NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Trrrrt! Trrrrt!

Suara dering telepon dari saku celana Pak Joko terdengar sangat nyaring memecah ketegangan di depan kios Arka.

Pak Joko mendecak kesal dan berniat mematikan panggilan itu karena merasa terganggu.

Namun matanya langsung membelalak lebar saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.

Itu adalah panggilan langsung dari Direktur Utama Grand Malika City, atasan tertinggi di gedung ini yang hanya berada satu tingkat di bawah Nona Clara.

Dengan tangan sedikit gemetar, Pak Joko segera menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, selamat siang Pak Direktur, ada yang bisa saya bantu?" Sapa Pak Joko dengan nada menjilat yang sangat kentara.

Namun balasan dari seberang sana bukanlah sapaan ramah, melainkan teriakan kemarahan yang luar biasa keras.

"Joko bodoh, apa yang kau lakukan pada kios Dapur Arka Absolute di lantai tiga?!" Bentakan keras itu bahkan terdengar sampai ke telinga Arka dan Nisa.

"S-saya sedang menindak kios yang melanggar aturan menggunakan bahan ilegal Pak." Jawab Pak Joko dengan suara bergetar dan keringat dingin.

"Tutup mulutmu babi serakah, pihak keamanan baru saja menyerahkan rekaman CCTV saat kau menerima amplop suap dari pemilik Bebek Bakar di toilet!"

Mendengar kalimat itu, lutut Pak Joko seketika lemas dan wajahnya berubah sepucat kertas HVS.

Pak Anton dan Bu Rina yang berdiri di belakangnya juga ikut memucat karena sadar aksi kotor mereka telah terbongkar.

"Nona Clara sendiri yang melihat rekaman itu dan dia sangat murka!" Suara Direktur itu terus menghantam mental Pak Joko.

"Mulai detik ini juga kau dipecat dengan tidak hormat, kemasi barangmu dan angkat kaki dari mal ini sebelum aku melaporkanmu ke polisi atas tuduhan korupsi!"

Tut tut tut.

Panggilan itu terputus secara sepihak menyisakan keheningan yang sangat canggung di depan konter Arka.

Pak Joko menjatuhkan papan klipnya ke lantai dengan tatapan kosong seolah baru saja divonis hukuman mati.

"P-Pak Joko, bagaimana nasib penutupan kios anak ini?" Tanya Pak Anton dengan suara parau mencoba mencari kepastian.

"Tutup mulutmu Anton, gara-gara suap recehanmu itu karirku hancur berantakan!" Pak Joko berteriak marah ke arah Pak Anton.

Pak Joko kemudian berbalik menatap Arka dengan tatapan memohon ampun, sangat kontras dengan arogansinya semenit yang lalu.

"Mas Arka, tolong bicarakan pada Nona Clara untuk memaafkan saya, saya khilaf Mas." Pak Joko memohon dengan menyatukan kedua tangannya.

"Maaf Pak, saya hanya penyewa biasa yang tidak punya hak ikut campur urusan manajemen." Arka menjawab dengan senyum dingin tanpa belas kasihan sedikit pun.

Pak Joko akhirnya berjalan gontai meninggalkan area pujasera dengan langkah diseret bak mayat hidup.

Arka kemudian menatap Pak Anton dan Bu Rina yang kini terlihat sangat ketakutan.

"Nah Bapak dan Ibu senior, apa masih ada keluhan palsu lain tentang masakan saya?" Arka melipat tangannya di dada dengan gaya mengejek.

"T-tidak ada, kami minta maaf anak muda." Pak Anton menundukkan kepalanya dalam-dalam karena sangat malu dilihat oleh pelanggan lain.

Keduanya pun buru-buru kembali ke kios mereka masing-masing dengan wajah merah padam menahan malu.

Sorak sorai pelanggan yang sedang mengantre langsung pecah melihat keadilan ditegakkan dengan sangat instan.

Prok prok prok!

"Luar biasa Mas Arka, jangan mau ditindas oleh senior yang iri hati!" Teriak salah satu pelanggan pria menyemangati.

Arka tersenyum lebar dan kembali menghadap ke kompor gasnya yang sudah menyala.

"Ayo Nisa, kita mulai pertunjukan makan siang ini, bersiaplah untuk sibuk." Ucap Arka memberikan semangat pada asisten barunya.

"Siap laksanakan Mas Bos!" Nisa menjawab dengan senyum ceria dan mata berbinar-binar.

Wushhh! Srenggg!

Atraksi memasak Arka kembali dimulai, memicu kepulan asap harum yang membawa aroma magis kaldu sapi ke seluruh penjuru mal.

Kehadiran Nisa benar-benar mengubah jalannya operasional kios menjadi sangat efisien dan cepat.

Saat Arka selesai menuangkan kuah kaldu ke dalam mangkuk, tangan Nisa dengan sigap langsung mengambil alih.

Nisa menambahkan irisan tomat, taburan daun bawang, dan bawang goreng dengan takaran yang sangat presisi sebelum menyajikannya ke pelanggan.

Trak trak trak.

Suara mesin kasir pintar terus berbunyi setiap kali Nisa menerima pembayaran dengan senyum ramah yang tidak pernah luntur.

Gadis itu sangat teliti, ia bahkan mengingat pesanan ratusan pelanggan tanpa perlu mencatatnya di kertas.

"Potensi bakat delapan puluh lima memang bukan pajangan semata." Batin Arka kagum melihat kinerja asistennya.

Berkat bantuan Nisa, antrean yang sangat panjang bisa dilayani dua kali lebih cepat dari biasanya.

Satu per satu pelanggan duduk di meja pujasera dan mulai menyeruput Sop Buntut Rempah Magis itu.

Slurpp. Nyam.

"Astaga, kuahnya segar sekali dan dagingnya langsung hancur di lidah!" Ucap seorang pekerja kantoran sambil memejamkan mata kegirangan.

Suara rentetan notifikasi kepuasan dari sistem terus berbunyi di kepala Arka seperti melodi yang indah.

[Ding! Pelanggan merasa Sangat Puas!]

[Host mendapatkan 1 Poin Kepuasan.]

Dalam waktu kurang dari dua jam, seluruh persediaan sop buntut yang Arka siapkan untuk makan siang ludes terjual.

"Mas Arka, kita berhasil menjual seratus lima puluh porsi dalam dua jam!" Nisa melompat kecil kegirangan sambil menunjukkan layar kasir.

"Kerja bagus Nisa, kamu memang asisten yang hebat." Arka mengacungkan jempolnya membuat Nisa tersipu malu.

Sementara Arka sedang merayakan kesuksesannya di mal, awan hitam kebencian semakin menebal di restoran bintang lima milik Kevin.

Prang!

Sebuah vas bunga keramik antik hancur berkeping-keping menghantam dinding ruang kerja Kevin.

Dimas berdiri di sudut ruangan dengan tubuh gemetar, ia baru saja melaporkan gagalnya rencana penyogokan di mal.

"Idiot! Kenapa kau bisa sebodoh itu menyuruh preman pasar menyuap manajer mal tepat di bawah hidung Clara?!" Kevin berteriak murka.

"Maafkan saya Tuan Kevin, saya tidak menyangka pihak keamanan mal memiliki kamera tersembunyi di toilet." Dimas mencoba membela diri.

Kevin mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya memburu menahan amarah yang meledak-ledak.

"Aku sudah muak bermain-main dengan taktik rendahan seperti ini." Kevin berjalan mendekati jendela dan menatap ke arah luar.

"Jika kita tidak bisa menghancurkannya dari dalam mal, kita akan menghancurkannya lewat lidah yang paling dipercaya oleh seluruh orang di negara ini."

Dimas mengerutkan keningnya, mencoba memahami arah pembicaraan bos mudanya itu.

"Maksud Tuan Kevin, kita akan menyewa seorang artis untuk memberikan ulasan buruk?" Tanya Dimas ragu.

"Bukan artis bodoh, tapi Bagas Kusuma si Mulut Racun." Jawab Kevin dengan senyum psikopat yang mengerikan.

Mendengar nama Bagas Kusuma, mata Dimas seketika terbelalak ngeri.

Bagas Kusuma adalah kritikus kuliner tingkat nasional yang terkenal sangat kejam dan arogan dalam menilai masakan.

Bagas memiliki acara televisinya sendiri dan jutaan pengikut setia di media sosial yang sangat mempercayai setiap kata-katanya.

Setiap restoran yang mendapatkan ulasan buruk dari Bagas dipastikan akan bangkrut dalam waktu kurang dari sebulan karena kekuatan pengaruhnya.

"Tapi Tuan Kevin, Bagas Kusuma itu sangat mahal dan susah dibujuk, dia tidak akan mau datang ke pujasera mal biasa." Ucap Dimas.

"Gunakan dana darurat perusahaan, bayar dia lima ratus juta rupiah jika perlu asalkan dia mau datang malam ini juga." Kevin memberikan perintah tanpa ragu sedikit pun.

"Katakan padanya ada seorang koki anak bawang yang berani mengklaim masakan sop buntutnya adalah yang terenak di dunia."

Kevin tahu betul bahwa ego Bagas Kusuma sangat tinggi, sang kritikus pasti akan merasa tertantang untuk menghancurkan klaim sombong tersebut.

"Baik Tuan Kevin, saya akan segera menghubungi manajer pribadinya hari ini juga." Dimas membungkuk hormat lalu segera keluar dari ruangan.

"Tamat riwayatmu Arka, bahkan Nona Clara pun tidak akan bisa menyelamatkan reputasimu dari lidah Bagas Kusuma." Kevin tertawa jahat membayangkan kehancuran musuhnya.

Waktu berlalu dengan cepat dan hari berganti menjadi sore menjelang malam.

Arka dan Nisa baru saja selesai menyiapkan bahan-bahan baru untuk sesi penjualan makan malam.

Suasana pujasera mulai kembali ramai didatangi oleh pengunjung mal yang ingin makan malam bersama keluarga.

Tiba-tiba, suasana di pintu masuk area pujasera menjadi sedikit riuh dan berisik.

Beberapa orang pria berbadan kekar yang mengenakan kacamata hitam berjalan membuka jalan menembus kerumunan.

Di belakang mereka, ada dua orang kameramen yang membawa kamera televisi profesional berukuran besar.

Dan di tengah rombongan itu, berdirilah seorang pria paruh baya mengenakan jas sutra berwarna merah maroon yang sangat mencolok.

Pria itu menyisir rambutnya ke belakang dengan klimis dan berjalan dengan gaya yang sangat angkuh layaknya seorang raja.

Para pengunjung mal mulai berbisik-bisik dan menunjuk ke arah pria berjas merah tersebut dengan heboh.

"Astaga, itu kan Bagas Kusuma sang kritikus kuliner yang terkenal kejam itu!" Ucap seorang bapak-bapak dengan kaget.

"Wah mau ada restoran yang dihancurkan lagi nih, kira-kira siapa korbannya kali ini ya?" Sahut pengunjung lainnya penasaran.

Arka yang sedang mengelap meja konternya ikut menoleh ke arah rombongan yang sangat mencolok itu.

Saat itulah sistem di dalam kepalanya kembali memberikan peringatan darurat.

[Ding!]

[Target berbahaya terdeteksi: Bagas Kusuma.]

[Profesi: Kritikus Kuliner Tingkat Nasional.]

[Peringatan: Target memiliki niat permusuhan yang sangat tinggi akibat provokasi eksternal berbayar.]

Arka mengerutkan keningnya membaca layar biru transparan tersebut.

"Jadi si pecundang Kevin itu mencoba menggunakan tangan kritikus nasional untuk menghancurkanku sekarang?" Batin Arka dengan senyum sinis.

Rombongan Bagas Kusuma berjalan lurus dan akhirnya berhenti tepat di depan kios Dapur Arka Absolute.

Nisa langsung sedikit gemetar karena ia sering menonton acara televisi Bagas yang selalu memaki-maki koki dengan kata-kata kasar.

"S-selamat malam Bapak Bagas, selamat datang di Dapur Arka Absolute." Nisa mencoba menyapa dengan sopan meski suaranya bergetar.

Bagas sama sekali tidak membalas sapaan gadis itu dan justru menatap etalase gerobak Arka dengan tatapan merendahkan.

"Jadi ini tempat kumuh yang berani mengklaim punya sop buntut terenak di dunia?" Suara Bagas terdengar berat dan sangat arogan.

"Pencahayaannya norak dan desainnya terlalu menyolok, ini sama sekali tidak memenuhi standar kuliner kelas atas." Bagas mulai mengkritik bahkan sebelum mencicipi makanannya.

Kamera langsung menyorot wajah Bagas dan konter Arka secara bergantian untuk menangkap momen dramatis tersebut.

Arka berjalan maju ke depan konter dengan santai, sama sekali tidak terintimidasi oleh aura sang kritikus.

"Selamat malam Tuan Kritikus, desain menyolok ini adalah ciri khas masakan berani yang tidak akan pernah Anda temukan di restoran mewah yang membosankan." Arka menjawab dengan senyum tajam.

Mata Bagas sedikit menyipit karena jarang sekali ada koki muda yang berani menjawab balik kritikan pedasnya di depan kamera.

"Banyak bicara, koki murahan selalu punya seribu alasan untuk menutupi kekurangan rasa masakannya." Bagas mendengus kasar sambil melipat tangannya di dada.

"Keluarkan satu porsi menu andalanmu, dan jika rasanya seperti kotoran, aku akan memastikan kiosmu ini ditutup selamanya oleh publik." Ancaman Bagas menggema memicu ketegangan di area pujasera.

Para pengunjung mal langsung mengerumuni area itu untuk menonton pertunjukan siaran langsung yang sangat menegangkan ini dari dekat.

Nisa menatap Arka dengan pandangan sangat khawatir, takut bosnya akan dipermalukan di televisi nasional.

Namun Arka hanya tertawa kecil menanggapi ancaman kosong dari kritikus bayaran tersebut.

"Baiklah, satu porsi Sop Buntut Rempah Magis akan segera siap untuk menampar kesombongan lidah Anda." Balas Arka tanpa rasa takut sedikit pun sambil memutar tuas kompor gasnya.

Wushhh!

Api biru menyala besar menyambut dimulainya pertarungan kuliner yang sesungguhnya malam itu.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!