NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

BAB 25: Sandiwara di Balik Sutra Hitam

Malam di Berlin terasa lebih sunyi dari biasanya. Salju yang turun di luar jendela kastil Hohenzollern seolah membungkam kebisingan dunia, menyisakan kesunyian yang mencekik di dalam kamar utama yang luas. Di tengah temaram lampu tidur berbahan kristal, Aurelius terbangun. Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa alkohol dari pelariannya di Tokyo masih meninggalkan denyut nyeri di pelipisnya.

Ia mencoba bergerak, namun ia merasakan beban di lengannya. Sophia tertidur di sampingnya, memeluk lengan Aurelius dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedetik saja, pria itu akan menguap ditiup angin musim dingin.

Aurelius terdiam. Ia menatap wajah Sophia yang terlelap. Biasanya, ia akan menatap wanita ini dengan sinis atau muak, melihatnya sebagai gangguan dalam rencananya. Namun malam ini, tatapan Aurelius berbeda. Matanya meredup, hanya menyisakan sorot mata yang sangat lelah. Ia lelah berlari, lelah berperang, dan yang paling utama, ia lelah merindukan seseorang yang kini telah menjadi milik pria lain.

Pelukan Sophia yang posesif terasa seperti jangkar. Meski ia tidak mencintai wanita ini, kehadiran Sophia adalah satu-satunya realitas yang tersisa setelah mimpinya tentang Hana hancur berkeping-keping di altar Hotel Imperial.

Dengan gerakan perlahan agar tidak membangunkan Sophia, Aurelius melepaskan pelukan itu. Ia bangkit dari ranjang, tubuhnya terasa kaku. Ia melangkah menuju kamar mandi utama yang berlapis marmer hitam. Di bawah pancuran air hangat, Aurelius membiarkan air membasahi kepalanya, mencoba menghanyutkan bayangan senyum Hana yang terus menghantuinya. Setiap tetes air terasa seperti mencoba mencuci dosa dan luka yang membekas di jiwanya.

Sepuluh menit kemudian, Aurelius keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan jubah sutra hitam yang panjang, kontras dengan kulit pucatnya. Rambut wolf cut-nya yang basah dibiarkan acak-acakan, meneteskan air ke bahunya. Ia tampak seperti malaikat yang jatuh—indah namun rusak.

Saat ia kembali ke kamar, ia mendapati Sophia sudah duduk di tepi ranjang. Rambut pirangnya berantakan, dan matanya yang sembab menatap Aurelius dengan kecemasan yang murni.

Aurelius berhenti di depan ranjang. "Kenapa kau bangun, Sophia?" tanyanya, suaranya rendah dan serak, namun tidak lagi mengandung ketajaman yang biasanya menyakiti hati wanita itu.

"Karena kau pergi," jawab Sophia dengan suara parau. Ia mencengkeram seprai sutra. "Aku takut saat aku membuka mata, kau sudah terbang kembali ke tempat yang menjauh dariku."

Aurelius menatap Sophia lama. Ia melihat ketulusan yang egois namun nyata di mata tunangannya. Ia menyadari bahwa di dunia yang penuh pengkhianatan ini, hanya Sophia yang—dengan segala obsesinya—setia menunggunya kembali meski ia pulang dalam keadaan hancur.

Aurelius melangkah maju. Ia duduk di samping Sophia dan tiba-tiba menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di leher Sophia, menghirup aroma parfum mawar yang mahal, mencoba memaksa otaknya untuk melupakan aroma melati dari Jepang.

"Aku tidak akan pergi," bisik Aurelius. "Aku di sini, Sophia. Aku tidak akan ke mana-mana lagi."

Kalimat itu adalah janji sekaligus vonis mati bagi perasaannya sendiri. Sophia membalas pelukan itu dengan penuh gairah, tangannya merambat ke tengkuk Aurelius. Malam itu, di bawah selimut hitam yang mewah, mereka kembali menyatu. Namun kali ini, Aurelius tidak lagi hanya diam dan pasrah.

Ada kemarahan, keputusasaan, dan hasrat untuk melupakan yang ia tumpahkan dalam setiap sentuhannya. Ia bergerak dengan gairah yang membara, memimpin permainan dengan intensitas yang membuat Sophia terengah-engah. Aurelius menggunakan tubuh Sophia sebagai pelarian dari rasa sakitnya. Ia ingin merasakan sesuatu—apa pun itu—yang bisa menutupi kehampaan di dadanya. Gairah itu terlihat nyata di mata dunia, seolah-olah sang Kaisar akhirnya telah jatuh cinta pada permaisurinya.

Minggu-minggu berikutnya, suasana di Berlin berubah drastis. Berita tentang "kembalinya" kemesraan pasangan emas Hohenzollern-Sophia memenuhi kolom-kolom gosip elit Eropa.

Aurelius mulai memperlihatkan kemesraan publik yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Di acara-acara amal, ia akan melingkarkan tangannya di pinggang Sophia, berbisik di telinganya hingga wanita itu tersipu, dan sesekali mengecup keningnya di depan kamera. Mereka terlihat seperti pasangan yang paling serasi di Benua Biru.

Di kantor pusat, Aurelius bahkan sering meminta Sophia menemaninya makan siang. Ia membawakan hadiah-hadiah mewah—perhiasan langka, tas limited edition, hingga saham di beberapa perusahaan mode—sebagai tanda "penyesalannya".

"Kau terlihat sangat bahagia, Kak," ucap Julian suatu sore di kantor Aurelius, sambil menatap kakaknya yang baru saja mengirimkan buket bunga raksasa ke kediaman Sophia.

Aurelius berhenti menulis dokumen. Ia menatap ke luar jendela, ke arah taman yang tertutup salju. Wajahnya yang bugar dan tampan tidak menunjukkan sedikit pun kesedihan.

"Bukankah ini yang diinginkan Ayah? Bukankah ini yang diinginkan dunia?" tanya Aurelius datar.

"Tapi apakah ini yang kau inginkan?" Julian mengejar.

Aurelius terdiam. Ia merogoh saku jubah kantornya, menyentuh sebuah benda kecil yang selalu ia bawa namun tidak pernah ia lihat lagi: sebuah kunci bengkel tua yang sudah mulai berkarat.

"Keinginanku sudah mati di Tokyo, Julian," suara Aurelius terdengar seperti gema dari ruang bawah tanah. "Sekarang yang ada hanyalah kebutuhan. Aku butuh Sophia untuk menghancurkan Ayah. Aku butuh aliansi ini untuk menguasai Eropa. Dan jika aku harus berpura-pura mencintainya seumur hidupku agar Hana bisa hidup tenang dengan suaminya di Jepang, maka aku akan melakukannya."

Julian menunduk. Ia tahu, di balik kemesraan yang diperlihatkan Aurelius, kakaknya sedang membangun tembok raksasa di hatinya. Setiap tawa yang diberikan Aurelius untuk Sophia adalah duri yang ia tancapkan sendiri di jiwanya.

Di sisi lain, Sophia merasa berada di puncak dunia. Ia merasa telah benar-benar memenangkan hati Aurelius. Ia tidak tahu bahwa setiap kali Aurelius memeluknya di malam hari, pria itu memejamkan mata dan membayangkan sedang berada di sebuah bengkel kecil di pinggiran Tokyo, mencium aroma oli dan keringat dari seorang wanita yang kini sudah memiliki nama belakang orang lain.

Aurelius tetap menjadi Kaisar yang sempurna. Ia memimpin perusahaan dengan tangan besi, mencintai tunangannya dengan kemesraan yang manis, dan dihormati oleh ayahnya. Namun, di setiap hening malam, saat Sophia tertidur di pelukannya, Aurelius akan menatap kegelapan dan berbisik dalam hati, sebuah nama yang tidak akan pernah ia ucapkan lagi dengan bibirnya.

"Berbahagialah, Hana. Biarkan aku yang menanggung neraka ini sendirian."

Sandiwara agung Hohenzollern terus berlanjut. Benua Eropa merayakan cinta palsu mereka, sementara di belahan bumi lain, benang merah yang terputus mulai tertutup oleh debu waktu dan ambisi yang dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!