"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Bin''
"ya sayang "
"emmm misal kita meresmikan acara pertunangan secara sederhana nggak apa-apa kan? Maksudku nggak usah di dalam gedung mewah,kita resmikan di rumah dengan orang-orang terdekat dan keluarga inti saja"
Bintang terdiam sejenak, menatap Afisa dengan tatapan yang sulit diartikan. Di bawah temaram lampu jalanan, ia bisa melihat gurat kekhawatiran di wajah calon istrinya itu. Ia tahu, permintaan Afisa bukan karena ia tidak menghargai kemewahan, tapi karena waktu yang mereka miliki kini terasa begitu sempit dan berharga.
"Fis," panggil Bintang lembut, tangannya mengusap pipi Afisa yang masih sedikit basah. "Aku tidak butuh gedung mewah atau pesta besar untuk membuktikan kalau kamu milikku. Bagiku, selama ada restu orang tua kita dan kamu berdiri di sampingku, itu sudah lebih dari cukup."
Ia menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam seolah mencoba menstabilkan debar jantungnya sendiri.
"Kalau rumah adalah tempat yang paling nyaman buat kamu menghadapi hari-hari sebelum berangkat ke Semarang, maka kita lakukan di rumah. Kita buat acara yang hangat, yang bisa kita kenang sebagai bekal saat kita berjauhan nanti. Aku ingin di hari itu, kita bukan cuma merayakan status baru, tapi juga merayakan janji kalau jarak lima ratus kilometer itu nggak akan sanggup memutus apa yang sudah kita bangun."
Afisa merasa sesak di dadanya perlahan terangkat. Keputusan Bintang yang begitu dewasa membuatnya sadar betapa beruntungnya ia memiliki pria ini.
"Terima kasih, Bin. Terima kasih sudah selalu paham," bisik Afisa tulus.
"Tapi ada satu syarat," sela Bintang dengan senyum jahil yang mulai kembali ke wajah kuyunya.
"Apa?"
"Arkan harus tetap jadi seksi sibuk. Aku nggak mau dia cuma duduk manis sementara kita pusing mengurus katering dan dekorasi bunga matahari kesukaanmu. Biar dia belajar tanggung jawab sebelum dia benar-benar jadi pengacara sukses," kelakar Bintang, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.
Afisa tertawa kecil, tawa pertama yang tulus sejak ia membaca surat mutasi itu. "Setuju. Biarkan dia yang berdebat dengan vendor katering kalau rasanya nggak pas."
Bintang kembali menjalankan mobilnya perlahan, membelah malam Jakarta yang kini terasa lebih bersahabat. Di tengah perjalanan, ia sesekali melirik Afisa yang mulai tampak lebih tenang.
"Fis, soal Semarang..." Bintang menggantung kalimatnya. "Aku sudah cek jadwal kereta api dan penerbangan terakhir. Jangan kaget kalau setiap Jumat malam ada dokter residen yang mengetuk pintu apartemenmu di sana sambil membawa martabak manis favoritmu."
Afisa tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Bintang. Rasa takut akan "kebosanan" dan "jarak" itu masih ada, namun kini ia punya senjata untuk melawannya: kepercayaan.
Senin, 5 Januari 2022.
Halaman rumah asri di Jakarta Selatan itu kini tampak berbeda. Tidak ada tenda megah yang menutupi kebun Bunda, hanya ada jajaran kursi kayu yang tertata rapi dan untaian bunga matahari yang dipadukan dengan kain putih bersih. Sesuai permintaan Afisa, acara ini dibuat sangat intim—hanya untuk menyatukan dua keluarga dan beberapa sahabat terdekat.
Arkan, yang sudah tiba sejak pagi, tampak sibuk membantu Ayah Afisa menata sound system. Meski dia anak pemilik perusahaan besar, Arkan tidak segan menggulung lengan kemejanya demi membantu calon kakak ipar sekaligus sahabat debatnya itu.
"Fis, lo tenang aja. Katering aman, dekorasi aman, dan gue udah mastiin Kak Bintang nggak bakal pingsan karena gugup hari ini," celetuk Arkan saat berpapasan dengan Afisa di ruang tengah.
Afisa, yang sudah tampil cantik dengan kebaya kutubaru berwarna sampanye, hanya bisa tersenyum simpul. "Makasih ya, Kan. Gue nggak tahu harus gimana kalau nggak ada lo yang bantu Ayah."
Pukul sepuluh pagi, iring-iringan keluarga Fernandes tiba. Bintang turun dari mobil dengan setelan batik motif parang yang membuatnya tampak sangat gagah. Wajahnya yang kuyu kemarin sudah berganti dengan binar penuh semangat, meski gurat kecemasan tentang "Semarang" masih tersimpan rapi di balik senyumnya.
Acara berlangsung sangat khidmat. Di ruang tamu rumah masa kecil Afisa, di depan Ayah dan Bundanya, Bintang kembali mengutarakan maksudnya secara resmi.
"Ayah, Bunda... di rumah ini, tempat Afisa tumbuh menjadi wanita hebat yang saya cintai, saya ingin memohon restu. Saya tahu waktu kami sempit, dan jarak sebentar lagi akan membentang. Namun, saya ingin membawa Afisa bukan sebagai beban, tapi sebagai bagian dari hidup saya," ucap Bintang mantap, suaranya memenuhi ruangan yang hening.
Ayah Afisa menatap Bintang lama, lalu beralih ke putrinya. "Afisa, Bintang sudah tahu segalanya. Dan dia tetap berdiri di sini. Apakah kamu siap menerima janji ini, meski besok lusa kamu harus berada di kota yang berbeda?"
Afisa menatap Bintang. Di mata pria itu, ia tidak menemukan keraguan, hanya ada kepastian. "Siap, Yah. Afisa terima."
Tepat saat Bintang menyematkan kembali cincin itu di jari manis Afisa secara resmi, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Arkan yang diletakkan di meja sudut. Layarnya menyala, menampilkan pesan dari Citra di Semarang:
"Fis, gue udah dapet info dari kantor cabang Semarang. Meja lo udah disiapin tepat di sebelah meja gue. Sampai ketemu minggu depan ya, Partner!"
Arkan segera membalikkan ponselnya, tidak ingin merusak momen sakral itu. Ia menatap kakaknya dan Afisa yang sedang bersalaman dengan orang tua. Di dalam hati, Arkan berjanji akan menjadi jembatan paling kokoh bagi mereka berdua.
"Selamat, Kak. Selamat, Fis," bisik Arkan saat mereka berfoto bersama. "Januari 2022 mungkin memisahkan raga kalian, tapi rumah ini sudah jadi saksi kalau hati kalian nggak akan pernah punya jarak."