Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Terbesar
"Ini semua cuma salah paham, Pa. Jessi emosi karena dia sayang sama aku. Dia kira hubunganku sama Salma nggak baik, makanya dia impulsif ngomong begitu. Tolong jangan salahin Jessi ya, Pa?"
Manda menatap Seno Tanudjaja dengan mata berkaca-kaca. Air matanya menetes di waktu yang tepat, menciptakan efek dramatis yang sempurna.
"Hubungan kalian berdua itu urusan keluarga, orang luar nggak pantas ikut campur. Manda, Papa nggak mau kejadian memalukan ini terulang lagi."
"Iya, Pa. Maafin aku udah bikin Papa khawatir," jawab Manda sambil menunduk. Di balik rambut panjang yang menutupi wajahnya, senyum penuh kebencian terukir samar.
Seno menghela napas, lalu menatap tajam ke arah pintu. "Pak Asep, antar teman-teman Manda pulang sekarang."
Jessi dan teman-temannya yang sedari tadi mematung di sudut ruangan tak berani membantah. Aura Seno terlalu intimidatif. Mereka keluar dengan langkah seribu, meninggalkan Manda sendirian menghadapi keluarganya.
Sementara itu, tangisan Salma sudah mereda. Gadis itu kini bersandar manja di pelukan ibunya, menikmati kehangatan yang di kehidupan lalu tak sempat ia rasakan.
"Masih sedih, Sayang?" tanya Shintia lembut.
"Udah nggak kok, Ma. Tadi cuma kaget aja," rengek Salma manja. "Jangan diledekin dong."
"Siapa yang ngeledekin? Kamu ini," Shintia mencubit hidung Salma gemas.
Pemandangan harmonis itu membuat dada Manda sesak oleh rasa iri. Namun, belum sempat ia mengatur napas, Seno tiba-tiba bertanya dengan nada serius.
"Manda, jawab Papa jujur. Apa Salma sering dibully di sekolah?"
Jantung Manda berdegup kencang. Biasanya ia bisa memutarbalikkan fakta, tapi kali ini Seno terlihat ingin mengusut tuntas.
"Hubungan Salma sama teman-teman biasa aja kok, Pa. Paling cuma jarang ngobrol. Kalau dibilang bully... kayaknya nggak sampai segitu deh," jawab Manda hati-hati.
Salma langsung memotong, bibirnya mengerucut kesal. "Serangan verbal tiap hari itu nggak termasuk bully ya, Kak? Kalau bukan karena mikirin Kak Manda, aku nggak bakal diem aja digituin. Tiap hari aku nahan emosi, tapi Kak Manda selalu nyuruh aku ngalah demi imej dia."
Darah Seno kembali mendidih. Ia mulai merasa ada yang tidak beres dengan cara Manda menangani masalah. Ia mengadopsi Manda untuk menambah anggota keluarga, bukan memelihara musuh dalam selimut.
"Salma, aku cuma takut hubungan kamu sama teman sekelas makin parah. Kita kan lagi masa puber, emosi nggak stabil. Maafin aku kalau caraku salah," ucap Manda dengan wajah memelas.
Salma menatap kakaknya dingin. Aktingmu layak dapat piala Oscar, Manda.
"Sudahlah," potong Seno datar, nadanya terdengar dingin. "Shintia, kamu di sini jagain Salma. Aku harus balik ke kantor. Papa mungkin pulang malam."
Tanpa menunggu jawaban Manda, Seno berbalik pergi. Manda merasa ada sesuatu yang retak saat melihat punggung ayahnya menjauh. Kepercayaan Seno padanya mulai luntur.
Di sudut yang tak terlihat, bibir Salma melengkung tipis. Satu poin untukku.
"Kak, dokter udah periksa belum?" tanya Salma tiba-tiba, nadanya berubah polos.
"Aku nggak apa-apa. Dokter lagi nyiapin obat," jawab Manda sambil menelan kekesalan.
"Ma, Kak Manda kan cuma lecet, kenapa rumah sakit malah nyiapin kamar rawat inap segala? Terus, kenapa tadi Mama dapet kabar kalau Kakak kecelakaan mobil?"
Wajah Manda seketika pucat pasi.
Shintia terkejut. "Iya juga. Tadi penelepon bilang Manda kecelakaan parah."
Tubuh Manda gemetar. Ketakutan menjalar di sekujur tubuhnya. Dibongkar habis-habisan di depan Shintia adalah mimpi buruknya.
"Manda, jelaskan ini. Apa maksudnya?" Suara Shintia berubah tegas.
"Waktu jatuh, aku sempat pingsan, Ma! Yang nelepon itu teman-temanku, aku nggak tahu kalau mereka melebih-lebihkan ceritanya... Sumpah aku nggak tahu!" Manda menangis histeris, berharap air matanya bisa menyelamatkannya lagi.
Shintia yang berhati lembut mulai goyah. "Ya sudah, yang penting kamu selamat. Teman-temanmu itu memang keterlaluan."
Manda tersenyum tipis dalam hati. Hampir saja.
"Oh ya? Tapi yang aku lihat dan denger tadi nggak kayak gitu tuh," ujar Salma dingin sambil mengeluarkan ponselnya. "Ma, Mama lihat sendiri aja."
Salma mengirim sebuah video ke ponsel Shintia.
Di layar itu, terpampang jelas rekaman Manda dan teman-temannya yang sedang merencanakan skenario bohong tentang kecelakaan dan rencana memfitnah Salma.
Wajah Shintia memerah padam menahan amarah. Ia menatap Manda dengan pandangan tak percaya. "Manda! Kamu menyusun kebohongan demi kebohongan untuk menipu Mamamu sendiri? Dan kamu tega membiarkan adikmu difitnah?"
Pertahanan Manda runtuh. Ia langsung bersimpuh di lantai, memeluk kaki Shintia.
"Ma! Aku ngelakuin ini karena aku takut kehilangan cinta Mama sama Papa!" raungnya pilu. "Aku tahu aku cuma anak angkat. Aku insecure, Ma! Aku iri sama Salma yang punya orang tua kandung sebaik kalian. Aku cuma butuh perhatian... Aku nggak bermaksud jahat!"
Tangisan Manda terdengar begitu menyayat hati, seolah ia adalah anak paling malang di dunia.
Hati Shintia luluh. Bagaimanapun, ia sudah membesarkan Manda belasan tahun.
"Ma, aku salah. Tolong jangan usir aku. Aku takut banget kehilangan Mama," isak Manda.
Salma merasa mual melihat drama itu. Takut kehilangan cinta? Omong kosong. Kamu cuma takut kehilangan fasilitas mewah keluarga Tanudjaja!
"Aku selalu percaya sama Kakak, tapi Kakak yang nusuk aku dari belakang," Salma memasang wajah yang jauh lebih terluka. "Ma, aku mau pulang. Mama temenin Kak Manda aja."
Melihat putri kandungnya hancur, rasa bersalah menyelimuti Shintia. Ia melepaskan tangan Manda perlahan. "Mama pulang sama kamu, Salma. Manda, kamu juga ikut pulang sekarang. Beresin barangmu."
Sepanjang perjalanan pulang, suasana mobil mencekam. Salma membisu, Manda gelisah, dan Shintia terlihat kecewa.
Sesampainya di rumah, Salma langsung mengurung diri di kamar.
Shintia menyusul tak lama kemudian. Ia menemukan Salma membenamkan wajah di bantal.
"Sayang, makan dulu yuk?" bujuk Shintia lembut.
"Nggak nafsu, Ma," suara Salma serak.
"Masih marah soal Manda?"
"Sakit banget rasanya, Ma. Aku anggep dia kakak kandung, aku percaya 100% sama dia, tapi ternyata dia sejahat itu."
Shintia memeluk Salma erat. "Maafin Mama ya, Sayang. Mama janji, mulai sekarang Mama bakal lebih perhatiin perasaan kamu. Gimana kalau besok Minggu kita jalan-jalan berdua? Girls day out?"
Mata Salma berbinar, kali ini tulus. "Beneran, Ma?"
"Bener dong. Mama bakal kosongin jadwal buat kamu."
"Mama terbaik!" Salma memeluk ibunya erat.
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Manda berdiri mematung. Tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Rasa cemburu membakar dadanya melihat pemandangan ibu dan anak itu. Posisinya benar-benar terancam. Salma merebut semuanya.
Malam harinya, setelah makan malam yang canggung, Manda mengetuk pintu kamar Salma.
"Salma, boleh masuk? Sebentar aja."
"Masuk," jawab Salma dingin.
Manda masuk dan langsung memasang wajah memelas andalannya. "Salma, aku mau minta maaf lagi. Aku khilaf karena cemburu. Kita baikan ya?"
Salma menatap kakaknya, lalu tertawa kecil. Tawa yang terdengar menyeramkan di telinga Manda.
"Manda, kamu pikir aku sebodoh itu? Nonton kamu akting itu hiburan tersendiri buat aku, tapi sekarang jam tayangnya udah habis."
Mata Manda terbelalak. Topeng polos Salma lenyap, digantikan tatapan tajam yang menusuk.
"Aku nggak ngerti maksud kamu..."
"Nggak usah pura-pura bego. Kamu kira aku nggak sadar kalau kita udah perang terbuka?" potong Salma santai. "Simpen aja air mata buayamu itu. Aku tahu kamu sebenernya pengen aku lenyap dari dunia ini, kan? Sayangnya, aku masih di sini, jadi duri dalam daging buat kamu."
"Kamu..." Manda kehabisan kata-kata. Wajah aslinya mulai terlihat. "Jadi selama ini kamu pura-pura?"
"Aku cuma ngikutin permainanmu, Kakak sayang," jawab Salma penuh sarkasme.
"Oke, bagus. Salma, aku akui aku ngeremehin kamu. Kirain kamu cuma cewek bodoh, ternyata punya taring juga. Tapi jangan harap kamu bisa menang lawan aku. Di sekolah, gosip tentang kamu itu masih aku yang pegang kendali."
"Oh ya? Kamu lupa satu hal, Manda," Salma melangkah maju, membuat Manda mundur selangkah. "Aku anak kandung keluarga Tanudjaja. Coba bayangin kalau satu sekolah tahu status aslimu yang cuma anak angkat... gimana reaksi teman-teman sosialitamu itu ya?"
Wajah Manda memucat. Di sekolah elit mereka, status adalah segalanya.
"Aku nggak peduli," elak Manda, suaranya bergetar.
"Kita lihat aja besok," tantang Salma. "Kalau kamu macem-macem lagi, bukan cuma sekolah yang tahu, tapi Papa sama Mama mungkin bakal mikir dua kali buat pertahanin kamu di rumah ini."
"Kamu mau hancurin aku? Kamu nggak bakal puas sampai aku diusir?" desis Manda penuh kebencian.
Salma tersenyum miring, tatapannya mematikan. "Kalau kamu cuma bikin salah sekali, kita nggak bakal ada di situasi ini, Manda. Kamu tahu kesalahan terbesarmu apa? Kamu serakah."
penampilan cupu ternyata suhu 😂