NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

***

Kandungan Laras kini telah genap memasuki usia tujuh bulan. Perutnya sudah membuncit kencang, membuat setiap gerakannya menjadi lambat dan terbatas. Kulit di sekitar perutnya terasa gatal dan tertarik, seringkali membuatnya sulit menemukan posisi tidur yang nyaman. Namun, kenyamanan adalah kemewahan yang tidak dimiliki oleh istri seorang Kepala Desa Sukamaju.

Di luar, kabut tebal masih menyelimuti pepohonan jati. Jarum jam baru menunjukkan pukul setengah lima pagi. Suasana desa masih sunyi, hanya suara jangkrik yang mulai memudar digantikan kokok ayam yang saling bersahutan.

Laras terbangun bukan karena alarm, melainkan karena rasa sesak di dadanya dan tendangan aktif dari si kecil di dalam rahim. Ia meringis, memegangi pinggangnya yang terasa panas. Saat ia mencoba bergeser, lengan kekar Bagas yang melingkar di perutnya terasa kian berat.

Bagas baru pulang lewat tengah malam karena urusan sengketa tanah warga yang alot di balai desa. Pria itu tampak sangat lelah, namun dalam tidurnya pun, ia seolah tak ingin melepaskan kepemilikannya atas Laras.

"Eungh..." Laras melenguh pelan, mencoba melepaskan tangan suaminya agar ia bisa ke dapur. Ia harus menjerang air dan menanak nasi sebelum anak-anak bangun.

Namun, gerakan kecil itu justru mengusik kesadaran Bagas. Bukannya melepaskan, Bagas justru menarik tubuh Laras lebih merapat. Napas hangat Bagas menerpa tengkuk Laras, membuat bulu kuduknya meremang.

"Mau ke mana, Ras?" suara Bagas parau, khas pria yang baru saja terjaga namun masih dirayapi kantuk.

"Mau ke dapur, Mas. Sudah hampir subuh. Mas nanti ada jadwal senam bersama warga, kan? Laras harus siapkan sarapan," jawab Laras lembut sambil mencoba duduk.

Bagas tidak membiarkannya. Ia justru membalikkan tubuh Laras sehingga mereka kini berhadapan. Di bawah keremangan lampu tidur, Bagas menatap wajah istrinya. Meski terlihat pucat dan lelah, di mata Bagas, aura kehamilan Laras justru menambah kecantikan yang matang.

"Dapur bisa menunggu, Sayang. Anak-anak juga belum bangun," bisik Bagas. Tangannya mulai menjelajah, mengusap puncak perut Laras yang bulat sempurna di balik daster satinnya. "Aku merindukanmu semalam. Aku pulang kamu sudah tidur pulas sekali."

Laras menghela napas panjang, ada rasa bersalah yang berbaur dengan keletihan.

"Maaf, Mas. Kemarin Gilang rewel sekali, kakinya lecet karena jatuh saat main. Baru jam sepuluh dia bisa tidur, Laras langsung tidak kuat lagi menahan kantuk."

Bagas mengecup kening Laras, lalu turun ke hidung, dan berakhir di bibir. "Aku tahu kamu capek. Tapi lihatlah aku, Ras. Seharian mengurus warga, kepalaku rasanya mau pecah. Hanya kamu obatnya."

**

Baru saja Bagas hendak mencium leher Laras lebih dalam, suara tangisan melengking terdengar dari kamar sebelah.

"MAMAAAH! MAU PIPIS!" itu suara Gilang.

Laras tersentak. Gairah yang baru saja hendak menyentuh permukaan langsung buyar. Ia buru-buru membetulkan posisi dasternya.

"Mas, Gilang bangun," ucap Laras panik.

Bagas mendengus frustrasi, ia membenamkan wajahnya di bantal. "Kenapa harus sekarang? Suruh dia pipis sendiri, dia sudah empat tahun."

"Mana bisa, Mas. Kamar mandi gelap, dia takut," Laras tetap bersikeras. Dengan susah payah ia turun dari tempat tidur, menopang perutnya dengan satu tangan.

Laras berjalan cepat menuju kamar anak-anak. Di sana, Gilang sudah duduk di pinggir kasur sambil mengucek mata, sementara Arka mulai terusik karena kebisingan kakaknya.

"Iya, Gilang, ini Mamah. Ayo, pelan-pelan ke kamar mandi," Laras menuntun anak sulungnya.

Setelah urusan kamar mandi selesai, drama belum berakhir. Arka, si bungsu, ternyata benar-benar bangun dan langsung minta digendong. "Mamah... nenen... Arka mau nenen..."

Laras duduk di kursi kayu di ruang tengah, memangku Arka yang berusia dua tahun itu. Padahal, Laras merasa ASI-nya sudah mulai berkurang karena pengaruh hormon kehamilan, tapi Arka menjadikannya sebagai sarana mencari ketenangan. Putingnya terasa nyeri saat Arka menghisap dengan kuat, namun Laras hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit sambil mengusap punggung anaknya.

"Sabar ya, Nak... Mamah di sini," bisiknya lirih. Air mata hampir menetes karena rasa lelah yang merayap ke seluruh sendi, namun ia harus tetap tegar.

**

Hampir tiga puluh menit berlalu hingga akhirnya kedua anaknya kembali tenang dan tertidur setelah Laras membacakan cerita singkat dengan suara berbisik. Dengan langkah lunglai, ia kembali ke kamarnya, berharap bisa mencuci muka dan memulai aktivitas dapur.

Namun, begitu pintu terbuka, Bagas masih di sana, duduk bersandar di kepala ranjang dengan tatapan yang masih sama: menuntut.

"Sudah beres?" tanya Bagas pendek.

"Sudah, Mas. Laras mau ke dapur sekarang ya?"

"Sini dulu, Laras. Sebentar saja," Bagas menepuk sisi tempat tidur di sampingnya.

"Jangan buat suamimu ini berangkat kerja dengan perasaan tidak tenang."

Laras tahu apa artinya itu. Ia mendekat, duduk di samping Bagas. Bagas segera memeluknya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Laras. Tangan pria itu kembali masuk ke dalam daster, menyentuh kulit perut Laras yang hangat.

"Mas... apa tidak sebaiknya kita istirahat saja? Laras takut bayinya kenapa-kenapa, sudah tujuh bulan," Laras mencoba memberi alasan medis, meski sebenarnya ia hanya ingin merebahkan punggungnya yang pegal.

"Dokter bilang tidak apa-apa selama pelan-pelan, kan? Lagipula, ini cara kita menjaga ikatan. Aku tidak mau kita jauh hanya karena kamu sibuk dengan anak-anak," Bagas mulai memberikan kecupan-kecupan basah di tengkuk Laras, area yang paling sensitif.

Laras memejamkan mata. Ia merasakan kehangatan menjalar. Di satu sisi, ia merasa sangat dihargai karena suaminya masih menginginkannya meski bentuk tubuhnya berubah. Di sisi lain, ia merasa seperti mesin yang tak boleh berhenti beroperasi.

Bagas membaringkan Laras dengan sangat hati-hati, menyangga punggung istrinya dengan bantal tambahan agar perutnya tidak tertekan. "Kamu cantik sekali pagi ini, Laras... Istriku yang paling hebat," bisik Bagas rendah.

Sentuhan Bagas mulai menuntut lebih. Ketika jemari suaminya bermain di titik-titik paling rahasia, pertahanan Laras runtuh. Rasa lelahnya seolah tertutup oleh gelombang gairah yang dibangun Bagas dengan penuh pengalaman.

"Ahhh... Mas Bagas..." rintih Laras pelan, jemarinya meremas sprei dengan kencang.

Bagas bergerak dengan ritme yang terjaga, sangat memperhatikan kenyamanan Laras dan keselamatan janin mereka. Rintihan demi rintihan mulai memenuhi kamar yang masih temaram itu.

"Nngghh... Mas... pelan... ah..." desah Laras, napasnya mulai memburu.

Bagas pun tidak bisa menahan suaranya. Ia mengerang rendah, menyatukan keningnya dengan kening Laras. "Kamu... ah, Laras... aku sangat mencintaimu," ucapnya di sela napas yang tersengal.

Desahan mereka beradu dengan suara kicauan burung pertama yang menandakan pagi telah benar-benar datang. Keduanya tenggelam dalam keintiman yang intens, sebuah pelarian sejenak dari beban tanggung jawab yang menanti di luar pintu.

Setelah semuanya berakhir, Laras terengah di pelukan Bagas. Peluh membasahi dahi mereka. Bagas mengecup pipi Laras yang kemerahan. "Terima kasih, Sayang. Sekarang, tidurlah sepuluh menit lagi. Aku yang akan melihat air di dapur."

Laras tersenyum tipis, meski ia tahu sepuluh menit itu tidak akan pernah terjadi. Ia mendengar Arka mulai merengek lagi di kamar sebelah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangun dan merapikan dasternya. Inilah hidupnya: pengabdian tanpa henti, antara anak-anak, dapur, warga desa, dan keinginan suaminya yang tak pernah surut.

***

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!