"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Cuaca Memburuk
Menyadari sang suami mengikutinya, Yanti pun berhenti melangkah.
"Jangan bujuk aku Mas. Aku tetap ga akan ijinin ibu mendekati Yuki," kata Yanti sambil menatap suaminya lekat.
"Aku ga bakal lakuin itu Sayang. Aku ngerti kenapa kamu bersikap begini," sahut Yudha sambil mengusap lengan sang istri dengan lembut.
"Makasih Mas," kata Yanti dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama. Kalo kamu merasa ga nyaman di sini, kamu boleh pulang sekarang. Kasian, Yuki juga pasti ga nyaman tidur dengan posisi begitu," kata Yudha sambil mengecup pipi sang anak yang terlelap di gendongan Yanti.
"Emang boleh?" tanya Yanti.
"Boleh dong. Yuk, aku anter kamu keluar sekalian nyari Taxi," kata Yudha.
Yanti mengangguk. Dia menghela nafas lega saat mengetahui tak seorang pun yang memaksanya menuruti kemauan Ginah.
\=\=\=\=\=
Setelah Yanti dan anaknya meninggalkan Rumah Sakit, kondisi Ginah kian memburuk. Bahkan team medis angkat tangan mengingat organ penting di tubuh Ginah sudah tak bisa berfungsi sebagai mana mestinya. Mereka menyarankan keluarga untuk bersabar dan bersiap melepas kepergian Ginah.
Laras tak henti menangis melihat sang ibu di ambang kematian. Berkali-kali dia memanggil sang ibu dan memohon maaf, tapi Ginah tak menggubris ucapannya. Ginah seolah tak melihat keberadaan orang lain di kamar itu selain suaminya.
Tubuh Ginah pun bergerak tak beraturan dan mulutnya terus meracau. Meski Sastro sudah membimbingnya untuk berzikir, Ginah seolah tuli.
"Yang berdiri di pojok itu siapa sih Pak?" tanya Ginah.
"Di pojok mana Bu?" tanya Sastro.
"Itu yang di deket jendela. Kenapa dia ngeliatin aku kaya gitu sih. Suruh dia pergi Pak, aku ga suka sama dia," pinta Ginah.
Sastro, Laras, Yudha, Azam, Harsa, dokter dan perawat sontak menoleh kearah jendela. Tak ada apa pun di sana dan itu membuat bulu kuduk mereka meremang.
"Ga ada siapa-siapa di sana Bu. Kamu ga usah ngomong yang aneh-aneh deh," kata Sastro sambil mengusap kepala Ginah.
"Tapi aku beneran liat ada orang di sana Pak," sahut Ginah gusar.
Sastro menggelengkan kepala lalu menoleh kearah Azam.
"Ustadz Firman jadi ke sini ga Zam?" tanya Sastro.
"Jadi Pakde. Ibu bilang mereka udah di jalan, sebentar lagi sampe kok," sahut Azam.
"Syukur lah. Aku ga sanggup ngeliat budemu begini Zam. Kalo aku ga bisa, setidaknya ada seseorang yang bisa mengantarnya pergi dan melewati semuanya dengan tenang," kata Sastro dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Pakde ...," sahut Azam lirih.
Tak lama kemudian Sartika pun datang bersama ustadz Firman dan istrinya. Ketiganya terkejut melihat kondisi Ginah yang memprihatinkan. Apalagi saat itu semua orang menggunakan masker karena tak tahan dengan bau tak sedap yang memenuhi ruangan.
Tanpa membuang waktu, ustadz Firman dan istrinya mulai melakukan sesuatu. Namun baru beberapa menit membimbing Ginah membaca kalimat zikir, Ginah sudah terlihat kepayahan. Tubuhnya yang sejak tadi bergerak tak beraturan kini mulai mengejang. Kepalanya mendongak dengan kedua mata yang mendelik ke atas. Dari sela perban yang menutupi luka di mata kanannya terlihat cairan berwarna kehitaman mengalir deras.
"Aahhh sakiiittt ..., panasss ... sakiittt ...!" jerit Ginah.
Dokter dan perawat yang stand by di ruangan pun bertindak. Sastro, Yudha dan Azam ikut membantu memegangi tubuh Ginah. Sedangkan Laras nampak menangis di pelukan Sartika.
Sesaat kemudian tubuh Ginah terhentak keras ke atas seolah ada sesuatu yang menariknya. Setelahnya Ginah pun terdiam kaku tak bergerak.
"Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun ...," kata ustadz Firman dan istrinya bersamaan.
Mendengar ucapan sang ustadz semua orang pun mematung sejenak. Mereka seolah tak percaya Ginah telah pergi.
Laras segera merangsek maju lalu memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya itu dengan erat.
"Ibu, bangun Bu. Ibu ...!" panggil Laras histeris.
"Jangan begini Nak. Ikhlaskan ibumu, biar langkahnya ringan," bisik Sartika.
Laras pun tersentak lalu berbalik memeluk Sartika.
Tepat saat jam menunjukkan pukul satu dinihari, Ginah dinyatakan meninggal dunia. Suara tangis pun memenuhi ruangan dan semua orang yang ada di sana berduka.
Setelah dokter keluar dari ruangan, perawat mulai melepaskan selang yang terhubung ke tubuh Ginah.
"Tolong bantu saya mengurus pemakaman istri saya ya Ustadz," pinta Sastro.
"In syaa Allah kami bantu Pak Sastro," sahut ustadz Firman.
"Alhamdulillah, makasih Ustadz ...," kata Sastro.
"Sama-sama," sahut ustadz Firman sambil menepuk punggung Sastro beberapa kali.
\=\=\=\=\=
Hari itu desa dibuat gempar karena kabar kematian Ginah. Tak ada yang menyangka Ginah meninggal dunia hanya sehari setelah ditemukan terluka dan dilarikan ke Rumah Sakit.
"Padahal udah ditangani dokter, tapi tetep aja ga selamat," kata salah seorang warga.
"Lukanya emang aneh sih. Pasti ular yang menggigit adalah ular berbisa," sahut warga yang ikut menjenguk Ginah.
"Tapi ular berbisa jenis apa yang bisa bikin luka separah itu sampe Bu Ginah meninggal dunia?" tanya seorang warga.
"Iya. Terus ularnya masuk lewat mana?" tanya warga lainnya sambil mengamati rumah Ginah sekilas.
Wajar warga berpikir seperti itu. Rumah Sastro dan Ginah itu terlihat kokoh. Rasanya sulit untuk seekor ular menyelinap masuk karena tak ada lubang selain ventilasi yang bisa ditemui di sana.
Pertanyaan itu menggantung di udara begitu saja seolah tak menemukan jawaban.
Siang harinya jasad Ginah dimakamkan di pemakaman desa setelah lebih dulu disholatkan di musholla.
Tak seperti biasanya, proses pemakaman yang biasanya memakan waktu kini justru berlangsung cepat, hening dan terkesan terburu-buru.
Sebagian orang menganggap itu disebabkan cuaca yang tak mendukung. Langit yang semula cerah tiba-tiba dipenuhi awan mendung tebal. Udara yang berhembus lembut tiba-tiba bertiup kencang disertai hawa dingin yang tak biasa hingga membuat warga merapatkan pakaian masing-masing.
Sesaat setelah mengaminkan doa yang dipimpin ustadz Firman, warga pun bergegas meninggalkan area pemakaman.
Ustadz Firman mendongakkan kepala untuk mengamati langit sejenak. Pria sepuh berusia 70 tahun itu pun mengerutkan keningnya. Nampaknya dia menemukan korelasi antara cuaca yang mendadak tak bersahabat itu dengan kematian Ginah. Salah seorang murid setianya yang bernama Rama ikut menatap langit lalu bertanya.
"Kenapa cuaca siang ini berubah cepat ya Ustadz. Tadi panas terik, eh baru sampe makam udah mendung gelap. Untung semuanya lancar, jadi kita bisa langsung pulang setelah memakamkan Bu Ginah," kata Rama setengah berbisik.
Ustadz Firman nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan muridnya.
"Saya harap ini bukan pertanda buruk," sahut ustadz Firman.
"Tapi orang-orang udah terlanjur berspekulasi buruk Ustadz. Mereka bilang perubahan cuaca ini karena alam murka sama orang yang udah bikin Bu Ginah meninggal," kata Rama setengah berbisik.
"Kamu mau ngomong apa sih Ram, ga usah muter-muter bisa kan?" tanya ustadz Firman.
"Begini, saya denger selintingan kabar yang bilang Bu Ginah meninggal karena diteluh orang Ustadz. Mau ga mau saya percaya juga. Soalnya Bu Ginah kan cuma sakit sebentar, ga sampe sehari malah langsung meninggal. Apa bener penyebab Bu Ginah meninggal gara-gara diteluh orang Ustadz?" tanya Rama penasaran.
"Hush, jangan ngomong sembarangan kamu, ntar kalo keluarganya denger kan ga enak. Daripada gosip ga jelas, tolong antar saya pulang ya," pinta ustadz Firman.
"Baik Ustadz," sahut Rama.
Kemudian ustadz Firman naik ke boncengan motor yang dikendarai Rama. Setelah memastikan sang guru duduk dengan nyaman, Rama segera melajukan motornya dengan cepat.
Sambil berkendara, sesekali Rama melirik ke samping dengan gusar. Rupanya dia merasa sesuatu yang mirip dengan Ginah terus mengikuti kemana pun dia bergerak dan itu membuatnya bulu kuduknya meremang.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya