NovelToon NovelToon
SAUH (HTS Kandung)

SAUH (HTS Kandung)

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asry Ulfa

Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
​Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
​Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
​"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasi Merah

Dua minggu sudah Kenan dan Kala menjalani rutinitas sebagai "budak korporat" versi SMK. Kenan makin terbiasa dengan tumpukan berkas pajak, dan yang paling penting, dia makin terbiasa melihat wajah Kala setiap jam tujuh pagi. Bedanya sekarang, jerawat di dahi Kenan sudah mulai mengempis—mungkin karena dia rajin cuci muka pakai air doa emaknya atau memang karena sabun mahal itu mulai bekerja.

​Siang itu, udara di kantor Dinas Pendapatan Daerah panasnya minta ampun. Kenan baru saja selesai merekap data saat melihat Kala berjalan gontai menuju dispenser.

​"Kenapa, Kal? Muka kau macam kertas pajak yang belum dibayar, kusut betul," tegur Kenan sambil menyodorkan gelas plastik.

​Kala menghela napas, menyeka keringat di dahinya. "Jaringan di lantai dua bermasalah, Nan. Aku baru saja naik-turun tangga ngecek kabel LAN. Mana Kak Doni—pembimbingku—cerewet banget lagi. Capek, Nan."

​Kenan menarik kursi plastik di dekat dispenser. "Duduk dulu. Tarik napas, buang. Jangan ditarik terus, nanti habis oksigen di kantor ini."

​Kala tertawa kecil sambil duduk. "Bisa aja kamu. Eh, bekal kamu hari ini apa? Masih nasi merah yang mirip kerikil itu?"

​Kenan mengeluarkan kotak makan hijaunya dengan bangga. "Sembarangan! Ini nasi merah kualitas super, Kal. Hari ini menu spesial: tempe bacem tanpa digoreng sama sayur bening. Rasanya... hmm, rasa ingin menangis kalau dimakan."

​"Hahaha! Kasihan banget sih calon bintang kita ini. Sini, aku bagi sate kerangku sedikit," ujar Kala sambil membuka bungkus nasi uduknya.

​Kenan langsung memasang benteng pertahanan. "Eits! Jangan kau racuni iman dietku, Kal. Satu tusuk sate kerang itu sama dengan lari keliling lapangan bola lima kali. Aku tak mau perjuanganku sia-sia."

​"Dih, sombong! Ya sudah, kalau nggak mau. Padahal ini enak banget lho," Kala mulai mengunyah dengan nikmatnya, sengaja membuat suara nyam-nyam di depan Kenan.

​"Kau ini memang titisan setan penggoda ya, Kal. Tapi tak apa, demi badan yang lebih paten dan muka yang lebih glowing, aku bertahan," Kenan mulai mengunyah nasi merahnya yang hambar dengan penuh perasaan duka cita.

*******

​Sore harinya, hujan turun dengan derasnya. Tipe hujan yang bikin orang malas pulang tapi juga malas kerja. Kenan dan Kala terjebak di area parkir motor yang tertutup atap seng. Bunyi hujan yang menghantam seng klotak-klotak bikin suasana jadi bising.

​"Aduh, mana nggak bawa jas hujan lagi," keluh Kala sambil melihat jam tangannya. "Bisa dimarahin ibu kalau pulang telat."

​Kenan yang sedang duduk di atas motor Supranya sambil memegang gitar (dia selalu bawa gitar ke kantor buat latihan kalau jam istirahat), langsung mendapat ide.

​"Tenang, Kal. Hujan begini itu artinya alam menyuruh kita untuk... konser!" Kenan mulai memetik senar gitarnya.

​"Konser apa? Di parkiran begini?" tanya Kala heran.

​"Iya. Penontonnya motor-motor dinas ini. Mereka bosan lho diparkir terus," Kenan mulai memainkan intro lagu Lyla yang judulnya "Kamu Cantik, Kamu Baik".

​Suara petikan gitar Kenan bersaing dengan suara hujan. Dia menatap Kala yang sedang berdiri menyandar di tiang parkiran.

​"Karena kamu cantik... Kan kuberi segalanya apa yang kupunya..."

"Dan hatimu baik... Sempurnalah duniaku saat kau di sisiku..."

​Kenan menyanyi dengan suara yang sengaja dilembutkan. Dia mengganti liriknya sedikit sambil menunjuk ke arah Kala dengan dagunya.

​"Tapi percayakan hatimu padaku... Bila kau inginkan, aku akan selalu menjaganya..."

​Kala terdiam. Matanya menatap Kenan dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum manisnya muncul, tapi ada sedikit rona merah di pipinya.

"Kenan, kamu kalau nyanyi gitu, liriknya nggak usah diganti-ganti dong. Nanti yang punya lagu marah."

​"Yang punya lagu nggak akan marah, Kal. Yang marah itu paling cuma orang yang lagi nungguin kamu di rumah," balas Kenan sambil terus memetik gitar. "Kal, kamu pernah merasa nggak? Kadang lagu itu lebih jujur daripada orangnya."

​Kala menunduk, memainkan ujung kunci motornya. "Maksudnya?"

​"Ya... ada banyak hal yang tak bisa aku bilang langsung, tapi kalau lewat lagu, rasanya lebih enteng saja."

​Tiba-tiba, HP Kala berbunyi. Ada notifikasi pesan masuk. Kala membukanya, dan seketika wajah cerianya hilang. Dia menghela napas panjang.

​"Kenapa? Dari Revan lagi?" tanya Kenan, nadanya berubah datar.

​"Dia marah-marah lagi, Nan. Katanya aku lama balas chat. Padahal kan aku lagi kerja, lagi ngecek jaringan. Dia bilang aku sengaja main-main di kantor," suara Kala terdengar bergetar.

​Kenan meletakkan gitarnya di jok motor. Dia berdiri dan mendekati Kala. "Kal, dengerin aku. Orang yang beneran sayang sama kamu itu nggak akan bikin kamu nangis cuma gara-gara masalah sepele. Apalagi kamu di sini lagi berjuang buat sekolah."

​"Tapi dia bilang dia begitu karena takut kehilangan aku, Nan."

​"Takut kehilangan atau takut nggak ada lagi yang bisa disuruh-suruh buat bayarin es jeruk?" celetuk Kenan, teringat kejadian di taman kota kemarin.

​Kala tersentak, dia menatap Kenan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kamu kok ngomongnya gitu?"

​"Maaf, Kal. Aku nggak bermaksud kasar. Tapi aku nggak tega lihat kamu digituin terus. Kamu itu berharga. Kamu pintar, kamu cantik, kamu baik. Kamu berhak dapet yang lebih... yang lebih bisa menghargai kamu," Kenan menatap mata Kala dalam-dalam.

​Suasana mendadak hening, hanya ada suara hujan yang mulai mereda. Kala tidak menjawab, dia hanya menatap aspal parkiran yang basah.

​"Dah lah, jangan sedih terus. Nanti kalau kamu nangis, ulat bulu di pohon ketapang sekolah kita bakal ikut sedih lho," Kenan mencoba mencairkan suasana dengan humor recehnya.

​Kala tertawa kecil sambil menghapus sudut matanya. "Apa sih kamu, bawa-bawa ulat bulu segala."

​"Nah, gitu dong. Senyum. Kamu tahu nggak? Senyum kamu itu lebih ampuh daripada sabun cuci muka aku buat ngilangin jerawat," canda Kenan.

​"Hahaha! Dasar raksasa gombal!" Kala memukul lengan Kenan pelan.

​"Eh, hujannya sudah reda nih. Yuk balik. Aku kawal di belakang ya sampai depan gang rumah kamu," tawar Kenan.

​"Emangnya aku pejabat pakai dikawal segala?"

​"Bukan pejabat, tapi kamu itu aset berharga SMK kita. Harus dijaga," Kenan memakai helmnya dengan gaya sok paten, meski helmnya sedikit miring karena nyangkut di rambut ikalnya.

*******

​Sepanjang jalan pulang, Kenan merasa sangat bahagia meskipun perutnya keroncongan karena cuma makan nasi merah. Dia merasa selangkah lebih dekat dengan hati Kala. Dia tidak tahu, bahwa di saat yang sama, Revan sedang mengetik permintaan maaf yang sangat manis di HP-nya—sebuah taktik manipulatif andalannya untuk membuat Kala kembali luluh.

​Kenan sampai di rumah, langsung mengambil buku catatannya. Dia mulai menulis lirik baru, lagu buatannya sendiri.

​"Di antara angka dan pajak yang menumpuk... ada senyummu yang membuatku tak mau pulang..."

​"Ini harus jadi lagu paling hits se-Riau!" gumam Kenan penuh ambisi.

1
Erni Fitriana
mampirrrr...mampirrrr
Jumi Saddah
moga cerita ini banyak peminat nya,,seperti nya kisah ini asyik deh,,
Riry AU: aamiin, terimakasih sudah mampir kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!