NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hamil?

"Hamil?" ucap Kaisar dengan ekspresi tak percaya. "Lo gak lagi bercanda 'kan, Lin?"

"Bercanda?" kata Raline. "Lo kira hal kayak gini cocok dijadiin bahan candaan, hah?"

"Tapi lo gak mungkin hamil. Kita cuma sekali lakuin itu, dan itu pun karena kita butuh kehangatan supaya bisa terhindar dari dingin malam itu."

"Terus, lo pikir karena cuma sekali gue gak bisa hamil?"

Kaisar tidak menjawab. Ia sendiri bingung harus menjawab seperti apa. Ia bahkan tak tahu banyak tentang resiko dari berhubungan s*ks tanpa pengaman. Ia pikir, jika hanya sekali itu tak akan menyebabkan kehamilan.

Kedua remaja itu terlihat sama-sama bingung. Hati keduanya tak tenang setelah tahu kejadian satu malam menciptakan kehidupan baru di rahim Raline.

Suasana lapangan basket tampak sepi, di saat semua siswa telah bubar beberapa waktu lalu setelah jam sekolah berakhir.

Sebelumnya, Raline mengajak Kai untuk bertemu di tempat itu, sebab ia tak mau menunda untuk memberitahunya tentang kabar besar yang baru saja ia dapat tadi pagi.

Kini, setelah kabar itu di dengar sendiri oleh Kaisar, justru keduanya dilanda kebingungan. Rasa cemas dan rasa takut menguasai hati mereka.

"Lo yakin itu anak gue?" tanya Kaisar. Tatapannya seolah meragukan. Ia sesekali menoleh ke sana kemari memastikan tak ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.

Raline menatapnya sengit. Pertanyaan itu membuatnya tersinggung.

"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?" Raline maju mendekat dan menunjukkan wajah tak senang pada Kaisar. "Lo kira gue cewek apaan? Jangan lupa kalo lo yang ambil virgin gue."

Kaisar terdiam kembali. Ia mengusap wajahnya kasar. Apa yang dikatakan Raline memang benar, malam itu dirinya yang merenggut kesucian gadis itu. Bahkan ia dapat merasakannya.

"Sorry," ucap Kai akhirnya.

Sadar dirinya salah karena menanyakan hal bodoh terhadap gadis yang meringis kesakitan ketika selaput daranya ia robek.

Raline tidak menjawab. Hanya memalingkan muka dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.

Ia memang sedih, tapi semua terjadi karena kesalahannya sendiri. Ini adalah konsekuensi yang harus ia terima atas perbuatannya malam itu.

Kaisar melangkah mendekat setengah ragu. Tangannya terangkat, lalu turun lagi, bingung harus berbuat apa. Lapangan basket yang biasanya riuh kini terasa terlalu luas, terlalu sunyi untuk beban yang mereka bawa.

"Gue panik," katanya akhirnya, suara lebih rendah. "Sorry kalo kata-kata gue bikin lu tersinggung."

"Jujur, gue takut, Lin." Kaisar berkata sejujur-jujurnya tanpa ragu. "Kalo orang tua kita tau tentang ini, bisa buruk situasinya. Terlebih kalo ortu gue yang tahu, mampus gue."

Raline menutup mata sejenak. Angin sore mengibaskan rambutnya. Saat ia membuka mata, tatapannya tak lagi setajam tadi, lebih lelah daripada marah.

"Lo pikir gue gak takut?" tanya Raline pelan.

"Gue yang jauh lebih takut daripada lo, Kai." Jari telunjuknya menekan dada bidang Kaisar. "Ortu gue orang yang paham agama. Tapi gue anaknya? Gue malah hamil diluar nikah. Lo bayangin, gimana reaksi mereka kalo tau gue hamil?"

Kaisar terdiam.

Ia tak bisa memberikan jawaban selain menatapnya.

Rasa bersalah perlahan mulai muncul. Saat ini ia merasa tak tenang, bahkan untuk menelan ludah pun rasanya sulit.

"Terus gue harus apa?" tanyanya.

"Jangan tanya," jawab Raline. "Gue pengen lo nikahi gue demi anak ini."

Kaisar tertegun.

"Nggak!" sahutnya tegas, suaranya meninggi. "Gue gak bisa!"

Mendengar suara pemuda itu meninggi membuat Raline panik. Ia cepat-cepat menutup mulut kaisar dengan telapak tangannya.

"Lo gila?" katanya penuh emosi. "Kalo ada yang denger gimana?!"

Tatapan Kaisar melembut, seolah baru sadar bahwa suaranya tadi bisa menimbulkan masalah besar jika ada yang mendengarnya.

Ia menoleh ke sekeliling, lalu menghembuskan napas lega karena tempat itu benar-benar sepi.

"Tapi gue gak bisa kalo harus nikahin lo, Lin," ucapnya lebih pelan setengah berbisik.

"Kita masih sekolah. Lo sama gue juga nggak pernah pacaran," lanjutnya. "Dan satu lagi... gue punya pacar. Gue gak bisa nikahin lo dan ninggalin dia."

Mata Raline membulat, lalu menatap Kaisar dengan tatapan sengit. Tak menyangka pemuda itu akan menolak bertanggung jawab untuk janin yang kini ada di perutnya.

"Lo..."

Sebelum Raline benar-benar mengucapkan kalimatnya, tiba-tiba saja seorang gadis muncul menghampiri Kaisar dan langsung menggandeng tangannya.

"Sayang!" ujarnya dengan wajah ceria.

Kehadirannya sontak membuat Raline menahan kalimatnya.

Tanpa banyak kata lagi ia berbalik. Pergi meninggalkan Kaisar dengan pembahasan yang belum selesai.

Gadis itu menoleh ke arah Raline yang pergi menjauh, menatap punggung gadis berambut lurus itu dengan tatapan penuh rasa penasaran.

Apa yang tadi dibicarakan oleh Kaisar dan Raline?

Ia lalu menoleh pada Kaisar, yang justru juga tengah menatap kepergian Raline dalam diam.

Gadis itu adalah Nana, kekasih Kaisar, yang sudah dua tahun dipacarinya.

Nana seorang gadis yang cantik, manis dan populer di sekolah. Ia sering disebut sebagai Queen of School karena semua orang menyukainya dan sebagian besar lelaki di sekolah tunduk padanya karena menyukainya.

Nana adalah anak kepala sekolah. Tetapi dia anak yang baik dan lembut, tidak sombong meski ayahnya memiliki pengaruh besar di sekolah itu.

Hal itulah yang membuat Kaisar jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu. Dan beruntung, Nana juga memiliki rasa yang sama untuknya, sehingga perasaan Kaisar tidak bertepuk sebelah tangan.

Hubungan keduanya selama ini baik-baik saja. Mereka selalu terlihat romantis meski tak banyak bersentuhan selama di jam sekolah. Tatapan mata dan sikap manis Kaisar cukup menunjukkan betapa 'bucinnya' pemuda itu kepada Nana.

Hubungan mereka pun di dukung oleh sebagian besar siswa di sekolah itu. Membuat keduanya semakin sering mendapatkan julukan "The Perfect Couple".

___

Nana masih menatap Kaisar, meski pemuda itu justru menatap ke arah Raline yang sudah menghilang.

Nana menggerakkan tangan Kaisar pelan, menariknya supaya menoleh.

"Sayang?" panggilnya lembut. "Kok bengong?"

Kaisar tersentak. Pandangannya beralih dari arah Raline ke wajah Nana yang sedang menatapnya penuh tanya.

"Hah? Oh… nggak, nggak apa-apa," jawab Kaisar cepat, tapi jelas terlihat tidak fokus.

Nana menyipitkan mata sedikit. Ia kenal betul ekspresi itu, ekspresi orang yang sedang memikirkan sesuatu.

"Kamu sama Raline ngomongin apa tadi?" tanya Nana hati-hati.

Kaisar menelan ludah. Tangannya yang tadi digandeng Nana terasa dingin.

"Bukan apa-apa," jawabnya singkat.

"Bukan apa-apa tapi kamu kelihatan panik tadi." Nana menghela napas kecil. "Gak mungkin kalo gak ada apa-apa terus ekspresi wajah kamu kayak gitu kan?"

"Raline juga kelihatannya marah sama kamu," ujar Nana. "Ada apa sebenarnya?"

Kaisar terdiam. Dadanya terasa sesak. Di satu sisi ada Nana, gadis yang ia cintai, yang selama dua tahun ini selalu ada untuknya. Di sisi lain… ada Raline, dengan kenyataan pahit yang barusan dia lempar ke hidupnya.

"Ada kesalahpahaman kecil,"

katanya akhirnya, berbohong.

Nana menatapnya lekat, mencoba membaca wajah Kaisar.

"Kesalahpahaman apa?"

"Umm..." Kaisar sedikit bingung.

Nana terus menatap curiga padanya, apalagi kekasihnya itu terlihat gugup.

"Kemarin dia mengalami kecelakaan kecil, motornya keserempet di jalan. Terus dia pikir mobil yang nyerempet motornya itu mobil punyaku." Kaisar berusaha memberikan alasan yang masuk akal.

"What?" kata Nana, tak percaya. "Kalo emang bukan kamu, kenapa dia nuduh kamu?"

"I-iya... Soalnya warna mobilnya sama. Jadi, dia pikir aku orangnya."

"Terus... kenapa dia nuduh kamu kalo waktu itu kalian pasti ketemu?"

Kaisar menggeleng. "Justru karena itu dia salah paham. Mobilnya langsung pergi. Jadi, dia gak liat jelas siapa orangnya."

Nana terdiam sejenak. Alisnya berkerut tipis, mencerna penjelasan Kaisar. Ia menatap wajah kekasihnya itu lama, mencari celah kebohongan. Tapi yang ia lihat hanya raut gugup. Kaisar memang selalu seperti itu kalau sedang tertekan.

"Jadi… dia kira mobil kamu yang nyerempet dia?" tanya Nana memastikan.

Kaisar mengangguk cepat. "Iya. Padahal bukan."

Nana menghela napas pelan. Ketegangannya mereda sedikit.

"Pantesan dia kelihatan emosi," gumamnya. "Kalo aku di posisi dia, mungkin juga bakal kesel."

Ia lalu menatap Kaisar lebih lembut. "Maaf ya, aku curiga. Soalnya kamu keliatan panik banget."

Kaisar menggeleng. "Nggak apa-apa."

Nana tersenyum kecil, lalu meraih tangan Kaisar dan menggenggamnya erat.

"Udah, jangan dipikirin lagi. Kita pergi aja yuk," ajaknya. "Ke tempat favorit kita."

Kaisar tertegun sesaat.

"Sekarang?"

"Iya," jawab Nana ceria. "Aku lagi pengen banget ke sana. Sekalian nenangin kamu juga."

Kaisar membalas senyum itu, senyum yang dipaksakan, tapi berusaha terlihat normal.

"Ya udah… ayo. Tapi kita pulang dan mandi dulu ya."

"Oke!"

Nana makin mengeratkan genggaman tangannya. Mereka melangkah meninggalkan lapangan basket, berjalan berdampingan seperti biasa. Dari luar, mereka tampak sempurna. Pasangan idaman sekolah.

Tapi di dalam dada Kaisar, apa yang dirasakannya terasa sangat berat.

Setiap tawa kecil Nana di sampingnya, setiap kata manis yang keluar dari bibir gadis itu, justru menusuk perasaannya. Ia merasa seperti berjalan sambil membawa rahasia yang terlalu besar.

Sesekali, ia melirik Nana dari samping.

Gadis itu tersenyum, matanya berbinar, sama seperti dua tahun lalu saat pertama kali ia jatuh cinta.

Dan di saat itulah, Kaisar sadar…

Ia bukan cuma sedang berbohong pada Nana. Tapi ia juga telah mengkhianatinya tanpa disengaja.

"Maafin aku, Na..." gumamnya dalam hati, kepalanya menunduk.

Sementara itu, di kejauhan, Raline yang sudah lebih dulu pergi berhenti di gerbang sekolah. Ia menoleh ke belakang, tanpa sadar mencari sosok Kaisar.

Yang ia lihat justru Kaisar berjalan menjauh… dengan Nana di sisinya.

Tangan mereka saling menggenggam.

Raline mengepalkan tangannya.

Air matanya jatuh lagi.

"Kaisar brengsek!" bisiknya getir.

Ia mengusap wajahnya kasar, lalu berbalik dan melangkah pergi. Membawa rahasia terbesar dalam hidupnya… dan kehidupan baru yang tak bersalah di dalam rahimnya.

Bersambung...

Notes: Untuk para pembaca yang Budiman. Harap membaca buku ini hanya untuk bersenang-senang dan tidak terlalu menganggapnya serius.

Buku ini dibuat hanya untuk menyalurkan hobi penulis yang suka berhalu ria. Tidak ada unsur mengajak atau mempengaruhi para pembacanya untuk melakukan hubungan seks bebas atau menikah dini.

Mohon untuk tidak menghujat personal penulis karena merasa baper saat membaca cerita.

Cerita ini 100% fiksi belaka.

Jangan tiru hal yang buruk dari isi cerita. Ambil apapun nilai positif dari isi cerita.

Terima kasih.

1
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
Nurul Hilmi
jangan kasih cinta buat kaisar lin. biar die nyesel😄
Lisdaa Rustandy: cinta akan hadir saat waktu terus berjalan. bahkan saya yg menikah tanpa cinta aja sekarang jadi bucin🤣
total 1 replies
Nurul Hilmi
anak jangan dikasih orang lain, tetep raline yang rawat...
deeRa
Ganbatee Lin💪😊
falea sezi
jangan mau pergi jauh dr situ besarin anak sendiri ibunya egois cucu kandung mau di buang dajjal bgt ne orang
deeRa
Nyesek ya jd raline, 🥺
ROSULA DARWATI
kasihan Raline
Melinda Cen
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!