Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Ketika semuanya tengah berbincang yang sesekali di selingi tawa, namun tawa itu terhenti saat mendengar salam dari luar. Hafshah beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar. Diluar sudah ada Fatih, Yuan, dan Pendar.
"Pendar...., apa kabar?"
"Baik mba, kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah sama baiknya. Al, kenapa tidak diajak masuk saja hm?"
"Kita baru saja sampai mba."
"Oh, yasudah ayo masuk, Yasmine ada di dalam." bisik Hafshah.
Pendar tersenyum lalu mengikuti Hafshah masuk ke rumah begitupun dengan Yuan, dan Fatih. Yasmine terus menunduk saat mendengar siapa yang telah datang.
"Sayang..." panggil pendar sembari mendekat pada Yasmine lalu memeluknya dari samping, menyalurkan rasa rindunya. Semua mata tertuju pada interaksi anak dan ibu tersebut. Semua yang ada disitu merasa terharu, namun tidak dengan khaulah matanya beradu tatap dengan Yasmine.
"Kamu kemana saja sayang hm? Bunda rindu sekali."
"Maaf bunda aku pergi gitu aja, soalnya aku jenguk sahabatku." sesalnya. "Harus yah pura-pura seperti ini?"
Matanya kembali menatap khaulah. "Jangan nangis sekarang oke?" pintanya seolah Yasmine bisa mendengar suara hatinya.
"Nah, karena semuanya sudah kumpul ayo kita makan dulu."
Yasmine segera bangkit dari duduknya lalu mendekat pada Hafshah menggandeng tangannya. "Ayo umma, Yasmine sudah lapar. Ayo umi, sini."
Fatemah tersenyum lalu menurut ikut serta pergi ke ruang makan. Diikuti Yuan, Pendar dan Alie, sedangkan khaulah masih diam ditempatnya begitupun dengan Fatih. Kemudian Fatih duduk di kursi seberang khaulah, hal itu membuat khaulah tak nyaman.
"Sudah lama kenal Yasmine?" Fatih memecahkan keheningan.
"Cukup lama."
Keheningan kembali tercipta diantara mereka. Namun tak butuh waktu lama dering telepon mengalihkan atensi mereka.
"Assalamu'alaikum aba."
"Yasudah, hati-hati aba, kita tunggu di sini."
"Wa'alaikumussalam."
Fatih menutup teleponnya lalu beranjak dari duduknya. "Saya keluar dulu, tolong beri tahu Umma jika beliau bertanya."
Khaulah mengangguk mengiyakan, lalu Fatih keluar rumah. Tak berselang lama Yasmine datang dari belakang membawa satu porsi makanan.
"Di makan, jangan ngelamun aja."
khaulah tersenyum dari balik niqob nya. "Terimakasih Yasmine. Sini duduk temenin aku makan, tapi kamu sudah selesai makan kan?"
"Iya udah, tenang aja."
Khaulah pun mulai menyantap makanan yang dibawakan oleh Yasmine dengan lahap, masakannya sangat enak.
"Nanti ikut gue ke taman belakang yah?"
"Iyah."
"Makasih tadi lo..."
"Sama-sama."
Para orang tua pun telah selesai makan. Mereka kembali ke ruang tamu.
"Salma masih ingin di sini atau ikut kami pulang?" tanya fatemah.
"Umi, izinin Salma di sini dulu yah?" mohon Yasmine, fatemah menatap suaminya meminta pendapat.
"Abi, gimana Salma aja sayang. Salma gimana?"
"Salma di sini dulu yah bi."
"Yasudah gapapa, nanti telepon Abi kalau sudah ingin pulang." Alie mengecup pucuk kepala khaulah. "Hafshah titip anak-anak saya."
"Pasti, terimakasih fatemah, Alie sudah datang kemari."
"Sama-sama, kita pamit yah. Assalamu'alaikum."
"wa'alaikumussalam." Hafshah mengantar mereka hingga depan rumahnya.
"Ehem, Salma boleh tinggalkan kami sebentar? Kami ingin bicara." pinta Yuan.
"Baik, om."
Setelah kepergian khaulah Yuan duduk disamping Yasmine. Yasmine bergeser sedikit dari duduknya menciptakan jarak diantara mereka. Sebelum bicara Hafshah lebih dulu datang membuat Yuan urung membuka suara.
"Yasmine, Salma kemana nak?"
"Ada dibelakang umma, cuci piring mungkin?"
"Oh yasudah, umma tinggal yah."
Mata binar itu redup kembali. "Tidak umma jangan pergi, tolong tetap disini dan dengar semua kebohongan ini." harapnya. Namun harapan itu pupus kala Hafshah telah pergi dari tempat itu. Yasmine menghembuskan napasnya gusar.
"Tidak perlu takut, sayang..." ucap pendar seolah menenangkan Yasmine.
"Kenapa kamu nekat pergi dari rumah hah?! Apa tidak cukup dengan uang yang kami berikan?" tegas Yuan.
"Cukup, sangat bahkan."
"Lalu kamu kenapa pergi dari rumah?!"
"Rumah itu sepi Yah, bunda sama ayah jarang pulang, sekalinya pulang itupun larut malam dalam keadaan mabuk. Bunda dengan baju seksinya, ayah dengan baju berantakan."
Plak!
Tangis Yasmine pecah saat itu juga, pasokan oksigen seolah menyempit, dadanya sesak menahan Isak an nya tenggorokan nya tercekat menahan amarah. Yuan menatap nanar tangannya yang telah menampar anaknya dengan keras.
Hafshah menangis dari balik pembatas ruangan. Ia mendengar pernyataan Yasmine. khaulah menghampiri Hafshah seusai dari dapur. Betapa terkejutnya saat ia melihat mata sembab Hafshah, lantas ia memeluknya. Matanya melihat ke tempat dimana keluarga kecil itu sedang memanas.
"Kita pergi dari sini yah tante? Kita cari tempat lain."
Hafshah menggeleng menolak ajakan khaulah. "Tapi, tante kalau Yasmine tahu dia gak akan suka."
"Kamu sudah tahu nak?"
Khaulah bergeming, lalu ia mengangguk. "Nanti biar Yasmine sendiri saja yang cerita, yah tante?"
"Iyah.."