Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Mama
...Julia...
Akhirnya Bian tiba di depan pagar rumahnya. Ia pun turun dari jok belakang motor yang dikemudikan oleh Theo. Theo membantu Bian melepaskan helmnya.
"Makasih, ya," ujar Bian.
"Sama-sama, Sayang." Theo membantu merapikan rambut Bian yang agak berantakan. "Mulai besok aku bakal bawa mobil."
"Yang, gak apa-apa kamu pakai motor aja. Aku gak keberatan, kok. Kamu jangan dengerin Kak Saga," ujar Bian merasa tak enak.
"Gak masalah, Yang. Lagian bener kok apa kata calon kakak sambung kamu itu. Maaf ya aku kurang peka."
"Yang, aku lebih suka kamu pakai motor. Udah gak usah gitu ah. Aku jadi gak bisa peluk kamu kalau di mobil," bujuk Bian dengan manja.
"Di mobil juga bisa, Sayang." Theo menarik pinggang Bian mendekat padanya. "Kiss juga bisa."
"Yang, ih kamu. Malah bercanda." Bian malah jadi salah tingkah.
"Bercanda apa sih. Aku beneran kok ini."
"Udah ah, sekarang kamu pulang sana. Nanti Mama nyariin."
"Aku jadi gak mau pulang." Theo pun ikut melontarkan kata-kata manja.
"Pulang, Sayang. Udah kamu nyampe rumah cepetan chat aku. Nanti kita video call kayak biasa. Ya?" bujuk Bian.
"Ya udah deh. Aku pulang sekarang ya."
"Eh, tunggu. Kapan kamu mau ngenalin aku sama mama kamu?"
Semenjak berpacaran dengan Theo, hanya Theo yang sudah berkenalan dengan orang tua Bian. Sedangkan Bian belum pernah berkenalan dengan orang tua Theo. Theo selalu saja menghindar jika Bian ingin berkenalan dengan ibu dari Theo itu.
Bukan bermaksud apa pun, hanya saja Diana, sang ibu, selalu ingin berkenalan dengan ibu dari pacar putrinya itu, yang dikenal sebagai CEO generasi ketiga yang pastinya terhormat dan kaya raya.
"Nanti ya, kalau mama udah gak sibuk. Mama juga jarang di rumah jadi nanti aku kasih tahu ya kalau mama udah punya waktu."
"Okay deh kalau gitu." Bian sudah tahu, pasti seperti itu jawabannya. "Dah, hati-hati di jalan ya," ujar Bian mundur beberapa langkah dan melambaikan tangannya.
Kemudian setelah membalas lambaian Bian, Theo melajukan kembali motornya menuju rumahnya. Karena sudah berjanji akan segera bertukar pesan setelah sampai di rumah pada Bian, Theo tidak mungkin kembali ke rumah Luis lagi. Ia pun membawa motornya menuju rumahnya.
Theo pun tiba di rumahnya yang terletak di kawasan elit. Mansion besar itu hanya ditinggali oleh Theo dan juga ibunya beserta pelayan-pelayan dan supir.
Setelah memarkirkan motornya di depan pintu utama rumah, Theo masuk ke dalam rumah dan berniat langsung menuju ke kamarnya.
Namun sebuah suara menyapanya. "Sayang, kamu udah pulang?"
Theo pun menoleh dan melihat sang ibu datang dari arah ruang keluarga.
"Udah. Mama belum tidur?" tanya Theo sopan. Ia pun meraih tangan kanan sang ibu, Julia, dan menciumnya khidmat.
Kemudian Julia membawa Theo ke dalam pelukannya dan mencium kedua pipi Theo. "Gimana Mama bisa tidur, kamunya belum pulang. Mama khawatir kalau kamu belum di rumah. Sini," ajak Julia.
Julia menggandeng tangan Theo dan membawanya ke ruang keluarga. Di sana ada dua buah gelas tinggi dan sebotol wine. Beberapa macam buah potong dan kacang-kacangan ikut serta menemani minuman berwarna merah pekat itu.
Julia pun membawa Theo duduk bersamanya. "Sekarang, temenin Mama minum yuk." Julia menuangkan wine ke gelas yang masih kosong. Sedangkan yang satunya lagi sudah berisi wine.
"Mama, masa ngajak aku minum minuman kayak gini?" Theo tentu tercengang. Bagaimana bisa sang ibu memintanya minum minuman keras seperti ini.
Sejak ulang tahunnya yang ke-17, Theo mulai merasakan keanehan pada sikap sang ibu. Semakin hari ia semakin yakin ada yang berubah dari sikap sang ibu.
"Kenapa emangnya, Sayang? Kamu pernah nyobain juga 'kan bareng temen-temen kamu?"
"Itu..." Theo terkejut karena Julia mengetahuinya. Rasa terkejutnya tak hilang karena bukannya memarahi atau menegur, Julia malah mengajaknya minum bersama.
"Mama bukan orang yang kolot, Sayang. Kamu boleh minum, kok. Kamu juga boleh minum nemenin Mama kayak gini." Julia meraih gelas miliknya, kemudian gelas yang baru ia isi dan ia berikan kepada Theo.
Theo dengan terpaksa menerimanya. Theo memang berteman dengan teman-teman yang memiliki pergaulan yang cukup bebas, namun demikian, ia tahu jika yang sang ibu lakukan ini tidaklah lazim.
"Cheers," ajak Julia untuk bersulang.
Dengan bingung Theo ikut saling mendentingkan gelas mereka tanpa menyesapnya.
"Kenapa, Sayang? Ayo dicobain. Cowok itu harus tahu rasa dari macam-macam wine. Apalagi bentar lagi kamu bakal sering Mama bawa ke acara kantor, ketemu pemegang saham, ketemu rekan bisnis Mama. Kamu harus terbiasa sebelum kamu ikut mengelola perusahaan bareng sama Mama."
Julia meletakkan tangannya di paha Theo. Kontan, lagi-lagi Theo terkejut bukan main.
"Ayo, diminum."
Theo tak punya pilihan. Ia pun mulai menyesapnya. Theo sendiri pernah merasakan wine, karena di rumah Luis, ada banyak berbagai macam minuman seperti ini.
"Gimana?" tanya Julia.
"Enak, Mah." Theo sebetulnya tidak betul-betul merasakannya. Kepalanya terlalu sibuk dengan apa yang sang ibu lakukan padanya. Pasalnya tangan Julia masih berada di pahanya bahkan perlahan mengusapnya.
"Mulai sekarang kita bakal sering minum bareng kayak gini ya." Julia mendekatkan wajahnya ke wajah Theo. "Kamu... abis ngerokok ya? Kecium dari mulut kamu, Sayang."
"Ah, itu... Maaf, Mah. Aku..."
Kata-kata tergagap dari mulut Theo terhenti saat telunjuk Julia berada di bibirnya. "Ssssttt..."
Kedua mata Julia menatap kedua mata Theo bergantian. Kecurigaan Theo semakin menjadi. Sikap sang ibu terlalu aneh untuk tidak membuatnya curiga dan merasa ada sesuatu yang berbeda dari ibu sambungnya itu.
Iya, Theo memang bukan anak kandung Julia.
Namun bagi Theo yang diadopsi oleh Julia sejak usianya sepuluh tahun, Julia adalah sosok ibu baginya, yang selalu merawatnya, yang akan selalu ia anggap sebagai orang tuanya.
"Mama ingin lebih yakin lagi, benar kamu merokok atau enggak. Boleh Mama cek?" tanya Julia dengan kedua maniknya menatap bibir Theo tidak sabar.
Theo begitu bingung dengan pertanyaan Julia. Julia ingin mengecek benar atau tidak ia merokok? Bagaimana caranya?
Theo tidak berpikir macam-macam. Maka ia pun mengangguk pelan. Tak sampai dua detik, bibir Julia sudah menempel di bibir sang putra sambung.