NovelToon NovelToon
Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Cinderella, Glass Slipper Syndicate

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:487
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.


Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.


Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.


Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CGS 31

Setelah Sisil akhirnya masuk ke dalam rumah, masih dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu yang belum terpuaskan, halaman itu menjadi lebih sunyi, tapi justru terasa lebih intens. Hanya tersisa Ella dan Leo, berdiri dengan jarak yang tidak terlalu jauh, namun cukup untuk menahan sesuatu yang belum diucapkan.

Leo menghela napas pelan, seolah menahan dirinya beberapa detik sebelum akhirnya bicara. “Kita bicara,” katanya.

Bukan pertanyaan.

Ella sempat diam, lalu mengangguk kecil. Mereka bergeser ke sisi taman yang lebih sepi, jauh dari jangkauan pintu rumah. Suara dedaunan tertiup angin menjadi satu-satunya latar, tapi tidak cukup untuk meredakan ketegangan di antara mereka lagi.

“Jangan pernah pergi berdua dengan dia,” kata Leo langsung, tanpa pembuka. Nada suaranya tegas. Tidak memberi ruang. “Dia penjahat, Ella. Catatan kriminalnya bukan sedikit. Itu sudah ratusan.”

Ella menatapnya, wajahnya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang mengeras di dalamnya. “Itu urusanku,” balasnya. “Kamu nggak perlu peduli sama aku.”

Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia rencanakan. Dan untuk sesaat Leo hanya diam. Menatapnya. Lebih lama dari biasanya. “Bagaimana mungkin aku bisa nggak peduli sama kamu?” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah, tapi justru lebih dalam.

Ella tidak langsung bereaksi. Seolah butuh waktu untuk memproses kalimat itu.

“Aku peduli sama kamu, Ella,” lanjut Leo, kali ini tanpa menahan. “Kamu terlalu polos buat hadapi semua ini sendiri.”

Ella masih diam. Tatapannya mulai goyah.

“Jadi tolong,” tambah Leo, lebih pelan sekarang, “jujur sama aku. Aku bisa bantu kamu.” Beberapa detik yang terasa lebih panjang dari sebelumnya. Leo menatapnya, mencoba membaca reaksi yang tidak sepenuhnya terlihat. “Sepatu kaca itu,” katanya kemudian, lebih fokus, “kamu tahu sesuatu, kan?”

Ella menarik napas pelan. Ia tahu momen ini akan datang. Dan ini bukan sekadar pertanyaan. Ini ujian. “Kamu lihat juga, kan?” katanya akhirnya. “Jason juga punya. Orang lain juga bisa punya. Itu bukan benda spesial." Ia berhenti sejenak, menimbang kata-kata berikutnya. “Jadi…” lanjutnya pelan.

Leo langsung menyela, kali ini lebih cepat, lebih tajam. “Ella,” katanya, “sepatu kaca itu ada dua.” Ia menatap Ella lurus, memastikan setiap kata sampai dengan jelas. “Punyamu dan Jason.”

Hening. Tidak ada suara lain. Hanya napas yang sedikit berubah.

“Iya, kan?” lanjut Leo.

Ella tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya ia sadar, Leo sudah lebih dekat ke kebenaran dari yang ia kira. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada yang ia siapkan.

Ella tidak langsung menjawab, bukan karena ia tidak tahu harus berkata apa, melainkan karena terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya dalam waktu bersamaan potongan data, pertemuan dengan Jason, peringatan Niko, dan kini Leo yang berdiri di depannya dengan keyakinan yang tidak setengah-setengah.

Ia menatap pria itu lebih lama dari biasanya, mencoba mencari celah, mencari kemungkinan bahwa semua ini hanya tebakan tapi tidak ada.

Tatapan Leo terlalu pasti untuk sekadar spekulasi. “Kamu terlalu cepat menyimpulkan,” akhirnya Ella berkata pelan, mencoba mengembalikan kendali percakapan, meski ia sendiri tahu kalimat itu lebih terdengar seperti pertahanan daripada bantahan.

Leo menggeleng sedikit, tidak terpengaruh. “Bukan menyimpulkan,” balasnya tenang, “menghubungkan.” Ia melangkah setengah langkah lebih dekat, cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa lebih sempit, tapi tidak mengancam. “Aku lihat reaksi kamu semalam. Cara kamu melihat benda itu. Cara dia menyentuhnya. Itu bukan kebetulan.”

Ella menahan napas sejenak, lalu mengalihkan pandangannya, seolah mencoba memberi dirinya waktu beberapa detik lebih lama untuk berpikir. Ia tahu ia tidak bisa terus menghindar, tapi ia juga tidak bisa membuka semuanya. Belum.

“Kalau pun benar ada dua,” katanya akhirnya, pelan tapi jelas, “itu nggak berarti kamu tahu apa itu sebenarnya.” Leo tidak langsung membantah. Ia hanya menatap Ella, lalu berkata, lebih rendah dari sebelumnya, “Berarti kamu tahu.” Kalimat itu bukan pertanyaan lagi itu jebakan yang disusun dengan rapi.

Ella kembali menatapnya, dan kali ini ia tidak menghindar, tapi juga tidak sepenuhnya jujur. “Aku tahu cukup untuk bilang ini bukan sesuatu yang bisa kamu tangani dengan cara biasa,” jawabnya.

Leo mengangkat alis tipis, sedikit tertarik. “Cara biasa?” ulangnya. “Kamu pikir aku masih pakai cara biasa sekarang?” Sunyi kembali turun, tapi kali ini bukan karena ketegangan semata melainkan karena keduanya mulai menyadari bahwa mereka sudah berada di titik yang sama: terlalu dalam untuk mundur, terlalu banyak tahu untuk berpura-pura tidak terlibat.

“Masalahnya bukan kamu bisa atau tidak,” lanjut Ella pelan, “tapi apakah kamu siap tahu semuanya.”

Leo menatapnya lebih lama, lalu berkata, hampir seperti pengakuan, “Kalau itu tentang kamu, aku sudah siap dari awal.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka, membawa makna yang lebih dari sekadar kasus. Ella merasakannya, dan justru itu yang membuatnya semakin berhati-hati. Ia menunduk sejenak, lalu kembali menatap Leo, kali ini dengan keputusan yang belum sepenuhnya terbentuk tapi sudah mulai terlihat arahnya. “Kalau aku cerita,” katanya perlahan, “kamu nggak bisa setengah-setengah lagi.”

Leo tidak ragu. “Aku nggak pernah setengah-setengah.”

Hening sejenak, sebelum Ella akhirnya menarik napas dalam, seolah sedang berdiri di tepi sesuatu yang tidak bisa ia hindari lagi. Karena ia tahu jika ia melangkah sekarang, maka hubungan mereka tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya. Dan di titik itu, pilihan yang ia buat bukan lagi soal percaya atau tidak… melainkan tentang siapa yang ia izinkan masuk lebih jauh ke dalam dunia yang selama ini ia jaga sendirian.

***

Udara di taman terasa berbeda setelah percakapan itu menggantung terlalu lama di antara mereka. Tidak ada lagi suara daun yang menenangkan, tidak ada lagi jarak aman yang bisa digunakan untuk berpura-pura. Ella berdiri diam, menatap Leo dengan sesuatu yang akhirnya tidak bisa ia sembunyikan lagi keraguan yang bercampur dengan keputusan.

“Kamu mau tahu?” suaranya pelan, tapi tidak goyah.

Leo tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya, seolah memahami bahwa kalimat itu bukan sekadar pembuka, melainkan pintu yang kalau dibuka tidak bisa ditutup kembali.

“Aku sudah siap dari tadi,” katanya akhirnya.

Ella tersenyum tipis, bukan karena lega, tapi karena ia tahu kalimat itu terlalu sederhana untuk apa yang akan datang.

“Ini bukan soal dua orang yang pegang benda aneh,” katanya pelan. “Ini bukan soal aku, kamu, atau bahkan Jason.” Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam. “Ini soal jaringan.”

Leo mengernyit sedikit, tapi tidak menyela.

“Jaringan yang isinya bukan orang sembarangan,” lanjut Ella. “Pejabat. Pengusaha. Aparat hukum.” Ia menatap Leo lebih dalam. “Orang-orang yang seharusnya kamu lindungi… dan orang-orang yang seharusnya kamu tangkap.”

1
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen. terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!