Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. Misi Daren
Di sebuah kantor dengan dinding kaca yang menghadap ke arah Gerbang Brandenburg, suasana tegang biasanya menyelimuti ruangan rapat. Namun, pagi itu berbeda. Jerry dan Sakura, dua rekan kerja Daren di firma, saling pandang dengan dahi berkerut.
Di pojokan ruangan, Daren sedang duduk anggun di atas kursi kulit mahalnya mencoba posisi lotus yang gagal sambil menggenggam sebuah buku berjudul “Bahasa Indonesia for Beginners”.
Di meja kerjanya, bukan lagi secangkir espresso pahit, melainkan secangkit teh manis hangat dan sebungkus kerupuk putih yang ia dapat dari toko Asia.
“Look at him, Sakura,” bisik Jerry dalam bahasa Inggris.
“I think he’s losing it. Is it the stock market crash? Or maybe the inflation in the Euro zone?”
Sakura, wanita keturunan Jepang Jerman yang modis, menggelengkan kepala.
“No, Jerry. Look at his screen. He’s watching a woman climbing a tree. And... is he eating a fried sponge?”
Sakura mendekati meja Daren.
“Daren, seriously? Why are you suddenly obsessed with Indonesia? You’re eating that smelly bean thing and speaking a language that sounds like birds chirping. What’s going on?”
Daren mendongak, matanya berbinar penuh tekad.
“I am on a mission, Sakura. A mission to conquer the heart of a Ninja Girl.”
Sakura tertawa terpingkal-pingkal.
“A Ninja? Daren, I am Japanese! My ancestors were actual Ninjas, and I’m right here! If you want a Ninja, I can teach you Kendo or something.”
Daren menggeleng tegas.
“You are just a friend, Sakura. A good colleague. But this woman... she’s different. She doesn’t wear a black mask, she wears a batik shirt and can throw stink beans (pete) from a height of ten meters with sniper-like precision. She is the Ninja of Sukamaju”.
Jerry menepuk bahu Daren.
“Well, if you don't want Sakura, I’ll take her place as her guy friend Sakura, you want to grab some bratwurst?”
Sakura mendengus, matanya menyipit menatap layar ponsel Daren yang sedang memutar video live Jamila.
“I need to know who this woman is. What does she have that I don’t?”
Sementara itu, di Sukamaju, Jamila sedang melakukan live streaming mingguan yang dinanti-nanti ribuan pengikutnya. Kali ini, lokasinya ekstrem: Pohon Pete milik Wak Haji.
“Oke, guys! Hari ini kita panen pete! Yang mau dapet lemparan pete keberuntungan, silakan kirim gift!” seru Jamila sambil
bergelantungan santai di dahan pohon.
Di bawah, Cintya dan Kayla sudah siap dengan keranjang.
“Ayo Mil! Lempar! Itu si Koko Sen baru aja kirim ‘Mawar’!”
Tiba-tiba, layar ponsel Jamila dipenuhi notifikasi.
Koko_Cina_Ganteng mengirim: Paus (1x). “Jamila, turun dong, kita makan dimsum di kota!”
Harun_Al_Dubai mengirim: Singa.
“Habibi, let’s go to Dubai! No more climbing trees!”
Kang_Dede_Cilok mengirim: Nasi Bungkus. “Neng Jamila, semangat! Akang pantau dari gerobak cilok!”
Daren, yang juga sedang menonton dari Berlin, merasa dadanya panas. Ia langsung mengetik dengan bahasa Indonesia hasil Google Translate:
Daren_From_Euro: “JANGAN TURUN! TETAP DI POHON! I am sending WHALE! Jamila, only me can give you Paus! Don't listen to Koko or Harun!”
“Waduh, si Bule cemburu, Mil!” teriak Kayla dari bawah.
Namun, suasana romantis itu mendadak buyar. Dari kejauhan, terdengar suara melengking yang getarannya sanggup merontokkan daun-daun kering.
“KU MENANGIIIIIIIS... MEMBAYAAAAAAR... CICILAAAAAAAN MOTORRRRR!”
"CiCiLAAAAAN.. PANCIII"
Salina muncul. Ia tidak mau kalah. Ia membawa speaker bertenaga baterai yang diikatkan di pinggangnya. Dengan daster motif ular sanca (ganti dari macan tutul karena robek kemarin), ia berdiri tepat di bawah pohon pete Jamila.
“Woi, penonton live! Jangan lihatin si Jamila! Lihat nih, real talent!” teriak Salina.
Ia menyalakan mikrofon nirkabel yang suaranya bergema (echo) maksimal.
Salina mulai bernyanyi lagu dangdut dengan nada yang entah lari ke mana. Suaranya seperti perpaduan antara kucing kejepit pintu dan sirine ambulans yang membawa orang sakit.
“Sal! Pergi lo! Ini live gue keganggu!” teriak Jamila dari atas dahan.
“Bodo amat! Jalanan ini milik umum! Gue juga mau live!” Salina mengangkat ponselnya, memulai siaran langsung sendiri tepat di depan muka Jamila yang sedang di atas pohon.
“Halo followers aku yang cuma tiga orang! Liat nih, aku lagi konser di bawah pohon hantu!”
Para penonton Jamila mulai berkomentar:
User88: “Waduh, suara apa itu? HP gue langsung retak!”
Netizen_Julid: “Itu manusia apa reog? Berisik amat!”
Salina makin menjadi-jadi. Ia mulai berjoget ala baling-baling bambu, membuat debu di bawah pohon beterbangan.
“Ayo, mana gift-nya? Masak cuma kasih Jari Jempol? Kasih Istana dong buat istri anak Kades!”
" Jangan lupa sayangku tap-tap layar"
Jamila yang sudah gemas, mengambil seuntai pete yang paling tua dan besar.
“Sal, lu mau diem atau gue kasih oleh-oleh dari langit?”
“Kagak takut! Suara gue ini adalah seni! Lu iri kan karena gue punya vibes superstar?” Salina kembali berteriak,
“BUULAAN MADUU DILANGIT BIRUUU...HANYA..KITAA...YANG..TAHUU..Ah..ah...”
PLUK!
Satu untai pete mendarat tepat di dalam mulut Salina yang sedang menganga lebar saat mengambil nada tinggi.
“UHUK! UHUK!” Salina tersedak. Ia berusaha mengeluarkan pete itu sambil terbatuk-batuk.
“Lu mau bunuh gue, Mil?!”
“Itu namanya snack buat penyanyi biar suaranya kagak kayak knalpot bocor!” balas Jamila sambil tertawa puas.
Di layar HP, para fans Jamila bersorak. Gift Paus dan Singa berdatangan karena aksi Headshot Pete tersebut.
" Horee mendarat tepat sasaran"
Daren di Berlin tertawa sampai salto jungkir balik dari kursinya.
“That’s my girl! Go Jamila! Hajar itu macan tutul!”
Salina yang mulutnya masih terasa sepat akibat snack pete dari Jamila, benar-benar kehilangan akal sehatnya. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena dendam kesumat.
"Kurang ajar lo, Jamila! Berani-beraninya lo sumpal mulut aset bangsa pake makanan bau!" teriak Salina sambil memungut beberapa batu kerikil dan batu kali di pinggir jalan.
Wush! Wush! BUK!
Batu-batu itu melayang ke arah dahan pohon pete. Jamila yang sigap langsung menghindar, berpegangan pada dahan kuat seperti monyet lincah.
"Eh, Sal! Gila lo ya! Ini kalau kena kepala gue bisa benjol!" seru Jamila kaget.
"Biarin! Biar otak lo geser sekalian!" Salina kembali mengambil batu yang lebih besar.
Melihat situasi sudah tidak kondusif dan layar HP mulai bergetar karena Kayla yang memegang tripod ikut ketakutan,
Kayla langsung berteriak
"Sinyal putus! Sinyal putus! Guys, maaf ya, ada gangguan makhluk halus dasteran! Kita tutup dulu livenya!"
Cintya dengan cekatan mematikan koneksi. Mereka bertiga segera turun dari pohon dan lari tunggang langgang sebelum batu besar Salina mendarat di kepala mereka.
"Bener-bener tuh sepupu lu, Mil! Hama beneran! Gak boleh banget liat orang seneng, bawaannya syirik mulu!" gerutu Cintya sambil mengatur napas saat mereka sudah jauh dari jangkauan Salina.
"Udah, biarin. Daripada kita ladenin, entar daster ularnya malah robek lagi, Mas Arjuna yang pusing nyicilnya," balas Jamila tenang meski jantungnya masih berdegup.
Setelah merasa aman, Jamila memutuskan untuk melanjutkan livenya. Kali ini lokasinya lebih tenan, Kali Sukamaju yang airnya gemericik dengan latar belakang rumpun bambu yang asri.
"Halo guys, maaf ya tadi ada sedikit interupsi dari Godzilla lokal," ucap Jamila sambil tersenyum ke arah kamera yang kini diletakkan di atas batu besar. Ia mencuci kakinya yang kotor di air kali yang bening.
Penonton langsung menyerbu:
Fans_Garis_Keras: "Alhamdulillah Neng Mila selamat dari lemparan batu!"
Koko_Sen: "Jamila, kenapa sih lu hobi banget manjat pohon? Kan bahaya, mending manjat ke pelaminan sama gue."
Jamila tertawa renyah, suara tawanya terdengar merdu sampai ke Berlin.
"Gini ya, Ko Sen. Dari kecil gue itu sering diajak Engkong Malik ke kebun. Engkong yang ajarin gue manjat. Gue suka pemandangan dari atas pohon, rasanya dunia itu luas dan masalah-masalah kecil kayak cicilan motor atau daster macan itu kelihatan sepele banget."
Tiba-tiba, kolom komentar makin panas saat fans-fans pria mulai berebut perhatian.
Harun_Al_Dubai: "Jamila, you are so beautiful. Mau gak jadi istri kedua saya? I give you gold!"
Anak_Sultan: "Jadi pacar gue aja Mil, atau jadi 'Ani-ani' gue? Gue kasih uang jajan sebulan seharga satu motor"
Jamila menggelengkan kepala sambil tertawa.
"Aduh, Bang Harun, Mas Sultan... makasih tawarannya. Tapi jujur, gue belum pengen hubungan serius. Gue lagi asyik sama dunia gue sendiri. Lagian, siapa yang mau sama cewek yang tiap hari bau pete sama bau matahari?"
Di Berlin, Daren yang menyaksikan komentar-komentar itu hampir saja meremukkan buku bahasa Indonesianya.
"What is 'Ani-ani'?" tanya Daren pada Jerry.
Jerry tertawa terbahak-bahak.
"It's like... a sugar baby, Daren. People are offering her money to be their girl!"
Daren langsung mengetik dengan penuh emosi
Daren_From_Euro: "NO! Jamila is NOT Ani-ani She is an independent Ninja! Don't listen to them, Jamila! Saya punya lebih banyak uang dari mereka semua, tapi saya tidak mau beli kamu, saya mau beli hati kamu!"
Daren merasa sangat kesal. Ia tidak suka melihat pria-pria lain menggoda Jamila. Ia merasa harus segera memesan tiket pesawat sebelum Jamila diambil oleh Harun Dubai atau Koko Sen.
Sementara itu, di pojokan pasar Sukamaju, Arjuna juga diam-diam menonton live tersebut lewat akun palsunya.
@Sales_Mobil_Jujur.
Ia merasa perih melihat Jamila yang begitu ceria dan diperebutkan banyak orang. Ia mengetik pelan di kolom komentar:
Sales_Mobil_Jujur: "Cewek kayak dia emang mahal, pantes banyak yang mau. Beda sama yang cuma bisa teriak di depan speaker..."
Arjuna menghela napas. Ia teringat Salina yang di rumah mungkin sekarang sedang sibuk mengasah batu untuk dilempar lagi.
"Gue yang dapet batunya, orang lain yang dapet berliannya," bisiknya pedih.
Akankah Daren benar-benar nekat terbang ke Indonesia setelah melihat banyaknya saingan?
Comment, like and share guys... 😂