Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: PEMBANTAIAN DI PENTHOUSE
Udara di atas Kota A menderu saat helikopter tempur milik Syailendra Group membelah kabut malam dengan kecepatan penuh. Di dalam kabin yang temaram, Alana mencengkeram erat tabletnya.
Matanya yang merah karena menahan tangis terpaku pada layar. Di sana, ia melihat pintu ruang aman penthouse-nya mulai retak akibat hantaman alat penghancur hidrolik milik para penyusup.
"Dua menit lagi, Tuan," suara pilot bergema melalui headset.
Arlan tidak menjawab. Ia sedang memeriksa mekanisme pengunci pada senapan taktis di tangannya. Wajahnya yang kaku tampak seperti malaikat maut yang sedang bersiap memanen nyawa. Ia melirik Alana, melihat wanita itu gemetar—bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang meluap-luap.
"Harry, perintahkan tim darat untuk menembak di tempat. Jangan biarkan satu pun dari mereka keluar dari gedung itu dalam keadaan bernapas," perintah Arlan melalui jalur radio terenkripsi.
Di dalam penthouse, suasana sudah menyerupai medan perang. Leo, yang bahu kirinya bersimbah darah akibat serpihan ledakan, masih bertahan di depan pintu ruang aman.
Ia memegang belati di tangan kanan dan pistol di tangan kiri yang pelurunya hampir habis. Tiga mayat penyusup tergeletak di lantai marmer yang kini licin oleh darah.
"Buka pintunya, sialan! Atau kami akan meledakkan seluruh ruangan ini!" teriak pemimpin penyusup yang mengenakan masker hitam.
Di dalam ruang aman, Luna memeluk bonekanya erat-erat, sementara Lukas berdiri di depan konsol kontrol dengan wajah yang sangat dingin. "Luna, tutup telingamu," bisik Lukas.
Jari Lukas menekan tombol merah bertanda Overload. Tiba-tiba, sistem ventilasi di lorong depan ruang aman menyemburkan gas berwarna kuning pucat. Itu bukan gas tidur biasa; itu adalah neurotoksin dosis rendah yang dikembangkan Alana di The Sovereign.
Para penyusup itu mulai terbatuk-batuk, paru-paru mereka terasa terbakar. Namun, pemimpin mereka, yang menggunakan masker gas berkualitas tinggi, tetap maju dan berhasil memasang peledak terakhir pada engsel pintu.
BOOM!
Pintu baja itu terlepas dari engselnya. Saat debu ledakan masih mengepul, pemimpin penyusup itu melangkah masuk dengan senjata teracung. "Kena kau, anak haram—"
RATATATATAT!
Suara tembakan senapan mesin dari arah jendela balkon memotong kalimatnya. Kaca antipeluru yang tebal itu pecah berantakan saat tim Black Hawk milik Arlan turun menggunakan tali rappel dari helikopter. Dalam sekejap, ruangan itu dipenuhi oleh kilatan peluru.
Arlan melompat masuk melalui jendela yang hancur, diikuti oleh Alana. Alana tidak menunggu tim medis; ia berlari menembus asap ledakan, mengabaikan bau mesiu yang menyengat.
"Lukas! Luna!" teriak Alana dengan suara parau.
"Mummy!" Luna berlari keluar dari sudut ruangan dan menghambur ke pelukan Alana. Lukas menyusul di belakang, napasnya sedikit terburu-buru namun ia tetap terlihat tenang.
Alana memeriksa tubuh kedua anaknya dengan tangan gemetar, memastikan tidak ada luka sedikit pun. Setelah yakin mereka aman, rasa takut yang tadi menyelimuti hatinya seketika menguap, digantikan oleh kegelapan yang pekat.
Ia berdiri, matanya beralih ke arah satu-satunya penyusup yang masih hidup—sang pemimpin tim yang kakinya hancur diterjang peluru Arlan dan kini sedang diseret oleh anak buah Arlan ke tengah ruangan.
Arlan mendekati Alana, meletakkan tangannya di bahu wanita itu. "Mereka aman, Alana. Biar anak buahku yang mengurus sampah ini."
"Tidak," suara Alana terdengar rendah, seperti desis ular. "Aku yang akan mengurusnya."
Alana berjalan perlahan menuju pria yang merintih kesakitan di lantai itu. Ia mengambil tas medis kecil yang selalu ia bawa di pinggangnya. Ia mengeluarkan sebuah alat suntik kecil berisi cairan berwarna ungu bening.
Arlan memperhatikan dengan minat yang dalam. Ia melihat transformasi wanita di depannya—dari seorang ibu yang panik menjadi seorang algojo yang tanpa ampun.
Alana berlutut di samping penyusup itu. Ia mencengkeram rahang pria itu dengan tangan kirinya, memaksa pria itu menatap matanya yang sedingin es. "Siapa yang mengirimmu?"
"P-pergi ke neraka..." pria itu meludah, namun darah justru keluar dari mulutnya.
Alana tidak marah. Ia justru tersenyum—senyum yang membuat Arlan sekalipun merasa sedikit merinding.
"Kau tahu, aku adalah seorang dokter. Aku tahu persis di mana letak setiap saraf yang bisa menyebabkan rasa sakit maksimal tanpa membuatmu kehilangan kesadaran."
Tanpa peringatan, Alana menusukkan jarum suntik itu ke leher pria tersebut. "Cairan ini akan meningkatkan sensitivitas sarafmu hingga sepuluh kali lipat. Bahkan sentuhan udara pada kulitmu akan terasa seperti sayatan pisau daging."
Dalam hitungan detik, pria itu mulai menjerit. Jeritannya begitu melengking dan penuh penderitaan hingga memenuhi seluruh penthouse. Ia mulai menggaruk lantai marmer dengan kuku-kukunya sampai berdarah, seolah-olah seluruh tubuhnya sedang dipanggang hidup-hidup.
"S-Sisca... N-Nyonya Sisca Mahendra..." pria itu akhirnya meracau di tengah rasa sakitnya.
"D-dia yang memerintahkan... ambil anak-anak... bunuh ibunya..."
Alana melepaskan jarumnya. Ia berdiri dan mengelap tangannya dengan sapu tangan putih, lalu membuang sapu tangan itu ke wajah pria yang masih meronta tersebut.
"Sisca," bisik Alana. Ia berbalik menatap Arlan. "Dia berani menyentuh anak-anakku. Dia baru saja menandatangani surat kematian untuk seluruh keluarganya."
Arlan menatap Alana, ada rasa hormat yang baru di matanya. "Aku bisa membantumu melenyapkan mereka malam ini juga jika kau mau."
Alana menggeleng pelan. "Mati terlalu mudah bagi mereka, Tuan Arlan. Aku ingin mereka hidup dalam ketakutan setiap harinya. Aku ingin Sisca melihat semua yang dia cintai hilang, sampai dia sendiri yang memohon padaku untuk mengakhiri hidupnya."
Arlan mengangguk. Ia memberikan isyarat pada Harry. "Bereskan tempat ini. Bawa mayat-mayat ini ke depan gerbang kediaman Mahendra sebagai 'hadiah' pagi. Dan pastikan tidak ada catatan polisi tentang kejadian malam ini."
Arlan kemudian mendekati Lukas dan Luna. Ia berjongkok di depan Lukas, menatap mata bocah itu yang sangat mirip dengan matanya sendiri saat sedang serius. "Kau melakukan pekerjaan yang bagus, Nak. Kau berani."
Lukas menatap Arlan dengan datar. "Terima kasih, Tuan Arlan. Tapi lain kali, tim Anda terlambat lima belas detik dari jadwal yang seharusnya. Itu tidak efisien."
Arlan tertawa keras—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. "Kau benar-benar anak Alana. Baiklah, aku akan mendisiplinkan timku."
Arlan berdiri dan kembali menatap Alana. "Penthouse ini sudah tidak aman. Kalian akan tinggal di kediaman pribadiku mulai malam ini. Tidak ada tawar-menawar."
Alana hendak memprotes, namun ia melihat Luna yang masih tampak sedikit syok dan Leo yang butuh perawatan medis segera. Ia menghela napas panjang. "Baiklah. Untuk sementara waktu."
Saat mereka berjalan keluar dari rongsokan penthouse menuju helikopter yang masih menunggu, Alana menatap langit malam Kota A. Ia tahu bahwa mulai besok, perang ini tidak akan lagi dilakukan di balik bayangan.
Sisca telah menyeret anak-anaknya ke dalam konflik, dan Alana akan membalasnya dengan cara yang paling mengerikan yang pernah dibayangkan oleh siapapun.
Di kediaman Mahendra, Sisca sedang menunggu kabar dengan gelisah, tidak menyadari bahwa beberapa jam lagi, ia akan menemukan tumpukan mayat anak buahnya di depan pintunya—sebuah pesan bisu bahwa sang Permaisuri telah benar-benar bangkit dan ia tidak lagi mengenal belas kasihan.