Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab¹⁶
Suasana ruang sidang berubah semakin hening ketika sidang memasuki agenda pembuktian. Semua mata tertuju kepada kedua belah pihak yang duduk saling berhadapan. Erwin sesekali melirik ke arah Naura, tetapi wanita itu tetap tenang menatap berkas di depannya seolah tidak terusik sedikit pun.
Ketua majelis hakim mempersilakan kuasa hukum Naura menyampaikan bukti-bukti tambahan.
Pengacara keluarga Ardynata berdiri dengan tenang. "Yang Mulia, selain bukti mengenai kedekatan klien kami dengan kedua anaknya, hari ini kami juga akan menyampaikan kondisi finansial, lingkungan tempat tinggal, serta latar belakang klien kami yang selama ini belum pernah diketahui oleh pihak tergugat."
Erwin mengernyit tipis, latar belakang Naura?
Ia melirik Naura. Selama delapan tahun menikah, ia merasa sudah mengetahui seluruh kehidupan wanita itu. Naura hanyalah pegawai kantoran biasa yang hidup sederhana dan mengaku tidak memiliki keluarga.
Lalu... latar belakang apa lagi yang dimaksud?
Pengacara itu menyerahkan beberapa map kepada majelis hakim.
"Pertama, kami menyerahkan surat pengangkatan resmi klien kami sebagai Direktur Strategi Ardynata Group."
Seisi ruangan langsung berbisik pelan.
"Direktur?"
"Ardynata Group?"
"Itu perusahaan konglomerat itu, kan?"
Davina langsung menoleh kepada Erwin dengan wajah bingung, sementara Erwin masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.
Ketua majelis hakim membaca dokumen tersebut beberapa saat sebelum mengangguk. "Dokumen dinyatakan sah."
Pengacara kembali melanjutkan. "Klien kami juga memiliki penghasilan tetap, fasilitas tempat tinggal yang layak, serta lingkungan keluarga yang mendukung tumbuh kembang kedua anaknya."
Layar proyektor kemudian dinyalakan, foto demi foto mulai ditampilkan. Sebuah mansion luas dengan taman yang asri. Kamar Laura yang dipenuhi rak buku, meja belajar, dan boneka-boneka kesukaannya. Serta kamar Lionel dengan berbagai mainan edukatif dan sudut membaca kecil.
Foto berikutnya memperlihatkan Laura dan Lionel sedang sarapan bersama Naura, tertawa sambil berebut roti. Ada pula foto saat Naura mengantar keduanya ke sekolah, kemudian menemani mereka belajar di malam hari.
Melihat foto-foto itu, wajah Erwin perlahan berubah. Anak-anaknya, mereka terlihat jauh lebih ceria dibanding beberapa minggu terakhir saat masih tinggal di mansion Gentala.
"Klien kami tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan materi anak-anak," lanjut sang pengacara. "Namun juga memberikan pendampingan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari."
Ia berhenti sejenak sebelum membuka map terakhir. "Selanjutnya, kami akan menjelaskan identitas lengkap klien kami."
Jantung Erwin tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Pengacara itu menoleh ke arah Naura sesaat sebelum kembali menghadap majelis hakim. "Nama lengkap klien kami adalah Naura Anjani Ardynata, cucu kandung sekaligus pewaris sah keluarga Ardynata."
Kalimat itu jatuh bagai petir di tengah ruangan.
"Apa?!"
"Ardynata?"
"Jadi dia... pewaris keluarga Ardynata?"
Suara keterkejutan terdengar dari berbagai sudut ruang sidang.
"Tidak mungkin...." Davina sampai membelalakkan mata.
Sementara Erwin membeku di tempat duduknya, Ia merasa seperti kehilangan kemampuan untuk berpikir. Ardynata, nama itu kembali terngiang di kepalanya. Nama perusahaan yang kemarin disebut dalam berita bisnis—Ardynata Grup. Nama yang belakangan sering muncul sebagai salah satu grup perusahaan terbesar di negara ini.
Ketua majelis hakim kembali membaca dokumen yang diserahkan. "Terlampir akta kelahiran, kartu keluarga terbaru, hasil verifikasi administrasi kependudukan, serta dokumen silsilah keluarga yang telah dilegalisasi. Dokumen ini, dinyatakan sah."
Pengacara Naura kembali berbicara. "Delapan tahun lalu, klien kami meninggalkan keluarga karena konflik pribadi. Saat menikah dengan tergugat, beliau sengaja tidak menggunakan identitas keluarganya. Semua itu merupakan pilihan pribadi, bukan karena beliau tidak memiliki keluarga."
Ruangan kembali dipenuhi bisik-bisik.
"Jadi selama ini..."
"Pak Erwin bahkan tidak tahu istrinya berasal dari keluarga Ardynata?"
"Astaga...."
Davina merasakan telapak tangannya mulai berkeringat. Pikirannya langsung melayang pada hari ketika ia mempermalukan Naura di lobi Gentala Group. Hari ketika ia menyebut Naura wanita gagal dan saat ia menghina tubuh wanita itu. Ternyata wanita yang ia hina habis-habisan itu adalah pewaris salah satu kerajaan bisnis terbesar di negeri ini.
Wajah Davina memucat drastis.
"Mas..." bisiknya lirih pada Erwin.
Namun Erwin sama sekali tidak mendengar, tatapannya masih terpaku kepada Naura. Berbagai potongan kenangan bermunculan di kepalanya. Naura yang selalu menolak membeli barang-barang mahal, dan tidak pernah meminta perhiasan. Bahkan Naura rela memakai tas lama bertahun-tahun.
Naura yang selalu berkata, "Aku tidak butuh yang mewah."
Saat itu Erwin mengira istrinya memang berasal dari keluarga sederhana. Kini ia baru sadar jika kemewahan bukan bagian dari gaya hidup Naura, meski wanita itu mampu memilikinya.
Naura sendiri tetap duduk dengan tenang, wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa bangga atas identitas yang baru saja terungkap. Baginya, nama Ardynata bukan alat untuk menyombongkan diri. Nama itu adalah sebuah tanggung jawab.
Ketua majelis hakim kemudian mengalihkan pandangan kepada pihak Erwin.
"Apakah tergugat ingin memberikan tanggapan atas bukti yang diajukan?"
Pengacara Erwin berdiri perlahan, Ia tampak kehilangan sebagian kepercayaan dirinya setelah mengetahui identitas lawan yang sebenarnya. "Kami... tidak keberatan mengenai identitas maupun kondisi finansial penggugat."
Kalimat itu membuat Erwin menarik napas dalam-dalam.
Tidak keberatan?
Artinya, semua bukti tersebut memang tidak dapat dibantah.
Erwin kembali memandang Naura, muncul sebuah pertanyaan yang terus berputar di dalam kepalanya.
Siapa sebenarnya wanita yang selama delapan tahun hidup bersamanya itu?
Dan pertanyaan yang jauh lebih menyakitkan segera menyusul.
Kalau sejak awal Naura adalah pewaris keluarga Ardynata... mengapa wanita itu rela meninggalkan semua kemewahan, hanya untuk menikah dengannya?
Pertanyaan itu terus menggantung di benak Erwin.
"Sidang hari ini kami tunda dan akan dilanjutkan pada pekan depan, dengan agenda pemeriksaan saksi dari kedua belah pihak. Sidang dinyatakan selesai!"
Tok!
Hakim mengetukkan palunya, suara palu menggema di ruang sidang menandai berakhirnya persidangan hari itu.
Saat semua orang mulai berdiri meninggalkan ruang sidang, Erwin masih duduk terpaku di kursinya. Baru hari ini ia menyadari bahwa selama delapan tahun, ia ternyata tidak pernah benar-benar mengenal perempuan yang pernah ia sebut sebagai istrinya.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂