Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Di kantin perusahaan, Jihan duduk menyantap makanan yang dia ambil. Dengan lahapnya dia menghabiskan makanannya sendiri tanpa menunggu kedatangan Hendrick dan Regina, wajahnya sedikit kosong, seolah ingin cepat selesai agar bisa menyendiri.
Setelah menghabiskan makanannya, Jihan duduk termenung menatap arah luar jendela. Memandang langit biru dan burung-burung berterbangan di langit yang terbentang luas, matanya melamun dengan pandangan yang jauh, pikirannya terbang ke tempat lain.
📳 Tut...! Tut...! Tut...!
Ponsel Jihan berdering dengan suara yang membuatnya terkejut sejenak. Jihan mengambil ponselnya dan melihat panggilan telepon dari ayahnya, wajahnya langsung berubah menjadi khawatir, jari-jarinya sedikit gemetar saat menyentuh layar.
" Ayah...!" ujarnya dengan nada lembut, lalu mengangkat panggilan dari ayahnya.
"Hallo Jihan... Ayah akan pergi keluar kota sekarang " ucap ayahnya dari ujung telepon.
"Ia ayah... Ayah hati-hati di jalan!" jawab Jihan, suara nya lembut namun penuh kekhawatiran, tangan dia menggenggam ponsel erat, wajahnya tampak gelisah mengingat sesuatu yang tidak bisa dilupakan.
Wajahnya masih terlihat gelisah saat berbicara dengan ayahnya, mengingat peristiwa yang akan terjadi. Dia berharap kejadian itu tidak akan terulang kembali, napasnya sedikit terengah-engah karena ketakutan yang menyelinap.
"Kamu juga Jihan... Ayah akan segera pulang...!" ucap sang ayah, dengan suara yang penuh beban karena harus meninggalkan putrinya sendirian.
Ayahnya kemudian mengakhiri panggilan telepon. Jihan masih gelisah dan perasaannya bercampur aduk, dia menghela napas panjang, mata nya menatap kosong ke atas dengan harapan ayahnya akan baik-baik saja.
Hendrick yang kembali dari kamar mandi masuk ke dalam kantin, diikuti langkah kaki Regina dari belakang. Mereka mengambil lagi makanan di kantin dan duduk di sebelah Jihan. Saat itu Jihan melihat wajah Regina yang memerah dan Hendrick yang tampak gugup, matanya menyipit dengan rasa penasaran dan sedikit curiga.
Jihan merasa keduanya tampak canggung dan tidak mengatakan apa-apa. Tangan Regina memainkan sendok makan dengan gerakan yang tidak karuan. Sedangkan Hendrick sesekali mencuri pandang melirik Regina sesekali, Jihan mengerutkan alis, merasa ada sesuatu yang tidak biasa terjadi.
"Apa ini... Kenapa dengan mereka?" ujar Jihan dengan suara kecil, mata nya tetap mengamati sikap keduanya yang tampak berbeda dari biasanya.
Jihan yang sudah menghabiskan makanannya berdiri dan pergi meninggalkan mereka berdua, sengaja membuat keduanya menjadi semakin dekat, wajahnya menunjukkan ekspresi yang paham, namun tetap merasa penasaran dengan apa yang terjadi diantara mereka berdua.
"Aku pergi dulu! Hendrick kamu temani Regina makan, aku masih ada pekerjaan yang belum selesai" ucap Jihan dengan nada yang tenang, lalu berjalan meninggalkan Hendrick dan Regina di kantin.
Jihan berjalan sambil terus memikirkan pasti ada sesuatu di antara mereka. Melihat sikap keduanya yang tampak berbeda, Jihan yakin pasti terjadi sesuatu diantara mereka, pikirannya terus berputar, membuat dia tidak memperhatikan jalan di depannya.
Jihan berjalan sambil melamun, tanpa dia sadari seorang tukang bersih-bersih yang terburu-buru sambil mendorong grobak barang-barangnya melaju cepat ke arahnya.
_!
__!
___!
Brak!
"Haaa!" teriak Jihan dengan suara kejutan, tubuhnya siap terjatuh saat seseorang dengan cepat menarik dan merangkul dirinya dari belakang.
"Astaga...! Maaf Bu! Saya tidak melihat ibu" ucap tukang bersih-bersih dengan wajah penuh rasa bersalah, melihat Jihan yang di rangkul oleh Direktur Hans.
"Sekali lagi maaf Bu!" tambahnya lalu pergi melanjutkan tugasnya.
Direktur Hans yang ada di belakang Jihan melihat tukang bersih-bersih yang tidak memperhatikan jalan. Gerobak yang dia dorong tepat akan menabrak Jihan yang sedang tidak fokus, dia berlari dengan cepat, tangannya dengan sigap menarik tangan Jihan dan merangkul tubuhnya dengan erat.
" Kamu tidak apa-apa...?" ucap Direktur Hans dengan suara yang khawatir sekali, merangkul pundak Jihan dengan cermat. Wajahnya tampak sangat peduli, sangat berbeda dari sikapnya yang dulu dikenal Jihan.
Jihan menatap wajah sang direktur dan melihat tatapan yang penuh perhatian. Dia bahkan bisa mendengar detak jantung Direktur Hans berdetak kencang, wajahnya sedikit memerah karena kejutan dan rasa tidak nyaman dengan kedekatan mereka.
Jihan berdiri tegak melepaskan rangkulan sang direktur, lalu berterima kasih dengan tulus, tubuhnya sedikit membungkuk menunjukkan rasa hormat dan syukur yang dalam.
"Direktur Hans... " ucap Jihan dengan suara lembut, kemudian berdiri tegak melepaskan rangkulannya.
"Terima kasih! Lagi-lagi direktur menolong ku!" ujar Jihan, suara nya lembut dan wajahnya menunjukkan rasa syukur yang tulus.
Direktur Hans kembali bertanya kepada Jihan, wajahnya penuh perhatian melihat kondisi Jihan yang tampak berbeda dari biasanya, matanya menatap Jihan dengan penuh perhatian, ingin tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Jihan... Apa kamu sedang sakit? Akhir-akhir ini saya perhatikan kamu tampak berbeda dari biasanya...?!" tanya Direktur Hans dengan suara yang penuh keprihatinan.
"T-tidak pak! Aku tidak apa-apa... Sekali lagi terima kasih...!" jawab Jihan dengan suara sedikit gemetar, kembali berterima kasih sebelum berbalik pergi ke arah lift.
Jihan kemudian masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Jihan mengingat di kehidupan sebelumnya dia tertabrak grobak tukang bersih-bersih di bagian lututnya, wajahnya tampak bingung dan sedikit ketakutan melihat perubahan yang terjadi.
Namun kali ini berbeda, Direktur Hans yang dia ingat dulu sangat acuh dan dingin kepada seluruh karyawan termasuk dirinya. Jihan juga tidak pernah berbicara dengan dia dan tidak pernah terlibat dengannya di kehidupan sebelumnya, pikirannya penuh dengan tanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ting...!
Pintu lift terbuka. Jihan melangkah ke luar. Namun tiba-tiba!
__!
____!
Bruk!
Seorang karyawan A yang terburu-buru mendorong troli berisi tumpukan kertas menabrak Jihan yang baru saja keluar dari lift. Tumpukan kertas berserakan di lantai.
Jihan terkejut dan tubuhnya sedikit menjatuhkan badan, merasakan sakit di bagian lutut.
"Aduh... Maaf Bu Jihan!" ucap karyawan A dengan wajah penuh rasa bersalah, segera membantu Jihan berdiri.
"Sst... Aw!" rintih Jihan dengan suara lembut, wajahnya sedikit menyipit karena rasa sakit yang menyengat di bagian lutut kanannya.
" Maaf Bu! Saya benar-benar tidak melihat ibu tadi!" ujar karyawan A kembali meminta maaf, wajahnya sangat khawatir.
"Tidak apa-apa! Saya baik-baik saja!" ujar Jihan dengan suara yang tetap tenang, berdiri dan membantu karyawan A membereskan kertas yang berantakan, meskipun lututnya masih terasa sakit, dia tetap membantu dengan senyum yang lemah.
"Ini... Lain kali kamu lebih hati-hati lagi..." ujar Jihan dengan nada yang lembut namun tegas, memberikan kertas yang dia pungut di lantai.
"Ia Bu! " ucap karyawan A kemudian pergi mendorong troli ke arah ruangannya.
Jihan kemudian pergi ke atas gedung perusahaan dan mengobati lukanya. Dia menatap gedung-gedung dari atas, berpikir sejenak tentang perubahan yang terjadi, matanya tampak gelisah, pandangannya jauh ke kejauhan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Semuanya tampak sama namun tidak berubah. Rasa sakit dan luka yang sama namun terjadi di tempat yang berbeda...?" gumam Jihan dengan suara yang gemetar, wajahnya tampak sangat gelisah dan tubuhnya sedikit menggigil saat menggigit ujung jarinya.
Rasa takut menyelimuti dirinya sepenuhnya. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya untuk mengubah takdirnya, dia menghela napas dengan berat, rasa ketakutan yang dalam muncul di wajahnya.
"Tidak-tidak! Aku tidak akan membiarkan takdir buruk yang terjadi kepada ku terulang kembali..." ucap Jihan dengan suara yang sedikit bergetar namun penuh tekad, meskipun ketakutan masih jelas terlihat di matanya.
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ