Pernahkan kalian melihat angsa? Berenang dan menari dengan anggunnya di tengah sungai.
Tapi tahukah kalian? Di balik ketenangan tubuhnya di atas permukaan, Angsa berjuang mengayuhkan kakinya di dalam air agar dapat terlihat anggun di permukaan.
Begitulah hidup Gisella,
Tak ada yang tahu perjuangan hidupnya selama ini,
Pribadi yang selalu tersenyum riang di depan orang-orang, ternyata memiliki masa lalu yang kelam.
Bergumul dengan masa kecilnya yang selalu di rundung oleh teman-temannya, dan trauma masa kecilnya,
"Dasar anak pembawa sial!"
Ibunya sendiri mengatainya sebagai anak pembawa sial dan mengusirnya dari rumah.
Sang sopir membawa Gisella pergi dari rumah dan membuangnya di tempat antah berantah.
"Nak, kenapa menangis di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Gisella duduk menangis di pinggiran kebun.
Gisella kecil hanya menatapnya, lalu kembali meringkuk menangis pilu.
"Nak, ikut Emak mau?" tanya suara lembut itu lagi, mengulurkan tangannya kepada Gisella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Mulailah hari dengan senyuman, maka sepanjang harimu akan dipenuhi kebahagiaan.
^^^-anonim^^^
...----------------...
Senin pagi, walau udara dingin berselimut kabut
tetapi Ella sudah menyelesaikan tugasnya dari mulai mengisi bak mandi, mencuci pakaian, hingga membuat sarapan.
Hari ini adalah hari pertama Ella masuk sekolah. Ella sangat semangat hari ini, sehingga pagi-pagi buta dia sudah bangun dan melakukan pekerjaan rumah.
Ella sedang menyapu ketika Mak Mila keluar dari kamar.
"Jam berapa kamu bangun, La?" tanya Mak Mila saat melihat sarapan yang sudah tersedia di atas meja makan.
"Pagi Mak. Ella tadi bangun jam 3 subuh," jawab Ella riang.
"Oh iya! Kamu hari ini masuk sekolah kan?" ucap Mak Mila sambil menepuk dahinya.
"Iya Mak, ini hari pertama Ella masuk sekolah."
"Ya sudah, Emak sholat dulu ya." Mak Mila segera ke belakang untuk mandi.
Ella juga segera menyelesaikan tugasnya menyapu rumah, kemudian mengecek kembali tas sekolahnya.Setelah selesai, Ella masih menunggu Mak Mila selesai sholat, lalu mengantarnya ke kebun.
Ella sendiri bukan muslim, dan Mak Mila tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya, semua agama dan kepercayaan itu sama. Tidak masalah apapun agama Ella, Mak Mila tetap sayang terhadap Ella.
"Mak, Ella antar sampai sini ya, Emak hati-hati ke pasarnya," pesan Ella sambil mencium telapak tangan Mak Mila.
"Iya, belajar yang rajin ya. Uang jajanmu tadi Emak taruh di bawah kotak makan,"ucap Mak Mila sambil berlalu.
Setelah Mak Mila berlalu, Ella segera berlari pulang ke rumah, kemudian bersiap-siap sekolah.
"Waduh, roknya kebesaran!" ucap Ella.
Ela segera mencari peniti, kemudian mengencangkan rok tersebut baru memakai tali pinggang. "Siap sudah!" gumamnya tersenyum.
###
Ella berjalan dengan riang menuju sekolah. Padahal hari masih pagi, Ella sudah sampai di sekolah yang masih sangat sepi. Ella mencari kelas 7B. Baru ada beberapa anak didalam kelas. Ella mengambil kursi di bagian depan karena masih kosong.
Ella duduk sendiri karena belum ada yang dia kenal. Sambil membaca buku pelajaran, dia duduk dengan tenang.
"Halo, kursine kosong to?" sebuah suara terdengar dari depan. Ella mengalihkan pandangamnha dari buku di genggamannya dan melihat seraut wajah manis di depannya.
*Hai, kursinya kosong kan?
"Eh Iya masih kosong, monggo," jawab Ella ramah.
"Kenalin namaku Irawati, biasa dipanggil Ira." Ira menyapa menggunakan bahasa Jawa.
"Aku Gisella, panggil aja Ella."
"Rumahmu di mana, La?" tanya Ira setelah duduk di kursi kosong di sisi Ella.
"Dekat kok, di belakang sekolahan, masik gang sedikit," jawab Ella dengan tersenyum.
"Wah, tetanggaku dong!" ucap Ira tertawa senang.
"Rumahmu yang mana?" Ira masih bertanya.
"Aku tinggal di rumah Mak Mila," jawab Ella.
"Ooo... Kamu ponakannya Mak Mila yang itu to?" ujar Ira membulatkan mulutnya
"Iya," jawab Ella.
"Kalau gitu nanti pulang sekolah barengan yuk!" ajak Ira.
Teng..Teng..Teng..
Bel masuk berkumandang menggema di seluruh penjuru sekolah. Para murid pun berdesakan menuju ke lapangan sekolah. Seperti pada umumnya, hari pertama sekolah di mulai dengan upacara bendera.
"Yuk La, kita ke lapangan." ujar Ira melangkah keluar kelas diikuti Ella.
Terlihat lapangan sudah dipadati siswa siswi berseragam putih biru.
Upacara Senin yang rutin dilakukan pihak sekolah pun berjalan tertib, tidak lupa sambutan kepala sekolah kepada murid baru kelas 7.
Setelah upacara selesai, seluruh murid kembali ke kelas masing-masing. Setelah para murid sudah duduk rapi di dalam kelas, seorang wanita paruh baya berseragam coklat masuk ke dalam kelas.
"Pagi anak-anak, selamat kepada kalian yang sekarang sudah menduduki bangku SMP. Selama satu tahun kedepan, Ibu akan menjadi wali kelas 7B. Kalian bisa panggil ibu dengan Bu Wati. Mohon kerja samanya, ya."
Ibu Wati, wali kelas Ella mulai membacakan presensi yang berjumlah 28 nama, dan melakukan ritual perkenalan antara murid dan guru.
Karena masih hari pertama, sekolah pun memulangkan siswa siswi lebih cepat karena pelajaran baru dimulai besok.
###
"La mau mampir dulu?"
"Makasih Ra, aku langsungan aja ya," pamit Ella melambaikan tangan sambil terus berjalan ke rumahnya.
Sampai di rumah, Ella segera mengganti seragam lalu mencuci piring kotor. Setelah semua beres, Ella merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan tertidur.
Ella terbangun begitu mendengar suara pintu dibuka. Rupanya Ia tertidur cukup lama. Ella segera berlari keluar dan melihat Mak Mila baru masuk ke dalam rumah.
"Loh udah pulang to La?" tanya Mak Mila.
"Iya Mak. Tadi cuma perkenalan sekolah jadi pulang cepat" jawab Ella segera membantu membawa barang ke dapur.
"Tuh La, Emak tadi belanja lebih mau buat donat," ujar Mak Mila berlalu menuju ke belakang.
"Wah, Emak bisa buat donat ya?" tanya Ella senang.
Ella segera membuatkan teh hangat dan menyiapkan makanan untuk Mak Mila.
"Mak mau sholat ya? Abis itu kita makan ya, sudah Ella siapkan."
"Iya, Emak sholat dulu" jawab Mak Mila masuk ke kamarnya.
"Mak, nanti ajarkan Ella cara buat donat, ya. Soalnya Ella suka banget makan donat!" ucap Ella dengan mata berbinar. Sudah berapa bulan ya Ella tak makan donat?
"Iya, sudah kita makan dulu, jangan lupa berdoa La" ucap Emak.
Mereka pun menikmati santapan sederhana merrka dengan rasa bersyukur.
"Emak nggak istirahat dulu?" tanya Ella yang melihat Mak Mila sedang bersiap-siap membuat donat.
"Istirahatnya abis buat donat aja La" ucap Mak Mila.
Terlihat Mak Mila mulai membuat donat dari bahan kentang, tepung dan ada beberapa bahan yang Ella baru tahu. Ella mengamati cara Emak membuat donat.
"Sudah. Kita diamkan dulu adonannya. Jangan kamu buka ya La, biar ditutup kain basah ini. Setengah jam lagi baru kita olah," ucap Mak Mila.
Mak Mila berlalu ke kamar dan mulai merebahkan tubuhnya, Ella pergi ke belakang mencuci semua perabot dan mengisi bak mandi.
Setengah jam kemudian Mak Mila mulai menguleni adonan donat tadi lalu dan dibentuk bulat-bulat. Ella memperhatikan semuanya dengan teliti dan seksama.
"Nah didiamkan dulu La, kita panasin minyak dulu yuk."
Ella mengamati cara Mak Mila menggoreng donat menggunakan tusuk sate.
"Harusnya pake sumpit La muter donat di wajannya. Tapi karena nggak ada, ya kita pakai yang ada ya."
Ella ingin mencoba menggoreng donat. Mak Mila pun menyerahkan bagian menggoreng ke Ella.
Ella menjadi semangat karena bisa menggoreng donat kesukaannya.
Setelah matang, donat langsung dibalurkan dengan gula halus di atas piring.
Donat-donat hasil gorengannya disusun rapi di atas piring, Ella tersenyum gembira melihat hasil karyanya.
Dibawanya donat tersebut ke atas meja, dilihat Mak Mila sedang rebahan di kamar.
Melihat donat itu Ella jadi terkenang akan Alex sahabatnya, "gimana ya kabar Alex.. Sayang sekali aku tak bawa ponsel.. Semoga Alex baik-baik dan hidup bahagia," gumannya.
Sedangkan di Malaysia, Alex bingung karena tidak bisa menghubungi Gisella. Nomor yang ia tuju selalu tidak aktif.
"Ada apa ya dengan Gisel... Semoga dia baik-baik saja.." batinnya.
###
Toni, papa Gisella, sudah kembali dari rumah sakit. Ia menanyakan keberadaan Gisella.
"Ma, sebenarnya Gisel kemana?" tanya Toni kesal.
"Gisel kabur Pa. Waktu papa kecelakan kemarin Mama sempat marahin dia, terus dia pergi ninggalin rumah," jawab Amira.
"Ma..! Kenapa kamu marahin Gisel? Dia bggak salah apa-apa!" bentak Toni kaget mendengar ucapan istrinya.
"Mama waktu itu emosi juga syok melihat Papa masuk ICU, jangan salahin Mama dong, Pa!" jawab Amira kesal.
"Ma.. Gisel itu putrimu ... Kamu yang mengandungnya selama 9 bulan. Kok kamu tega sekali, Ma ..." ucap Toni terkejut atas sikap Amira.
"Nggak! Gara-gara melahirkannya, orang tuaku meninggal!!" isak Amira teringat saat persalinan Gisella. Papa dan mamanya kecelakaan saat perjalanan menuju rumah sakit.
"Ma ... itu bukan salah Gisel, itu sudah takdir," ucap Toni kaget mendengar bahwa Amira istrinya sampai detik ini masih menyalahkan kelahiran Gisel.
Amira menangis tersedu-sedu mengingat bagaimana kedua orang tuanya meninggal dan Randy harus masuk ke rumah sakit dan sempat koma selama satu bulan. Karena hal itu, Amira membenci Gisella dan menganggapnya anak pembawa sial.
Toni diam melihat Amira menangis. Toni tahu sekali hubungan Amira dan orang tuanya begitu dekat. Toni hanya bisa menghela nafas panjang melihatnya.
Diam-diam, Toni mengerahkan orang untuk mencari keberadaan Gisel, tapi tak ada satupun kemajuan dari penyelidikannya. Gisel bagaikan hilang ditelan bumi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah teman teman mengejek Eh kakaknya juga ikutan ...
Tapi YG membuat Tambah sedih mama nya kok cuek Amat...