karya ini aku buat atas pemikiran aku sendiri,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTARAN KUE KE KANTOR KEN DI ANTARAKAN OLEH SOPIR SWEETY BAKERY
Pagi itu, Key datang lebih awal dari biasanya ke Sweety Bakery. Langit masih berwarna abu-abu pucat, udara dingin menyusup pelan, namun lampu toko sudah menyala terang. Seperti yang ia janjikan semalam, pesanan besar harus disiapkan tepat waktu. Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.
Ia langsung mengenakan apron, mengikat rambutnya dengan rapi, lalu mulai bekerja. Adonan demi adonan ia siapkan dengan teliti. Croissant, pastry, cake kecil, hingga dessert manis—semuanya dibuat dengan standar terbaik. Tangannya bergerak cepat, cekatan, seolah rasa lelah kemarin tidak pernah ada.
Beberapa karyawan mulai berdatangan satu per satu. Mereka tampak sedikit terkejut melihat Key sudah sibuk sejak pagi buta.
“Pagi, Buk Key. Wah, sudah mulai dari tadi ya?” sapa salah satu karyawan.
Key hanya tersenyum tipis tanpa menghentikan pekerjaannya. “Pagi. Hari ini kita ada pesanan besar, jadi harus selesai lebih cepat.”
Mendengar itu, para karyawan langsung bersiap membantu. Suasana dapur kembali hidup. Suara mixer, oven, dan langkah kaki berpadu menjadi ritme yang sibuk namun teratur.
Setelah semua bahan mulai diproses, Key akhirnya berhenti sejenak dan menoleh ke arah mereka.
“Dengar ya semuanya,” ucapnya dengan nada tenang namun tegas. “Hari ini kita ada pesanan dari Pak Rifa. Dari perusahaan Pak Ken. Jumlahnya cukup banyak, jadi kita harus ekstra teliti.”
Beberapa karyawan saling pandang. Nama itu terdengar cukup familiar.
“Perusahaan besar itu, Buk?” tanya salah satu dari mereka.
Key mengangguk pelan. “Iya. Jadi jangan sampai ada yang salah. Semua harus rapi, bersih, dan sesuai pesanan.”
Mereka mengangguk paham.
Namun setelah itu, Key menambahkan sesuatu yang membuat suasana sedikit berubah.
“Untuk pengantarannya nanti… bukan aku yang pergi.”
Beberapa karyawan terlihat sedikit bingung.
“Loh, biasanya Buk Key yang antar langsung, kan?” celetuk salah satu dari mereka.
Key terdiam sejenak, lalu tanpa banyak ekspresi, ia menjawab, “Tanganku masih sakit. Jadi hari ini yang akan mengantarkan adalah sopir dari toko.”
Ia mengangkat sedikit pergelangan tangannya seolah memperkuat alasannya. Meskipun sebenarnya, tidak ada yang benar-benar salah.
Karyawan-karyawan itu langsung mengangguk, tidak curiga.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Yang penting sampai dengan aman,” jawab mereka.
Key hanya mengangguk kecil.
Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, namun pikirannya tidak sepenuhnya ada di sana. Alasan yang baru saja ia ucapkan terasa berat di hatinya. Ia tahu itu bohong.
Tangannya sudah tidak sakit.
Ia bisa saja mengantarkan pesanan itu seperti biasanya. Ia mampu. Ia sanggup.
Tapi ia memilih untuk tidak melakukannya.
Karena ia tahu… jika ia datang ke sana, kemungkinan besar ia akan bertemu dengan Ken.
Dan itu adalah hal yang paling ingin ia hindari.
Tangannya berhenti sejenak di atas adonan. Napasnya tertahan sesaat, lalu ia kembali bergerak, seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Ini hanya keputusan sederhana. Tidak ada yang salah. Ia hanya ingin fokus bekerja. Tidak ingin terlibat dalam hal-hal yang tidak perlu.
Namun di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik pelan—bahwa ia sebenarnya sedang lari.
Dari perasaan.
Dari masa lalu.
Dari seseorang yang masih meninggalkan luka.
Waktu terus berjalan. Satu per satu pesanan mulai selesai. Kue-kue ditata dengan rapi dalam kotak, dihias dengan hati-hati, memastikan tampilannya sempurna.
Sekitar pukul sembilan lewat, semuanya hampir siap.
Key memanggil sopir toko dan menjelaskan detail pengiriman.
“Tolong pastikan sampai sebelum jam sepuluh,” ucapnya pelan. “Ini alamatnya sudah lengkap. Hati-hati di jalan.”
Sopir itu mengangguk. “Siap, Buk Key.”
Key menyerahkan daftar pesanan dan memastikan semuanya sudah dimasukkan ke dalam mobil dengan aman.
Saat mobil itu akhirnya pergi meninggalkan halaman toko, Key berdiri diam di depan pintu. Matanya mengikuti mobil itu sampai menghilang dari pandangan.
Ada perasaan aneh yang muncul di dadanya.
Seharusnya ia merasa lega.
Karena ia berhasil menghindari pertemuan itu.
Namun entah kenapa, ada sedikit rasa kosong yang tersisa.
Key menunduk pelan, lalu menghela napas panjang.
Ia kembali masuk ke dalam toko, kembali ke rutinitasnya, kembali menjadi dirinya yang terlihat baik-baik saja.
Seolah-olah tidak ada yang ia hindari.
Seolah-olah tidak ada yang ia rasakan.
Padahal jauh di dalam hatinya, ia tahu… tidak semuanya benar-benar selesai.
😉🤍