Raja Iblis Vorthar adalah penguasa seluruh wilayah kegelapan yang ditakuti oleh para dewa dan manusia. Setelah perang besar yang memakan korban tak terhitung, ia akhirnya dikalahkan dan dikurung selama ribuan tahun. Namun, kutukan para dewa tak mampu menghapus keberadaannya sepenuhnya.
Saat terbangun kembali, Vorthar tidak lagi berada di istana kegelapan yang megah. Ia terlahir kembali sebagai seorang anak biasa di dunia manusia yang damai dan penuh dengan para kultivator yang menganggap kekuatan kegelapan sebagai hal terlarang. Dengan ingatan dan kekuatan dasar yang masih tersimpan, ia harus menavigasi dunia yang memandangnya sebagai musuh.
Tanpa teman dan dengan banyak musuh yang mengincar nyawanya, Vorthar mulai menapaki jalan kembali menuju puncak kekuatan. Ia tidak hanya ingin memulihkan kekuatannya sebagai Raja Iblis, tetapi juga mencari tahu rahasia di balik perang kuno yang menghancurkan dunianya. Dalam perjalanannya, ia akan bertemu dengan sekutu yang tak terduga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jebakan di lembah angin
Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Penatua Ren, Ryn menerima sebuah surat yang diselipkan di bawah pintu kamarnya saat malam hari.
Surat itu tidak bertanda tangan, namun isinya tertulis:
"Telah ditemukan sebuah gua kuno di Lembah Angin Terlarang yang dipercaya menyimpan peninggalan milik masa lalu. Banyak pengamat dari sekte lain sudah mulai bergerak ke sana. Jika kamu ingin mendapatkan kesempatan ini, pergilah segera sebelum tempat itu dikosongkan."
Ryn memegang surat itu dan menatapnya dengan tajam. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Lembah Angin Terlarang bukanlah tempat yang pernah disebutkan dalam sejarah, dan tidak ada peninggalan terkenal yang pernah ditemukan di sana sebelumnya.
Namun di dalam dirinya, rasa ingin tahu dan keinginan untuk menemukan lebih banyak kebenaran membuatnya ragu. Ia baru saja mendapatkan pengetahuan tentang masa lalunya, dan setiap kesempatan untuk menemukan petunjuk harus ia manfaatkan sebaik mungkin.
Ia segera bertemu dengan Zarathos di tempat rahasia.
"Ada seseorang yang ingin aku pergi ke Lembah Angin Terlarang," kata Ryn sambil menunjukkan surat itu. "Menurutmu, apakah ini jebakan?"
Zarathos membaca surat itu dengan teliti, lalu mengangguk pelan. "Ini pasti rencana Kairon dan kelompoknya. Mereka tahu bahwa kamu ingin mencari benda-benda kuno, jadi mereka sengaja mengirim pesan palsu untuk menjebakmu di tempat berbahaya."
"Tapi kenapa mereka melakukan ini?" tanya Ryn.
"Karena mereka takut padamu," jawab Zarathos tegas. "Mereka tahu bahwa kamu sudah jauh melebihi mereka, dan mereka tidak ingin melihatmu tumbuh menjadi seseorang yang bisa menyaingi kekuasaan sekte bahkan Persekutuan Dewa. Mereka berharap kamu akan mati atau terluka parah di sana."
Ryn terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Baiklah. Jika itu jebakan, maka aku akan mengubahnya menjadi kesempatan. Aku akan pergi ke sana, dan aku akan melihat siapa yang benar-benar mencoba menjebakku."
"Berhati-hatilah," peringat Zarathos. "Lembah Angin Terlarang terkenal dengan badai yang sangat kuat dan makhluk-makhluk buas yang hidup di sana. Bahkan murid tingkat Master pun bisa berbahaya di sana."
"Aku siap," jawab Ryn dengan yakin.
Keesokan harinya, saat siang hari, Ryn berpamitan kepada Penatua Ren dengan alasan ingin berkeliling untuk mencari pengalaman tambahan. Penatua Ren hanya mengangguk dan memberinya peringatan agar tetap berhati-hati, tanpa menanyakan lebih lanjut.
Ryn berjalan meninggalkan kompleks sekte dan menuju arah Lembah Angin Terlarang. Sepanjang jalan, ia bisa merasakan bahwa ia sedang diawasi dari jauh. Ia tahu bahwa Kairon dan kelompoknya pasti mengikutinya diam-diam untuk memastikan rencana mereka berjalan sesuai keinginan.
Setelah berjalan selama sehari semalam, akhirnya Ryn tiba di Lembah Angin Terlarang. Pemandangan di sana benar-benar mengerikan. Angin bertiup dengan kecepatan tinggi, membawa debu dan batu kecil yang bisa melukai kulit. Langit tampak selalu berwarna abu-abu gelap, dan suara angin itu terdengar seperti suara bisikan orang-orang yang sedang menderita.
Di tengah lembah itu terdapat sebuah tebing tinggi yang ada cerita di baliknya bahwa itulah lokasi yang tertulis di surat itu.
Ryn tidak langsung masuk. Ia berhenti di pinggiran dan mulai mengamati lingkungan sekitarnya. Ia menyamarkan keberadaannya sepenuhnya, namun tetap menjaga indranya tetap terbuka lebar.
Tidak lama kemudian, ia mendengar suara langkah kaki dari belakang. Dari balik bukit kecil, Kairon dan empat temannya muncul, bersembunyi dan mengamati Ryn dari kejauhan.
"Lihat, dia benar-benar datang," bisik Kairon dengan suara rendah. "Sekarang kita tunggu sampai dia masuk lebih dalam, lalu kita akan memicu jebakan alam di sini dan membuat badai angin yang kuat agar dia tidak bisa keluar."
Namun Ryn sudah mendengar percakapan mereka. Ia tidak marah, hanya merasa sedikit kecewa karena murid sekte yang seharusnya belajar kebaikan malah menggunakan cara seperti ini.
"Kalau kalian ingin bermain, aku akan mengikuti," gumam Ryn pelan.
Ia berjalan perlahan masuk ke dalam lembah, seolah tidak menyadari apa yang sedang direncanakan oleh Kairon dan kelompoknya. Saat ia sudah cukup jauh dari pinggiran, tiba-tiba angin di sekitarnya berubah menjadi lebih kuat. Debu beterbangan, dan tebing di sebelahnya mulai mengeluarkan suara gemuruh.
"Sudah waktunya!" teriak Kairon dari kejauhan.
Sesuai rencana mereka, mereka telah memicu sihir alam yang terkunci di lembah itu, menciptakan badai angin yang sangat dahsyat yang bisa menghancurkan apa pun di jalannya. Angin itu tidak hanya kuat, tapi juga sarat dengan energi beracun yang bisa melumpuhkan energi kultivator.
Beberapa pemuda dari kelompok Kairon bersorak puas melihat kejadian itu.
"Bagus! Sekarang dia akan terjebak di sana dan tidak akan pernah kembali!"
Namun saat badai itu hampir menyentuh tubuh Ryn, ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Daripada mencoba menahan angin itu, ia mengeluarkan energi gelapnya yang disamarkan menjadi energi alam yang stabil dan kuat.
"Kamu bukan bahaya bagiku," kata Ryn dengan suara yang bisa didengar meskipun tertutup suara angin.
Energi itu mengalir keluar dan tidak hanya menahan badai, tapi mulai mengatur aliran angin itu menjadi teratur dan tenang. Angin yang tadinya menghancurkan kini perlahan mereda dan berubah menjadi hembusan yang lembut.
Kairon dan kelompoknya tertegun melihat pemandangan itu. Mereka tidak percaya mata mereka.
"Itu... itu tidak mungkin!" teriak Luka dengan suara gemetar. "Angin di sini sudah terkunci ribuan tahun lalu. Tidak ada yang bisa mengendalikannya kecuali..."
Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, Ryn sudah muncul di depan mereka. Badai angin sudah hilang sepenuhnya, dan ia berdiri di sana dengan pakaian yang masih bersih dan wajah yang tenang.
"Kalian pikir ini akan bisa menjebakku?" tanya Ryn dengan dingin.
Kairon dan teman-temannya menjadi pucat pasi. Mereka tidak berani melawan Ryn, karena mereka tahu bahwa kekuatannya jauh melebihi perkiraan mereka.
"Kami... kami hanya ingin menguji kamu," kata Kairon mencoba menyembunyikan rasa takutnya. "Kami tidak bermaksud jahat."
Ryn menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajam. "Di sekte diajarkan bahwa kultivator harus menggunakan kekuatannya untuk melindungi, bukan untuk menjebak dan menyakiti sesama. Kalau kalian ingin bertarung, lakukanlah dengan cara yang benar dan terbuka, bukan menggunakan cara kotor seperti ini."
Kairon tidak bisa menjawab apa pun. Ia hanya bisa menunduk malu dan marah pada dirinya sendiri karena telah kalah bahkan sebelum pertarungan dimulai.
"Pulanglah," kata Ryn akhirnya. "Jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi. Kalau tidak, aku tidak akan lagi bersikap lembut."
Kelima pemuda itu segera berbalik dan lari meninggalkan tempat itu secepat mungkin, tanpa berani berkata apa pun lagi.
Setelah mereka pergi, Ryn melangkah mendekati tebing tinggi di tengah lembah. Ia tahu bahwa sebenarnya tidak ada peninggalan di sana, namun ia ingin melihat apa yang tersembunyi di balik struktur batu itu.
Dengan kekuatan indranya, ia menemukan sebuah celah kecil di tebing yang sebelumnya tidak terlihat oleh mata biasa. Ia masuk ke dalamnya dan menemukan sebuah ruangan kecil yang berisi sebuah batu nisan batu tua dengan tulisan yang sama dengan yang ada di Area Terlarang.
Di atas batu nisan itu tertulis:
"Di sini tertidur pengawal Wilayah Kegelapan yang setia. Hanya mereka yang memiliki hati yang benar dan kekuatan yang sejati yang boleh mendekat."
Ryn menyentuh batu itu dan sekali lagi, simbol-simbol sihir menyala. Di bawah batu nisan itu, ia menemukan sebuah gulungan kertas lain yang berisi catatan tentang perang terakhir dan bagaimana Vorthar dikhianati oleh orang-orang yang ia percayai.
Ryn mengambil gulungan itu dan menyimpannya. Ia tahu bahwa semua potongan teka-teki ini perlahan mulai lengkap.
Saat ia kembali ke pinggiran lembah, matahari sudah mulai terbenam. Ia tidak kembali ke sekte malam itu, melainkan beristirahat di luar untuk merenungkan apa yang baru saja ia temukan.
Malam itu, Ryn tidak tidur. Ia membaca catatan itu hingga fajar menyingsing, semakin yakin bahwa perjalanannya menuju kebenaran dan balas dendam adalah jalan yang benar.