Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Tebasan Kehampaan di Gerbang Nol
BR RAAAK!
Lengan batu raksasa sang The Long-Armed Stone Lurker menghantam pilar tempat Askara berdiri hingga hancur berkeping-keping. Serpihan batu berhamburan ke udara, memicu kepulan debu tebal di tengah kabut hitam. Namun, sebelum reruntuhan itu menyentuh tanah, sosok Askara sudah bergerak bagaikan kilat. Dengan kelincahan fisik yang luar biasa, pemuda itu melompat dari satu serpihan batu melayang ke serpihan lainnya, mendarat dengan anggun beberapa meter di belakang sang monster.
Monster Tangan Panjang itu meraung murka karena serangannya luput. Sepasang tangannya yang elastis dan meliuk-liuk bagaikan ular raksasa kembali terangkat ke udara.
WUSSS! WUSSS!
Lengan kanan dan kirinya bergantian mencambuk udara, melancarkan pukulan beruntun yang menghancurkan pepohonan mati dan batuan gersang di sekitar area pertempuran. Askara melangkah mundur secara presisi, memiringkan tubuh fisiknya hanya dalam jarak beberapa sentimeter untuk menghindari setiap hantaman masif tersebut. Benturan lengan batu itu pada tanah menciptakan getaran hebat yang sanggup meruntuhkan keseimbangan petarung biasa, namun pijakan kaki Askara tetap kokoh tak tergoyahkan.
"Sihir batu, ya? Mari kita lihat seberapa pekat energimu," gumam Askara dingin.
Sang penjaga Gerbang Nol menghentakkan kedua kakinya ke bumi. RUMBLE! Lingkaran sihir bercahaya cokelat keemasan merekah di bawah tanah. Dalam sekejap, puluhan duri batu tajam meluncur keluar dari bawah tanah secara mendadak, mengurung pergerakan Askara dari segala penjuru.
Menghadapi jebakan sihir batu tersebut, Askara tidak melompat menghindar. Ia justru mengulas senyuman tipis di balik tudungnya. Ia menegakkan Sunya, membiarkan mata pisau abu-abu gelap buatan Moses menahan salah satu benturan duri batu raksasa yang menerjang langsung ke arah dadanya.
TRANG!
Bunga api berhamburan nyaring. Tepat saat permukaan duri batu magis itu menyentuh bilah Sunya, reaksi ajaib yang dinamai Moses sebagai "kehampaan penyerap" seketika bekerja. Pendaran sihir tanah cokelat keemasan pada duri batu tersebut seperti disedot secara paksa oleh keausan gravitasi Sunya, mengalir deras menelusuri bilah pedang dan merembes lancar menuju wadah kosong di dalam jiwa Askara.
Duri batu raksasa yang kehilangan energi magisnya itu seketika menjadi rapuh dan hancur berantakan menjadi debu biasa!
Bilah abu-abu gelap Sunya kini berkilau penuh oleh pendaran sihir tanah yang tebal dan memadat.
Askara merapatkan jemarinya pada gagang pedang, memanggil sisa ingatan akan pelajaran penting dari Moses. Jangan memuntahkannya secara brutal... kompresi energi ini setipis rambut, namun setajam silet.
Askara mengatupkan rahangnya, memfokuskan kendali mentalnya pada energi tanah yang baru saja diserap.
Pendaran cokelat keemasan yang semula membungkus kasar bilah pedang perlahan menyusut, memadat secara dramatis hingga membentuk satu garis tipis bersinar yang sangat stabil tepat di sepanjang mata pisau Sunya. Ketajaman dan kerapatan molekul pada ujung pedang itu melonjak ke tingkat yang sangat ekstrem.
GRRRR...
Monster Tangan Panjang itu tampak menyadari bahaya yang mengancam. Ia mengerahkan seluruh sisa sihir tanahnya, membesarkan kedua lengan batu raksasanya hingga dua kali lipat, lalu menghantamkan keduanya secara bersamaan ke arah Askara untuk meremukkan pemuda itu dari dua sisi.
"Gerbang Nol... berakhir di sini," ucap Askara dengan nada suara yang teramat dingin dan datar.
S RA AANG!
Askara melesat maju menembus pertahanan duri tanah yang tersisa. Kecepatannya membelah bayangan kabut hitam.
Sebelum dua lengan batu masif itu sempat menjepit tubuh fisiknya, Askara memutar poros tubuhnya dan mengeksekusi satu tebasan melingkar yang anggun, melintasi kedua lengan raksasa sang monster.
SLA AP!
Tidak ada benturan keras yang terdengar. Lapisan sihir tanah setipis rambut pada Sunya memotong kedua lengan batu tebal milik monster itu dengan sangat mudah dan rapi, layaknya menebas jerami lunak.
ROAAARRR!
Monster Tangan Panjang itu melepaskan jeritan kesakitan yang sangat mengerikan saat sepasang lengan raksasanya terputus dan jatuh menghantam tanah dengan dentuman berat. Sebelum makhluk itu sempat meregenerasi atau meloloskan diri kembali ke dalam tanah, Askara menghentakkan kakinya kuat-kuat, melayang tinggi ke udara di atas kepala sang monster.
Dengan membalikkan posisi genggaman tangannya, Askara menjatuhkan tubuh fisiknya ke bawah dan menusukkan Sunya tepat di tengah-tengah retakan batu di dada sang penjaga yang menjadi pusat inti kehidupannya.
JLEB!
Bilah abu-abu gelap Sunya menancap dalam hingga ke gagangnya. Efek penyerapan mutlak dari meteorit amfibi mendadak bergejolak hebat. Energi kehidupan dan sisa-sisa sihir magis milik monster itu terhisap habis dalam hitungan detik, tersalurkan langsung ke dalam wadah kosong Askara. Tubuh batu raksasa sang penjaga Gerbang Nol seketika mengering, retak di berbagai sisi, dan runtuh sepenuhnya menjadi tumpukan pasir dan batu berhamburan.
Kring!
Askara mendarat dengan stabil di atas tanah, lalu menyarungkan kembali Sunya ke dalam sarung kulit di pinggangnya dengan satu gerakan yang sangat tenang.
Begitu sang penjaga Gerbang Nol tewas, dinding kabut hitam tebal yang menyelimuti wilayah terluar hutan perlahan-lahan menyibak dan memudar. Cahaya redup menembus celah-celah pohon raksasa, memperlihatkan sebuah jalan setapak berbatu yang membentang lurus menuju area hutan yang lebih dalam—sebuah jalur yang mengarah langsung ke sektor pertempuran berikutnya: Gerbang Satu, tempat Double-Headed Vanguard menanti.
Askara membetulkan letak tudung jubah hitamnya, meraba gagang Sunya yang terasa hangat di pinggangnya, lalu kembali melangkah maju tanpa ragu sedikit pun demi menembus batas kekuatannya.