NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memilih pakaian

Satu kata yang bisa Hita ucapkan untuk mendeskripsikan betapa indah dan mewahnya Mall yang ia kunjungi. Sempurna.

Hita bersumpah bahwa selama dua puluh lima tahun ia hidup, ia tak pernah mengunjungi tempat semewah ini. Paling bagus dan besar saat itu ia diajak oleh ayahnya ke perpustakaan kota, itupun saat mengantar Loria meminjam buku.

Hita melangkah di samping Dirga, sementara Lian hilang entah kemana. Sepertinya gadis itu memang benar-benar tak bisa diam dan petakilan.

"Indah sekali..." gumam Hita dengan mata berbinar, melihat ke sekeliling dengan senyum merekah.

"Jangan berlebihan," tegur Dirga dingin. "Bersikaplah biasa saja dan jangan membuatku malu," lanjutnya, sontak membuat Hita terdiam dan kembali tertunduk.

"Maaf," bisiknya pelan, tak didengarkan oleh Dirga yang berjalan di sampingnya.

Mall itu benar-benar ramai, dipenuhi oleh mereka yang berkunjung bersama keluarga ataupun sahabat untuk bermalam Minggu.

Rasanya Hita senang sekali bisa melihat beraneka ragam Toko yang menjual pakaian dan aksesoris yang begitu indah, matanya tak mampu berpaling.

Saat Dirga menuntun Hita masuk ke dalam salah satu toko pakaian, Hita tak bisa untuk tidak kagum melihat manekin-manekin yang dipasangi baju-baju yang indah dan cantik.

"Pilihlah, dan pastikan jangan berlama-lama." Dirga menatap sekilas Hita yang tak henti-hentinya tersenyum, lalu duduk pada kursi yang disediakan untuk tamu di sana.

Hita melangkah mendekati rak, tersenyum ke arah Dirga yang balas menatapnya dingin. Tangan gadis itu menyentuh kain-kain yang menggantung, begitu halus saat menyentuh kulitnya.

Bahan-bahan dari pakaian itu begitu lembut dan berkualitas, berbeda dengan pakaian-pakaian yang biasa Hita kenakan. Biasanya berbahan kasar dan membuat kulitnya gatal.

Hita mengambil salah satu kaus polos berwarna putih, tak terlalu ketat dengan gambar bunga matahari kecil di bagian dada kanan.

Itu tampaknya begitu sederhana, membuat Hita begitu yakin bahwa harganya pasti terjangkau dan tak terlalu mahal.

Namun tepat saat Hita membalik pakaian itu, harga terpampang nyata di sana. Mata Hita terbelalak saat melihat harga kaus itu yang hampir menunjukkan angka satu juta. Bagaimana mungkin?

"Kenapa... mahal sekali?" gumamnya pada diri sendiri, menggantungkan kembali pakaian itu dengan hati-hati di tempatnya semula, berusaha untuk tak merusak.

Hita melihat ke sekeliling, dan Hita yakin pakaian di sini tak ada yang murah. Jika kaus sederhana saja harganya nyaris satu juta, bagaimana dengan pakaian-pakaian yang lain?

Merasakan Hita yang tampak berpikir dan cemas, Dirga menatapnya dengan dahi berkerut penasaran. Apa yang kira-kira membuat istri penggantinya itu lama sekali memilih pakaian?

"Hita," panggilnya, dengan nada tegas namun tak sedingin sebelumnya.

Mendengar panggilan Dirga, Hita menoleh dengan ekspresinya yang tampak polos dan ragu. Jujur saja Dirga tak terbiasa dengan itu, ini membuatnya merasa seperti sedang bersama seorang anak kecil.

"Ada apa?" tanya Dirga, bangkit dari kursi dan perlahan-lahan mendekati Hita. "Kenapa lama sekali? Tidak ada yang kau sukai?"

Hita menggeleng, matanya kembali menatap harga tak masuk akal yang terpampang pada kaus yang baru saja ia ambil. "Tidak, semua pakaian di sini bagus-bagus sekali," ucapnya, "tapi... Harganya mahal sekali ya, kak?"

Dirga mengikuti arah pandang Hita pada harga yang menggantung, menyentuhnya untuk melihat jelas harga yang tertera. "Yang mana yang harganya mahal?" tanya Dirga, kembali menatap Hita dengan alis terangkat, menyangka gadis itu melihat pakaian lain yang harganya fantastis.

Dirga menatap ke sekeliling, mencari pakaian yang mungkin Hita maksudkan dengan kata mahal. "Yang mana?" tanyanya sekali lagi.

"Yang ini," balas Hita lembut, menyentuh kaus yang ia maksudkan tadi. Hal itu membuat Dirga menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.

"Ini harga pakaian normal," kata Dirga, mengambil kaus itu dari gantungan. "kau mengingikan yang ini?" tanyanya memastikan.

Hita menggeleng, baru saja ingin membuka mulut untuk menolak tapi kata-kata Dirga kembali membuatnya terdiam.

"Jika kau menyukai yang ini, katakan saja dengan jujur," ucapnya dengan datar dengan ekspresi tak pedulinya yang biasa. "Jangan berlagak tak enak hati dengan mengatakan bahwa harganya mahal, itu teknik kuno yang murahan," lanjutnya, jelas membuat Hita tak bisa berkata-kata.

Kenapa? Kenapa Dirga mengatakan hal seperti itu dan selalu saja berasumsi bahwa setiap tindakannya adalah kebohongan yang bertujuan untuk memanipulasi?

Hita benar-benar tak bermaksud seperti apa yang Dirga katakan, tapi jika ia memberikan pembelaan pada diri sendiri, apakah Dirga akan berhenti menjatuhkannya?

"Tidak seperti itu, Kak," ucap Hita dengan gelengan kepala. "Menurut Kakak mungkin ini tidak mahal, tapi berbeda denganku. Aku tak pernah membeli pakaian dengan harga berjuta-juta, jadi aku tidak seperti apa yang kakak katakan," lanjut Hita mencoba menjelaskan, memberikan pemahaman bahwa ini tak seperti apa yang Dirga pikirkan.

Dirga berpikir sejenak setelah mendengar penjelasan Hita, matanya menatap kaus di tangannya. "Mungkin itu benar," ujarnya. "Aku melupakan kenyataan bahwa kau bukanlah seorang Wijaya dalam artian sebenarnya."

Hati Hita mencelos tatkala mendengar ucapan Dirga. Hita mengira bahwa laki-laki itu akan mengerti kondisinya, tapi malah terus memojokkannya dan membuatnya sakit hati.

"Kau memang hidup di rumah yang mewah, tapi kau tak lebih dari seorang pelayan di sana." Dirga tersenyum sinis dan menggeleng, seolah-olah itu adalah hal yang lucu. "Pakaian dan barang-barang mahal pasti begitu asing bagimu."

Dirga memanggil salah seorang pramuniaga, yang beberapa saat kemudian menghampiri mereka dan menawarkan bantuan.

"Pilihkan beberapa pakaian untuknya, pastikan semuanya adalah pakaian yang layak pakai dan sopan," perintah Dirga, seperti ejekkan yang disengaja untuk Hita yang terdiam di tempatnya.

Dirga beralih menatap Hita yang menunduk, merasa puas saat lagi-lagi menjatuhkan harga diri perempuan itu sekali lagi. "Berterimakasihlah, karena aku sepertinya lebih berjasa dibandingkan dengan orang tuamu," ucap laki-laki itu begitu kasarnya, membuat pramuniaga yang juga berada di sana bergerak gugup dan canggung.

"Ayo, Mbak, kita coba beberapa pakaian," ajak pramuniaga itu, berusaha melerai ketegangan antara keduanya.

Hita mendongak untuk menatap Dirga, meskipun sakit hati ia menyadari bahwa ia memang harus berterimakasih pada laki-laki itu.

"Terimakasih," ucap Hita pelan, sebelum akhirnya pergi bersama pramuniaga untuk memilih pakaian.

Dirga menatap punggung perempuan itu begitu melangkah menjauh, mengamati bagaimana rambut hitam bergelombang itu sedikit bergoyang di setiap langkah, mengamati bagaimana tubuh kecil mungil itu tersembunyi di balik kausnya.

Dirga menghela napas, menyugar rambutnya ke belakang dan meraih ponselnya yang bergetar di dalam saku.

Nama orang kepercayaannya tertera di sana. Wisnu.

"Halo, ada apa, wis?" tanya laki-laki itu tanpa basa-basi, keluar dari toko pakaian dan menatap ramainya orang-orang yang berlaku lalang.

"Kami mendapatkan informasi mengenai Nona Loria, Pak," lapor Wisnu, membuat senyum kecil tercetak di wajah Dirga yang biasanya dingin.

"Di mana dia?" tanya Dirga dengan jantung yang tanpa sadar berdebar, memikirkan bagaimana jika ia benar-benar bisa membawa Loria kembali.

"Kami telah memeriksa CCTV di beberapa daerah, dan mendapati Nona Loria pergi dengan menggunakan taksi, dan kini kami sedang mencari pemilik taksi itu," Jelas Wisnu, dibalas anggukan oleh Dirga.

"Percepat pencarian, dan saya ingin bertemu denganmu sekarang juga untuk menanyakan langsung tentang apa saja perkembangan dalam pencarian." Dirga menoleh ke arah toko di belakangnya, menatap Hita yang tersenyum sembari memilih pakaian. "Temui saya di tempat biasanya kau mengantarkan Lian berbelanja, saya akan menunggu," lanjutnya, langsung menutup sambungan telpon setelah disetujui oleh Wisnu.

"Loria... bersiaplah untuk kembali." Dengan itu, Dirga melangkahkan kakinya menjauh dari toko, keluar dari mall untuk bertemu dengan Wisnu.

Jantungnya berdebar kencang. Apapun yang terjadi, ia akan membawa Loria kembali ke sisinya. Ia bersumpah.

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!