Di masa lalu, Sheng Long adalah Kaisar Iblis Kuno terkuat yang pernah ada. Kekuatannya begitu mengerikan hingga seluruh ras bersatu hanya untuk satu tujuan—menyegelnya selamanya.
Menolak tunduk pada takdir, Sheng Long membelah jiwanya dan bereinkarnasi demi menghindari segel tersebut. Ia terlahir kembali sebagai putra Keluarga Shen, namun dengan harga yang kejam. Kekuatan masa lalunya tersegel, tubuhnya lemah, dan ia dicap sebagai tuan muda sampah yang sakit-sakitan.
Menganggap keberadaannya sebagai aib, keluarganya menikahkannya dengan seorang gadis sederhana yang tak memiliki latar belakang apa pun. Namun justru dari gadis itulah, Shen Long merasakan kehangatan dan ketulusan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan arti kebahagiaan.
Sayangnya, kebahagiaan itu menjadi dosa di mata keluarganya.
Didorong oleh iri dan kebencian, mereka merebut gadis itu dari hidupnya. Tindakan kejam tersebut menghancurkan segel yang membelenggu jiwa Sheng Long. Kaisar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Sang Pemangsa Bintang
Langit di perbatasan Alam Kedua terbelah oleh ribuan garis cahaya keemasan. Armada kapal perang dari Alam Atas, yang dikenal sebagai Legiun Penghakiman Langit, muncul dengan megah. Kapal-kapal itu terbuat dari kristal suci dan logam surga, dipersenjatai dengan meriam-meriam yang mampu menghapus satu benua dalam satu tembakan.
Di barisan depan, berdiri tiga Jenderal Dewa baru: Jenderal Api (Huo Shen), Jenderal Angin (Feng Shen), dan Jenderal Bumi (Tu Shen). Mereka dikirim secara khusus karena kabar kematian Lei Zu telah mengguncang singgasana para dewa.
"Di mana monster itu?" tanya Huo Shen, suaranya menggelegar di tengah hampa udara. "Aku tidak merasakan aura manusia atau iblis murni di bawah sana."
Tiba-tiba, radar energi pada kapal induk mereka berbunyi melengking dengan nada peringatan merah yang belum pernah terdengar sebelumnya.
"Sesuatu... sesuatu mendekat dari bawah dengan kecepatan cahaya!" teriak seorang operator dewa.
BOOOOOOMMMMM!
Sebuah ledakan hitam-hijau menghantam bagian bawah salah satu kapal perang terdepan. Kapal raksasa itu terbelah menjadi dua seolah-olah hanya terbuat dari kertas. Di tengah ledakan itu, muncul sosok yang membuat jantung para dewa seolah berhenti berdetak.
Shen Long melayang di tengah armada mereka. Sayap naga-akarnya yang raksasa terbentang luas, menutupi pandangan kapal-kapal di belakangnya. Mata ketiganya di telapak tangan memancarkan cahaya hijau yang dingin, memindai setiap nyawa di hadapannya sebagai mangsa.
"Kalian membawa begitu banyak peti mati untuk dirimu sendiri?" suara Shen Long kini memiliki gema ganda, seperti ribuan jiwa yang berbicara bersamaan.
"Lancang! Tembak! Hancurkan dia!" perintah Jenderal Feng Shen.
Ribuan meriam energi suci ditembakkan secara bersamaan. Langit menjadi putih menyilaukan oleh ledakan cahaya. Namun, saat cahaya itu memudar, Shen Long masih berdiri di tempat yang sama. Di sekelilingnya, sebuah perisai yang terbuat dari akar-akar hitam berduri menyerap seluruh energi tembakan tersebut.
"Terima kasih. Raga baruku masih butuh banyak asupan." ucap Shen Long dingin.
Ia melesat. Gerakannya tidak lagi bisa ditangkap oleh mata.
SRAKKKK!
Dalam satu detik, Shen Long sudah berada di atas dek kapal Jenderal Tu Shen. Dengan satu injakan, kapal seberat jutaan ton itu langsung meluncur jatuh ke bumi dengan kecepatan meteor. Shen Long kemudian mencengkeram leher Jenderal Tu Shen. Sang jenderal mencoba memukul dengan tinju buminya, namun Shen Long hanya menatapnya dengan mata ketiga di tangannya.
"Enyahlah."
Seketika, tubuh Jenderal Tu Shen mulai ditumbuhi akar-akar hitam dari dalam pori-porinya. Ia menjerit saat tubuhnya dihisap habis oleh tanaman parasit iblis tersebut hingga menjadi mumi kering dalam hitungan detik. Shen Long membuang jasad itu seolah-olah hanya sampah.
"Monster! Kau benar-benar bukan Shen Long yang dulu!" teriak Huo Shen dari kejauhan sambil melepaskan naga api raksasa.
Shen Long hanya membuka mulutnya lebar-lebar. Bukannya menghindar, ia justru menelan api dewa tersebut. Mutasi Jantung Pohon Dunia memungkinkannya mengubah energi apa pun menjadi nutrisi bagi sel-sel iblisnya.
"Seni Mutasi: Hujan Duri Pemakan Jiwa!"
Shen Long mengepakkan sayapnya. Ribuan helai bulu tajam yang terbuat dari kayu iblis dan energi hitam melesat ke segala arah. Bulu-bulu itu menembus perisai kapal perang, menembus zirah para prajurit dewa, dan mulai tumbuh di dalam tubuh mereka.
Dalam sekejap, ribuan kapal perang itu tidak lagi meledak, melainkan berubah menjadi hutan melayang. Kapal-kapal kristal itu kini ditumbuhi akar hitam raksasa yang merambat cepat, menghubungkan satu kapal dengan kapal lainnya menjadi satu jaring kematian yang masif di angkasa.
Jeritan jutaan prajurit dewa memenuhi langit saat jiwa mereka ditarik keluar secara paksa oleh akar-akar tersebut dan dikirim langsung ke tubuh Shen Long.
"Ini... ini bukan pembantaian... ini adalah proses makan!" Feng Shen gemetar hebat. Ia mencoba membuka gerbang dimensi untuk kabur, namun akar-akar itu telah mengunci ruang di sekitarnya.
Shen Long muncul di hadapan Feng Shen, wajah mutannya tersenyum mengerikan. "Kau tahu, Jenderal... aku baru sadar. Kenapa aku harus susah payah mencari esensi ke atas sana, jika kalian selalu datang membawakannya untukku?"
Shen Long mencengkeram kepala Feng Shen dan Huo Shen secara bersamaan. Ia membenturkan keduanya hingga hancur, lalu menghisap esensi ketuhanan mereka hingga habis.
Langit Alam Kedua yang tadinya dipenuhi armada megah, kini hanya menyisakan bangkai-bangkai kapal yang ditumbuhi hutan hitam raksasa yang melayang statis di angkasa. Shen Long berdiri di puncak Hutan Langit tersebut, auranya kini jauh lebih padat dan mengerikan daripada sebelumnya.
Ia merasa raga fananya telah berevolusi ke tingkat yang hampir setara dengan raga utamanya.
Shen Long menatap ke arah pusat galaksi Alam Kedua. Ia bisa merasakan keberadaan raga utamanya yang sedang bermeditasi di planet hancur sana memberikan sinyal kuat.
"Penyatuan kedua... sudah hampir waktunya. Tapi sebelum itu, aku harus menghancurkan singgasana Penguasa Agung agar tidak ada lagi yang mengganggu tidurku."