Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan anakmu
Jackson keluar dari ruangan bersalin. Ia diminta menunggu diluar disaat mereka ingin bersihin bayi dan ibunya.
Farah juga tertidur setelah perjuangan panjang itu. Awalnya Jackson panik karna tiba-tiba Farah menutup matanya. Namun dokter memberinya keyakinan bahwa semua itu normal.
Suara detak mesin infus terdengar pelan diruangan kecil rumah sakit desa itu. aroma obat bercampur dengan minyak telon bayi memenuhi ruangan.
Dokter keluar dari ruangan itu, segera Jackson menghampirinya.
"Bagaimana keadaan mereka, dok?" tanyanya khawatir.
Dokter itu tersenyum ramah, "Alhamdulillah ibu dan bayi nya sehat. Mereka cantik dan ganteng sama seperti ayah dan ibu nya." Ucap dokter itu.
Jackson tersenyum kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kata 'ayah' begitu asing di telinga tapi juga memberi kebahagiaan tersendiri dalam hatinya.
"Baiklah pak, kalau tidak ada pertanyaan lain saya izin pergi dulu."
"Terimakasih dok,"
Lama Jackson berdiri di ambang pintu. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Tapi dia juga perlu memastikan satu hal.
Disisi ranjang Farah terbaring lemah. Ia sudah dipindahkan ke ruang rawat. Matanya perlahan terbuka menatap cahaya yang masuk dari sela-sela jendela.
Sementara di bayi mungil berjenis kelamin laki-laki perempuan itu tidur tenang di dalam boks, dibalut dengan kain berwarna merah muda.
Lalu dari arah pintu suara berat itu terdengar pelan.
"Farah,"
Farah yang sedang bermain dengan kedua bayi nya pun menoleh. Jackson berdiri disana dengan wajah yang tampak letih, mata merah seperti orang yang tidak tidur semalaman.
Farah ingat jelas semalam pria itu yang menemaninya selama proses persalinan.
"Bagaimana keadaan kamu? Apa ada yang sakit? Atau kamu pengen makan sesuatu biar aku belikan." Ucapnya beruntun.
Farah memalingkan wajahnya. "Ngak usah repot-repot, aku baik-baik saja." jawab Farah dingin.
Jackson mengerti mengapa sikap Farah seperti ini. karna sudah sewajarnya ia seperti itu.
Jackson mengalihkan pandangannya ke arah boks. Dua bayi mungil itu tertidur pulas. ia menatap lembut dia bayi kembar itu dengan tatapan lembut yang belum pernah Farah lihat sebelumnya.
Farah mencuri pandang, ia melihat bagaimana jackson menatap anak-anak nya.
"Sejak kapan dia tau cara tersenyum?" gumam Farah dalam hati.
Karna Jackson yang Farah kenal adalah pria kasar dan tidak memiliki hati nurani. tidak ada kelembutan dalam jiwa pria ini.
Lalu ia kembali menatap Farah. "Farah," panggil nya lembut.
Jackson menatapnya lama, suaranya akhirnya pecah.
"Apa boleh aku bertanya satu hal padamu?"
Farah sudah tahu pertanyaan itu akan datang. Ia bisa merasakan sejak pertama kali membuka matanya.
Jackson menelan slivarnya sendiri, ia tahu pertanyaan ini sangat penting untuk hidupnya. Ia menahan emosi yang menyesakkan.
sebelum bertanya ia menarik nafas dalam-dalam.
"Anak-anak itu... Apa mereka anak-anak ku?" jantungnya berdetak kencang begitu pertanyaan itu keluar dari bibirnya.
Ruangan mendadak sunyi. Bahkan suara jam dinding pun terdengar keras dari sebelumnya.
Farah memejamkan matanya sebentar. Ia menarik nafas panjang lalu berkata pelan. "Tidak!" jawab Farah singkat tapi tegas.
Jackson terdiam. "Apa maksudmu?" ia menatap tak percaya. Ia yakin bayi-bayi ini adalah anak kandungnya.
Farah menatapnya datar, "Mereka bukan anak-anak mu!" ulang Farah, kali ini dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Kamu ngak perlu merasa bersalah atau terikat dengan ku lagi."
Jackson menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Untuk kali pertamanya ia terlihat lemah.
"Itu tidak mungkin. Jika dihitung berdasarkan waktunya. Mereka adalah anak-anakku." ucapnya.
Lalu Jackson memegang tangan Farah. "Jangan membohongi ku, Farah. Jika mereka bukan anak-anakku lalu mereka anak siapa?"
Farah menatap kedua anaknya. Ada air mata yang jatuh tanpa bisa ia tahan.
Farah menatapnya. Ada amarah dan luka dimatanya. Lalu ia menarik tangannya dan menatap ke arah jendela.
"Kau lucu sekali." ucap Farah tanpa menatapnya.
"Seharusnya kau tahu jelas, gadis sepertiku ini sangat mudah menemukan pria lain diluar sana. jadi, jangan berfikir bahwa anak-anakku adalah anakmu." Ucapnya dengan suara nyaris berbisik.
Jackson terdiam. menarik diri. Farah tersenyum tipis. Sudah ia duga, pria itu masih sama. selalu memandang wanita rendah.
"Pergilah. Jangan pernah ganggu hidupku lagi." Ucap Farah.
Jackson menatapnya dalam, "Aku tidak akan pergi sebelum benar-benar memastikan bahwa mereka adalah anak-anakku." gumamnya dalam hati.
"Farah, aku tahu kamu bukan wanita seperti itu. Maaf... Aku telah melukaimu dimasa lalu. aku janji akan kembali menebus kesalahanku. setelah memastikan semuanya, Aku tidak akan melepaskan kalian lagi."
Sebelum pergi Jackson mengambil sedikit rambut twins. Ia ingin melakukan tes DNA.
"Papa janji akan kembali menjemput kalian dan mama," Bisiknya.