"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Manusia Yang Berbeda
Author Pov
Pagi ini akan menjadi pagi yang baru, bagi dua anak manusia yang sejatinya mereka tidaklah ingin bersama, namun takdir agaknya mempertemukan mereka.
Raina yang sudah mengetahui sosok pemuda yang ingin di jodohkan oleh kedua orang tuanya, tampak mencoba menata hati dan fikirannya, ia hanya ingin menutup telinga tentang semua hal buruk mengenai Fajar.
Seperti saat ini, ketika ia berjalan cepat karena takut terlambat masuk kedalam kelas. Dirinya harus melihat pemandangan yang membuat matanya panas ketika memikirkan perkataan Bunda Sinta dan Uminya Fatma.
Bagaimana mungkin seorang laki-laki dan wanita yang bukan makhrom tampak asyik berpelukan, dan lebih parahnya lagi itu di tempat umum – batin Raina, yang kemudian langsung pergi dengan cepat dari tempat yang menyesakkannya itu.
Di dalam kelas bahkan ia tidak bisa fokus dengan penjelasan yang diterangkan oleh dosennya, sampai-sampai karena melamun Raina mendapatkan teguran dan ia juga tidak berhasil menjawab pertanyaan yang dilontarkan untuknya.
“Raina.. coba kamu jelaskan mengenai bagaimana perkembangan bisnis di Indonesia saat ini, sesuai dengan yang sudah saya jelaskan tadi,” kata dosen itu, yang cukup membuat Raina kikuk. Karena ia sama sekali tidak menangkap materi apapun yang sang dosen itu berikan.
“Maa.. maaf Bapak, saya tidak fokus tadi pak,” kata Rania sambil menunduk, ia tampak pasrah kali ini dengan apapun yang akan sang dosen lakukan kepadanya yang tidak memperhatikan.
“Baik.. saya ingin mengingatkan pada saudara, bahwa.. masalah apapun itu yang sedang kita hadapi, kalian sebagai mahasiswa dan saya sebagai dosen, kita semua harus fokus dan tetap profesional. Jangan campurkan antara masalah pribadi dengan kegiatan di Kampus,” jelas Pak dosen itu masih dengan penuh kesabaran.
Hari ini Raina bisa selamat, karena dosen yang mengajarnya hari ini bukanlah dosen yang galak. Jika tidak, mungkin Raina akan mendapatkan hukuman atau bahkan mungkin akan diusir dari kelas.
“Baik Pak, terimakasih Bapak sudah mengingatkan kami semua,” ucap Raina masih menunduk dan masih merasa sangat bersalah dengan dosennya itu.
*****
Setelah mencoba keras untuk fokus pada apa yang dijelaskan oleh Bapak dosen, Raina agaknya dapat bernafas lega karena waktu istirahat telah tiba. Segera ia dan Sindi pergi keluar, namun bukan Sindi namanya jika tidak banyak bertanya kepada sahabatnya itu.
“Rin.. hari ini kamu sakit?” kata Sindi sambil memeriksa dahi Raina.
“Nggak kok.. aku baik-baik aja. Tadi kayak ada yang aku lupa, tapi aku juga gak tahu,” jawab Raina, yang mencoba membuat sahabatnya itu tak bertanya apapun padanya lagi.
“Emm.. aku kira ada masalah sama kamu, dan kamu nggak cerita gitu sama aku. Kalau gitu aku mau cerita tentang konser rock tadi malam, dengarin ya..” ucap Sindi yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Raina.
“Tadi malam rame banget, penyanyinya keren banget Rin. Dan disana juga ada kak Fajar, kayaknya di juga suka sama musik rock. Tapi.. biasa, dia dikelilingi banyak cewek gitu,” kata Sindi yang membuat Raina tak ingin lagi mendengarkan cerita dari Sindi.
“Udah ih.. jangan ghibah gitu, kita kesana aja yuk,” kali ini Raina menunjuk sebuah gazebo yang terdapat di halaman belakang Kampus.
“Ayo deh.. aku beli makanan aja dulu ya, kamu tunggu aku aja disana,” ucap Sindi yang kemudian pergi meninggalkan Raina sendiri.
Sedangkan Raina, ia langsung berjalan menuju gazebo yang mereka tunjuk tadi. Raina tak melihat sekeliling, ia tampak fokus mencari ayat Al-Qur’an yang ingin ia baca di gawainya.
Kedua anak manusia itu 'Raina dan Fajar' tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Raina sibuk dengan gawai ditangannya, sedangkan Fajar sibuk meremukkan foto Raina ditangannya. Ia menjadikan foto gadis itu menjadi sobekan-sobekan kecil, agar bisa membuatnya sedikit lega dan bisa menghilangkan gadis yang akan menikah dengannya nanti.
“Arrghh!!” teriak Fajar sambil mengusap kasar kepalanya, kemudian ia menangkupkan wajahnya di atas meja semen di gazebo itu.
Raina yang sedang fokus dengan bacaan Al-Qur’an seketika terkejut dan langsung mengalihkan matanya ke arah Fajar. Raina masih belum mengetahui bahwa pemuda yang berada di ujung gazebo itu adalah Fajar.
Sampai ketika Sindi tiba, dengan suara melengking khasnya menyebut nama Raina. “Raina.. aku beli banyak cemilan ini, kamu mau apa?”
Fajar yang mendengar nama Raina, kemudian membangkitkan kepalanya, dan melihat kearah dua gadis itu. Menyadari Raina berada satu tempat dengannya, Fajar kemudian mengambil jaket hitam miliknya dan langsung pergi berlalu.
Sementara Raina, ia baru sadar bahwa sedari tadi dirinya satu tempat dengan Fajar. Ketika Fajar berdiri, kemudian mata Raina juga mengikuti kemana arah langkah Fajar pergi.
Ternyata kak Fajar, pria yang berteriak tadi? Dan saat ia menyadari satu tempat denganku, ia langsung pergi. Bagaimana jika nanti ia juga tahu gadis yang akan dinikahkan dengannya adalah diriku, yang sejatinya aku adalah gadis perusak suasana hatinya – batin Raina, masih dengan tatapan yang mengikuti langkah cepat Fajar.
“Hei.. ngelamun lagi,” kata Sindi yang membuyarkan lamunan Raina.
“Eh.. nggak kok, aku cuma ngerasa semakin hari kak Fajar mirip dengan temenku dulu. Tapi udahlah lupain aja, gak penting,” ucap Raina untuk mengalihkan pembicaraan.
Tapi bagaimanapun Raina mencoba keras mengalihkan pembicaraan, Sindi masih akan tetap mencecar Raina. “Atau.. kak Fajar! tadi dia apain kamu lagi?”
"Nggak.. dia malah tadinya mungkin nggak sadar aku ada disini, begitu sadar dia langsung pergi.”
Jika mungkin Raina tak menggunakan cadar diwajahnya, mungkin saja akan mudah bagi Sindi untuk membaca raut wajah Raina ketika berbicara. Namun, rasa penasaran masih ada di benak Sindi, tentang sikap Raina yang tampak berbeda sekali hari ini.
“Sedikit pun kamu nggak ngerasa terganggu gitu, sama sikap dingin dan kadang kasarnya kak Fajar? Bahkan waktu dia pergi tadi masih dengan tatapan yang seakan mau nerkam kamu. Iya.. aku tadi juga memperhatikannya.”
Raina yang tak mengerti harus mengatakan apa lagi pada Sindi, kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah pemandangan kampus ini dan bergeser tempat duduk di ujung gazebo yang tadinya di tempati oleh Fajar.
Kemudian Sindi pun mengikuti kemana Raina duduk. Sekali lagi ia memberikan pertanyaan yang sama untuk Raina. “Sedikit pun kamu nggak ngerasa terganggu gitu, sama sikap dingan dan kadang kasarnya kak Fajar?”
Bagaimana mungkin aku akan terganggu, sebentar lagi dia lah lelaki yang akan kulihat pertama kali saat aku memulai hariku di pagi hari. Bagaimanapun dirinya, aku harus siap dan menyingkirkan segala macam hal buruk mengenai dirinya – batin Raina, yang masih tak menjawab pertanyaan Sindi sahabatnya itu.
“Tuh kan!!” ucap Sindi yang kembali menyadarkan lamunan Raina untuk kesekian kalinya.
“Oh.. nggak lah, lagian apa hubungannya aku sama dia. Mau seperti apapun dia padaku itu tidak akan merubahku dan keberanianku bukan?”
“Hemm.. ok. Ya udah kamu mau ini?” tawar Sindi pada Raina dengan menjulurkan es krim dan beberapa makanan pada Raina.
“Nggak deh.. kamu makan aja. Aku masih kenyang.”
Akhirnya perasaan Raina kembali lega, karena Sindi tidak lagi mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Raina kemudian melihat ada sebuah kertas, yang tampak sengaja di sobek-sobek oleh Fajar tadi. Dan di salah satu sobekan itu, ia dapat mengerti ada tulisan namanya disana.
Berarti ini foto ku, yang sengaja di sobek oleh kak Fajar. Kemudian ia tampak berteriak frustasi seperti tadi? Apakah benar, kak Fajar tidak akan pernah bisa membuka hatinya nanti untuk seseorang yang baru? Dan apakah aku mampu membalikkan koin itu?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang menginggapi kepala Raina mengenai dirinya dan Fajar nantinya. Tapi apa boleh buat, ini adalah jalan perjuanganku. Aku tidak akan mundur meski kau sendiri yang memintaku untuk mundur kak Fajar. – ucap Raina sekali membulatkan tekat dan hatinya untuk tidak akan mundur.
...-----♡●♡-----...
Alhamdulillah..masih bisa Up,😊
Ternyata membayangkan sebuah perjuangan itu sangat berat ya,🙁
tapi.. jika kita tidak melaluinya, maka kita akan kalah sebelum berperang.
.
Semangat!! Untuk kita semua yang masih berjuang, baik dalam cinta, pendidikan, maupun pekerjaan💪
.
Ditunggu ya, like🖒 komen🤗 dan votenya✔
.
Jazakillah Khair 💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa