NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Ketika Pepatah Menjadi Kenyataan"

Tangis Dewi membanjiri pipinya, tetesan air mata itu jatuh ke atas kertas surat yang masih ia pegang. Kata-kata Arif yang menyatakan akan kembali besok terasa hampa, seolah angin yang hanya menyentuh lalu lenyap. Saat mata memandang ruangan yang kini kosong lagi, bayangan masa lalu tiba-tiba menyergapnya—bayangan ketika ia merasa bahagia, terlalu bahagia sampai lupa akan pepatah yang selalu diucapkan neneknya: “Jangan terlalu bahagia, nanti datang badai yang lebih deras.”

Itu adalah masa ketika ia baru saja mulai bekerja kembali setelah setahun keluar dari dunia kerja karena sakit. Setiap hari, ia bangun lebih awal dari matahari, mandi dengan cepat, dan pergi ke kantor dengan senyum yang tidak pernah pudar. Gaji yang ia terima setiap bulan bukan hanya uang—itu adalah harapan baru, rasa bebas dari ketergantungan, dan cahaya yang menyinari rumah mereka yang dulu selalu terbenam dalam kegelapan keuangan. Ia merasa seperti burung yang baru lepas dari jerat: bebas, ceria, dan penuh harapan akan hari esok.

“Dewi, kamu terlihat lebih segar hari ini ya,” ujarnya pada diri sendiri sambil memandang cermin sebelum pergi kerja. Rambutnya terikat rapi, baju kerja yang sederhana tapi rapi menutupi badannya, dan mata yang dulu selalu suram kini memancarkan cahaya. Ia membayangkan bagaimana nanti ia akan membawa makanan kesukaan Arif dari warung di seberang jalan, bagaimana mereka akan makan bersama di meja makan sambil berbicara tentang hari-hari mereka. “Ini adalah awal kebahagiaan yang sesungguhnya,” pikirnya. Tapi tanpa ia sadari, benang kebahagiaan itu sudah mulai terputus perlahan-lahan, diseret oleh kelemahan yang tersembunyi dalam hati Arif.

Pada awalnya, Arif tampak senang dengan keberhasilan Dewi. Ia akan menunggu ia pulang di pintu depan, membantu membuka sepatu, dan memeluknya dengan hangat. “Bagus ya kamu bisa kerja lagi, sayang. Sekarang kita tidak usah khawatir lagi tentang uang,” ujarnya dengan senyum. Dewi merasa senang, berpikir bahwa Arif akan semakin bersemangat untuk bekerja juga, agar mereka bisa membangun masa depan bersama. Tapi harapan itu segera hancur ketika Arif mulai tidak pergi kerja.

“Hari ini aku tidak ada kerja, sayang. Belum ada yang manggil,” ujar Arif pada hari ketiga ia tidak keluar rumah. Dewi hanya mengangguk, berpikir bahwa itu hanyalah nasib—karena Arif memang hanya bekerja serabutan, hanya ketika ada orang yang memanggil untuk pekerjaan seperti membangun pagar, membersihkan halaman, atau menolong pekerjaan konstruksi. “Ya sudahlah, besok pasti ada yang manggil,” katanya dengan nada menenangkan.

Tetapi hari demi hari berlalu, seminggu penuh Arif tetap di rumah. Ia hanya duduk di depan televisi, bermain ponsel, atau keluar bersama teman-temannya tanpa jelas ke mana. Dewi mulai merasa cemas, tapi masih mencoba memahami. “Mungkin musim ini memang sedikit sepi pekerjaan,” pikirnya. Ia tidak mau membuat Arif merasa tertekan, terutama karena ia baru saja mulai bekerja dan bisa menanggung kebutuhan sehari-hari.

Namun sampai sebulan penuh, Arif masih tidak bekerja. Dewi mulai merasa heran. Bagaimana mungkin sebulan penuh tidak ada satu pun orang yang memanggilnya? Ia tahu ada proyek pembuatan saluran irigasi dari pemerintah yang sedang berjalan di desa tetangga—proyek yang membutuhkan banyak pekerja harian. Banyak orang dari desa mereka ikut bekerja sana, termasuk beberapa teman Arif. Mengapa Arif tidak dipanggil?

“Hai Arif, ada proyek saluran di desa Pak Hadi kan? Kenapa kamu tidak ikut? Pasti banyak pekerja yang dibutuhkan,” tanya Dewi satu pagi ketika ia sedang bersiap kerja. Arif yang sedang minum teh hanya mengangkat bahu. “Tidak ada yang manggil aku, sayang. Mungkin mereka sudah cukup pekerja.” Jawabannya terdengar datar, tanpa secercah kesedihan atau keinginan untuk mencari kerja. Dewi merasa bingung, tapi ia tidak mau menengkelamkan hati Arif, jadi ia hanya pergi ke kantor dengan benak yang penuh pertanyaan.

Keesokan harinya adalah hari libur. Dewi memutuskan untuk ke pasar membeli sayuran dan ikan untuk makan malam. Saat ia sedang memilih bawang merah di warung seorang penjual, ia melihat seorang pria yang mengenalnya berjalan kaki menuju arah desa tetangga—itu adalah Anton, teman dekat Arif yang sering keluar bersama.

“Anton, hai! Mau ke mana sih hari ini?” tanya Dewi sambil menyapa. Anton berhenti, tersenyum meskipun terlihat lelah. “Hai Dewi! Mau ke proyek saluran di desa Pak Hadi. Hari ini ada pekerjaan lagi.”

Dewi merenungkan sejenak, lalu tanya dengan hati-hati: “Oh ya? Kenapa tidak memanggil Arif juga? Kan dia juga butuh kerja.” Anton mengangkat alisnya, seolah terkejut dengan pertanyaan itu. “Eh, aku sudah panggil loh kemarin sore. Tapi dia bilang tidak mau, katanya ada urusan. Aku pikir dia sudah punya pekerjaan lain ya?”

Kata-kata Anton seperti petir yang menyambar Dewi. Hatinya terasa kacau, seolah ada benang yang terjalin semuanya. “Jadi bukan tidak ada yang manggil, tapi dia yang tidak mau?” pikirnya. Ia coba tetap tenang, menyapa Anton lagi sebelum ia melanjutkan jalan. Tapi perjalanan pulang dari pasar terasa sangat lama, hatinya dipenuhi kesedihan dan kemarahan yang mulai memanas.

Saat tiba di rumah, ia melihat Arif sedang duduk di sofa menonton televisi. Ia meletakkan tas belanja di meja dapur, lalu mendekatinya dengan langkah yang berat. “Arif, kita perlu bicara,” katanya dengan suara yang dingin. Arif melihatnya, seolah merasakan suasana yang tidak baik. “Apa ada masalah, sayang?”

“Kamu bilang kemarin tidak ada yang manggilmu kerja di proyek saluran?” tanya Dewi, matanya menatap tajam ke mata Arif. Arif mengangguk. “Ya, benar. Kenapa?”

“Tadi aku bertemu Anton di pasar. Dia bilang dia sudah panggilmu kemarin, tapi kamu yang tidak mau. Kenapa kamu bohong padaku?”

Saat itu, wajah Arif berubah. Ia mengangkat badan, muka menjadi merah karena marah atau malu—Dewi tidak tahu. “Apa hubungannya kamu dengan Anton? Kenapa dia harus ngomong ke kamu?” teriaknya.

“Jawab pertanyaan ku, Arif! Kenapa kamu tidak mau kerja? Padahal kamu tahu kita butuh uang lebih banyak, apalagi kalau nanti ada keperluan darurat!” seru Dewi, suaranya juga mulai naik.

“Untuk apa aku kerja? Kan kamu sudah kerja! Gajimu juga cukup untuk makan sehari-hari, kan? Aku tidak butuh kerja lagi kalau sudah ada kamu yang mencari nafkah!” teriak Arif dengan suara yang lebih keras.

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hati Dewi. Selama ini ia bekerja keras bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk keluarga mereka—untuk Arif yang ia cintai. Tapi ternyata, kerja kerasnya malah membuat Arif malas dan bergantung. “Jadi kamu mau jadi suami yang hanya bergantung pada istri? Kamu tidak malu?” tanya Dewi dengan suara yang lemah tapi penuh kemarahan.

“Malu apa? Kalau istriku bisa kerja, apa salahnya aku istirahat? Banyak orang juga begitu!” jawab Arif, tidak mau kalah.

Pertengkaran itu semakin memanas. Kata-kata kasar saling teriak, benda-benda di rumah terjatuh karena mereka bergerak dengan gesit, dan hatinya yang dulu penuh kebahagiaan kini hancur menjadi serpihan. Saat Dewi hampir mau menangis dan keluar rumah, pintu rumah tiba-tiba dibuka. Masuklah ibu Dewi, yang tiba-tiba datang untuk mengunjungi mereka.

“Apa ini yang terjadi?” tanya ibu Dewi dengan suara yang tegas, melihat suasana yang kacau dan wajah kedua orang itu yang merah marah. Dewi langsung menangis, menceritakan semua yang terjadi—dari Arif yang tidak mau kerja sampai dengan kebohongannya.

Ibu Dewi mendengarkan dengan tenang, lalu melihat Arif dengan mata yang penuh kebencian dan kesedihan. “Arif, aku tahu kamu bukan orang yang buruk. Tapi apa yang kamu lakukan sekarang adalah salah,” ujarnya dengan suara yang lembut tapi tegas. “Kamu adalah kepala keluarga. Seharusnya kamu yang menjadi tulang punggung keluarga, yang melindungi dan mencari nafkah untuk istri mu. Bukan sebaliknya, bergantung pada kerja keras istri mu dan malas bekerja.”

Arif melihat ke lantai, wajahnya terlihat malu. Ia tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu dari ibu mertuanya. “Aku… aku tidak menyadari,” katanya dengan suara yang lemah.

“Ibu tahu hidup tidak mudah. Tapi kesuksesan tidak akan datang dengan sendirinya. Kamu dan Dewi harus bekerja sama, saling mendukung. Jangan biarkan kebahagiaan yang baru saja tiba itu hilang karena kesalahanmu,” lanjut ibu Dewi. “Dewi bekerja keras bukan untuk membuatmu malas, tapi untuk membangun masa depan bersama. Sekarang, apa yang kamu akan lakukan?”

Saat itu, Arif merasakan beratnya tugasnya sebagai suami. Ia melihat Dewi yang sedang menangis, wajahnya yang dulu ceria kini penuh kesedihan. Ia melihat ibu mertuanya yang menatapnya dengan harapan. Dan ia menyadari, ia telah melakukan kesalahan yang besar.

“Aku maaf, Dewi. Aku maaf, Bu,” ujarnya dengan suara yang bergetar. Ia jongkok di depan Dewi, menangis. “Aku tidak sengaja. Aku hanya merasa lelah mencari kerja yang selalu tidak tetap, dan ketika kamu mulai bekerja, aku merasa lega sampai lupa tentang tugasku. Tapi aku akan berubah, sayang. Aku akan bekerja lagi, mencari nafkah untuk kita berdua. Aku akan menjadi suami yang layak untukmu.”

Dewi melihat wajah Arif yang tulus menangis, dan hatinya yang keras mulai melemah. Ia mengangguk, tangannya menyentuh pipi Arif. “Baiklah, Arif. Aku akan memberi kamu kesempatan. Tapi jangan ulangi lagi.”

Ibu Dewi tersenyum, puas dengan hasil perbincangan itu. “Itu yang terbaik, anak-anak. Sekarang, bersihkan rumah ini dan makan bersama. Hidup harus terus berjalan.”

Bayangan masa lalu itu perlahan menghilang, meninggalkan Dewi yang masih berdiri di kamar, tangan masih memegang surat Arif. Kata-kata “jangan terlalu bahagia nanti datang badai” terngiang-ngiang di telinganya. Saat itu, ia merasakan kesedihan yang sama seperti masa lalu—kesedihan karena sekali lagi, kebahagiaan yang ia rasakan ternyata hanya sementara. Ia menangis lagi, tangis yang penuh keputusasaan. Mengapa setiap kali ia merasa bahagia, badai selalu datang untuk menghancurkannya? Mengapa Arif selalu membuatnya berharap, hanya untuk mengkhianatinya lagi?

Ia melihat jam di dinding: jam delapan pagi. Surat Arif mengatakan ia akan kembali besok. Tapi apakah ia boleh mempercayai janji itu lagi? Ia tidak tahu. Hatinya terbagi antara rasa takut dan rasa harapan yang masih tersisa. Ia hanya berdiri di situ, menangis, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya—semoga kali ini, badai yang datang tidak terlalu deras untuk ia tangani.

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!