Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.
Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.
Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:
Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.
Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.
Saat sumpah itu terucap—
DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.
Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.
Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Rekrut yang Ditolak Dunia (2)
Sore turun tanpa upacara.
Cahaya matahari yang tadi memantul keras di bebatuan kini melembut, memanjang di halaman dalam Sekte Langit Abadi. Tanahnya belum diratakan sempurna. Ada bekas pijakan lama, cekungan kecil, dan batu-batu yang belum dipindahkan. Tidak ada lapangan uji. Tidak ada tiang formasi. Hanya ruang terbuka yang jujur dengan keadaannya sendiri.
Xu Tian berhenti di tengah halaman.
Para murid baru berdiri membentuk setengah lingkaran tanpa ada yang mengatur. Jarak mereka tidak sama. Beberapa terlalu dekat, beberapa terlalu jauh. Tidak ada yang benar-benar tahu posisi yang tepat.
Chen Yu berdiri di sisi Xu Tian, sedikit ke belakang. Tangannya terlipat di lengan jubah. Pandangannya menyapu wajah-wajah itu, satu per satu. Tidak ada yang tampak berkilau. Tidak ada aura yang membuatnya waspada.
Hanya manusia-manusia yang lelah.
Xu Tian tidak segera berbicara.
Keheningan itu memanjang. Seseorang bergeser gelisah. Mei Yan menurunkan bahunya perlahan, seolah menyadari bahwa tidak ada pedang yang akan diuji hari ini. Pria pincang berdiri dengan kaki yang kuat sedikit dimajukan, mencari keseimbangan.
“Aku tidak akan menguji bakat kalian,” kata Xu Tian akhirnya.
Tidak ada perubahan besar di wajah para murid. Beberapa bahkan tampak lebih bingung.
“Aku juga tidak akan mengukur tingkat kultivasi,” lanjutnya. “Atau memberi janji tentang seberapa jauh kalian bisa melangkah.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau kalian datang dengan standar dunia, kalian sudah salah tempat.”
Pria bertubuh besar mengangkat kepala. “Lalu… apa ujiannya?”
Xu Tian menatap tanah di depan mereka. Ada bekas tapak kaki lama, bercampur debu dan pasir. “Bertahan.”
Satu kata itu jatuh tanpa tekanan, tanpa penjelasan.
Mei Yan mengerutkan kening. “Bertahan… bagaimana?”
Xu Tian tidak menjawabnya secara langsung. Ia melangkah ke samping, menunjuk ke arah bangunan kayu sederhana di ujung halaman. “Di sana tempat kalian tinggal. Tidak ada pemisahan kamar. Tidak ada jatah pil rutin. Tidak ada yang akan mengecek kemajuan kalian setiap hari.”
Ia menoleh kembali. “Yang tidak tahan, boleh pergi kapan saja.”
Beberapa pasang mata bergerak cepat.
Pria bertubuh besar menarik napas panjang. “Kalau kami bertahan… apa yang kami dapatkan?”
Xu Tian mengangkat pandangannya. Tatapannya tenang, tetapi tidak kosong. “Kesempatan.”
Bukan kekuatan. Bukan perlindungan. Hanya satu kata yang tidak menjanjikan apa pun.
Chen Yu merasakan sudut bibirnya menegang. Ia tahu persis makna kesempatan itu—bukan hadiah, melainkan ruang sempit yang harus diisi sendiri.
Sunyi kembali turun.
Beberapa murid saling bertukar pandang. Pria bertubuh besar menghela napas lagi, kali ini lebih berat. “Aku pikir… setidaknya akan ada teknik dasar.”
“Ada,” kata Xu Tian. “Kalau kalian bertahan sampai besok.”
Pria itu tertawa kecil, pahit. “Sekte lain memberikannya sejak hari pertama.”
Xu Tian tidak menyangkal. “Karena mereka punya sesuatu untuk dijual.”
Kalimat itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat beberapa bahu menegang.
Pria bertubuh besar menunduk, lalu menggeleng. “Aku tidak yakin ini tempat yang tepat untukku.”
Ia melangkah mundur satu langkah. Tidak ada yang menahannya. Langkah kedua menyusul. Lalu ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan halaman tanpa menoleh lagi.
Kepergiannya tidak menimbulkan gelombang.
Dua murid lain menyusul setelah beberapa menit. Alasan mereka tidak diucapkan dengan jelas—satu hanya berkata “maaf”, yang lain bahkan tidak berbicara. Mereka berjalan keluar dengan langkah cepat, seolah takut berubah pikiran.
Jumlah di halaman menyusut.
Tersisa Chen Yu, Mei Yan, pria pincang, dan Han Li.
Xu Tian tidak terlihat kecewa. Ia juga tidak terlihat puas. Ia hanya mengamati mereka yang masih berdiri.
“Tidak ada lagi?” tanyanya.
Tidak ada yang menjawab.
Mei Yan menggenggam tali di bahunya. “Kalau aku pergi sekarang… aku tidak akan menyesal,” katanya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Xu Tian mengangguk. “Kalau kau tinggal, kau juga mungkin menyesal.”
Mei Yan tertawa kecil, kering. “Setidaknya aku sudah terbiasa.”
Ia tidak bergerak.
Pria pincang mengusap pahanya yang lemah. “Aku sudah kehilangan banyak hal,” katanya. “Menambah satu lagi tidak terlalu menakutkan.”
Xu Tian memberi jalan setengah langkah. “Kalian yang tinggal, ikut aku.”
Mereka berjalan menuju bangunan kayu.
Di dalam, ruangan itu lebih sederhana dari yang dibayangkan Han Li. Lantai kayu kasar, dinding tanpa hiasan. Beberapa tikar tipis diletakkan di sudut. Bau kayu lembap bercampur debu lama memenuhi udara.
Tidak ada ranjang.
“Ini tempat tinggal kalian,” kata Xu Tian. “Kalau tidak cukup, kalian bisa memperbaikinya sendiri.”
Mei Yan menatap tikar itu lama. “Tidak ada pembagian?”
“Kalian bisa atur sendiri.”
Xu Tian berbalik untuk pergi, lalu berhenti di ambang pintu. “Besok pagi, yang masih di sini, berkumpul di halaman.”
Ia melangkah keluar tanpa menunggu jawaban.
Ruangan itu kembali sunyi.
Mei Yan duduk perlahan di salah satu tikar. Pria pincang memilih sudut dekat dinding. Chen Yu berdiri sejenak, lalu ikut duduk, punggungnya bersandar pada tiang kayu.
Han Li masih berdiri.
Ia menatap sekeliling, lalu menunduk menatap tangannya sendiri. Jarinya sedikit gemetar. Ia menekan kepalan itu ke pahanya, seolah mencoba menghentikan sesuatu yang tidak terlihat.
Chen Yu memperhatikannya dari sudut mata. Ia tidak mengatakan apa pun.
Waktu berlalu tanpa percakapan.
Akhirnya, Han Li duduk di sudut yang tersisa. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Bahunya turun sedikit.
Malam datang lebih cepat di tempat ini.
Lampu minyak dinyalakan satu per satu. Cahaya redup menari di dinding kayu, menciptakan bayangan yang tidak rata. Tidak ada yang berbicara tentang masa depan. Tidak ada yang bertanya tentang latihan.
Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Chen Yu menutup mata, tetapi tidak tidur. Ia mendengarkan napas mereka yang lain—tidak sinkron, tidak tenang, tetapi nyata.
Di luar, Xu Tian berdiri sendirian di halaman.
Langit telah gelap. Bintang-bintang muncul samar, tertutup awan tipis. Qi sekte terasa tetap tipis, tidak berubah. Namun ada sesuatu yang bergerak halus di bawah permukaan—bukan kekuatan, melainkan arah.
Xu Tian memejamkan mata sejenak.
Ia teringat hari ketika ia sendiri berdiri di tempat serupa, menunggu penilaian yang tidak pernah adil. Standar dunia selalu jelas, tetapi tidak pernah netral.
Ketika ia membuka mata, pandangannya tertuju ke arah bangunan kayu.
Di dalam, Han Li duduk bersila, mencoba menenangkan napasnya. Ia tidak tahu apakah ia melakukan posisi yang benar. Ia hanya meniru apa yang pernah ia lihat dari jauh.
Tidak ada aliran qi yang jelas. Tidak ada respons.
Namun ketika ia hampir menyerah dan membuka mata—
Ada sensasi aneh.
Bukan suara.
Bukan cahaya.
Hanya jeda singkat di antara satu tarikan napas dan hembusan berikutnya, seolah udara di sekitarnya berhenti sepersekian detik.
Di saat yang sama, di benak Xu Tian, sesuatu melintas.
Tidak keras. Tidak mendesak.
Hanya satu baris dingin yang muncul lalu menghilang, seperti bayangan di air tenang.
【Anomali terdeteksi.】
Xu Tian tidak bergerak.
Tidak ada reaksi di wajahnya. Tidak ada perubahan aura. Ia hanya berdiri, menatap bangunan kayu itu sedikit lebih lama dari sebelumnya.
Di dalam, Han Li membuka mata, tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tetapi ruangan itu tetap sama—lampu redup, dinding kayu, dan keheningan yang berat.
Standar dunia telah ditinggalkan di luar gerbang.
Dan apa yang tersisa di dalam Sekte Langit Abadi… baru saja menunjukkan tanda pertama bahwa ia tidak sepenuhnya kosong.