NovelToon NovelToon
Apa Adanya Peno

Apa Adanya Peno

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Imam Setianto

Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.

Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.

Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

sore hari menjelang maghrib Peno berpamitan pada kedua orang tuanya jika nanti sehabis maghrib dia dan teman temannya akan mengunjungi pasar malam dilapangan desa sebelah.

"memang kamu punya uang No mau kepasar malam?" tanya bapak.

"ada pak, hasil menang main catur lawan pak Supri!" jawab Peno.

"kamu sudah latihan judi No!?" kata bapak sedikit meninggikan suaranya.

"bukan judi pak, pak Supri yang bikin sayembara barang siapa yang bisa mengalahkannya dalam main catur akan dikasih hadiah yaitu uang lima ratus ribu!" ucap Peno menjelaskan pada bapaknya.

"ooh, kirain kamu taruhan sama pak Supri, awas saja kalai bapak tahu kamu taruhan dalam main catur, bapak sunat dua kali kamu!" ancam bapak yang memang tidak suka dengan segala macam perjudian.

"iya pak, bapak tenang saja, aku juga ga suka sama yang namanya judi itu, ya wis aku kemushola pak, assalamualaikum!" kata Peno lalu berpamitan pergi kemushola.

"waalaikumsalam, ya wis, nanti hati hati ke pasar malamnya, jangan terpancing kalau ada yang ngajak ribut, mending tinggal pulang saja!" ucap Bapak berpesan pada Peno.

"siap pak!" jawab Peno langsung ngacir menuju mushola yang ada didepan rumah mbahnya, sesampainya disana ternyata ketiga temannya sudah datang.

Setelah ikut sholat maghrib berjamaah keempat sekawan itu pun langsung pergi kepasar malam dilapangan desa sebelah dengan berjalan kaki.

Cuaca malam ini pun sangat mendukung, bintang bintang betebaran dilangit yang cerah, sepanjang jalan mereka berempat saling bergurau dan tak jarang juga bertutur sapa dengan orang orang yang lewat.

Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir setengah jam sampailah mereka dilokasi pasar malam, lampu lampu menyala disetiap sudut menerangi semua area, para pengunjung pun mulai ramai berdatangan, satu yang dicari oleh mereka berempat yaitu permainan catur tiga langkah yang memang menjadi tujuan utamanya.

"No, itu disana, tempat permainan caturnya!" ucap Maman yang lebuh dahulu melihat arena permainan itu.

"oke, ayo kita kesana!" ajak Peno pada ketiga temannya.

"tiga langkah mati dapat hadiah tiga bungkus rokok, mulai main hanya dengan membayar sepuluh ribu saja, ayo, ayo, asah kemampuan anda disini!" teriak tukang catur menawarkan lapaknya itu.

"main pak!" ucap Peno sambil menyodorkan uang sepuluh ribu.

"oke, silahkan jalan duluan!" kata bapak itu dengan penuh percaya diri, Peno pun mulai dengan langkah pertamanya, bapak itu menghitung.

"satu langkah ya mas!?" ucap bapak itu sambil melangkahkan bidak miliknya untuk menjegal langkah bidak Peno.

Dengan tanpa ragu Peno pun memulai langkah keduanya dan hal itu membuat bapak tukang catur itu sedikit kaget, ia terdiam sejenak untuk berfikir langkah apa yang akan ia gunakan untuk menggagalkan tiga langkah Peno.

Peno dengan berjongkok sabar menunggu langkah dari sang bandar catur, sudah hampir dua menit belum juga menjalankan bidaknya.

"ayo pak, giliran bapak sekarang!" ucap Peno membuyarkan konsentrasi berfikir bapak bandar itu.

"ah iya, aku jalan ini!" ucap bapak bandar dengan gugup lalu menjalankan bidaknya tapi sama sekali tidak mengancap raja atau bidak yang lain milik Peno.

"skak mat, aku menang ya pak!" ucap Peno setelah menuntaskan langkah ketiganya.

Dan bandar itu pun kalah, sambil menatap Peno dalam dalam mencoba memasukan memori ingatan wajah milik Peno agar nanti jika Peno main lagi akan langsung ditolaknya bapak itu menyerahkan hadiah tiga bungkus rokok.

"yesss, kita dapat, terimakasih pak!" kata Peno sambil berdiri setelah menerima hadiah itu, ia berjalan meninggalkan lapak permainan diikuti ketiga temannya.

"nih, kamu yang kumpulin Man, ayo kita cari permainan catur yang lainnya!" ucap Peno sambil menyerahkan tiga bungkus rokok pada Maman.

"siap, ayo kita cari rokok sebanyak banyaknya, ha ha ha ha....!" ucap Maman, dan disambut tawa juga oleh semua teman temannya.

Semua permainan catur yang ada dipasar malam itu sudah Peno datangi dan bermain disana, tentunya dengan hasil yang menggembirakan, kini wajah Peno sudah ditandai dan diingat oleh semua bandar catur itu.

Total hadiah rokok yang terkumpul sekarang sudah ada tiga puluh bungkus, sampai sampai Maman mencari kantong plastik untuk menampungnya.

"sudah tiga puluh bungkus ini No, kita kemana lagi!?" ucap Maman bertanya pada Peno yang berjalan ditengah tengah mereka.

"sudah banyak juga ya, untuk hari ini kayaknya cukup, aku kepengin lihat orang main saja!" jawab Peno lalu berjalan mendekati lapak permainan catur terdekat.

Namun saat sudah berada didepan lapak itu tiba tiba Peno dihampiri oleh seseorang.

"maaf mas, saya mohon masnya jangan main lagi dan jangan menonton juga, ini ada uang lima ratus ribu hasil patungan dari semua bandar catur untuk masnya, tapi saya mohon mewakili semua bandar yang disini agar masnya kalau kepasar malam ini jangan mendekat kelapak kami!" ucap orang itu sambil berbisik dan menyerahkan uang lima ratus ribu oada Peno.

"kalau kami bertiga boleh dong?" tanya Eko.

"maaf tidak boleh mas, pokoknya mas berempat ini tidak boleh, kasihan kami mas kalau masnya main kami ga dapat untung!" jawab orang itu memohon.

"gimana No?" tanya Dimin pada Peno.

"he he he he....., ya wis, iya pak kami tidak akan mendekat lagi, terimakasih untuk uang sakunya, tapi kami ga mau terima, uangnya disimpan saja!" jawab Peno sambil cengengesan.

"engga mas, ini buat kalian berempat mohon diterima, kami akan merasa senang dan terimakasih kalau masnya mau menerima uang ini dan mau mengabulkan permintaan kami para bandar catur!" ucap bapak itu lagi dengan sedikit memaksa.

Dan akhirnya Peno pun menerima uang itu lalu mengajal ketiga temannya untuk pulang.

"baiklah saya terima uangnya, terimakasih dan mohon maaf pak, mulai besok saya dan teman teman saya tidak akan mendekat kelapak permainan catur lagi, dan permisi pak kami mau pulang!" kata Peno.

"iya mas silahkan!" kata bapak itu.

Peno dan ketiga temannya pun memutuskan langsung pulang kedesa mereka, padahal waktu masih agak sore yaitu jam delapan malam.

"sebelum pulang kita beli martabak buat keluarga kita dirumah, masing masing dapat jatah dua martabak satu manis satu asin!" ucap Peno.

"siiippp, kita beli yang didekat pintu masuk tadi!" kata Maman, berempat pun menuju pintu masuk lapangan, sesampainya ditukang martabak langsung pesan empat paket manis dan asin dan langsung dibayar oleh Peno.

Martabak jadi, mereka langsung berjalan kaki melintasi jalan antar desa yang sebagian melewati persawahan yang gelap.

"kita pulang kerumah masing masing dulu buat ngantar martabak, nanti kita langsung kumpul diwarungnya yu War buat jual rokok ini!" ucap Maman dan disetujui oleh semuanya.

Mereka pun berpisah untuk pulang kerumah masing masing dengan membawa oleh oleh satu paket martabak manis dan asin untuk orang rumah.

1
Was pray
kamu itu atlit catur no... bukan atlit karate... malah oemanasannya dengan adu jotos bukan adu bidak ... 😄😄
Was pray
ada propinsi blangkon tengah ntar ditambah prop. blangkon menthol Thor.... 🤣🤣🤣
Was pray
peno ketemu bidak cantik sebelum bergulat dengan bidak catur.... tapi sayang bidak cantik gak begitu punya atitut... 🤣🤣🤣
Zulkarnain Husain
lanjut thorr
Was pray
peno krsedak pion udah bisa diatasi ya Thor? jangan keselek bidak catur lagi no... ntar othor nya gak up up karena ngurusi kamu yg kerepotan buat ngeluarin bidak catur dari kerongkonganmu... 🤣🤣
Was pray: peno diingtin Thor ... sesuk nek main sekak dicekeli wae bentenge catur Ojo mbok emplok... padake telo goreng po no? .. 🤣🤣🤣
total 2 replies
Was pray
peno lagi pingsan kelekegen Bidak catur ya Thor? sehingga gak muncul2
Ilham
lanjut bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!