Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Kunci Terakhir
Pintu mobil terbuka lebar.
Angin malam menerpa wajah Aluna, tetapi yang membuatnya membeku bukanlah dinginnya udara—melainkan suara itu.
Suara yang selama ini ia percaya.
Suara Raisa.
Namun Raisa tidak berada di kursi sebelahnya.
Ia berdiri di luar mobil.
Di samping pria-pria bersenjata itu.
Lampu jalan memantulkan bayangan panjang tubuhnya di aspal. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.
“Bawa Aluna,” ucapnya datar. “Dia kunci terakhir.”
Jantung Aluna seperti berhenti berdetak.
Arkan langsung keluar dari sisi pengemudi dan berdiri di depan mobil, menghalangi jalan menuju Aluna.
“Jangan sentuh dia,” suaranya rendah dan berbahaya.
Raisa tersenyum tipis.
“Sampai kapan kau akan berpura-pura jadi pahlawan, Arkan?”
“Kau bekerja untuk mereka?” Arkan menatapnya tajam.
“Bekerja?” Raisa mengangkat alis. “Aku adalah bagian dari mereka.”
Kata-kata itu menggema di kepala Aluna.
Bagian dari mereka.
Konsorsium.
Selama ini.
Semua percakapan. Semua bantuan. Semua informasi.
Sandiwara.
“Kenapa?” suara Aluna pecah.
Raisa menatapnya. Tatapan itu tidak sepenuhnya dingin. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa ia baca.
“Kau pikir kebakaran tujuh tahun lalu hanya tentang ayahmu?” Raisa bertanya pelan.
Arkan menegang.
“Apa maksudmu?”
Raisa melangkah mendekat. Para pria di belakangnya tetap siaga.
“Proyek Aurora bukan sekadar penyusupan, Arkan. Itu eksperimen.”
Aluna merasakan dunia berputar.
“Eksperimen apa?”
Raisa menghela napas pelan.
“Kontrol. Akses. Warisan kekuasaan.”
Ia menunjuk liontin di leher Aluna.
“Itu bukan hanya penyimpanan data.”
Arkan langsung menoleh ke arah Aluna.
“Jangan percaya dia.”
Raisa tersenyum samar.
“Sudah saatnya dia tahu.”
Keheningan turun.
Lalu Raisa berkata pelan, namun setiap katanya seperti peluru yang ditembakkan langsung ke jantung.
“Aluna bukan hanya anak Pak Aditya.”
Darah Aluna mengering.
“Apa?” suaranya hampir tak terdengar.
Raisa menatapnya lurus.
“Kau adalah ahli waris biologis dari salah satu pendiri Konsorsium.”
Waktu seperti berhenti.
Arkan membeku.
“Itu tidak mungkin,” katanya.
“Dokumen DNA ada di server utama,” Raisa membalas. “Ayahmu, Pak Aditya, mengadopsimu secara legal untuk melindungimu.”
Aluna merasa tubuhnya melemah.
“Tidak…”
“Liontin itu menyimpan kode genetik terenkripsi,” Raisa melanjutkan. “Sistem Konsorsium hanya bisa diakses oleh garis darah asli pendiri. Mereka menciptakan sistem keamanan berbasis biometrik. DNA, sidik jari, retina.”
Arkan menggeleng keras.
“Kalau itu benar, kenapa mereka tidak mengambilnya sejak dulu?”
Raisa menatapnya lama.
“Karena mereka belum menemukan cara membukanya tanpa dia.”
Sunyi.
Semua potongan puzzle mulai tersusun.
Itu sebabnya mereka tidak membunuh Aluna.
Itu sebabnya ia terus diawasi.
Itu sebabnya Arkan menanam pelacak.
“Kau tahu tentang ini?” Aluna menatap Arkan.
Arkan terlihat benar-benar terpukul.
“Aku tahu kau diadopsi,” katanya pelan. “Tapi tidak sejauh itu.”
“Kau tahu lebih dari yang kau katakan,” Raisa menyela.
Arkan membalas tajam, “Dan kau tidak pernah benar-benar ingin melindunginya.”
Raisa terdiam sejenak.
Angin malam berhembus, menggerakkan rambutnya.
“Awalnya, tidak,” ia mengakui.
Aluna merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.
“Tapi sekarang?” Arkan menekan.
Raisa menatap Aluna.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ada keretakan di wajahnya.
“Sekarang semuanya sudah terlambat.”
Pria-pria di belakangnya mulai bergerak.
Arkan langsung maju satu langkah.
“Aku tidak akan membiarkan kalian membawanya.”
Raisa menghela napas.
“Kau selalu terlalu emosional, Arkan. Itu kelemahanmu.”
Tiba-tiba suara mesin berat terdengar dari kejauhan.
Lampu sorot besar menyapu jalan tol.
Semua orang menoleh.
Beberapa mobil hitam lain muncul dari arah berlawanan.
Namun kali ini berbeda.
Di pintu mobil terdepan, ada lambang kecil yang dikenal Arkan.
Unit Investigasi Khusus.
Raisa membeku.
“Kau memanggil mereka?” ia menatap Arkan.
Arkan tersenyum tipis.
“Proyek Aurora memang hampir selesai.”
Mobil-mobil itu berhenti membentuk lingkaran.
Pria-pria bersenjata turun dengan peralatan taktis lengkap.
Seseorang keluar dari mobil tengah.
Seorang pria paruh baya dengan jas gelap dan tatapan tajam.
Ia melepas kacamata perlahan.
“Sudah lama, Raisa.”
Raisa mengepalkan tangan.
“Direktur Surya.”
Aluna membeku.
Surya?
Nama itu disebut dalam banyak dokumen lama ayahnya.
Direktur Surya melangkah mendekat.
“Operasi penyusupan berjalan lebih lama dari yang kau kira,” katanya tenang. “Dan kau bukan satu-satunya agen ganda.”
Mata Raisa menyipit.
“Apa maksudmu?”
Surya menatap Arkan.
“Dia tidak hanya menyusup ke Konsorsium.”
Aluna menoleh cepat ke Arkan.
Surya melanjutkan,
“Dia juga bekerja untuk kami.”
Sunyi total.
“Badan pengawas keuangan nasional,” Surya menambahkan.
Aluna hampir tak mampu mencerna semuanya.
Arkan adalah agen penyusup.
Raisa adalah bagian dari Konsorsium.
Dan dirinya adalah ahli waris darah pendiri.
Semua ini terasa seperti mimpi buruk.
“Kenapa tidak memberitahuku?” Aluna bertanya pada Arkan, suara gemetar.
Arkan menatapnya dalam.
“Karena semakin sedikit yang kau tahu, semakin aman kau.”
“Bohong,” Raisa tertawa kecil. “Kau menyembunyikannya karena kau takut dia membencimu.”
Arkan tidak menjawab.
Dan keheningan itu sudah menjadi jawaban.
Direktur Surya memberi isyarat.
Tim taktis mulai mengepung pria-pria Raisa.
Ketegangan meledak.
Tembakan dilepaskan.
Kekacauan pecah di tengah jalan tol.
Arkan langsung menarik Aluna menjauh, berlindung di balik mobil.
“Pegang liontin itu,” katanya cepat. “Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan.”
“Arkan!” Aluna memanggil saat suara tembakan bersahutan.
Raisa berdiri di tengah kekacauan.
Tidak melawan.
Tidak lari.
Ia hanya menatap Aluna.
Tatapan yang rumit.
Lalu tiba-tiba—
Ia mengangkat tangannya.
Menyerah.
Pria-pria di sekelilingnya pun ditundukkan satu per satu.
Beberapa menit kemudian, suara tembakan berhenti.
Sunyi kembali turun.
Lampu biru berkedip di sepanjang jalan.
Raisa diborgol.
Namun sebelum dibawa masuk ke mobil tahanan, ia menoleh pada Aluna.
“Semua ini belum selesai,” katanya pelan.
Aluna mendekat beberapa langkah.
“Siapa sebenarnya aku?” tanyanya lirih.
Raisa tersenyum tipis.
“Jawaban itu tidak ada di liontin.”
“Lalu di mana?”
Raisa menatap Arkan.
“Di orang yang paling kau percaya.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Ia didorong masuk ke mobil.
Pintu ditutup.
Mobil tahanan pergi perlahan.
Aluna berdiri terpaku.
Arkan mendekatinya pelan.
“Ini belum akhir,” katanya.
“Kau tahu sesuatu lagi?” Aluna menatapnya, mata berkaca-kaca.
Arkan terdiam.
Itu cukup menjadi jawaban.
Direktur Surya mendekat.
“Kita perlu membawamu ke tempat aman,” katanya pada Aluna. “Dan melakukan tes konfirmasi.”
“Tes DNA?” Aluna berbisik.
Surya mengangguk.
“Jika benar kau adalah garis darah pendiri, sistem utama Konsorsium hanya bisa dibuka denganmu.”
“Untuk menghancurkan mereka?” Arkan bertanya.
Surya menatapnya.
“Atau mengendalikan semuanya.”
Angin malam berhembus lagi.
Kali ini lebih dingin.
Aluna menunduk menatap liontin di tangannya.
Selama ini ia mengira benda itu hanya warisan terakhir ayahnya.
Ternyata itu adalah kunci.
Kunci kekuasaan.
Kunci kehancuran.
Dan mungkin—
Kunci kebenaran tentang siapa dirinya sebenarnya.
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
“Aku ingin tahu semuanya,” katanya tegas.
Arkan menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, ia terlihat benar-benar takut.
Karena jika Aluna membuka kebenaran sepenuhnya—
Mungkin bukan hanya Konsorsium yang runtuh.
Mungkin semua kebohongan yang ia bangun selama ini juga akan hancur.
Lampu mobil kembali menyala.
Mereka bersiap pergi.
Namun jauh di balik kaca gedung tinggi yang menghadap jalan tol itu—
Seseorang sedang menonton semuanya.
Seorang pria tua dengan cincin perak di jarinya.
Ia tersenyum tipis.
“Dia akhirnya muncul.”
Ia menutup layar monitor perlahan.
“Mulai fase terakhir.”
Dan di meja di depannya—
Ada satu dokumen dengan nama besar tertulis di bagian atasnya.
ALUNA WIJAYA
Dengan keterangan kecil di bawahnya:
Calon Ketua Konsorsium
END BAB 20 🔥