Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Akal dan Intuisi
"Tapi..." Siman mendesah. "Akik ini... dia nggak berfungsi lagi, Mur. Dia dingin. Nggak kasih aku ilham apa-apa. Nggak kasih aku petunjuk kayak dulu."
Murni melepaskan pelukan, menatap Siman, matanya dipenuhi dengan kebijaksanaan yang Siman sendiri tak punya. "Akik itu cuma bantu, Siman. Itu kayak temanmu yang di sekolah dulu. Akik itu cuma katalis, pembakar semangat, seperti diriku juga. Kamu sudah punya bakat, Man. Aku saksi mata kok kamu belajar giat banget sampai begadang. Kamu jenius! Pak Harun juga mengakui, Pak Hartoko juga percaya padamu. Kenapa kamu malah percaya sama orang lain?"
"Ini... beda, Mur," kata Siman pelan. "Sekarang, ini kan bukan soal logo Bu Juju atau poster event amal. Ini tentang keberlanjutan. Gimana caranya biar semua orang bisa tahu tentang kita, tentang Akik Creative Studio?"
Murni tersenyum, lalu menyentuh akik Siman. "Dia masih hangat kok, Man. Dia cuma capek mungkin, perlu diistirahatkan juga. Lagian kamu kenapa harus sendirian begitu? Ada aku di sini. Aku akan selalu bersamamu kok."
"Aku harus coba kirim portofolio lagi ke berbagai website, aku harus coba kirim surat ke mana pun." Siman merangkul Murni lagi, hatinya sedikit lebih tenang. Kebenaran Murni memang sangat menghangatkan Siman. Keberanian itu memang harus muncul lagi. Namun itu hanyalah ketenangan sekejap saja, itu hanyalah sebuah ketenangan untuk tidak berlama-lama sendirian.
Ponsel Murni berdering, mengakhiri momen sentimental itu. Ia segera mengangkat telepon, menjauh sebentar untuk berbicara, memberi Siman ruang untuk kembali menenangkan pikirannya. Siman merenung. Perkataan Murni itu memang benar. Ia tak boleh menyerah. Jika Dina ingin dia jatuh, maka ia harus berdiri lebih tegak lagi.
"Siman, maaf. Ibu menyuruh aku untuk datang, Murni bilang Ibunya sedang sakit perut." Murni kembali mendekat, senyum di bibirnya mengering. Ada sedikit kekecewaan di mata Murni, mungkin ia tidak tega meninggalkan Siman dalam kondisi begini.
"Oh, nggak apa-apa, Mur. Pergi saja. Kan aku bisa sendiri." Siman berusaha menunjukkan bahwa ia baik-baik saja, meskipun sebenarnya, ia sangat butuh Murni untuk tetap di sana, menjaga kerapuhan hatinya.
"Beneran? Jangan bohong, ya." Murni masih terlihat ragu, ia menatap mata Siman, mencari kebohongan di sana. "Ya sudah, deh. Tapi janji ya, kamu jangan sedih lagi. Besok aku balik lagi, nanti kita buat strategi buat studio ini biar ramai. Oke? Kamu jangan berlama-lama di sini, nggak baik buat mental kamu."
"Iya, Mur. Aku janji." Siman mengangguk. Dia memang butuh strategi, sebuah rencana untuk melangkah maju, tanpa hanya bergantung pada keberuntungan belaka.
Murni akhirnya pamit, menyisakan Siman sendirian lagi. Studio kembali sepi. Namun, kali ini, ada gema perkataan Murni di benaknya. Ia tidak akan menyerah. Dia tidak sendirian.
Ia memutuskan untuk berjalan-jalan keluar, mencari udara segar di tengah keramaian. Langkahnya perlahan menyusuri gang sempit di sekitar kompleks toko Pak Hartoko. Beberapa rumah kini terlihat direnovasi, papan 'Dijual' terpampang di beberapa dinding. Itu adalah hal baru untuk Siman, dia memang baru tahu. Aroma cat dan kayu baru menusuk hidungnya. Entah mengapa, ada dorongan kuat yang menyuruhnya untuk berkeliling, melihat-lihat sisa material bangunan yang berpotensi ia gunakan untuk menambal rumah tetangganya yang kemarin masih tampak sedikit bolong.
Ketika melangkah di sisi sebuah bangunan perkantoran kecil yang tampak terbengkalai, mata Siman tiba-tiba menangkap sesuatu. Sebuah lembaran kertas mengilap tergeletak di pinggir trotoar, tersapu angin dan terdampar persis di ujung sepatu kanannya. Siman membungkuk, meraihnya. Akik di jarinya terasa hangat kembali, berdenyut pelan, seperti alarm yang lembut. Itu… sebuah brosur.
Matanya menyapu isi brosur itu. "Tender Jasa Desain & Branding. Untuk Kemitraan UKM." Siman membaca tulisan di sana dengan saksama. Perusahaan konsultan 'Global Link'. Lokasinya tidak jauh dari tempat Siman berdiri saat ini. Ada alamat, tanggal, dan jam pengajuan penawaran. Dua hari lagi. Ini adalah kesempatan! Jantung Siman berdegup kencang. Ia mengusap akiknya. Kali ini bukan karena putus asa, melainkan karena antusiasme yang membara. Ini dia! Peluang yang Murni bicarakan.
"Akal? Keberanian? Janji Murni? Ini datang!" gumam Siman. Sebuah sinyal datang begitu jelas, persis di saat dia mulai goyah. Apakah ini yang dinamakan 'penunjuk jalan' itu? Pertanyaan Siman soal ilham dari akik, ia rasa sekarang mulai sedikit terbuka jawabannya. Ada semacam koneksi yang memang diturunkan. Tapi untuk apa?
Siman segera kembali ke studionya, brosur di tangannya terasa seperti piala. Ia langsung membuka komputer, mencari tahu tentang Global Link. Ternyata, itu adalah perusahaan konsultan yang sedang naik daun, banyak membantu UKM-UKM lokal untuk berkembang. Sebuah pasar yang besar. Targetnya bukan lagi perusahaan besar seperti Bang Bimo, tetapi ia dapat memulai dari kecil.
"Ini dia, Mur. Aku nggak sendirian." Siman bermonolog. "Dia (Akik) tahu bagaimana cara membantu aku. Dan kamu (Murni) tahu bagaimana cara aku bertahan. Dan aku tahu bagaimana caraku menjadi lebih berharga untuk kalian."
Malam itu, Siman bekerja keras lagi, bukan dengan putus asa, melainkan dengan semangat yang menggebu. Dia menghimpun semua karyanya: logo Bu Juju, poster event amal Bang Bimo, bahkan sketsa-sketsa yang dulu ia kira tak berarti. Dia ingin membuat portofolio terbaik, meyakinkan Global Link bahwa Akik Creative Studio layak mendapatkan kepercayaan mereka. Inspirasi mengalir begitu deras, ide-ide segar bermunculan, jauh lebih baik dari apa yang pernah ia bayangkan. Akiknya berdenyut tenang, konsisten, seolah ikut bekerja bersamanya. Membangun kekuatannya dari akal sehat.
Keesokan harinya, Siman melangkah menuju gedung Global Link. Jas dan kemeja rapi—milik Pak Hartoko yang Siman pinjam dan janjinya akan ia ganti bila ia berhasil—membungkus tubuhnya. Sebuah penampilan profesional yang sangat kontras dengan Siman si anak pinggir rel. Akik biru laut melingkar erat di jarinya, memberikan semacam kepercayaan diri, menyalurkan energi yang ia butuhkan.
Di sana, ruangan yang sudah disiapkan untuk tender terlihat ramai. Banyak desainer lain, semuanya terlihat berpengalaman, dengan penampilan necis dan portofolio mengesankan. Beberapa terlihat menatapnya dengan pandangan meremehkan, menganggapnya sebagai pemula tak berpengalaman. Siman kembali merasakan kecut hati, bayangan Dina kembali berputar. Itu hal yang biasa.
Dua nama terpanggil untuk presentasi: "Bapak Hadi Pramono dan Akik Creative Studio atas nama Siman."
Mata Siman membulat. Hadi Pramono. Desainer veteran yang dikenal luas, bahkan karyanya pernah masuk majalah desain. Lawan yang teramat berat. Rasanya tak mungkin ia menang. Dia mulai menggosok akiknya. Sensasinya menghangat.
"Silakan, Bapak Hadi Pramono duluan," suara salah satu juri, seorang wanita berjas hitam, memecah ketegangan. Ia berbicara dengan sopan, membuat Siman menciut dalam diam.
Bapak Hadi maju ke depan, mempresentasikan konsep desainnya dengan fasih, penuh percaya diri, dan terlihat sangat profesional. Portofolionya tebal, berisi karya-karya mentereng. Siman merasakan gemetar di tangannya. Ada rasa putus asa. Itu bukan lawan dirinya. Dina pasti menertawakan hal itu.
***