Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan yang Datang Tanpa Undangan
Pagi itu Raka datang ke kantor lebih cepat dari biasanya.
Bukan karena rajin.
Bukan juga karena bosnya tiba-tiba berubah menjadi galak.
Tapi karena semalam ia tidak bisa tidur.
Pembicaraannya dengan Lala tentang masa depan masih berputar-putar di kepalanya.
Pernikahan.
Lamaran.
Rumah.
Hal-hal yang dulu selalu ia hindari seperti orang menghindari tagihan kartu kredit.
Sekarang tiba-tiba terasa nyata.
Raka duduk di kursinya sambil menatap layar komputer.
Tapi yang ia lihat bukanlah laporan kerja.
Yang ia bayangkan justru Lala.
Lala dengan gaun pengantin.
Lala memarahinya karena lupa tanggal penting.
Lala mengomel karena ia tidak membereskan kaos kaki.
Raka menggeleng sendiri.
“Kenapa gue udah mikir sejauh itu…”
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
Doni masuk sambil membawa kopi.
“Pagi.”
“Pagi.”
Doni meletakkan kopi di meja Raka.
“Lu kelihatan kayak orang yang habis mikir masa depan negara.”
Raka menghela napas.
“Gue semalam ngobrol sama Lala.”
“Terus?”
“Dia ngomongin pernikahan.”
Doni langsung duduk.
“Wah.”
“Kenapa ‘wah’?”
“Itu berarti fase hubungan kalian udah naik level.”
Raka menatapnya.
“Level apa?”
“Level dimana cowok mulai takut.”
Raka mengambil kopi.
“Gue gak takut.”
Doni menatapnya tajam.
“Lu mikir sampai jam berapa semalam?”
Raka diam.
Doni menyeringai.
“NAH KAN.”
Raka menghela napas.
“Gue cuma belum siap.”
Doni menepuk bahunya.
“Tenang.”
“Apa?”
“Cewek kalau udah ngomong begitu biasanya masih lama.”
Raka terlihat lega.
“Serius?”
“Iya.”
“Baguslah.”
Tiba-tiba resepsionis mengetuk pintu.
“Mas Raka, ada tamu.”
Raka mengerutkan kening.
“Client?”
“Katanya teman lama.”
Raka berpikir sebentar.
“Suruh masuk.”
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Dan saat itulah Raka membeku.
Perempuan yang masuk ke ruangan itu tersenyum.
Rambut panjang.
Wajah yang sangat ia kenal.
Perempuan itu berkata pelan.
“Halo, Raka.”
Doni menoleh ke Raka.
“Teman lama lu?”
Raka menelan ludah.
“Ini… mantan gue.”
Nama perempuan itu Nadia.
Orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup Raka beberapa tahun lalu.
Hubungan mereka dulu cukup serius.
Tapi berakhir tidak terlalu baik.
Dan setelah itu Nadia pindah ke Jakarta.
Mereka tidak pernah bertemu lagi.
Sampai hari ini.
Nadia duduk di kursi tamu dengan santai.
“Udah lama ya.”
Raka masih mencoba memproses situasi.
“Iya… lama.”
Doni yang duduk di pojok ruangan mulai merasa situasinya tidak nyaman.
Ia berdiri.
“Gue keluar dulu.”
Raka hampir berteriak.
“JANGAN!”
Doni berhenti.
“Kenapa?”
“Temenin gue.”
Nadia tertawa kecil.
“Masih sama ya kamu.”
Raka menggaruk kepala.
“Ngapain kamu ke sini?”
Nadia menyilangkan kaki.
“Aku kerja di perusahaan baru.”
“Oh.”
“Dan kebetulan kantorku dekat sini.”
Raka mengangguk.
“Terus?”
“Aku pikir… gak ada salahnya menyapa teman lama.”
Raka merasa ini bukan ide yang bagus.
Sama sekali.
Nadia melihat sekeliling ruangan.
“Kamu kelihatan lebih dewasa sekarang.”
Raka tertawa kaku.
“Kayaknya enggak.”
Nadia tersenyum tipis.
“Masih suka menunda semuanya?”
Raka terdiam.
Kalimat itu terasa seperti menekan tombol kenangan lama.
Dulu Nadia sering marah karena satu kebiasaan Raka.
Menunda.
Menunda keputusan.
Menunda rencana.
Menunda masa depan.
Dan akhirnya hubungan mereka juga… tertunda terlalu lama sampai akhirnya hancur.
Nadia berdiri.
“Senang ketemu kamu lagi.”
Raka juga berdiri.
“Iya.”
Nadia menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan.
“Semoga kali ini kamu tidak menunda hal-hal penting lagi.”
Ia lalu berjalan keluar ruangan.
Begitu pintu tertutup…
Doni langsung menoleh ke Raka dengan mata besar.
“ANJIR.”
Raka menghela napas panjang.
“Kenapa dia muncul sekarang…”
Doni menyeringai.
“Ini bahaya.”
“Kenapa?”
“Karena dalam hukum percintaan…”
“Apa lagi?”
“Kalau mantan muncul…”
“Terus?”
“Biasanya cerita mulai ribet.”
Raka menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Jangan bilang begitu.”
Sore harinya Raka bertemu Lala di kafe.
Lala datang dengan wajah cerah seperti biasa.
“Kamu kelihatan capek.”
Raka tersenyum kecil.
“Sedikit.”
“Kerja banyak?”
Raka ragu beberapa detik.
Lalu berkata pelan.
“Hari ini aku ketemu seseorang.”
“Siapa?”
Raka menarik napas.
“Mantan aku.”
Lala berhenti mengaduk minumannya.
“Oh.”
Hanya satu kata.
Tapi Raka langsung merasa suhu ruangan turun beberapa derajat.
Lala mencoba tersenyum.
“Namanya?”
“Nadia.”
Lala mengangguk pelan.
“Dia cantik?”
Raka langsung menegang.
Doni benar.
Ini perangkap lagi.
Raka berpikir sangat cepat.
Lalu menjawab hati-hati.
“Dia bagian dari masa lalu.”
Lala menatapnya.
“Terus?”
Raka menunjuk Lala.
“Kamu bagian dari masa depan.”
Lala terdiam beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Jawaban kamu makin pintar.”
Raka menghela napas lega.
“Belajar dari pengalaman.”
Lala tertawa.
Tapi di dalam hatinya…
Ada sedikit perasaan yang tidak ia sukai.
Perasaan yang sama seperti saat ia melihat Clara di kantor dulu.
Cemburu.
Namun kali ini sedikit berbeda.
Karena yang datang bukan sekadar perempuan lain.
Tapi masa lalu Raka.
Dan kadang…
Masa lalu adalah hal yang paling sulit untuk benar-benar pergi.