"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Arisan Macan Ternak
Minggu sore biasanya menjadi waktu bagi Dira untuk masker-an sambil maraton drakor. Tapi, hari ini ada ancaman besar: Arisan Perdana Komplek Cendana Absurd.
Sebagai warga baru, Dira tidak punya pilihan selain hadir jika tidak ingin namanya masuk dalam daftar hitam "Warga Sombong" di grup WhatsApp RT.
"Pir! Lo liat eyeliner gue nggak?" teriak Dira dari depan cermin riasnya.
Bagas yang sedang sibuk memberikan "pelatihan baris-berbaris" pada Supra menggunakan lidi sate, menoleh. "Oh, yang bentuknya kayak pulpen item itu? Tadi gue pake buat nandain jadwal vaksin Supra di kalender, Ndoro. Tapi tenang, udah gue balikin ke tempatnya... kalau nggak salah di sela-sela sofa."
Dira menarik napas panjang. Sabar adalah kunci masuk surga, tapi tinggal sama Bagas adalah latihan masuk surga setiap hari.
"Gue harus kelihatan sempurna, Pir. Ibu-ibu di sini itu 'Macan Ternak'—Mamah Cantik Anter Anak. Mereka kalau ngeliat alis miring dikit aja, gosipnya bakalan sampe ke kelurahan!"
Bagas bangkit, merasa terpanggil jiwanya sebagai Creative Lead. "Ndoro, serahkan pada ahlinya. Gue sering liat tutorial dandan di YouTube pas lagi nunggu rendang jengkol Nyonya Ratna mateng. Sini, gue dandanin biar muka lo kelihatan... high fashion."
Dira ragu, tapi karena waktu sudah mepet dan belum juga bisa menemukan eyeliner-nya, Dira akhirnya duduk pasrah. "Oke. Tapi kalau lo bikin gue mirip ondel-ondel, gue bakal kunci lo di luar bareng patung Jago."
Bagas mulai beraksi. Mengambil foundation, tapi bukannya pakai spons, Bagas malah pakai kartu ATM bekas. "Ini namanya teknik flat-shaping, Ndoro. Biar wajah lo punya struktur tegas kayak gedung pencakar langit."
"Bagas! Itu pipi gue, bukan adonan semen!"
Sepuluh menit berlalu. Bagas bekerja dengan konsentrasi penuh. Bagas memakai bayangan mata (eyeshadow) warna biru elektrik dan lipstik merah menyala. Terakhir, mengambil pensil alis dan menggambar alis Dira dengan sangat... sangat tebal.
"Selesai! Buka mata lo, My Queen!" seru Bagas bangga.
Dira membuka mata, menatap cermin, dan seketika dunianya runtuh. "BAGAAAAASSSS!!! Kenapa alis gue kayak ulat bulu lagi tawuran?! Terus ini kenapa pipi gue merah banget kayak abis ditampar massa?!!"
"Loh, itu namanya blush-on dramatis, Ndoro! Biar lo kelihatan segar dan penuh semangat juang!" bela Bagas.
Belum sempat Dira menghapus mahakarya itu, bel rumah berbunyi. Itu Bu RT yang menyusulnya. Dira tidak punya waktu lagi. Dengan sangat terpaksa memakai kacamata hitam besar dan masker, berharap ibu-ibu di sana tidak menyadari ada bencana kosmetik di baliknya.
...----------------...
Di rumah Bu RT, suasana sudah ramai. Aroma parfum mahal bercampur dengan aroma gorengan.
"Jeng Dira, kok pake kacamata di dalem rumah? Matanya sakit?" tanya Bu RT yang perhiasannya kalau dikumpulin bisa buat bayar utang negara.
"Eh... iya Bu, radiasi layar HP terlalu kuat semalem," jawab Dira bohong demi keselamatan nyawa.
Acara arisan dimulai. Semua berjalan normal sampai tiba saatnya makan bakso. Dira terpaksa membuka maskernya. Begitu masker terbuka, seluruh ruangan mendadak hening.
"Jeng Dira... itu... alisnya memang model terbaru ya?" tanya salah satu ibu dengan nada tertahan, menahan tawa.
Dira ingin menghilang dari muka bumi. Tapi tiba-tiba, Bagas muncul di depan pintu (Bagas membuntuti Dira karena takut istrinya di-bully). Bagas masuk dengan wajah percaya diri tingkat dewa.
"Mohon maaf Ibu-ibu," potong Bagas dengan suara berat. "Istri saya ini sedang jadi model eksperimen untuk kampanye iklan terbaru agensi saya. Judulnya: 'Power of Boldness'. Alis tebal itu simbol ketegasan wanita masa kini dalam menghadapi kenaikan harga minyak goreng."
Ibu-ibu itu saling berpandangan. Karena Bagas bicara dengan istilah-istilah keren dan gayanya meyakinkan (meskipun dia cuma pakai kaos oblong), ibu-ibu itu malah mangut-mangut.
"Oh... gitu ya Mas Bagas? Wah, keren juga ya. Jadi ini tren tahun depan?" tanya Bu RT yang tiba-tiba merasa alisnya yang tipis jadi ketinggalan zaman.
"Betul Bu! Tahun depan, kalau alis belum sebesar jempol kaki, berarti belum modis," tambah Bagas ngawur.
Dira yang tadinya malu, malah jadi merasa menang. Dira mengikuti permainan Bagas. "Iya Bu, ini emang agak berat pakenya, tapi demi seni dan profesionalitas kerja..."
Akhirnya, arisan berakhir dengan Dira yang jadi pusat perhatian—bukan karena dihina, tapi karena dianggap "Istri Orang Kreatif yang Visioner". Bahkan Bu RT minta diajari cara gambar alis "Ulat Bulu Tawuran" itu.
Di perjalanan pulang, Dira tertawa sampai memegangi perutnya. "Pir, lo bener-bener gila. Bisa-bisanya lo nipu ibu-ibu komplek pake teori minyak goreng."
"Itu bukan nipu, Ndoro. Itu namanya rebranding bencana menjadi tren," sahut Bagas santai.
"Tapi serius, Ndoro, lo sebenernya cantik pake alis gitu. Kelihatan kayak... berwibawa banget kalau lagi marah."
"Diem lo! Sekarang bersihin muka gue pake minyak zaitun. Dan jangan pernah sentuh alat dandan gue lagi!"
"Siap, Ndoro! Eh, tapi Supra tadi bilang dia mau diajarin dandan juga buat ketemu kucing sebelah—"
"TIDUR DI LUAR, BAGAS!!!"
...----------------...
Pagi itu, Bagas terbangun dengan semangat yang meluap-luap. Melihat kalender di ponselnya yang sudah diberi alarm dengan judul: "HARI JADI NDORO & TAPIR (JANGAN SAMPE MATI KONYOL)".
Tepat satu tahun lalu, mereka resmi mengikat janji suci di depan penghulu, yang mana saat itu Bagas hampir menjatuhkan mas kawin karena tangannya gemetar melihat Dira yang terlalu cantik—atau mungkin karena dia telat sarapan.
Bagas menatap Dira yang masih meringkuk di balik selimut, memeluk bantal guling dengan posisi mulut sedikit terbuka. "Ndoro," bisik Bagas romantis. "Selamat satu tahun bertahan hidup bareng makhluk paling ganteng se-komplek."
Dira hanya bergumam tidak jelas, menarik selimutnya sampai menutupi kepala. "Berisik, Pir. Masih jam enam. Kasih gue lima jam lagi buat simulasi jadi putri tidur."
Beberapa jam kemudian, Dira sudah pergi ke kantornya, sementara Bagas meminta izin karena ingin memberikan kejutan untuk hari jadinya bersama Dira.
Bagas punya misi besar hari ini: Menjadi suami idaman yang jago masak. Selama ini, Dira selalu mengeluh kalau Bagas cuma bisa masak air (itu pun sering gosong pancinya). Maka, hari ini Bagas memutuskan untuk memasak Anniversary Dinner spesial.
"Supra! Sini lo!" panggil Bagas pada manajer keamanannya. Supra muncul dengan kaki pincang yang sudah jauh lebih lincah, ekornya tegak seperti antena radio. "Hari ini kita bakal masak Steak Au Poivre ala Perancis. Tugas lo adalah jagain pintu dapur. Jangan sampe Ndoro tiba-tiba datang dan masuk sebelum mahakarya ini selesai. Mengerti?"
Supra mengeong sekali, lalu duduk di ambang pintu dapur, seolah benar-benar mengerti tugasnya sebagai satpam kuliner.
Bagas mulai beraksi. Dia sudah belanja bahan-bahan lewat aplikasi online sejak subuh tadi. Ada daging sapi yang katanya premium, mentega, dan seikat tanaman yang dia kira seledri tapi ternyata bukan.
"Oke, langkah pertama: membakar semangat daging," gumam Bagas sambil menyalakan kompor dengan api paling besar.
Di kantornya, Dira merasa gelisah sepanjang hari. Bagas tidak mengirimkan pesan aneh seperti biasanya. Tidak ada laporan soal Supra yang nangkep laron, atau foto patung Jago yang di pakein baju daster.
"Kok si Tapir anteng banget ya?" gumam Dira ke Manda.
"Mungkin dia lagi nyiapin kejutan, Dir. Atau jangan-jangan... dia lagi ikut pelatihan Alpha Male jilid dua di gunung?" sahut Manda asal.
Dira bergidik ngeri. Segera berkemas dan pulang lebih awal. Begitu sampai di depan pintu rumah, penciuman Dira yang tajam langsung menangkap aroma yang tidak asing: aroma benda terbakar yang sangat intens.
"Bagas! Lo bakar rumah ya???!" teriak Dira sambil mendobrak pintu.
Bersambung...
apalagi bagas ada aja ide kreatif nya, dan bisa merubah segala macam situasi 😃
dsini dira yang masih waras meski idenya bikin geleng kepala pas suruh lawan pelakor 🤣
up terus kaka semangat 🤗🤗
semangat up kaka🤗
dan suka karakter bagas yang ga menye menye😃
idenya kreatif kak, bisa bikin cerita lucu dngan berbagai ide yang unik 🤗
suka karakter manda yang super mistis, 🤣🤣🤣
yang pasti bnyak ketawa nya
menarik banget
ketawa terus pas setiap baca perbab
semangat up iya kaka🤗
semoga makin asyik kedepannya 👍