Dari kecil Perlita Cascata selalu di perlakukan tidak baik oleh keluarganya, dan sekarang dia juga harus merasakan sakitnya penghianatan dari kedua orang terdekatnya tepat di hari pernikahannya. Perlita harus merelakan calon suaminya menikahi kakak perempuannya yang bernama Ariana karena saat dirinya akan melaksanakan akad nikah, sang Kakak ketahuan hamil anak dari calon suaminya Perlita. Berharap mendapat simpati dari keluarganya tapi apa yang Perlita dapatkan, mereka semua malah mendukung pernikahan tersebut dan meminta Perlita untuk mengalah.
Bagaimana kehidupan Perlita selanjutnya? Apakah dia bisa melupakan pria yang sudah menyakitinya?
Ikuti terus kisahnya di sini ya!!😊
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartiniKeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan siang
"Hari ini saya mau mentraktir kalian semua makan siang, dan makanannya sedang di pesan, mungkin sebentar lagi akan datang." Kata Perlita kepada semua karyawannya.
"Yeeeeaahh, makasi mbak Perlita."
Semua karyawan Perlita bersorak dengan senang. Perlita memang dikenal sebagai bos yang royal kepada karyawannya.
"Sin, untuk semua rancangan ini diusahakan selesainya dalam satu bulan ini. Bahan dan tukang jahit kita aman kan?"
"Untuk bahan sepertinya stoknya menipis Mbak, rencananya besok saya akan membeli bahan-bahannya. Kalau untuk tukang jahit kita aman Mbak. Saya akan usahakan agar rancangan ini bisa selesai dalam satu bulan ini."
"Setelah itu kamu urus semua acara yang akan diadakan satu bulan lagi. Bagaimana dengan modelnya?"
"Untuk model saya akan usahakan mbak. Saya akan pastikan acaranya sesuai dengan keinginan Mbak."
"Baiklah, kalau begitu kamu boleh keluar, dan tolong nanti makanan yang sudah saya order kamu bagikan ke yang lainnya yah."
"Siap Mbak."
Perlita menyandarkan badannya kesadaran kursi. Dia merasa puas dengan kerja kerasnya saat ini. Perlita beranjak dari duduknya dan memperhatikan kondisi jalan raya dari butiknya yang berada di lantai tiga. Terlihat jalan raya yang sedang padat oleh kendaraan tapi tidak sampai macet. Siang ini memang bertepatan dengan jam istirahat. Biasanya dulu, jam istirahat seperti ini, Perlita akan makan siang bersama Vito.
"Kok malah ingat si brengsek itu sih," ucap Perlita menggelengkan kepalanya dan melupakan semua tentang mantan kekasih yang sudah menyakiti dirinya.
"Aku nggak boleh memikirkan si brengsek itu lagi. Ganteng juga kayak, tapi sifatnya menyebalkan. Nyesel banget aku karena sudah suka sama pria seperti itu. Kita lihat saja, apakah dia bisa bertahan dengan Ariana yang manja dan boros itu. Sedangkan keuangan dia pas-pasan," gumam Perlita yang memang mengetahui kondisi keuangan Vito yang pas-pasan, karena dulu setiap mereka makan atau jalan berdua pasti selalu Perlita yang mengeluarkan uang.
"Kok aku bodoh banget yah, padahal selama ini aku hanya dimanfaatkan oleh laki-laki modelan si brengsek itu. Mana hidupnya nggak modal lagi. Lulus kedokteran juga karena aku yang membantu mengerjakan tugasnya. Ternyata aku terlalu bodoh selama ini, cinta memang bisa membutakan seseorang," gumam Perlita lagi mengingat kebodohannya selama bertahun-tahun dimanfaatkan oleh Vito.
Perlita keluar dari ruangannya dan turun ke lantai bawah untuk bergabung makan siang dengan para karyawannya. Mungkin dengan makan bersama karyawannya akan membuat Perlita nafsu makan dan juga melupakan kegalauan hatinya.
"Boleh saya bergabung makan siangnya?" tanya Perlita ketika memasuki ruangan istirahat para karyawannya.
Setiap siang butik Perlita selalu tutup selama satu jam. Peraturan ini dibuat agar semua karyawannya bisa menikmati istirahatnya untuk makan dan sholat zuhur.
"Boleh mbak, ayo mbak kita makan,"jawab Cindy yang kemudian menyerahkan satu bungkus nasi padang kepada Perlita. Perlita memang memesan nasi padang untuk makan siang karyawannya. Perlita juga suka memakan nasi padang karena rasanya yang sesuai dengan lidahnya, selain itu karena porsinya yang sangat banyak.
Perlita pun ikut bergabung dengan para karyawannya. Mereka makan bersama sembari mengobrol. Walaupun Perlita jarang ke butik tapi dia selalu berusaha untuk akrab dengan karyawannya. Bagi Perlita kalau karyawannya nyaman bekerja dengan dirinya maka karyawannya tadi juga akan totalitas dalam bekerja.
"Mbak, kapan-kapan kita liburan dong Mbak. Cuma sehari aja cukup kok Mbak. Dekat sini juga nggak apa-apa. Kan hari senin kita tutup Mbak. Cari aja hari senin buat liburan."
Butik Perlita memang hanya buka dari hari selasa sampai minggu. Sedangkan hari senin butiknya tutup. Dia memilih tutup hari senin karena memang di hari senin pembelinya tidak terlalu banyak, karena biasanya di hari senin pelanggannya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Boleh juga, kalau begitu kalian diskusikan dulu mau liburan kemana tapi setelah event bulan depan yah kita perginya. Nanti kalau udah ketemu tempatnya kalian bisa langsung bilang ke Cindy."
"Siap Mbak."
Semua yang ada di sana tentunya merasa sangat senang karena Perlita menuruti keinginan mereka. Perlita merasa liburan untuk para karyawannya juga penting diadakan sesekali. Apalagi mereka selama ini sudah bekerja keras untuk memajukan usaha milik dirinya.
"Tolong kerja sama dan totalitasnya demi event kita agar terlaksana dengan baik dan lancar. Nanti di event tersebut saya akan muncul sebagai pemilik dan dan pendiri butik ini," kata Perlita menjelaskan.
"Wah, bagus itu Mbak. Jadi pelanggan kita nggak penasaran lagi dengan siapa pemilik butik ini. Setiap ke sini mereka selalu bertanya dan menduga-duga loh mbak. Dan dugaan mereka itu semuanya nggak ada yang benar. Mbak sih yang selalu hidup dengan sederhana. Aku yakin kalau semua orang nanti akan kaget dengan kemunculan Mbak, terutama mantan Mbak yang brengsek itu dan juga keluarga Mbak."ujar salah satu karyawan Perlita.
"Eh, maaf Mbak." Setelah sadar dengan ucapannya.
"Nggak apa-apa kok. Saya sudah baik-baik," balas Perlita sambil mengulas senyum lebarnya sehingga karyawan tersebut tidak merasa bersalah dengan ucapannya.
************
Perlita memacu mobilnya menuju toko pakaian miliknya. Setelah selesai makan siang, tiba-tiba dia mendapatkan kabar kalau Ariana saat ini sedang berada di toko pakaiannya. Ariana sedang mengamuk di sana dengan mengacak-acak tokonya.
"Mbak Perlita akhirnya datang juga. Mbak bisa lihat sendiri semua kekacauan yang dibuat oleh Mbak Ariana."
"Kalian sudah telepon polisi?"
"Sudah Mbak, dan polisinya sedang menuju ke sini."
"Tidak usah dibereskan dulu, rekaman CCTV nya sudah diamankan kan?"
"Sudah Mbak." Jawab salah satu karyawannya.
"Ya udah kita tunggu aja polisi datang, dan jangan ada yang masuk dulu ke dalam toko. Biarkan dia menghancurkan isi toko sepuasnya."
Perlita males kalau harus ribut dengan Ariana di depan karyawannya, sehingga dia lebih memilih membiarkan saja Ariana puas dengan aksinya itu.
"Nah, itu polisinya Mbak."
Karyawan Perlita langsung mengarahkan polisi tersebut masuk ke dalam toko milik Perlita.
"Tolong kamu urus semuanya! Nanti saya akan menghubungi kuasa hukum saya yang akan mendampingi kamu dalam menyelesaikan masalah ini, karena saya malas menghadapi drama ini."
"Siap Mbak."
Perlita memutuskan untuk pergi dari sana. Perlita memang sengaja untuk tidak menampakkan dirinya karena dia memprediksi akan terjadi drama lagi nantinya kalau dirinya yang langsung menangani kasus ini.
Polisi memasuki toko pakaian milik Perlita dan menangkap Ariana yang masih saja mengacak-acak isi toko pakaian Perlita.
"Apa-apaan ini Buk? Tolong lepaskan saya!" Teriak Ariana dengan wajah memerah.
Polisi wanita langsung saja memegangi tangan Ariana dan membawanya keluar dari toko.
Terima kasih untuk yg sudah mampir🙏Semoga kalian sehat dan rejeki kalian selalu lancar. Jgn lupa tinggalkan like n komentarnya ya🙏😊
Thor jangan di bikin apes mulu peran utama pls aku baru selesai baca yg peran utama dari awal Ampe ending apes mulu