NovelToon NovelToon
Anshela

Anshela

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen Angst / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya. Shela yang sedang asyik menatap langit malam pun menoleh, lalu menghampiri pintu untuk membukanya.

"Kenapa mbok?" tanya Shela ketika sudah membuka pintunya.

"Maaf neng, Den Angga nyuruh mbok buat manggil non ke bawah, katanya untuk makan malam," ujar mbok Inah.

Shela mengangguk." Iya mbok, nanti aku ke bawah ya."

Mbok Inah mengangguk lalu pamit undur diri. Shela merapihkan rambutnya terlebih dahulu lalu bersiap untuk makan malam. Saat ini Shela memakai kaos over size warna hitam dengan bawahan memakai training panjang dengan warna yang sama.

Shela mulai menuruni tangga, seketika semua atensi beralih ketika melihat kedatangannya di meja makan. Shela melihat masih ada geng black Eagle di meja makan, tapi dia tidak melihat Flora di sana, mungkin gadis itu sudah pulang.

Mereka semua dibuat terkejut dengan penampilan Shela yang lagi-lagi terlihat cantik dengan pakaiannya sekarang dan wajah naturalnya. Marvin serta teman-temannya yang lain sampai tak sadar terpesona dengan penampilan Shela.

Shela berhenti di dekat meja makan, dia menatap satu-satu orang di sana dengan tatapan datar. Melihat orang-orang ini membuat nafsu makannya hilang.

"Gue gak ikut makan, gue makan diatas aja, ucap Shela masih dengan wajah datar juga ucapannya yang terkesan dingin. Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan hendak kembali ke dalam kamarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang berbicara.

"Bagus! Gampang banget lo ngomong gitu. Kita semua di sini sampai bahan lapar cuma buat nunggu lo," ujar Dika emosi, dia menatap kesal Shela yang masih memunggungi mereka.

Shela berbalik lalu menatap Dika." Gue gak pernah minta kalian buat nungguin gue."

Mereka semua terdiam dengan perkataan Shela.

" Lagipula udah biasa kan gue makan sendiri, terus sejak kapan kalian peduli sama keberadaan gue? Kalian bahkan gak pernah menganggap gue ada, lalu kenapa sekarang kalian bersikap seolah gue yang salah? Padahal kalian sendiri yang buat gue kayak gini."

Ketika kakaknya tertohok dengan perkataan Shela barusan, jelas apa yang dikatakan Shela benar. Sedari dulu memang mereka tidak pernah peduli pada gadis itu, ada ataupun tidak Shela di meja makan mereka tidak pernah peduli. Bahkan mereka lebih suka makan bersama tanpa kehadiran gadis itu.

Tapi sekarang entah kenapa mereka ingin bersikap baik, seperti sekarang dia menunggu Shela untuk hadir makan bersama mereka. Hal yang jarang,bahkan tidak pernah mereka lakukan.

Marvin dan juga teman-temannya hanya bisa menyaksikan drama keluarga Shela. Mereka tidak menyangka jika Shela berbicara seperti ini pada kakak-kakaknya.

Selama ini mereka memang sering melihat  Shela selalu diacuhkan oleh kakak-kakaknya,meski begitu Shela pasti akan selalu menganggu dan menempeli kakak-kakaknya, sampai-sampai kakak-kakaknya harus berbuat kasar agar gadis itu berhenti menganggu. Tapi itu tak berlangsung lama karena setelahnya Shela akan mengulangi hal yang sama.

Tapi sekarang, tanpa berbuat apapun Shela tidak lagi menganggu mereka. Bahkan gadis itu mengeluarkan kata-kata pedas sehingga lawan bicaranya mati kutu. Hal yang jarang sekali gadis itu lakukan pada kakak-kakaknya.

"Bukannya dari dulu kalian gak anggap gue ada, bahkan kalian lebih senang gue gak ada saat makan malam kan? Mulai sekarang gue akan mengabulkan keinginan kalian. Jadi jangan pernah sok baik untuk menunggu gue makan bersama kalian," ujar Shela lalu dia berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar meninggalkan semua orang yang masih syok dengan perubahan sikap Shela.

Dia berubah. Batin semua doang kecuali Reygan yang hanya memperhatikan punggung Shela yang mulai menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.

____

Jam menunjukkan pukul delapan malam.

Shela sudah siap dengan pakaiannya, dia berniat untuk mencari angin malam. Ia sungguh tidak betah jika hanya berdiam diri di dalam kamar. Ia berniat akan memberi sebuah gitar untuk mengisi waktu luangnya.

Sebelum dia koma, Shela memang tertarik dengan gitar karena beberapa kali dia melihat orang-orang yang mahir bermain gitar lewat di sosial medianya. Ia berniat ingin belajar gitar.

Shela masih memakai pakaian tadi bedanya kali ini dia memakai topi di kepalanya. Shela keluar dari kamarnya dan mulai menuruni anak tangga. Di ruang tamu ternyata masih ramai dengan Marvin dan teman-temannya. Ternyata orang-orang itu belum juga pergi.

Shela heran, begitu nyamannya kah rumahnya sampai mereka betah berlama-lama di sini.

Shela melangkah melewati mereka tanpa melirik sedikit pun. Namun lagi-lagi sebuah suara menghentikan pergerakannya.

"Mau kemana lo?" tanya Anggara ketika melihat adiknya akan keluar rumah.

"Bukan urusan lo," jawab Shela cepat tanpa menoleh, dia lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Angga sedikit merasa sakit ketika adiknya bersikap dingin seperti itu, sekarang adiknya benar-benar berubah. Gadis itu tidak lagi menganggu mereka semua ada.

Berbeda dengan Anggara, Marvin dan teman-temannya masih terperangah karena cantiknya wajah Shela. Sungguh pahatan Tuhan yang sangat indah.

Mereka tidak mengira dibalik riasan tebal yang selama ini menempel di wajah Shela ada wajah yang begitu mempesona.

Reygan melemparkan bantal sofa ke arah wajah Satria dan satu orang temannya yang terlihat terdiam sambil tersenyum sendiri.

" Reygan kampret, ganggu orang lagi halu aja," protes Satria.

"Kemarin aja hina-hina Shela, sekarang malah haluin dia. Gak tau diri emang," sindir Reygan.

" Emang lo tau gue halu apa?"

"Jelas gue tau, playboy kayak lo isi pikirannya mudah ketebak. Lo pasti halu bisa pacaran sama Shela kan terus-" ucapan Reygan terhenti ketika Satria membekap mulutnya.

"Udah jangan di terusin," ucap Satria.

Reygan mengangguk, lalu tangan Satria terlepas dari mulutnya.

"Kira-kira Shela mau pergi kemana ya jam segini?" tanya Dika. Semua orang menggeleng, karena memang tidak tau.

"Gue si yakin kalau Shela udah berubah, dia kayaknya udah mulai move on dari lo, Vin," ujar salah satu temannya pada Marvin.

" Jangan terlalu percaya, gue yakin itu cuma trik dia aja,", ujar Dika masih dengan pendirinya.

" Tapi gue pikir, adik lo udah mulai berubah,Dik. Coba deh perhatiin penampilan sama sikap dia sekarang, bener-bener beda dari biasanya."

Dika mendengus,kenapa temannya malah membela adiknya. Padahal mereka dulu begitu tidak menyukai Shela, bahkan mereka tak segan-segan menghina Shela di depannya.

Dika lalu mengalihkan perhatiannya pada kedua kakaknya, mereka sekarang tangah terdiam seperti sedang merenungi sesuatu,entah apa yang mereka renungkan.

Di tempat lain, Shela berjalan santai dari rumahnya menuju tempat yang sekiranya menjual gitar. Sampai di depan perumahannya, dia berjalan sebentar menuju ke pangkalan ojek, hari sudah cukup malam Shela berharap masih ada ojek yang mangkal di sana. Untungnya masih ada satu orang yang di sana.

"Ojek neng?" tanya Abang ojek begitu minat Shela menghampiri.

"Iya bang,", jawabnya.

"Alhamdulillah, mau diantar kemana neng?"

Shela berpikir sebentar, masalahnya dia belum sempat mencari tempat yang menjual gitar yang dia mau.

"Bang, tau tempat yang jual gitar gitu gak di sekitaran sini?" Tanya Shela pada Abang ojek.

"Saya kurang tau neng, tapi kalau mau temen saya ada yang mau jual gitar akustik gitu, kalau neng mau saya bisa anter ke sana."

Wajah Shela berbinar." Boleh deh bang, tolong anterin saya ke rumah temen Abang ya."

Abang ojek itu mengangguk, dia lalu menaiki motornya dan langsung menyalakan motornya begitu Shela sudah naik.

"Udah neng?"

" Udah bang."

Abang ojek itu segera melajukan motornya menuju tempat tinggal temannya." Neng, gak apa-apa emang beli gitar second?"

"Gak apa-apa,bang. Mau baru atau second sama aja,asal itu gitar temen abangnya masih bagus."

"Setau saya masih bagus si, paling baru setahunan dia beli. Tapi neng tenang aja, dia apik ngerawat gitar-gitarnya."

"Iya bang."

Lima belas menit menempuh perjalanan, akhirnya dia sampai di rumah sederhana. Abang ojek itu turun dan langsung mengetuk pintu rumah itu.

Sang pemilik rumah membuka pintunya, dia lalu tersenyum begitu memijat Abang ojek itu,lalu kemudian tatapannya beralih pada Shela.

" Siapa tuh?"

"Ini dia mau liat gitar lo, katanya mau dijual kan?"

"Oh iya, masuk-masuk," ujar laki-laki itu.

Begitu masuk, Shela langsung diarahkan sang pemilik rumah ke ruangan yang penuh dengan gitar koleksinya. Rumahnya boleh sederhana,tapi hobinya sangatlah mahal. Lihatlah terdapat beberapa gitar terpajang dengan baik di sana, dan hal itu memulai membuat Shela takjub.

"Ini semua koleksi Abang?" tanya Shela pada laki-laki itu.

"Iya, saya suka gitar dari jaman sekolah. Makanya saya mulai nabung buat koleksi gitar. Nah ini gitar pertama saya, sudah hampir dua puluh tahun menemani saya,"ujarnya sambil menunjuk sebuah gitar yang memang terlihat cukup usang dari gitar-gitarnya yang lain, namun terlihat masih bagus.

"Terus kenapa Abang jual gitarnya?"

Laki-laki itu tertawa." Saya cuma jual dua gitar aja,gak semua. Saya lagi butuh uang,makanya saya jual dua gitar itu."

Shela mengangguk." Ngomong-ngomong gitar mana yang mau Abang jual?" tanya Shela.

Laki-laki itu menunjukkan satu gitar akustik dan satu gitar listrik. Shela terkagum-kagum, dia pikir gitar yang akan dijual adalah gitar lama. Seperti yang dikatakan Abang ojek yang mengantarnya, gitar yang dijual terlihat masih bagus meskipun sudah terbilang cukup lama.

Setelah berbincang sebentar, akhirnya Shela memilih untuk membeli gitar akustik itu.

" Gitarnya saya terima ya bang, makasih. Kalau begitu saya permisi."

"Iya neng, sama-sama. Makasih juga udah mau beli gitar butut saya,"ujar laki-laki itu lalu terkekeh.

"Abang bisa aja, yaudah saya pamit ya bang."

Shela keluar dari rumah itu bersama Abang ojek yang tadi. Lalu mereka kembali ke perumahan Shela.

"Makasih ya bang udah anter saya," ujar Shela lalu memberikan selembar uang seratus ribu pada Abang ojek itu.

"Aduh neng gak ada kembalian saya."

Shela tersenyum." Gak apa-apa,buat abangnya aja semua."

"Eh, gak usah neng. Kebanyakan."

" Gak apa-apa bang, anggap aja ucapan terima kasih saya karena udah anter saya."

"Makasih banyak ya neng," ujar Abang ojek itu.

Shela mengangguk." Sama-sama."

1
Rita Rita
nyesel loe Marvin 🤣🤣
Rita Rita
suhu sengaja jadi cupu,,, good Shella
Rita Rita
ntar pada nyesel tuh sodara anjing kek gitu, terus aja Shella jaga jarak ga usah dipeduliin lagi sodara" mu itu
Rita Rita
ayok Shella,,, tunjukkan dan buktikan kalo kamu mampu tanpa siapa pun dikelilingi mu. keluarga memang Tunggak utama tapi kalo punya keluarga toxic kek gitu lebih sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!