NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Rumus Fisika vs Nada Lagu

​Materi hari ini adalah musuh bebuyutan setiap siswa SMA jurusan IPA, apalagi IPS yang tersesat belajar materi lintas minat: Gelombang Stasioner pada Pipa Organa dan Dawai.

​Alea menatap buku paket Fisika di depannya dengan tatapan nanar. Di halaman itu, tergambar tabung-tabung dengan gelombang melengkung di dalamnya, lengkap dengan rumus L \= (2n-1) \frac{\lambda}{4}.

​"Gue nyerah," Alea mengangkat kedua tangannya. "Sumpah, Jul. Ini pipa apaan? Pipa paralon? Pipa rokok? Kenapa di dalemnya ada gelombang? Emang ada airnya?"

​Mereka sedang berada di perpustakaan lagi. AC ruangan berdengung halus, kontras dengan otak Alea yang rasanya mendidih.

​Julian menghela napas sabar—kesabarannya meningkat drastis seminggu terakhir. "Ini Pipa Organa, Alea. Instrumen musik tiup. Flute, klarinet, terompet, itu semua prinsipnya pipa organa."

​"Terus kenapa rumusnya ribet banget? Tinggal tiup, bunyi toet, kelar kan?"

​"Bunyi toet itu ada matematikanya," Julian mengetuk buku dengan pulpen. "Panjang kolom udara menentukan nada. Semakin panjang pipa, semakin rendah frekuensi, semakin rendah nada."

​Alea memijat pelipisnya. "Gue nggak bisa bayangin, Jul. Gambar cacing di dalem tabung ini nggak bunyi di otak gue."

​Julian terdiam. Ia melihat keputusasaan yang tulus di mata Alea. Metode textbook gagal total untuk materi abstrak ini. Julian tahu, jika ia memaksakan rumus ini masuk, Alea akan mogok belajar, dan Pensi akan terancam.

​Julian menutup buku paket itu dengan tegas. Brak.

​"Bawa gitar kamu," perintah Julian.

​Alea mengerjap. "Hah? Gitar gue di ruang musik. Kenapa?"

​"Kita pindah lokasi. Perpustakaan terlalu sepi untuk materi ini. Kita ke Ruang Musik."

​Ruang Musik 1 kosong dan hening saat mereka masuk.

​Alea mengambil gitar elektrik kesayangannya—sebuah Fender Stratocaster merah marun (replika, tapi Alea merawatnya seperti barang asli)—dari stand gitar. Ia belum mencolokkannya ke amplifier.

​"Oke, Prof. Sekarang apa?" tanya Alea sambil mengalungkan strap gitar.

​Julian berdiri di hadapannya, menggulung lengan kemejanya hingga siku. Ia terlihat sedikit berbeda di ruangan ini. Lebih... hidup.

​"Kamu tau teknik harmonics?" tanya Julian.

​"Tau lah. Teknik dasar itu," jawab Alea. "Sentuh senar pas di atas besi fret, jangan diteken, terus petik."

​"Lakukan di fret 12. Senar 1."

​Alea menurut. Ia menyentuh senar E tinggi tepat di atas besi fret ke-12, memetiknya, lalu melepas jarinya.

​Ting...

​Bunyi lonceng yang jernih dan tinggi menggema.

​"Bagus," kata Julian. Matanya berbinar fokus. "Sekarang perhatikan. Saat kamu menyentuh senar itu tepat di tengah-tengah (fret 12), kamu memaksa titik itu untuk diam. Tidak bergetar. Dalam Fisika, titik yang diam itu disebut Simpul."

​Julian mendekat, menunjuk titik di mana jari Alea tadi menyentuh senar.

​"Sedangkan bagian senar yang bergetar paling kencang di kiri dan kanannya, itu disebut Perut. Jarak antar simpul dan perut itulah yang menentukan nada."

​Alea menatap senarnya. "Jadi... simpul itu titik mati?"

​"Titik diam," koreksi Julian. "Tapi karena ada titik diam itu, gelombang terpecah jadi dua. Frekuensinya naik dua kali lipat. Makanya nadanya satu oktaf lebih tinggi."

​"Coba fret 7," tantang Julian.

​Alea memetik harmonic di fret 7. Ting! Nadanya lebih tinggi lagi.

​"Di fret 7, kamu membagi senar jadi tiga bagian. Tiga gelombang. Frekuensi naik tiga kali lipat. Rumusnya f_n \= (n+1) f_0. Di mana n adalah nada atas ke-berapa yang kamu mainkan."

​Alea ternganga. Mulutnya membentuk huruf O kecil.

​"Gila..." gumam Alea. "Jadi selama ini gue mainin rumus Fisika tiap kali gue stem gitar?"

​"Tepat," Julian tersenyum puas. "Setiap kali kamu main gitar, kamu sedang memanipulasi panjang gelombang (\lambda) dan tegangan (F) untuk menghasilkan frekuensi (f) yang harmonis. Kamu adalah fisikawan praktis, Alea."

​Kalimat itu—Kamu adalah fisikawan praktis—membuat dada Alea berdesir hangat. Belum pernah ada yang menyebutnya pintar. Biasanya ia disebut "bakat seni tapi otak kosong". Tapi Julian... Julian membuatnya merasa cerdas.

​"Coba mainkan kuncian lagu," pinta Julian tiba-tiba. "Lagu yang biasa kamu mainkan."

​"Lagu apa? Rock?"

​"Apa saja. Yang ada melodinya."

​Alea mulai memetik intro lagu Sweet Child O' Mine. Jari-jarinya menari lincah di fretboard. Walaupun tanpa amplifier, suara denting senar itu terdengar jelas.

​Julian memperhatikan tangan Alea. Bukan dengan tatapan menghakimi seperti guru les piano Julian dulu, tapi dengan tatapan kagum.

​Tanpa sadar, Julian berjalan menuju piano di sudut ruangan. Ia membuka penutup tutsnya.

​"Terus mainkan," kata Julian.

​Saat Alea mengulang riff gitar itu, Julian mulai menekan tuts piano. Ia tidak memainkan melodi yang sama. Ia memainkan chord pengiring.

​Jreng... ting...

​Suara piano yang bulat dan hangat berpadu dengan suara gitar Alea yang twangy dan tajam.

​Alea kaget, hampir berhenti memetik, tapi Julian memberinya kode lewat tatapan mata untuk terus lanjut.

​"Jangan berhenti. Pertahankan temponya," instruksi Julian, tangannya bergerak luwes di atas piano.

​Mereka bermain bersama. Awalnya kaku, tapi perlahan mulai sinkron. Julian mengisi kekosongan nada Alea, dan Alea memberi aksen pada ritme Julian.

​Di ruangan musik yang kedap suara itu, terjadi fenomena Fisika yang nyata: Resonansi.

​Dua benda yang bergetar pada frekuensi yang selaras, saling menguatkan satu sama lain. Suara yang dihasilkan menjadi lebih besar, lebih indah, daripada jika dimainkan sendiri-sendiri.

​Mereka menyelesaikan lagu itu dengan satu kuncian panjang.

​Gmmmm...

​Suara piano dan gitar perlahan memudar hingga hening.

​Alea menurunkan tangannya dari gitar, napasnya sedikit memburu karena antusiasme. Ia menoleh ke arah Julian.

​Julian duduk di bangku piano, menatap tuts hitam putih dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada kerinduan di sana.

​"Lo..." Alea menelan ludah. "Lo jago banget main piano, Jul. Kenapa lo nggak pernah mau gabung band sekolah? Atau tampil di Pensi?"

​Julian menutup kembali penutup tuts piano itu perlahan. Seolah menutup peti harta karun yang terlarang.

​"Piano itu masa lalu," jawab Julian pelan. "Sekarang prioritas saya adalah akademik. Dan akademik tidak butuh piano."

​"Tapi lo seneng kan barusan?" kejar Alea. Ia berjalan mendekat. "Gue liat muka lo, Jul. Lo senyum. Mata lo hidup. Lo nggak bisa bohong sama... apa tuh istilah Fisika-nya? Frekuensi hati lo?"

​Julian menoleh, menatap Alea. Jarak mereka hanya terpisahkan oleh badan gitar Alea.

​"Resonansi," koreksi Julian lembut. "Istilahnya Resonansi."

​"Ya, itu. Kita resonansi barusan, kan?"

​Julian terdiam. Ia menatap mata Alea yang bulat dan penuh kejujuran. Gadis ini, dengan segala kekacauannya, entah bagaimana berhasil membongkar gembok-gembok pertahanan yang sudah Julian bangun bertahun-tahun demi menyenangkan ayahnya.

​"Ya," aku Julian akhirnya. "Itu resonansi."

​Jantung Alea berdegup kencang. Bukan karena adrenalin musik, tapi karena tatapan Julian. Tatapan yang tidak lagi melihatnya sebagai "proyek perbaikan nilai", tapi sebagai partner.

​"Jadi," Alea mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi terlalu intens, "karena kita udah resonansi... nilai Fisika gue dijamin 100 dong di UTS?"

​Julian tertawa pendek. Ia berdiri, merapikan jasnya. "Jangan mimpi. Kembali ke meja. Kerjakan soal halaman 156 tentang Pipa Organa Tertutup. Sekarang kamu sudah paham konsep Simpul dan Perut, tidak ada alasan salah lagi."

​"Yah! Kirain dapet diskon!" keluh Alea, tapi ia meletakkan gitarnya dengan semangat.

​"Alea," panggil Julian saat Alea hendak mengambil buku paketnya.

​"Apa lagi, Pak Guru?"

​"Terima kasih," ucap Julian tulus.

​"Buat?"

​"Buat... mengingatkan saya rasanya main musik tanpa beban. Sudah lama sekali saya tidak merasakannya."

​Alea tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya. "Sama-sama. Kapan-kapan kita jamming lagi. Tapi pake amplifier ya, biar gedung sekolah rubuh sekalian."

​Julian menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.

​Hari itu, di ruang musik, sebuah rumus baru terukir di kepala mereka berdua.

​Bahwa perbedaan Alea dan Julian bukan seperti minyak dan air yang tidak bisa menyatu. Mereka seperti nada dasar dan harmoni. Berbeda frekuensi, tapi jika dimainkan bersamaan di waktu yang tepat, akan menciptakan lagu yang indah.

​Dan Alea mulai sadar, mungkin dia tidak sekadar ingin nilai Fisikanya bagus. Dia ingin melihat sisi "hidup" Julian itu lebih sering.

​Malam harinya, di kamar Alea.

​Alea sedang berbaring di kasur, menatap langit-langit kamarnya. Buku Fisika terbuka di dadanya.

​Ia mengingat permainan piano Julian tadi. Cara jari-jarinya bergerak, cara bahunya rileks, dan sorot matanya yang sendu tapi damai.

​"Resonansi," bisik Alea, mencoba merasai kata itu di lidahnya.

​Ia mengambil ponselnya, membuka grup chat band-nya, THE REBELS.

​Alea: Guys, gue punya ide gila.

​Raka: Apaan? Lo mau konser di atas genteng sekolah?

​Dito: Atau lo mau ngajak Pak Hadi jadi backing vocal?

​Alea: Bukan. Gue lagi mikir... lagu kita yang baru itu, 'Langit Abu-Abu', kayaknya bakal pecah kalau ditambah instrumen piano.

​Raka: Piano? Kita band rock, Le. Sejak kapan kita pake piano? Lagian siapa yang main?

​Alea mengetik, lalu menghapusnya lagi. Mengetik lagi, menghapus lagi.

​Akhirnya ia hanya membalas:

​Alea: Liat aja nanti. Gue lagi nyari kandidat.

​Alea melempar HP-nya ke samping bantal. Ia tersenyum miring. Target barunya bukan cuma lulus UTS Fisika.

​Target barunya adalah menyeret Julian Pradana naik ke atas panggung Pensi, memegang instrumen, dan membiarkan seluruh dunia melihat betapa kerennya cowok kaku itu saat sedang bersinar.

​"Misi dimulai, Robot," gumam Alea sebelum memejamkan mata.

...****************...

BERSAMBUNG....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!