NovelToon NovelToon
Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.

Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.

Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu

Mereka tidak bertemu di sel penjara karna ada aturan kalau anak di bawah dua puluh tahun tidak di izinkan berkunjung di sana. Saat ini Ruoling sedang menunggu ibu di salah satu taman di istana dengan senyum tidak lepas dari kedua bibirnya.

"Ibu!" Teriak Ruoling begitu melihat Selir Hua bersama dua pengawal yang berhenti mengikuti dan membiarkan Selir Hua mendekatinya dengan mata berkaca-kaca.

"Putriku!" Penampilan Selir Hua saat ini tidak seperti Selir terhormat yang memakai gaun serta perhiasan mewah melainkan hanya memakai gaun sederhana dengan lengan panjang.

Di mata Ruoling saat ini kulit ibu terlihat lebih pucat tak biasa, rambutnya tidak tertata dengan benar, dan tatapannya walau berusaha terlihat baik-baik saja, tapi Ruoling tahu ibu sedang menyembunyikan rasa sakitnya.

Saat ada di depan Ruoling alih-alih langsung memeluk putrinya, Selir Hua malah meletakkan kedua tangan di pinggang, menatap marah sang putri. "Aku tahu semua masalah yang sudah kau lakukan selama aku tidak ada di sampingmu!"

Ruoling menipiskan bibirnya kesal. "Ibu, aku melakukan itu supaya kita bertemu. Aku sangat merindukanmu, tapi mereka malah membohongiku dengan di janjikan banyak syarat, tapi saat aku berhasil memenuhinya mereka malah membuat syarat lain sampai buat aku kesal."

"Tapi tidak dengan menolak makan atau minum!" Selir Hua sedikit menunduk mensejajarkan tinggi mereka. "Lebih baik aku kehilangan semua kemewahan ini dari pada harus kehilanganmu."

Ruoling menatap Selir Hua dengan mata berkaca-kaca sampai kemudian, ia menyadari satu hal lalu mengarahkan tangannya dan menekan luka di pipi ibu yang sudah di samarkan oleh riasan dengan pelan.

"Apa mereka yang melakukan ini?"

"Tidak, semalam ibu jatuh jadi–"

"Jadi benar? Luka ini ulah mereka?" Ruoling tidak bisa menahan air matanya, ia menangis meminta ibu yang mendadak terdiam. "Aku yakin masih ada lagi, tidak mungkin hanya di sini saja!"

Ruoling tanpa persetujuan mengangkat sedikit lengan panjang yang di kenakan ibunya. Ia menutup mulutnya, terkejut melihat ada banyak bekas ataupun luka baru di tangan sang ibu yang buru-buru menutupinya lagi.

"Tapi ini tidaklah sakit."

"Bohong!"

Selir Hua menghela nafas, menyadari alasannya tidak mungkin di percaya oleh putrinya. Ia lalu membawa putrinya masuk ke dalam pelukannya dengan erat, tapi diam-diam menahan rasa perih karna luka di tubuhnya yang terasa sakit. Selir Hua berharap semoga luka-luka baru itu tidak terbuka dan membuat putrinya semakin sedih.

"Kenapa mereka tega melukai ibu sampai separah ini? Padahal aku sudah tegaskan kalau ibuku tidak salah, ibuku di jebak dan masih banyak lagi tapi tidak ada yang mempercayainya." Kata Ruoling sambil berurai air mata yang membuat Selir Hua tidak tega.

"Kau tidak perlu melakukan itu, cukup diam dan yakinkan dirimu sendiri kalau–"

"Jika hanya aku saja yang punya keyakinan itu maka tidak ada gunanya!" Sela Ruoling. "Aku ingin semua orang tahu dan membuka matanya kalau mereka salah mengunduh orang! Aku ingin ibu di bebaskan dari penjara itu!"

Selir Hua mengeratkan pelukan mereka sambil menyimak curahan hati putrinya dengan menguatkan hati untuk tidak ikut menangis.

"Bahkan Ayah, Permaisuri dan Putra mahkota juga mulai tidak percaya kalau ibu tidak bersalah."

"Selagi tidak ada bukti maka apapun yang kita katakan tidak akan pernah di percayai," kata selir Hua dengan suara pelan. "Tapi kau tenang saja, ada banyak paman dan bibi yang ibu perintahkan untuk mencari semua bukti kalau ibu tidak bersalah."

Ruoling dengan wajah penuh air mata menjauhkan kepalanya untuk menatap ibu tanpa melepaskan pelukan mereka. "Siapa mereka? Apa aku mengenalnya?"

Ibu menggeleng lalu membersihkan wajah putrinya. "Selain itu mereka juga ada di sekitarmu."

"Jangan bilang mereka juga melaporkan–"

"Kalau itu tanpa mereka bicarakan ibu sudah tahu dari cerita pengawal di dalam. Ibu mohon jangan lakukan itu lagi, seterusnya kau harus lebih dewasa. Tak lama lagi kita pasti bisa seperti dulu lagi."

"Tapi aku sangat merindukan ibu."

"Aku tahu, tapi seorang Tuan Putri tidak boleh mencelakai dirinya sendiri. Apapun yang terjadi kedepannya kau harus tangguh, kuat dan tidak boleh memperlihatkan kelemahan seperti ini lagi."

"Tapi aku merindukan ibu, aku juga kecewa dan marah pada semua orang, tapi mereka malah..." Ruoling menghentikan perkataannya lalu melanjutkan di dalam hati selama ini di kucilkan olah banyak orang, tapi mengurungkannya karna tidak ingin ibu sedih. "Tidak percaya."

Ruoling tersentak ketika ibu melepaskan pelukan mereka lalu membingkai wajahnya dengan kedua tangan. Kembali menghapus air mata yang terus turun tanpa rasa jijik. "Kau pasti menjalani hari-hari yang berat salama ini. Maafkan ibu karna tidak bisa memberikan masa kecil sampai remajamu seperti anak lainnya."

"Ibu tidak salah, orang yang menuduh ibu yang bersalah. Aku tidak akan diam saja mendengar orang-orang menyebar rumor tidak benar tentang ibu."

"Biarkan saja selagi mereka tidak–"

"Sudah saatnya untuk kembali, Nyonya." Kata salah satu pengawal yang ibu, membuat Ruoling kembali memeluk ibunya.

"Tidak, kalian tidak boleh membawa ibu lagi!"

"Ruoling, ibu harus kembali." Selir Hua memaksa melepaskan kedua tangan Ruoling dari tubuhnya tapi tidak bisa. Beruntungnya kepala anak itu tidak bersandar padanya hingga ia bisa mencium kening, pipi, dagu dan ujung hidungnya dengan cepat. "Ingat kata-kata ibu!"

"Tidak, aku masih mau..." Tapi pengawal yang sudah terlatih tidak peduli, pria itu tetap memaksa tangan itu terlepas hingga berhasil. "Tidak! Tidak! Jangan pisahkan aku dan ibu lagi!"

"Kami hanya menjalankan tugas, Tuan Putri. Cepat tahan Tuan Putri!"

Pengawal lainnya menghalangi Ruoling yang kembali menangis, tapi tatap memaksa untuk mengejar Selir Hua. “Ibu... tidak! Tunggu… jangan pergi dulu… jangan! Aku masih ingin bicara lebih lama dengan ibu!"

Tapi tetap tidak bisa, ibu semakin jauh dan tangis Ruoling semakin kuat hingga pengawal yang menahannya melihat itu merasa iba.

“Sayang, Ibu harus kembali sebentar saja,” teriak Selir Hua menghibur putrinya. “Nanti Ibu kembali lagi. Kita akan berkumpul seperti dulu lagi. Kamu harus makan, harus kuat dan harus hidup dengan baik.”

Ruoling menggeleng, sambil mencari celah agar bisa mengajar ibunya. Tapi pengawal itu lebih cerdas menghalangi ya tanpa peduli kesedihannya.

"Berjanjilah padaku!" Teriak Ruoling menyerah melepaskan diri dari pengawal. "Ibu, harus berjanji akan kembali!"

Selir Hua mengangguk sambil mengingat wajah putrinya dengan teliti. Sementara Ruoling masih menangis ketika jarak mereka semakin jauh dan tanpa di ketahuinya kalau hari itu menjadi hari terakhirnya melihat ibunya.

Karna beberapa bulan setelah pertemuan itu tiba-tiba saja Selir Hua mengakui semua perbuatannya, lalu beberapa hari setelahnya Selir Hua dengan kondisi yang lemah dan penuh luka di permalukan di depan semua rakyat di ibu kota kerajaan.

Tak berselang lama gelar Selirnya di cabut dan mendapatkan hukuman yaitu minuman meminum racun yang sama yang di lakukannya secara terbuka di halaman Kerajaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!