NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Pengantin Pengganti Untuk Sang Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Era Kolonial / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."

Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.

Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.

Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.

Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Violet masuk ke kamar yang ditujukan untuk nya. kamar itu tiga kali ukuran kamarnya di rumah Hartawan.

Ranjang besar dengan sprei putih bersih. Lemari pakaian yang kosong sampai Violet membukanya dan menemukan beberapa stel pakaian yang tergantung rapi di dalamnya, ukurannya kira-kira pas untuk tubuhnya. Meja rias dengan cermin bundar. Jendela besar menghadap taman belakang yang sudah mulai gelap ditelan sore.

Violet duduk di tepi ranjang dengan gaun pernikahannya yang mulai kusut, buket bunga yang sudah layu sepenuhnya masih di tangannya, dan merasakan seluruh hari itu akhirnya jatuh ke pundaknya sekaligus.

Pagi tadi ia masih tinggal di kamar ujung lantai dua rumah Hartawan dengan atap yang sedikit miring.

Sekarang, ia ada di tempat ini. Rumah asing. Kamar asing. Dengan status yang bahkan bukan miliknya sejak awal.

Dan orang yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini, tidak bisa dihubungi sejak pagi.

Violet meletakkan buket bunga di meja rias. Ia menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan.

Ia tidak menangis.

Bukan karena tidak mau. Tapi karena rasanya lebih penting memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah ini.

*****

Makan malam itu disiapkan Matilda di meja makan yang panjang dan hanya ada dua piring yang ditata di dua ujung yang berseberangan. Violet turun setelah berganti ke salah satu baju yang ada di lemari, baju sederhana berwarna abu-abu yang terasa jauh lebih nyaman dari gaun tadi.

Adriel sudah duduk di ujung mejanya dengan ponsel di tangan ketika Violet masuk. Ia tidak mengangkat wajah.

Violet duduk di ujung yang satunya. Matilda menghidangkan makanan lalu mengundurkan diri dengan langkah yang senyap.

Mereka makan dalam diam.

Bukan diam yang canggung. Lebih seperti diam dua orang yang sama-sama sudah memutuskan bahwa malam ini bukan malam yang tepat untuk memulai apapun.

Violet hampir sudah selesai ketika Adriel meletakkan ponselnya dan berbicara untuk pertama kali sejak di dalam mobil tadi.

"Kamu tahu cara berkuda?"

Violet mengangkat wajah. "Tidak."

"Berenang?"

"Sedikit."

Adriel mengangguk seperti sedang mencatat sesuatu dalam kepala lalu mengambil ponselnya lagi.

Violet menunggu apakah ada kalimat lanjutannya. Tapi ternyata tidak ada.

Ia lantas meletakkan sendoknya, menyeka sudut bibirnya dengan serbet, lalu berdiri. "Permisi."

Adriel tidak menjawab.

Violet sudah di tengah tangga ketika suara itu terdengar dari ruang makan, pelan tapi cukup jelas.

"Jangan buka pintu untuk siapapun dari keluarga Hartawan tanpa izinku."

Violet berhenti selangkah. Tangannya memegang pegangan tangga.

Ia tidak berbalik. "Baik."

Lalu ia melanjutkan langkahnya ke atas, masuk ke kamarnya, menutup pintu, dan berdiri di tengah ruangan itu dalam gelap sebentar sebelum menyalakan lampu.

Di atas meja rias, buket bunga putih yang sudah layu itu masih ada di tempatnya. Violet menatapnya lama.

Satu kalimat Adriel tadi berputar di kepalanya.

Jangan buka pintu untuk siapapun dari keluarga Hartawan tanpa izinku.

Sepertinya itu bukan perintah untuk melindunginya. Itu bisa jadi perintah untuk mengurungnya. Violet belum tahu mana yang benar dan mana yang bukan, dan dengan laki-laki seperti Adriel Voss, kemungkinan besar jawabannya bukan salah satu dari keduanya.

Karena memang laki-laki itu tidak bisa di tebak.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang gelap, dan menyadari satu hal yang tidak ia antisipasi sejak awal setelah memutuskan untuk berdiri di pelaminan itu.

Bahwa hidup di rumah ini mungkin jauh lebih rumit dari sekadar hanya bertahan.

ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ

Dibelahan bumi lain, tepatnya di kota yang berbeda dengan suasana yang jauh berbanding terbalik dengan apa yang dialami Violet, Teresa justru sedang menikmati hidup nya.

Kini ia tinggal di apartemen, dengan pemandangan kota dari lantai atas yang jelas harganya tak murah. Teresa tahu karena ia yang membayar uang sewanya.

Dan tentu saja ia tidak tinggal sendiri, melainkan juga tinggal bersama Diego, pria yang membantunya dalam pelariannya kemarin.

Teresa bangun dalam keadaan pusing namun dengan perasaan penuh. Hari ia benar-benar menikmati kebebasannya, berpesta seharian di club dengan bebas yang selalu menjadi wishlist nya sejak dulu tapi tak pernah tercapai karena tittle "anak Jenderal" yang membebani nya.

Tapi sekarang, dia bisa melakukan apapun tanpa rasa takut lagi.

Karena kota ini berbeda dari kota asalnya. Lebih ramai, lebih aman, lebih tidak peduli siapa kamu dan dari mana kamu berasal. Kebebasan yang selalu Teresa sukai. Di sini tidak ada Jenderal Hartawan dengan tatapan yang menghitung setiap langkahnya. Tidak ada Bu Hartawan yang mengatur cara duduk dan cara senyumnya. Tidak ada penekanan dalam hidup nya, harus A, harus B, harus C, sebab disini ia bisa hidup dengan caranya sendiri.

Di sebelah nya Diego tidur dengan dengkuran halus, memeluk pinggangnya dengan posesif.

Dengan kamar mereka yang dipenuhi oleh alat kontrasepsi. Teresa tersenyum cerah, rasanya belum pernah ia sebahagia ini.

"Morning beb. " suara serak Diego membuyarkan lamunan Teresa.

Perempuan itu menoleh, tersenyum. "Morning."

Lalu tanpa aba- aba, Diego menarik tengkuknya, mempertemukan bibir mereka dengan brutal. Suara cecapan dari pagutan bibir mereka terdengar nyaring di apartemen yang masih sunyi itu, mereka saling menukar ludah, membelit lidah dengan tangan Diego yang mulai merayap kemana-mana.

Lantas Teresa tersenyum ketika pagutan mereka akhirnya terlepas. Inilah yang ia suka dari Diego, penuh gairah yang membara yang membuat nya selalu bersemangat.

Coba bayangkan kalau dia menikah dengan jenderal muda yang kaku dan lurus- lurus saja itu? Iyuh, Teresa tidak berani membayangkan akan bagaimana hidup nya.

Untungnya ada kakak bodohnya yang senang hati menggantikan posisinya, bahkan rela menyelundupkan kunci mobil ayah mereka untuk nya dan uang yang ia bawa lari itu? tentu saja ia curi diam- diam sebelum kabur.

Dan kini uang tabungan kakaknya itulah yang ia pakai untuk foya-foya dan membiayai kehidupan Diego.

Yap, Diego adalah seorang pengangguran bahkan sebelum bertemu dengan Teresa. Dan alasan kenapa Teresa menolak perjodohan itu adalah karena tidak bisa melupakan Diego. Diego yang menariknya ke kehidupan anak muda yang liar, bahkan keperawanannya saja sudah diambil Diego sejak ia masih SMA, seluruh hidup nya bergantung pada Diego.

Maka ketika laki-laki itu mengajaknya balikan dua minggu lalu Teresa sangat senang dan menyetujui nya tanpa memikirkan konsekuensinya bahkan ketika Diego mengatakan dia harus siap di duakan Teresa tidak peduli, karena cintanya sudah begitu mengakar untuk Diego.

"Malam ini teman- temanku akan datang. " Ucap Diego tanpa menoleh dari layar ponsel yang sudah di tatapnya semenit lalu.

Teresa tersenyum, namun tak sampai ke mata. Kalau Diego sudah mengatakan itu maka harus ada uang yang harus digelontorkan nya lagi, untuk menyenangkan teman- temannya, semua kebutuhan untuk pesta yang semuanya Teresa tanggung.

Namun anehnya Teresa tidak mempersalahkan itu, baginya membiayai semua kebutuhan Diego adalah memberikan cintanya dengan sepenuh hati.

Asalkan kekasihnya itu senang, Teresa tidak membutuhkan apapun lagi.

Tidak peduli bahwa uang pelarian yang di ambil dari tabungan kakaknya yang ia curi kini sudah mulai menipis.

*****

BERSAMBUNG

1
Arai Cadella
Aku tinggalkan jejak. Aku suka pemilihan kata-katanya, sederhana namun sampai.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!