Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dingin di atas sajadah
Zayna Almeera berubah. Tidak ada lagi musik K-Pop yang berdentum, tidak ada lagi protes tentang boba, dan tidak ada lagi pertanyaan aneh di kelas. Ia menjadi sosok yang sunyi, namun kesunyiannya lebih tajam daripada pedang.
"Mbak Zay, ini sarapannya. Kok nggak dihabiskan?" tanya Zoya cemas melihat Zayna hanya mengaduk-aduk nasi jagungnya.
"Aku kenyang, Zoy. Kenyang sama rahasia," jawab Zayna pendek. Ia memakai kerudungnya dengan sangat rapi, menutupi seluruh dadanya, namun matanya kehilangan binar jahil yang biasanya ada di sana.
Hari itu, di kelas pengajian, Zayna duduk di barisan paling belakang. Ia tidak lagi duduk di depan Haidar. Ia sengaja bersembunyi di balik punggung santriwati lain.
Gus Haidar masuk ke kelas. Ia sempat terhenti sejenak, matanya (seperti biasa) mencari ujung kerudung Zayna yang biasanya mencolok di barisan depan. Saat ia menemukannya di pojok belakang yang gelap, Haidar merasa ada sesuatu yang hilang dari udara di ruangan itu.
"Hari ini kita akan membahas tentang Ikhlas," suara Haidar terdengar sedikit lebih parau. "Ikhlas adalah membiarkan apa yang bukan milik kita kembali kepada Pemiliknya, tanpa menyimpan dendam."
Zayna tiba-tiba bersuara dari belakang, suaranya dingin dan datar. "Gus, kalau ikhlas itu artinya melepaskan, berarti lebih baik kita tidak pernah memiliki daripada harus melepaskan setelah terlanjur sayang, kan?"
Seluruh kelas mendadak beku. Haidar terdiam, jemarinya meremas pinggiran kitab kuningnya hingga sedikit lecek.
"Memiliki atau tidak itu urusan takdir, Mbak Zayna," jawab Haidar, tetap tidak menatap ke belakang. "Tapi merasakan rasa sayang adalah anugerah. Dan terkadang, cara mencintai yang paling tinggi adalah dengan tidak memilikinya secara terang-terangan, agar ia tetap suci."
"Suci tapi menyakitkan itu namanya masokis, Gus. Bukan cinta," balas Zayna tajam, lalu ia berdiri dan keluar dari kelas sebelum pelajaran usai.
Sore harinya, Gus Haidar menemukan Zayna sedang duduk di tepi kolam ikan di belakang masjid. Zayna sedang melempar kerikil ke air, seolah sedang melempar semua kekesalannya pada nasib.
Haidar berdiri di kejauhan, lalu berdehem. Zayna tidak menoleh.
"Mbak Zayna, ada kiriman dari Ayah Mbak. Ada di ndalem," ucap Haidar.
"Taruh aja di situ. Atau kasih ke 'janji lama' Gus aja, siapa tahu dia suka barang-barang dari kota," jawab Zayna tanpa emosi.
Haidar melangkah mendekat, sedikit lebih dekat dari jarak aman biasanya. "Mbak marah soal pembicaraan semalam?"
Zayna berdiri, berbalik menatap punggung Haidar (karena Haidar masih membelakanginya). "Marah? Enggak lah! Buat apa saya marah sama orang yang hatinya sudah penuh? Saya cuma sadar diri, Gus. Saya di sini cuma santri yang numpang lewat, sementara Gus punya masa lalu yang diagung-agungkan."
"Mbak tidak mengerti—"
"Emang nggak mau mengerti!" potong Zayna, suaranya mulai bergetar. "Gus Haidar, tahu nggak? Lebih baik Gus hukum saya bersihkan toilet seumur hidup daripada Gus bersikap baik tapi hati Gus ada di tempat lain. Itu jauh lebih menyakitkan daripada kena lumpur di sawah!"
Zayna melangkah pergi, namun kali ini ia sengaja menyenggol bahu Haidar saat lewat.
Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik bagi Haidar. Ia mematung. Saat Zayna sudah jauh, Haidar perlahan mengangkat tangannya, menyentuh bahu yang baru saja bersentuhan dengan Zayna.
"Haidar menatap riak air di kolam yang perlahan tenang. 'Zayna... andai kamu tahu bahwa janji itu tidak di masa lalu, tapi ada di depan mataku saat ini,' batinnya pedih. Sementara di kamarnya, Zayna melempar bantal ke dinding. Ia membenci dirinya sendiri karena merasa cemburu pada bayangan yang bahkan tidak ia tahu siapa namanya."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp