Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melangkah untuk hidup Baru
Malam semakin larut,Angin malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun pikiran Arumi jauh lebih kalut daripada sekadar rasa dingin. Di depannya , tubuh tegap Elang terlihat begitu kokoh. Pria yang baru saja sah menjadi suaminya dalam sebuah akad yang terburu-buru itu kini akan membawanya menuju dunianya sebuah dunia yang sangat asing bagi Arumi
"Habis ini kita akan kemana ,mas ?" Tanya Arumi,sekarang ia sudah tidak punya tempat tinggal ,dan Hanya Elang harapannya saat ini .
"Tempat kos ku,tapi ...." Ucapan Elang terhenti .
"Tapi apa ? Apakah aku tidak boleh ikut bersamamu ?"
"Bukan begitu ,Tempat kosku sangat kecil ,Kamu tidak apa-apa kalau kita tinggal satu kamar?" tanya Mas Elang sembari ia sibuk membereskan dagangan bakso bakarnya ke atas motor.
Ada gurat rasa tidak enak di wajahnya yang tampan. Arumi tahu apa yang Elang pikirkan. Biasanya Arumi hidup di rumah yang nyaman, dengan segala fasilitas yang memadai. Kini, dalam sekejap mata, ia harus tinggal berdempetan di sebuah kos-kosan sederhana.
"Tidak apa-apa, Mas! Lagi pula, aku sekarang sudah tidak punya tempat tinggal. Aku yang merasa tidak enak karena sudah terlalu banyak merepotkan Mas Elang," sahut Arumi cepat.
Hati Arumi mencelos setiap kali mengingat kebaikan Elang ia merasa berutang budi sangat besar padanya. Padahal, jujur saja, mereka belum saling mengenal secara mendalam. Pertemuan mereka hanyalah kebetulan yang berujung pada keputusan nekat demi menyelamatkan masa depan Arumi .
Setelah barang dagangan sudah rapi ,Elang meminta Arumi untuk naik diatas motornya
"Aku merasa sangat tidak enak kalau harus merepotkan Mas terus. Besok kan hari Minggu, jadi besok pagi aku akan mencari kontrakan sendiri untuk aku tinggali. Aku tidak mau terus-menerus membebani Mas Elang," ujarku lagi saat kami hampir sampai di lokasi kosnya.
Mendengar ucapan Arumi , Elang menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap Arumi tajam. Tatapan itu tidak dingin, tapi penuh dengan ketegasan yang membuatku menciut.
"Apa? Kamu mau cari kontrakan sendiri dan tidak mau tinggal bersamaku?" tanya Elang dengan nada yang menuntut jawaban pasti. Arumi hanya bisa menundukkan kepala, tidak berani membalas tatapan mata Elang yang mengintimidasi namun entah mengapa terasa menghangatkan.
"Iya, Mas ... aku merasa tidak enak kalau harus merepotkan Mas Elang terus," jawab Arumi lirih. Ia tahu Elang orang yang sangat baik, tapi Arumi tidak ingin kehadirannya justru menjadi beban bagi Elang, apalagi status mereka menikah yang masih terasa seperti mimpi.
"Kamu merasa tidak enak padaku? Memangnya aku ini makanan, sampai kamu merasa nggak enak?" ucap Elang tiba-tiba dengan nada bercanda
Sebuah senyuman terukir di bibirnya.
Meski cahaya malam hanya dibantu oleh lampu taman dan lampu jalan yang temaram, wajah tampannya masih terlihat sangat jelas. Arumi sempat terpaku. Senyuman itu begitu manis, sangat kontras dengan kesan tegas yang ia tunjukkan tadi.
("Gila! Senyum begitu saja gantengnya kelewatan. Apalagi kalau aku melihatnya setiap hari, bisa-bisa aku jatuh hati sungguhan padanya,") batin Arumi dalam hati.
Entah mengapa, sejak pandangan pertama, dia merasakan ada getaran tersendiri. Sebuah dorongan yang membuatnya berani mengajaknya menemui ayahnya dan menjadikannya tameng sebagai calon suami, Mungkin inilah yang orang-orang sebut sebagai cinta pada pandangan pertama. Padahal, semenjak Aruni dikhianati oleh mantan kekasihnya dua tahun lalu, hatinya rasanya sudah mati. Luka perselingkuhan itu menciptakan trauma yang mendalam, membuatku lebih nyaman hidup sendiri tanpa komitmen.
"Heh, ditanya malah melamun?" tegur Elang sambil menyenggol bahu Arumi pelan. Sontak Arumi tersadar.
"E-eh, maaf Mas! Tadi Mas bertanya apa?" tanya Arumi kikuk.Elang hanya tersenyum melihat Arumi yang salah tingkah .
"kamu lucu." Elang terkekeh .
"Kok malah senyum begitu ,memang tadi mas ngomong apa ?"
"Aku cuma bilang, jangan merasa tidak enak. Aku ini manusia, bukan makanan," ulangnya kembali sambil terkekeh
Bukan begitu, Mas. Tapi aku benar-benar tidak ingin menjadi beban. Tinggal dalam satu kontrakan dengan Mas itu ..."
"Kamu lupa? Kita ini sudah menikah, Arumi," potongnya dengan lembut namun telak.
"Mana ada suami yang merasa terbebani oleh istrinya sendiri? Sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan tempat berlindung untukmu." Elang berkata dengan lembut namun menusuk .
Kalimat yang dikatakan Elang tadi terasa menghujam jantung Arumi . "Benar, pernikahan kita memang dadakan, tapi di mata hukum dan agama, kamu adalah tanggung jawabku ." Elang berkata dan menatap Arumi lembut .
"Tapi mas ,kita kan ..."
"Kamu itu sekarang istriku, Arumi. Aku wajib melindungimu. Walaupun kita belum saling mengenal, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu," tambahnya lagi.
Mendengar Arumi mataku terasa panas. ia merasa terharu. Orang asing yang baru ia temui justru memperlakukannya jauh lebih manusiawi dibandingkan ayah kandungnya sendiri. Ayah yang seharusnya melindungi putrinya justru malah tega hendak menjerumuskannya ke dalam neraka hanya demi iming-iming uang dari Pak Dirga.
"Tapi aku malu, Mas. Kita belum saling mengenal, tapi aku sudah menarikmu ke dalam tali pernikahan ini," Arumi merasa tidak enak hati pada Elang ,Arumi yang tiba tiba mengajak Elang kerumah dan bertemu orangtuanya mengaku sebagai pacar dan calon suami pura -pura ,justru menarik Elang ke ikatan pernikahan yang sesungguhnya ,padahal saat itu Elang bisa saja kabur,dan tidak harus menikahinya .
"Aku sudah ikhlas, Arumi. Mungkin ini sudah takdir dari Allah. Dia memilihmu untuk menjadi pendampingku," jawab Elang tenang.
"Terima kasih, Mas. Aku juga akan berusaha menerima pernikahan ini dan menjalaninya dengan ikhlas."
"Baiklah, kita sama-sama belajar untuk saling menerima dan memahami," ucap Elang bijak.
Arumi merasa hatinya lega ,
"Iya, Mas. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik ... walaupun, jujur saja, aku belum siap untuk adanya kontak fisik," kata Arumi dengan ragu.
Elang tersenyum tipis. "Aku mengerti. Jangan khawatir Aku tidak akan memaksamu kita jalani pernikahan kita pelan - pelan ."
"Terimakasih Mas sudah mau mengerti aku "
"Maaf ya ,kamu naik motor ini ,dan aku Tahu kamu duduk tidak nyaman ."
"Nggak apa -apa mas ,yang pentingkan bisa sampai ke kontrakan mas ,dari pada jalan kaki ,bisa gempor ini kaki ." Arumi tertawa cekikan
"Nggak apa- apa ,nanti sampai rumah biar aku pijet"
Arumi tertunduk malu "Mas ini senang bercanda ."
"Biar kamu tersenyum ,tidak mewek terus ,untuk apa mewek terus sekarang kamu sudah bersamaku ,dan aku tidak akan membiarkan kamu menangis ."
Arumi mukanya merona ,tapi tidak terlihat karena gelapnya malam ,namun Elang bisa melihat perubahan kecil pada wajah Arumi ,lewat sorot lampu yang sesekali menyorot wajah Arumi .
Melihat itu Elang tersenyum ," Sekarang sudah malam, ayo kita ke kontrakan. Aku juga sudah cukup lelah dan ingin istirahat."