Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kota Teratai merah
Matahari pagi menyapa dengan hangat, membiaskan cahaya keemasan di atas jalan setapak yang mulai melebar.
Di kejauhan, menara-menara tinggi dengan atap melengkung berwarna merah menyala mulai terlihat mengintip dari balik kabut tipis.
Itulah Kota Teratai Merah, sebuah pusat perdagangan dan kebudayaan yang terkenal dengan danau-danau penuh bunga teratai yang mekar sepanjang tahun.
Tian Shan berjalan di depan dengan langkah yang tenang dan ritmis. Di belakangnya, kedua adiknya mengikuti dengan stamina yang mulai kedodoran.
"Kak Tian Feng ... gendong aku," rengek Tian Mei, langkahnya mulai gontai. "Aku lelah sekali, kaki kaku rasanya sudah berjalan seharian tanpa istirahat."
Tian Feng mendengus, menyeka keringat di dahinya dengan kasar. "Ck, kau cengeng sekali, Tian Mei! Kau pikir aku tidak lelah? Zirah ini berat, dan aku juga membawa tombak ini!"
Tian Shan menoleh sekilas. Sudut bibirnya terangkat hampir tak kentara melihat interaksi kedua adiknya yang biasanya hanya tahu cara menghina orang lain.
Namun, sebelum ada yang sempat bereaksi lebih jauh, Tian Mei melakukan gerakan yang tak terduga.
Hup!
Dengan lincah, gadis itu melompat ke punggung Tian Shan. "Kalau begitu, Kakak saja yang gendong aku!" serunya dengan nada manja yang kental.
Tian Shan sedikit menghela napas, namun ia tidak menghindar. Tangannya justru bergerak sigap menahan kaki adiknya agar posisi duduknya stabil. "Pegangan yang erat agar tidak jatuh," ucapnya pendek.
Tian Mei langsung melingkarkan lengannya di leher Tian Shan, menyandarkan dagunya di bahu sang kakak. "Terima kasih, Kakak. Aku jadi tambah sayang!"
"Dasar kau ini," gumam Tian Shan, namun ia tetap melanjutkan langkahnya dengan beban tambahan di punggung seolah-olah berat Tian Mei tidak lebih dari sehelai bulu.
Tian Feng yang berjalan di samping mereka hanya bisa membelalakkan mata. Ia mengucek matanya berkali-kali, memastikan bahwa pemandangan di depannya nyata.
Kakaknya yang dulu ia anggap sampah, kini dengan santai menggendong adik perempuan mereka yang biasanya sangat pemilih.
"S-sejak kapan kalian jadi dekat begini?" tanya Tian Feng dengan nada bingung sekaligus sedikit kesal.
"Sejak Kak Tian Feng tidur pulas semalam," jawab Tian Mei sambil menjulurkan lidahnya.
Tian Feng hanya bisa terdiam, namun batinnya berteriak keras. "Aneh sekali! Memangnya ada orang yang bisa baikan dan seakrab itu hanya dalam satu malam? Padahal bertahun-tahun kami memperlakukannya seperti orang asing."
Melihat keakraban itu, ada perasaan aneh yang merayap di hati Tian Feng. Sebuah rasa iri yang tersembunyi.
Ia ingin bergabung dalam obrolan itu, ingin merasa sedekat itu dengan saudaranya, namun egonya sebagai "si jenius klan" masih menahan lidahnya.
Ia hanya bisa berjalan di samping mereka dalam diam, mendengarkan celotehan riang Tian Mei yang terus bercerita tentang makanan apa yang ingin ia makan saat sampai di kota nanti.
Saat gerbang besar Kota Teratai Merah yang terbuat dari kayu cendana merah mulai terlihat jelas, pikiran Tian Shan mulai berkelana ke masa depan—atau lebih tepatnya, ke kehidupan yang pernah ia jalani.
"Di zaman ini, dua murid berhargaku belum lahir," batin Tian Shan sembari menatap kerumunan orang yang lalu lalang di gerbang kota. "Aku telah memutar waktu untuk memperbaiki segalanya. Jika aku bisa menemukan leluhur mereka sekarang, aku bisa memastikan garis keturunan mereka tetap terjaga dan hidup dengan layak. Mungkin saja di kota ini ada salah satu dari leluhur mereka."
Bagi Tian Shan, perjalanan ini bukan sekadar pelarian atau pengembaraan tanpa arah.
Ia sedang menanam benih untuk masa depan yang lebih baik, memastikan orang-orang yang pernah setia padanya mendapatkan kehidupan yang lebih adil sejak awal.
Begitu mereka melewati pemeriksaan penjaga gerbang, aroma harum masakan dan riuhnya suara pedagang menyambut mereka. Kota ini benar-benar hidup.
Lampion-lampion merah tergantung di sepanjang jalan, dan kanal-kanal air jernih mengalir di sisi jalan, membawa kelopak bunga teratai yang berguguran.
Tian Mei benar-benar tidak ingin lepas dari sisi Tian Shan. Begitu turun dari punggung kakaknya, ia langsung menggandeng lengan Tian Shan dengan erat, seolah takut kakaknya akan menghilang di tengah keramaian.
"Kakak, lihat itu! Bakpao karakter kelinci!" teriaknya antusias.
Tanpa menunggu jawaban, Tian Mei menarik Tian Shan ke sebuah kedai pinggir jalan.
Ia membeli banyak sekali makanan—mulai dari manisan buah, pangsit goreng, hingga kue teratai madu. Uniknya, setiap kali ia membeli sesuatu, suapan pertama selalu ia berikan kepada Tian Shan.
"Ini, Kak, coba ini! Rasanya manis sekali!" ucapnya sambil menyuapkan sepotong kue ke mulut Tian Shan.
Tian Shan, yang biasanya sangat menjaga wibawa, hanya bisa pasrah menerima perlakuan adiknya.
Ia mengunyah pelan, merasakan kehangatan yang bukan berasal dari makanan, melainkan dari tawa tulus adik perempuannya.
Di belakang mereka, Tian Feng membawa kantong-kantong belanjaan dengan wajah cemberut, namun sesekali ia mencuri pandang ke arah kedua saudaranya dan tersenyum tipis tanpa sadar.
Kehangatan keluarga yang selama ini hilang, perlahan mulai bersemi kembali di tengah hiruk-pikuk Kota Teratai Merah.
Suasana meriah di pusat Kota Teratai Merah mendadak berubah menjadi tegang saat mereka melewati sebuah jembatan batu yang dihiasi lampion merah besar.
Di sana, seorang pemuda berpakaian sutra kuning cerah dengan kipas emas di tangannya tampak sedang menyudutkan sekelompok gadis penjual bunga dan pelayan kedai.
Ia adalah Tuan Muda Lu, putra dari salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Wajahnya sebenarnya cukup tampan, namun tertutup oleh bedak yang terlalu tebal dan senyum yang lebih mirip seringai serigala lapar.
"Ayolah, Nona-nona manis ... kenapa menolak tawaranku? Aku hanya ingin mengajak kalian minum teh di kediamanku yang mewah. Aku punya koleksi permata yang jauh lebih indah dari bunga-bunga layu ini," ucap Tuan Muda Lu sambil mencoba mencolek dagu salah satu gadis yang ketakutan.
Tian Shan, yang sedang membawa bungkusan manisan milik Tian Mei, berhenti tepat sepuluh langkah di belakang kerumunan itu.
Matanya menyipit. Baginya, kebisingan dan penindasan adalah kombinasi yang paling mengganggu ketenangannya.
Tangannya bergerak perlahan menuju hulu Pedang Penjaga Langit.
Aura dingin mulai merayap dari kakinya, membuat udara di sekitar jembatan mendadak turun beberapa derajat.
"Dunia ini butuh sedikit pembersihan," bisik Tian Shan dengan suara datar yang mematikan.
Melihat kakaknya sudah dalam posisi "mode pembantai", Tian Feng dan Tian Mei yang tadinya sedang asyik makan bakpao langsung tersedak.
Mereka tahu betul, jika pedang itu keluar dari sarungnya, jembatan ini akan berubah menjadi kolam darah dalam hitungan detik.
"TUNGGU, KAKAK! JANGAN!" teriak Tian Feng dan Tian Mei serempak.
Tian Feng langsung menjatuhkan tombaknya dan memeluk lengan kanan Tian Shan dengan sekuat tenaga.
Sementara itu, Tian Mei melompat dan berpegangan pada lengan kiri kakaknya, hampir menjatuhkan bakpao yang sedang ia gigit.
"Kakak, sadarlah! Ini kota besar, bukan hutan belantara! Kalau kau membunuhnya di sini, kita tidak bisa makan malam dengan tenang!" seru Tian Feng, wajahnya memerah karena menahan kekuatan tarikan kakaknya.
"Iya, Kak! Lagipula dia hanya lalat konyol! Jangan kotori pedang hebatmu untuk orang berbedak tebal seperti itu!" tambah Tian Mei sambil mencoba menarik tangan Tian Shan menjauh dari senjata.
Tuan Muda Lu yang mendengar keributan itu berbalik dengan angkuh. "Siapa yang berani menyebutku lalat?! Heh, kau pemuda berambut put—"
Kalimatnya terhenti. Bukan karena ia takut, tapi karena para wanita yang tadinya ia goda tiba-tiba berbalik dan melihat ke arah Tian Shan.
"Oh ... Surgawi ..." bisik salah satu gadis penjual bunga, menjatuhkan keranjangnya.
"Lihat matanya ... pupil perak—emas itu ... sangat mistis ..." sahut yang lain dengan wajah memerah.
Dalam sekejap, kerumunan wanita cantik itu justru berlari mendekat ke arah Tian Shan, mengabaikan Tuan Muda Lu seolah pria itu hanyalah tumpukan sampah di pinggir jalan.
Mereka ikut-ikutan menahan Tian Shan—bukan karena ingin mencegah pertarungan, tapi karena ingin sedekat mungkin dengan pria paling tampan yang pernah mereka lihat.
"Tuan Pendekar, jangan marah ... biarkan kami yang mengurusnya!"
"Benar, wajah setampan ini tidak boleh dikerutkan karena marah!"
"Tuan, apakah Anda butuh pelayan untuk membawa pedang Anda?"
Tian Shan tidak tertarik dengan mereka semua.
"Lepaskan aku," ucap Tian Shan dingin.
"Tidak sebelum kau berjanji tidak akan menebas kepala orang itu!" teriak Tian Feng yang masih berpegangan pada lengan kakaknya.
Tuan Muda Lu, yang merasa harga dirinya diinjak-injak karena diabaikan total, berteriak marah, "Kalian semua! Kenapa kalian melihat pemuda miskin itu?! Aku punya emas! Aku punya klan Lu!"
Salah satu gadis menoleh sekilas ke arah Tuan Muda Lu dengan tatapan jijik. "Emasmu tidak bisa membeli ketampanan yang bisa membuat jantungku berhenti berdetak, Tuan Muda. Pergilah cuci mukamu, bedakmu luntur karena keringat!"
Tuan Muda Lu ternganga. Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Dengan wajah merah padam karena malu, ia menghentakkan kakinya dan lari menjauh sambil menangis sesenggukan, diikuti oleh pengawal-pengawalnya yang juga bingung.
Setelah suasana sedikit mereda dan para wanita itu dengan berat hati membiarkan mereka pergi (setelah beberapa kali mencoba memberikan sapu tangan dan nomor kedai masing-masing), Tian Shan berdecak kesal sambil menatap sinis mereka semua.
"Kalian berdua," Tian Shan menatap Tian Feng dan Tian Mei dengan tajam, "jangan pernah melakukan itu lagi di depan umum."
Tian Feng mengambil kembali tombaknya sambil tertawa canggung. "Maaf, Kak. Tapi jujur saja, wajahmu memang 'senjata pemusnah massal' yang lebih efektif daripada pedangmu."
Tian Mei mengangguk setuju sambil memakan sisa bakpaonya. "Benar! Kalau kakak diculik oleh sekumpulan kakak-kakak cantik tadi, siapa yang akan menggendongku nanti?"
Tian Shan hanya bisa menghela napas panjang dan melanjutkan perjalanannya masuk lebih dalam ke kota.
"Aku yakin pasti bertemu laki-laki itu lagi nanti. Entah kenapa dia membuatku kesal?"
Kemudian Tian Shan seperti mencoba mengingat sesuatu. "Marga Lu ya? Tuan muda Lu ... Tuan Lu si cendikiawan yang di kehidupan sebelumnya pernah bermain Weiqi(Go) denganku"
Dia ingat saat di usianya masih dua puluhan, Ia pernah bermain permainan catur tradisional dengan Tuan Lu sambil saling adu kata bijak.
"Pantas saja aku kesal, Ternyata bajingan itu leluhurnya tuan Lu. Sungguh aneh. Leluhurnya sifatnya jelek, keturunannya justru menjadi cendikiawan."
Tian Mei yang melihat Tian Shan tampak diam bingung.
"Kakak memikirkan apa?"
"Tidak ada," Jawab Tian Shan.
lanjut thor💪