ketemu besok lagi ya” ucap pacar Brilia....
...Pacar Brilia memberikan ciuman perpisahan, belum sampai kedua bibir sejoli menempel Indira sudah berdiri di belakang mereka “hemmm”. Suara Indira membuat Brilia kaget begitu pun dengan pacarnya, “eh Tante” ucap pria itu lalu pergi naik motor meninggalkan rumah gibran. Brilia yang tak suka dengan keberadaan Indira memasang wajah judes “ganggu aja jadi orang” Brilia melangkah masuk rumah....
...“Jaga sikap papamu lagi sakit”...
...“Papa sakit!!! papa sakit karena ulahmu kan” ucap Brilia dengan ketus sambil balik badan melototi Indira....
...“Seharusnya kamu intropeksi diri agar tuduhan kamu ke aku tidak berbalik ke kamu. Jangan buat masalah!!!!!” Celetuk Indira masuk rumah....
...Brilia meremas tangannya dengan penuh rasa kesal....
...Pagi hari Indira memanggil Gibran untuk sarapan bersama, Indira juga tak lupa mengetuk pintu kamar Justin untuk mengajaknya sarapan. Indira yang ingin mengetuk pintu kamar Brilia ditolak olehnya, sebelum dia mengetuk Brilia keluar kamar langsung pergi tanpa sarapan....
...“Anak labil” ucap Indira senyum tipis....
...Indira duduk di kursi ruang makan ditemani Gibran, Indira mengoleskan selai diatas roti tawar untuk Gibran tidak lupa Indira juga menyiapkan obat yang sudah diresepkan oleh dokter. “Terimakasih” senyum Gibran....
...“Kenapa senyum?”...
...“Gak apa apa, emang gak boleh senyum sama istri sendiri?”...
...“Kamu sudah mengakui aku sebagai istrimu, bukannya kemarin kemarin kamu gengsi bahkan kamu cancel kerjasama kita”...
...“Siapa bilang? Aku bahkan mau kamu menjadi pengacara ku lagi” ucap Gibran sambil memegang tangan Indira....
...Indira melepaskan pegangan Gibran “gak mau ah udah telat”....
...“Dihhhh begitu… plis mau ya”....
...“Ternyata dibelakang anakmu, kamu malah lebih kekanak-kanakan dari pada mereka” bisik Indira bercanda....
...“Pagi pa” Justin keluar dari kamarnya untuk bergabung sarapan di meja makan, “pagi…ma” ...
...Gibran kaget mendengar Justin memanggil Indira mama, beberapa kali Gibran bolak balik memandangi wajah Justin dan Indira....
...“Sejak kapan kamu memanggil Tante Indira mama bukannya kamu paling gak suka sama Tante Indira?”...
...“Sejak semalam pa, mama Indira adalah mama terkeren” Justin mengacungkan jempol di depan Indira, Indira yang melihat tingkah Justin hanya tersenyum sambil memakan selai roti yang dibawanya....