Michael Chandra Dinata adalah keajaiban yang lahir dari keterbatasan. Berasal dari Indonesia, dibesarkan oleh seorang ibu tunggal dalam kemiskinan, ia menembus batas yang dianggap mustahil—menjadi satu-satunya pembalap Asia Tenggara yang berhasil bertahan di kerasnya dunia MotoGP, di era ketika nama-nama besar seperti Valentino Rossi masih merajai lintasan. Balapan adalah hidupnya, satu-satunya cara untuk bertahan, satu-satunya tempat di mana ia merasa utuh.
Namun pada usia dua puluh tujuh tahun, di sebuah balapan yang seharusnya menjadi titik balik kariernya, Michael mengalami kecelakaan fatal. Aspal yang selama ini ia cintai merenggut nyawanya—dan segalanya berakhir di sana.
Atau begitulah yang ia kira.
Michael terbangun kembali di dunia lain, dalam tubuh seorang pemuda Inggris bernama Julian Ashford—anak tunggal dari keluarga konglomerat kelas dunia. Kaya raya, dicintai kedua orang tuanya, dan dikelilingi kemewahan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. (bagus sinopsis lama:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meylisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PODIUM YANG TIDAK TERASA MENANG
CHAPTER 23
Julian tidak mengantar Clara ke bandara.
Bukan karena tidak mau.
Tapi karena kalau ia melihat punggung itu menjauh…
ia tidak yakin masih bisa berdiri di grid akhir pekan ini.
Ia memilih lintasan.
Seperti biasa.
Dan seperti semua pilihannya belakangan ini—
ada harga yang tidak tercatat di data telemetry.
Sirkuit itu dikenal kejam.
Kecepatan tinggi, angin liar, dan tikungan yang tidak memberi ruang ragu.
Sirkuit yang menyingkap pembalap mana yang berani…
dan mana yang hanya cepat saat aman.
Julian berdiri di grid, P4.
Mesin meraung.
Angin menyapu visor.
Ia menutup mata sesaat.
Bukan berdoa.
Tapi mengingat satu hal sederhana:
Jangan bawa apa pun selain balapan ke lintasan.
Lampu padam.
Motor melonjak.
Lap pertama kacau.
Dua pembalap hampir bersenggolan di tikungan satu. Julian memilih jalur luar—kehilangan satu posisi, tapi menyelamatkan motor. Penonton mungkin mengira ia terlalu hati-hati.
Padahal…
ia sedang membaca balapan.
Lap demi lap, ia membangun ritme.
Julian menggunakan early body shift—memindahkan tubuh lebih cepat sebelum masuk tikungan, membiarkan motor tetap lebih tegak. Teknik ini mengurangi beban ban saat kecepatan tinggi, cocok untuk kondisi angin silang seperti hari itu.
Di mata penonton, motornya terlihat “tenang”.
Di mata pembalap lain… itu menakutkan.
Karena Julian tidak terlihat berjuang.
Lap 7.
Pembalap di depannya mulai memaksa ban.
Throttle kasar.
Garis mulai melebar.
Julian mendekat.
Ia tidak menyerang.
Ia menunggu kesalahan.
Lap 10.
Kesalahan itu datang.
Di tikungan kanan cepat, pembalap itu terlambat menutup gas. Ban depan kehilangan grip sepersekian detik.
Cukup.
Julian masuk menggunakan delayed apex ekstrem—masuk lebih lambat, memotong sudut lebih tajam, lalu membuka gas lebih awal. Risiko tinggi, karena jika ban selip… habis.
Motor Julian keluar tikungan seperti ditarik tali.
Overtake bersih.
P3.
Podium mulai mungkin.
Dan justru di situlah… pikirannya goyah.
Di straight panjang, angin menghantam keras.
Julian mendengar suara mesin, tapi di kepalanya… sunyi.
Wajah Clara muncul.
Bukan wajah perpisahan.
Tapi wajah saat berkata: jangan melambat karena aku menjauh.
Tangannya refleks sedikit menutup gas.
Salah.
Motor bergoyang.
Ban belakang kehilangan traksi sejenak.
Penonton menjerit.
Julian hampir jatuh.
Ia menarik napas panjang di balik helm.
Tidak sekarang.
Ia mengubah pendekatan.
Bukan menyerang.
Bertahan.
Lap terakhir adalah siksaan.
Pembalap P4 menekan tanpa henti.
Julian memilih garis paling aman, bahkan jika itu berarti lebih lambat di entry.
Ia menggunakan defensive racing line—menutup jalur ideal lawan, memaksa mereka mengambil sudut lebih sempit dan berisiko.
Itu bukan balapan indah.
Itu balapan bertahan hidup.
Garis finis.
P3.
Podium.
Sorak sorai meledak.
Julian naik ke podium.
Champagne menyembur.
Kamera menyorot wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya…
Julian tidak tersenyum.
Ia tidak sedih.
Ia tidak bahagia.
Ia kosong.
Di ruang ganti, ia duduk lama sendirian.
Helm masih di tangan.
Podium pertama.
Momen yang seharusnya mengubah segalanya.
Tapi yang ia rasakan justru satu hal:
Jika aku terus naik… siapa yang akan tertinggal?
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Clara.
Aku nonton sampai akhir.
Julian mengetik lama.
Lalu menghapus.
Mengetik lagi.
Aku hampir jatuh.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Aku tahu. Nafasmu berubah.
Julian menutup mata.
Ia lupa… Clara mengenalnya sedalam itu.
Di sisi lain paddock, seorang pria berjas mahal menutup tablet.
“Dia tidak haus kemenangan,” katanya pelan.
“Dia paham harga.”
Ia berdiri.
“Dan itu lebih berbahaya.”
Malam itu, Julian berdiri sendiri di balkon hotel.
Angin dingin.
Lampu kota berpendar.
Ia akhirnya mengerti:
Podium bukan selalu tentang menang.
Kadang…
ia hanya menandai seberapa banyak yang sudah kau korbankan.
Dan musim ini—
baru saja mulai menagih.
.
.
Libur itu datang tiba-tiba.
Bukan karena Julian memintanya,
tapi karena kalender balap… memberi celah.
Dua minggu.
Bagi kebanyakan pembalap: waktu latihan ekstra.
Bagi Julian Ashford—
itu adalah pengingat tentang siapa dirinya di luar helm.
Pesawat keluarga Ashford lepas landas dari Milan tanpa sorotan media.
Tidak ada logo.
Tidak ada konferensi pers.
Hanya Julian, satu asisten pribadi, dan kabin yang terlalu sunyi untuk seseorang yang terbiasa dengan raungan mesin.
Tujuannya sederhana:
South of France.
Villa keluarga yang menghadap laut.
Putih. Bersih. Tenang.
Tempat yang terlalu indah untuk pikiran yang tidak tenang.
Ibunya menyambut dengan pelukan hangat.
Bukan pelukan konglomerat.
Tapi pelukan ibu yang akhirnya melihat anaknya pulang tanpa luka.
“Kau kurus,” katanya sambil menepuk punggung Julian.
Julian tersenyum.
“Motor tidak peduli status gizi.”
Ayahnya berdiri sedikit ke belakang. Tenang, rapi seperti biasa.
“Kami menonton balapanmu,” katanya.
“Kau tidak memaksakan diri.”
Bukan pujian.
Tapi pengamatan.
Dan itu… jauh lebih berarti.
Hari-hari Julian berjalan lambat.
Terlalu lambat.
Pagi dengan berenang di laut.
Siang dengan membaca—bukan data, bukan kontrak.
Malam dengan makan malam panjang, tanpa topik balapan.
Pelayan ada.
Keamanan ada.
Kemewahan… berlimpah.
Tapi pikirannya tetap di satu tempat.
Suatu sore, Julian duduk di teras, menatap laut.
Teleponnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Ia tahu… sebelum mengangkat.
“Kami tidak suka pembalap yang ragu,” suara itu berkata dingin.
“Tapi kami menghormati yang berpikir.”
Julian mendengarkan.
“Kami butuh jawaban setelah liburmu selesai.”
Satu kalimat terakhir sebelum sambungan terputus:
“Kesempatan ini tidak menunggu.”
Julian meletakkan ponsel.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena takut kehilangan kesempatan.
Tapi karena ia sadar…
kesempatan itu ingin mengubahnya.
Malam itu, ayahnya duduk di sebelahnya.
Tanpa jas.
Tanpa formalitas.
“Aku tidak akan memberimu nasihat balap,” katanya.
“Itu bukan duniaku.”
Julian menoleh.
“Tapi aku akan bertanya sebagai ayah.”
Hening sejenak.
“Apakah hidup pertamamu berakhir bahagia?”
Pertanyaan itu… menusuk.
Julian menunduk.
“Tidak,” jawabnya jujur.
Ayahnya mengangguk pelan.
“Lalu mengapa kau ingin mengulanginya lebih cepat?”
Keesokan harinya, Julian mengendarai mobil sport sendirian.
Bukan ke sirkuit.
Ke jalan pesisir.
Angin laut.
Langit biru.
Kecepatan yang tidak dicatat siapa pun.
Dan di sanalah ia sadar:
Ia menikmati bergerak…
tanpa dikejar.
Pesan dari Clara masuk malam itu.
Aku dapat tempat tinggal baru. Kecil, tapi hangat.
Julian tersenyum.
Kau terdengar bahagia.
Balasan lama datang.
Aku belajar hidup tanpa menunggumu.
Kalimat itu tidak kejam.
Justru jujur.
Dan itu membuat dada Julian sesak.
Malam terakhir libur.
Julian berdiri di balkon villa.
Lampu kapal berpendar di kejauhan.
Ia membuka dua file di tablet:
Tim pabrikan.
Ward Racing.
Satu menjanjikan segalanya.
Satu menawarkan proses.
Ia akhirnya mengerti.
Dulu, Michael Chandra Dinata balapan untuk keluar dari kemiskinan.
Sekarang, Julian Ashford balapan… untuk menemukan makna.
Dan dua motivasi itu
tidak pernah bisa berjalan di jalur yang sama.
Julian menutup tablet.
Tidak menandatangani apa pun.
Belum.
Ia menarik napas panjang.
Libur itu tidak memberinya jawaban.
Tapi memberinya keberanian untuk menunda.
Dan di dunia yang selalu mendesak cepat—
menunda
adalah bentuk perlawanan paling mahal.