Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat Merah di Ujung Belati
Semburat jingga di langit Surabaya perlahan memudar. Berganti dengan selimut kelabu yang membawa hawa dingin menusuk tulang. Di dapur luas kediaman keluarga Darmawan.
Suasana tampak begitu tenang, hampir seperti sebuah lukisan kehidupan domestik yang sempurna. Aroma bumbu ungkep ayam dan tumisan sayur segar menguar di udara. Memenuhi ruangan berlantai marmer kuno itu dengan kehangatan yang semu.
Arini berdiri di depan meja dapur kayu jati yang kokoh. Ia mengenakan celemek linen berwarna krem. Rambutnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.
Tangannya dengan telaten memotong sayuran dengan gerakan yang sinkron. Di sampingnya, Ibu Farida sedang mengaduk santan di atas kompor dengan senyum lembut yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Sejak kepulangannya dari rumah sakit kemarin. Sebuah transformasi terjadi di dalam batin Arini. Ketakutan akan maut yang sempat mengintainya di bawah bayang-bayang Bagaskara.
Serta kehangatan luar biasa yang diberikan keluarga Adnan. Perlahan-lahan mulai meruntuhkan tembok pengkhianatan yang ia bangun.
Aku harus menguburnya, batin Arini sambil menekan pisau ke atas wortel. Bagas adalah kesalahan, sebuah kecelakaan emosional yang hampir menghancurkan hidupku.
Di sini, di rumah ini, aku aman. Aku adalah Nyonya Adnan, menantu kesayangan Ibu Farida dan Pak Darmawan. Aku akan menjadi istri yang manis seutuhnya bagi Adnan. Aku akan menebus segalanya.
Arini melamun, Ia membayangkan masa depan yang baru. Ia membayangkan bagaimana ia akan menyambut Adnan pulang kerja setiap sore. Memberikan pijatan di bahunya dan mungkin, mungkin ia akan benar-benar mencoba memberikan keturunan bagi keluarga ini.
Ia ingin menghapus setiap jejak sentuhan Bagas dari kulitnya. Setiap bisikan pria itu dari ingatannya. Baginya, Bagas kini hannyalah hantu masa lalu yang harus ia kunci rapat dalam peti besi di dasar hatinya.
Namun, di tengah lamunannya yang penuh janji suci itu. Sebuah kegelisahan yang tak dapat dijelaskan tiba-tiba merayap di dadanya. Sebuah rasa sesak yang asing. Seolah-olah pasokan oksigen di dapur itu mendadak menipis.
Zrep!
Gerakan tangan Arini sedikit meleset. Pisau dapur yang tajam itu tidak mengenai wortel. Melainkan mengiris ujung jari telunjuk kirinya.
"Ah!" Arini terkesiap.
Darah merah segar langsung merembes keluar. Kontras dengan kulitnya yang pucat. Rasa perih yang tajam menyengat saraf-sarafnya. Namun bukan itu yang membuatnya gemetar. Pada detik darah itu menetes ke atas talenan kayu.
Sebuah bayangan kilat melintas di benak Arini. Wajah Adnan, Adnan yang sedang tersenyum tipis. Adnan yang sedang memegang pena, lalu tiba-tiba wajah itu berubah menjadi pucat pasi dan hilang ditelan kegelapan.
"Mas Adnan!"
Teriakan itu keluar secara spontan dari bibir Arini. Lebih keras dari yang ia bayangkan. Suaranya pecah, mengandung nada ketakutan yang murni. Bukan karena luka di jarinya, melainkan karena rasa sakit yang tiba-tiba menghantam jantungnya. Air mata mendadak meleleh di pipinya tanpa ia minta.
"Mas Adnan... Mas..." Arini terisak.
Ia memegangi jarinya yang berdarah. Namun pandangannya kosong ke arah jendela yang menatap jalanan luar. Hatinya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang dingin.
Ibu Farida segera mematikan kompor dan menghampiri Arini dengan wajah penuh kecemasan yang tampak sangat tulus.
"Astaga, Arini! Sayang, kenapa bisa sampai tergores begini?" Ibu Farida langsung memegang tangan Arini. Menuntunnya ke arah wastafel untuk membasuh luka itu dengan air mengalir.
"Sakit, Ma... hatiku sakit sekali," gumam Arini sambil terus terisak. Ia tidak bicara tentang jarinya. Ia bicara tentang firasat mengerikan yang baru saja menghunjam jiwanya.
"Sudah, sudah, jangan menangis. Ini cuma luka kecil, Sayang. Mungkin kamu terlalu lelah," ucap Ibu Farida dengan suara yang menenangkan.
Dengan cekatan, ia mengeringkan jari Arini. Mengoleskan cairan antiseptik yang membuat Arini sedikit meringis. Lalu membalutnya dengan plester kain yang rapi.
Ibu Farida memeluk bahu Arini, mengelusnya dengan lembut selayaknya seorang ibu kandung kepada putrinya, "Lihat, sudah tidak berdarah lagi. Kamu istirahat saja ya di kamar? Biar Mama yang selesaikan masakannya. Wajahmu pucat sekali, Rin."
"Mas Adnan, Ma... apa dia baik-baik saja di kantor? Aku tiba-tiba merasa sangat takut," tanya Arini dengan suara bergetar.
Ibu Farida tersenyum hangat, mengusap air mata di pipi menantunya, "Adnan pasti baik-baik saja. Dia itu laki-laki kuat, Arini. Mungkin dia sedang sibuk menyelesaikan rapatnya. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kamu masuk kamar, berbaringlah sebentar, nanti kalau Adnan pulang, Mama langsung suruh dia menemuimu."
Arini hanya bisa mengangguk pelan. Dengan langkah yang terasa berat dan hati yang masih diliputi awan hitam. Ia berjalan meninggalkan dapur menuju kamarnya di lantai atas. Setiap langkahnya terasa goyah, dibayangi oleh ketakutan yang tak berbentuk.
Begitu punggung Arini menghilang di balik tikungan tangga, ekspresi wajah Ibu Farida berubah seketika. Senyum lembut dan hangat itu luruh, berganti dengan raut wajah yang serius, waspada, dan penuh perhitungan. Ia tidak kembali ke kompornya. Sebaliknya, ia melangkah cepat menuju ruang tengah, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kopi.
Ia segera mendial sebuah nomor yang tersimpan dengan nama "My Lion".
Telepon diangkat pada nada kedua.
"Halo, Pak," ucap Ibu Farida dengan suara rendah, matanya terus mengawasi arah tangga untuk memastikan Arini tidak kembali ke bawah.
"Ya, Farida sayangku Ada apa? Aku sedang di perjalanan menuju gudang pelabuhan," suara Pak Darmawan terdengar berat di seberang sana.
"Arini baru saja mengalami kecelakaan di dapur. Jarinya tergores belati saat membantuku masak," lapor Ibu Farida.
Suaranya tidak lagi menunjukkan kecemasan seorang mertua. Melainkan ketegasan seorang rekan seperjuangan, "Tapi ada yang aneh. Dia berteriak nama Adnan dengan sangat histeris, seolah-olah dia merasakan sesuatu yang buruk terjadi pada putramu. Dia menangis sesenggukan tanpa sebab yang jelas."
Di seberang telepon, terdengar keheningan sejenak. Pak Darmawan tampaknya sedang mencerna informasi tersebut.
"Firasat seorang istri..." gumam Pak Darmawan pelan.
"Farida, tetap awasi dia. Jangan biarkan dia keluar rumah atau menghubungi siapa pun tanpa sepengetahuanmu. Aku akan segera menghubungi Reza dan mengecek posisi Adnan di kantor. Sejak satu jam lalu, laporanku menyebutkan Adnan sedang berada di taman lobi."
"Tolong, Pak... cek Adnan sekarang. Arini tidak biasanya seperti ini. Dia tampak sangat terguncang, seolah-olah jiwanya baru saja dicabut sebagian," mohon Ibu Farida.
Meski ia adalah bagian dari 'Macan Hitam' yang tangguh. insting keibuannya tetap tidak bisa dibohongi jika menyangkut keselamatan putranya.
"Aku mengerti, aku akan segera ke kantor Adnan. Kamu tetap tenang di rumah. Kunci semua akses cadangan. Jika ada pergerakan mencurigakan di sekitar pagar. Aktifkan protokol keamanan tingkat dua. Aku tutup."
Klik.
Ibu Farida memasukkan ponselnya kembali ke saku. Ia menarik napas panjang, menatap pintu kamar Arini di lantai atas dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ada rasa sayang yang tulus di sana, namun juga ada kewaspadaan yang tinggi. Ia tahu, jika firasat Arini benar, maka badai yang selama ini mereka antisipasi bukan lagi sedang menuju ke arah mereka. Badai itu sudah sampai di depan pintu.
Ia kembali ke dapur, bukan untuk memasak. Melainkan untuk mengambil sebuah kotak kecil di bawah laci bumbu yang berisi alat komunikasi khusus dan sebuah senjata api laras pendek yang selalu ia siapkan untuk situasi darurat.
Di rumah klasik yang indah itu, kehangatan keluarga kini telah berganti sepenuhnya menjadi benteng pertahanan yang sunyi. Ibu mantan Arsitek handal yang juga mantan sekretaris pribadi Sang Macan Hitam juga bukan wanita paruh baya sembarangan yang bisa diremehkan.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...