NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 8

***

Pagi pertama sebagai Nyonya Hutomo disambut oleh sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden sutra berat di Presidential Suite. Belum sempat Karina meregangkan otot-ototnya yang kaku, protokol kehidupan klan Cendana sudah dimulai. Tanpa ketukan yang mengganggu, beberapa pelayan berseragam rapi sudah menunggu di ruang tengah untuk mengemas barang-barangnya.

Perjalanan dari hotel menuju Menteng hanya memakan waktu singkat, namun terasa seperti perpindahan dimensi. Konvoi mobil hitam mewah yang dikawal motor besar polisi militer itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Begitu sensor mengenali kendaraan Darma, gerbang itu terbuka otomatis dengan suara mesin yang nyaris tak terdengar, menampakkan sebuah mansion bergaya kolonial modern yang berdiri angkuh di atas tanah ribuan meter persegi.

Mansion itu didominasi warna putih gading dengan pilar-pilar besar yang kokoh. Namun, bagi Karina, bangunan itu tampak seperti istana es. Statis, kaku, dan mengintimidasi.

"Benar-benar suram, persis seperti yang punya," gumam Karina pelan sambil menatap fasad rumah dari balik kaca mobil.

"Apa kamu bilang?" Suara bariton Darma terdengar di sampingnya. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas kerja yang kaku, matanya tetap tertuju pada tablet di tangannya namun telinganya menangkap setiap desis istrinya.

Karina tersentak, lalu segera memasang senyum manis khas idolanya yang paling mematikan. "Tidak, Mas. Saya bilang... rumahnya sangat... kokoh. Ya, kokoh sekali."

Darma hanya melirik sekilas, seolah tahu Karina sedang berbohong, namun ia memilih tidak memperpanjang.

Begitu pintu mobil dibukakan, puluhan pelayan sudah berbaris rapi di lobi utama yang berlantaikan marmer Italia. Mereka membungkuk serentak dengan presisi yang membuat Karina teringat pada pelatihan trainee-nya di Seoul.

"Selamat datang, Bapak. Selamat datang, Ibu," ucap mereka serempak.

Karina hampir tersandung kakinya sendiri. Ibu? Selama ini ia terbiasa dipanggil 'Mbak', 'Ayin', atau 'Karina-ssi'. Dipanggil 'Ibu' di usianya yang baru dua puluh lima tahun membuatnya merasa mendadak tua sepuluh tahun. Ia kini resmi menjadi Nyonya Hutomo, pemegang kunci di rumah paling bergengsi di jantung Jakarta.

Darma melangkah keluar dengan langkah lebar dan dominan, namun ia berhenti sejenak, menyadari Karina masih mematung di dekat mobil. Ia berbalik, menatap Karina dengan tatapan dingin namun menuntut.

"Cepat, Karina. Apakah saya perlu menggendongmu masuk ke dalam agar para pelayan tahu betapa 'mesranya' kita?" ucap Darma dengan nada datar, namun sukses membuat para pelayan di barisan depan menunduk dengan wajah merona.

Karina melotot. "Tidak perlu! Saya punya kaki!"

Ia segera berlari kecil menghampiri Darma, mencoba mengimbangi langkah panjang pria itu masuk ke dalam kemegahan rumah yang terasa seperti galeri seni daripada sebuah hunian.

**

Darma menuntun Karina menuju lantai dua. Sepatu hak tinggi Karina beradu dengan lantai marmer yang mengilat, melewati deretan lukisan maestro dan guci-guci kuno yang harganya mungkin bisa membiayai produksi tiga album K-Pop. Darma berhenti di depan sebuah pintu ganda berbahan kayu ek hitam yang sangat berat.

Begitu pintu terbuka, Karina nyaris menahan napas. Ini bukan sekadar kamar tidur; ini adalah Master Suite yang luasnya mungkin mencakup seluruh lantai atas mansion tersebut.

Aroma sandalwood yang hangat bercampur dengan wangi tembakau mahal langsung menyerang indra penciuman Karina sangat maskulin, sangat "Darma". Desainnya elegan namun dingin, didominasi warna abu-abu gelap dan kayu hitam. Di tengah ruangan, terdapat ranjang king size dengan seprai sutra abu-abu yang tampak sangat empuk. Di hadapannya, sebuah televisi berukuran raksasa tertanam mulus di dinding marmer hitam.

Jendela balkon yang terbuat dari kaca utuh memberikan pemandangan spektakuler ke arah kolam renang infinity dan taman rimbun di bawah sana. Namun, daya tarik utamanya adalah kamar mandi utama yang pintunya terbuat dari kaca buram. Di dalamnya, terdapat bathtub marmer putih yang cukup besar untuk dua orang, serta deretan skincare dan parfum high-end pria yang tersusun rapi di atas meja granit.

"Dan ini adalah bagianmu," ucap Darma sambil membuka pintu geser menuju walk-in closet.

Karina terpaku. Ruangan itu lebih mirip butik di Avenue Montaigne Paris. Di sisi kiri, terdapat rak-rak kaca yang memajang puluhan tas dari koleksi terbatas Hermès hingga Chanel. Di sisi kanan, deretan baju mulai dari gaun malam sutra hingga pakaian santai kasmir tergantung dengan gradasi warna yang sempurna.

Di tengah ruangan, terdapat meja pajangan kaca yang berisi koleksi perhiasan berlian dan jam tangan mewah. Di pojok ruangan, sebuah meja rias megah dengan cermin vanity yang dikelilingi lampu-lampu kristal sudah terisi penuh dengan ribuan produk make-up dan skincare mahal bermerek La Mer hingga Dior.

"Mas Darma... ini apa?" tanya Karina curiga sambil menyentuh salah satu tas Birkin berwarna merah maron. "Jangan bilang ini punya pacar Mas yang belum sempat dibuang karena kita buru-buru nikah?"

Darma yang sedang melepaskan jam tangan Patek Philippe-nya, menghentikan gerakannya sejenak. Ia berjalan mendekati Karina, berdiri tepat di belakangnya hingga bayangan mereka menyatu di cermin meja rias.

"Apakah di pikiranmu saya adalah pria gampangan yang akan membawa sembarang wanita ke dalam wilayah pribadi saya?" tanya Darma, suaranya rendah dan menggetarkan atmosfer di ruangan sempit itu.

"Ya... habisnya, berita di luar sana kan bilang Mas itu playboy kelas kakap. Saya cuma... berjaga-jaga," sahut Karina dengan suara yang mengecil. Tubuhnya terasa kaku saat merasakan kehadiran Darma yang begitu dekat di punggungnya.

Darma terkekeh rendah, suara tawa yang jarang terdengar namun terdengar sangat seksi di telinga Karina. "Berita itu adalah instrumen yang saya ciptakan untuk menutupi hal yang sebenarnya. Semua ini dibeli oleh tim asisten saya tadi malam setelah ukuran bajumu dikirim oleh ibumu. Mandilah, kau pasti lelah. Saya harus kembali ke perusahaan sekarang, ada rapat direksi yang menentukan nasib beberapa anak perusahaan."

"Tunggu!" Karina menahan lengan jas Darma, membuat pria itu berhenti mendadak.

"Maksud Mas tadi 'kamar kita'? Kita akan berbagi kamar bersama? Di sini? Satu ranjang?"

Darma menaikkan satu alisnya, menatap tangan Karina yang memegang lengannya sebelum kembali menatap mata Karina. "Tentu saja. Ini rumah utama Hutomo. Pelayan di sini adalah telinga dan mata bagi keluarga besar saya. Jika kita tidur di kamar terpisah di malam-malam awal, besok pagi berita itu sudah sampai ke telinga ayah saya dan ayahmu. Saya tidak suka kerumitan yang tidak perlu."

"Tapi... tapi di perjanjian kan tertulis urusan pribadi masing-masing! Saya mau kamar sendiri! Saya tidak bisa tidur kalau ada orang asing di sebelah saya!" protes Karina sambil berkacak pinggang, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.

Darma justru melangkah maju dengan sangat cepat, membuat Karina mundur teratur hingga punggungnya menempel pada lemari kaca yang berisi koleksi sepatu Manolo Blahnik. Darma meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Karina, mengurungnya dalam dominasi mutlak.

"Saya tidak suka pengulangan, Karina. Dan dalam bisnis, saya tidak pernah mengizinkan mitra saya mengubah kesepakatan secara sepihak tanpa konsesi yang sepadan," ucap Darma dingin, matanya menatap tajam, mengunci manik mata Karina.

"Kenapa tiba-tiba Mas jadi seotoriter ini? Di hotel kemarin Mas bilang setuju soal privasi dan kontrak!" suara Karina bergetar antara marah dan gugup.

"Karena sekarang kamu sudah berada di bawah atap saya. Kamu bukan lagi sekadar idol yang sedang kena skandal; kamu adalah Nyonya Hutomo. Setiap langkahmu di rumah ini harus mencerminkan martabat keluarga ini. Tidur bersama adalah bagian dari protokol keamanan reputasimu," Darma menjauhkan tubuhnya, memberikan ruang bagi Karina untuk bernapas kembali.

Ia mengambil sebuah kunci emas kecil dan sebuah Black Card dari saku jasnya. Ia meletakkan benda itu di telapak tangan Karina yang masih gemetar.

"Selamat datang di kediaman Hutomo, Karina. Gunakan kartu itu untuk membeli apapun yang kamu inginkan agar ruangan ini tidak terasa 'suram' lagi bagimu. Sepuluh miliar pertamamu sudah masuk ke rekening pagi ini. Anggap itu modal awal untuk penyesuaianmu."

Darma berbalik dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh. "Satu lagi. Jangan mencoba kabur ke kamar tamu atau mengunci diri, karena semua kunci cadangan di rumah ini ada di tangan saya."

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Karina menghentakkan kakinya ke lantai marmer dengan gemas hingga suaranya bergema.

"Argh! Dasar pria es! Otoriter! Sombong! Dia pikir dia siapa bisa mengatur-atur aku begitu?"

Ia menatap kartu hitam di tangannya dan kunci emas itu. Meskipun kesal setengah mati karena didominasi, ia tidak bisa menahan rasa berdebar yang asing di dadanya. Sepuluh miliar dan sebuah mansion mewah sebagai penjara emasnya. Karina menarik napas panjang, menatap deretan sepatu mahal dan riasan mewah di sekelilingnya.

"Oke, Mas Darma. Kamu mau main dominasi? Mari kita lihat siapa yang akan menyerah duluan di rumah besar ini," gumam Karina dengan senyum menantang di bibirnya, meski jantungnya masih berpacu tidak karuan.

****

1
Tika maya Sari
lanjut dong kak
Heresnanaa_: stay tune ya ka🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
up lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!