NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Sugar Daddy KR

Ayu mengikuti Lingga menuju lift pribadi yang tersembunyi. Ken, dengan jasnya yang sempurna dan wajah datarnya, berjalan satu langkah di belakang mereka, memastikan tidak ada yang bisa mendekati Lingga tanpa izin.

Ken tahu tujuannya: The Zenith Lounge di Lantai 31, dan misi utamanya adalah memastikan Ayu—si "bom waktu" berjalan yang kini menjadi asisten—tidak melakukan kesalahan apa pun, baik verbal maupun fisik.

​Lift itu membawa mereka ke Lantai 31. Pintu terbuka ke private lounge eksklusif.

​"Ini adalah The Zenith Lounge," jelas Lingga. "Tempatku bertemu klien yang membutuhkan kerahasiaan absolut."

​Ken berdiri tegak di dekat pintu masuk, mengamati ruangan dan pintu lift, siap menjadi perisai jika diperlukan.

​Di tengah ruangan, Tuan Dirga sudah menunggu, didampingi sekretaris pribadinya.

​"Lingga! Akhirnya kau datang," sambut Tuan Dirga. Matanya yang tajam beralih ke Ayu. "Dan siapa bidadari cantik ini? Apakah ini Asisten yang diributkan itu?"

​Lingga memperkenalkan Ayu, "Ayu Puspita. Asisten Khusus Proyek. Dia hanya di sini untuk mencatat."

​Ayu memberikan salam hormat dan mengambil tempat duduk. Ken berjalan pelan ke belakang sofa Lingga, posisinya strategis untuk mengawasi Ayu dan mengamankan Lingga. Ia mengamati Ayu dengan cermat, memastikan Ayu siap dengan pulpen dan buku catatannya.

​Pertemuan itu berlangsung intens, membahas investasi infrastruktur triliunan rupiah yang melibatkan regulasi pemerintah. Lingga menunjukkan sisi dirinya yang paling mengintimidasi: seorang jenius keuangan yang mampu mengendalikan segalanya.

​Ayu mencatat tanpa henti. Setiap kali Ayu melirik ke arah Lingga, ia selalu mendapati Ken di belakang, mengawasi. Pengawasan Ken bukan hanya untuk keamanan fisik Lingga, tetapi juga untuk memastikan Ayu tidak melewatkan detail penting, seperti yang ia lakukan pada laporan Rp100 juta tempo hari.

​Di tengah negosiasi, Tuan Dirga memancing.

​"Omong-omong, Lingga," Tuan Dirga menyeringai kecil. "Kudengar Aleya sudah kembali ke Jakarta. Dia terlihat sangat cantik. Apakah kalian sudah bertemu?"

​Wajah Lingga mengeras. "Itu bukan urusan bisnis kita, Dirga."

​Tuan Dirga, yang sengaja ingin memancing Lingga, mengambil dokumen dan menyerahkannya kepada Ayu.

​"Nona Ayu," kata Tuan Dirga dengan senyum menggoda. "Bisakah kau fotokopi dokumen ini dan bawakan aku kopi. Yang manis, ya. Aku tidak suka kopi pahit seperti bosmu."

​Tuan Dirga jelas mencoba merendahkan Ayu. Ken, yang selalu waspada, secara refleks maju satu langkah, tetapi Lingga lebih cepat.

​Lingga meraih dokumen itu kembali dari tangan Ayu.

​"Tidak," potong Lingga tajam, matanya menatap Tuan Dirga dengan dingin. "Ayu tidak akan melakukannya."

​"Kenapa, Lingga? Asisten mu terlalu cantik untuk memfotokopi?" tanya Tuan Dirga.

​"Dia adalah Asisten Khusus Proyek. Tugasnya adalah menganalisis, bukan melayani kopi. Sekretaris mu bisa melakukannya," kata Lingga, menunjuk pada sekretaris Tuan Dirga.

​Ayu terkejut. Ken, dari belakang Lingga, menyunggingkan senyum kecil—senyum langka penuh persetujuan. Ken tahu Lingga melindungi Ayu bukan hanya karena citra perusahaan, tetapi karena ia menghargai kerja keras Ayu.

​Tuan Dirga menyipitkan mata, menyadari batasan Lingga. "Baik, baik. Dia asisten mu. Aku mengerti."

​Sisa pertemuan berjalan lancar, ditutup dengan Lingga memenangkan kesepakatan itu.

​Saat mereka berjalan kembali ke lift, Ayu memberanikan diri.

​"Terima kasih, Tuan karena sudah membela saya," kata Ayu.

​Lingga menatap lurus ke depan. "Aku tidak membela dirimu, Ayu. Aku membela integritas Mahardika Group. Kau adalah perpanjangan tanganku. Jika klien berpikir asistenku hanya mampu membuat kopi, itu akan merusak citra kendaliku."

​Ken, yang berada di samping mereka, menghela napas internal. Lingga selalu menolak mengakui emosi.

​Saat mereka mencapai Lantai 30, Lingga memberikan perintah terakhir kepada Ayu.

​"Ayu," panggil Lingga.

​Lingga mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya ke Ayu. Ken, yang mendengar perintah itu, berdiri di ambang pintu bilik Ayu, memastikan Ayu segera melaksanakan perintah itu.

​"Tugas kedelapan. Hapus semua nama dari daftar kencan yang kau buat tadi pagi," perintah Lingga. "Aku tidak tertarik pada wanita yang merajut atau kucing Persia."

​Lingga menatap Ayu dengan tatapan serius, sebuah tatapan yang ingin Ayu mengerti bahwa ini adalah keputusan besar.

​"Aku tidak bisa percaya pada siapa pun yang bisa membuatku melanggar prinsip terbesarku," kata Lingga. "Aku tidak akan mempertaruhkan kendaliku lagi. Termasuk kencan."

​Ken mengangguk dalam hati. Ini adalah keputusan terbaik. Aleya membuat Lingga mabuk dan rentan. Keputusan untuk berhenti berkencan menunjukkan Lingga memilih kontrol diri daripada emosi. Dan ia masih membutuhkan Ayu—satu-satunya saksi dan pengingat akan kejatuhannya—tetap berada di sisinya.

​"Sekarang, urus berkas Tuan Dirga," Lingga menutup.

​Ayu mengambil ponsel itu dan duduk di biliknya. Ken mengawasinya sampai ia yakin Ayu sudah mulai menghapus daftar itu.

​Ayu menatap ponsel Lingga yang ia pegang. Ia tahu Lingga tidak akan berkencan, dan ia merasa lega. Alasan di balik keputusan itu—ketakutan Lingga akan dirinya sendiri—jauh lebih menarik dan berbahaya daripada urusan kencan biasa.

Ayu menatap layar ponsel Lingga. Jari telunjuknya sudah berada di atas ikon tempat daftar kencan itu tersimpan. Perintah Lingga jelas:

Hapus semua.

Sebuah ide jahil tiba-tiba melintas di benaknya, secepat kilat. Ia menyeringai tipis.

“Dia tidak bisa percaya pada siapa pun yang bisa membuatnya melanggar prinsip terbesarnya,” ingat Ayu akan kata-kata Lingga. Itu berarti Lingga hanya takut pada dirinya sendiri—takut menjadi rentan.

Ayu menggerakkan ibu jarinya. Menghapus semua? Tentu saja. Tapi... tidak ada yang bilang aku tidak boleh meninggalkan hadiah kecil.

Ayu tidak berani menambahkan namanya. Itu terlalu kentara. Namun, ia bisa saja mengubah kriteria utama.

Dengan gerakan cepat, ia hampir mengetikkan kriteria baru di bagian paling atas daftar yang akan ia hapus: Kriteria Baru: Wanita yang mampu membuat Lingga melanggar semua prinsip, bukan hobi merajut. (P.S. Bukan Ayu)

Tepat sebelum ibu jarinya menekan huruf pertama, sebuah suara berat dan datar menyentaknya kembali ke realitas.

"Nona Ayu," Ken, yang berdiri diam seperti patung perunggu di ambang biliknya, tiba-tiba berbicara. Nadanya tidak tinggi, tetapi memiliki resonansi peringatan yang membuat Ayu merinding.

"Perintah Tuan Lingga adalah menghapus semua nama dari daftar kencan. Bukan membuka sesi humor, membuat komentar pribadi, atau menulis spoiler untuk masa depan," lanjut Ken, matanya yang tajam menatap lurus pada ekspresi Ayu yang tertangkap basah.

"Anda adalah Asisten Khusus Proyek, bukan penulis caption Instagram. Fokus."

Ayu tersentak, cepat-cepat menghapus senyum konyol di bibirnya. Jantungnya berdebar. Dia ini pengawal atau peramal pikiran, sih?

"Siap, tuan Ken," Ayu berbisik, kembali menjadi Ayu Puspita yang patuh. Ia menarik napas, menggelengkan kepala pada pikiran jahilnya sendiri, dan menghapus seluruh daftar kencan itu tanpa sisa.

Ponsel itu kini bersih dari 'bom waktu' potensial. Ken mengangguk kecil, puas, sebelum ia kembali fokus pada koridor, memastikan tidak ada yang mengganggu asisten 'bom waktu' itu menyelesaikan sisa pekerjaannya.

Bibir Lingga berkedut, entah kenapa ia begitu penasaran dengan caption yang ingin diketik Ayu di ponselnya.

***

1
novi a.r
lanjut thor
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!