NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Api unggun di depan gubuk menyala kecil. Warok duduk bersila sambil mengiris sepotong kayu dengan belati pendeknya.

Jangkrik memperhatikan sekeliling. Tempat itu mendadak sepi. Bahkan suara jangkrik malam ini terasa lebih sedikit dari biasanya.

"Warok."

"Hm?"

"Kalau dia datang saat kita lengah, kenapa kita justru menunggu di luar?"

Warok tersenyum tipis. "Karena kita memang sedang berpura-pura lengah."

Jangkrik mengernyit. "Benarkah?"

Warok tidak menjawab. Ia justru melempar potongan kayu yang sedang diukirnya ke dalam api.

Brak!

Api memercik.

"Jangkrik."

"Ya?"

"Mulai malam ini, jangan percaya pada apa yang kau lihat."

"Maksudmu?"

"Percaya pada telingamu. Kalau telinga dan matamu bertentangan, pilih telingamu."

Jangkrik mengangguk pelan.

Beberapa saat kemudian Warok bangkit. "Ayo masuk."

Mereka masuk ke dalam gubuk. Warok merebahkan tubuhnya di atas balai bambu. Tak lama kemudian, dengkurnya terdengar memenuhi ruangan.

Jangkrik melirik. "Benarkah dia tidur?" Batinnya.

Ia tidak berani bertanya. Ia memilih duduk bersandar di dinding, memejamkan mata, dan mendengarkan.

Angin. Daun. Ranting. Burung hantu. Semuanya terdengar jelas.

Waktu berlalu. Satu jam. Dua jam.

Tiba-tiba...

Krek...

Terdengar suara yang sangat halus. Bukan dari depan, bukan pula dari samping, melainkan dari atas atap.

Mata Jangkrik langsung terbuka. Ia tidak bergerak, hanya mendengarkan.

Krek...

Ada seseorang sedang berjalan di atas genting ilalang. Sangat ringan dan penuh kehati-hatian.

Jangkrik perlahan melirik ke arah Warok. Dengkuran itu masih terdengar. Namun, tanpa membuka mata, Warok mengangkat satu jari: *

"Jangan bergerak."

Jangkrik mengerti.

Beberapa helai jerami di atap bergeser.

Sret...

Lalu, sebuah lubang kecil terbuka. Dari celah itu, perlahan turun seutas benang hitam yang sangat tipis. Di ujungnya tergantung jarum sepanjang jari kelingking. Jarum itu turun perlahan, tepat menuju leher Warok.

Jangkrik menahan napas. Sedikit lagi... sedikit lagi...

Saat ujung jarum tinggal sejengkal dari kulit Warok—

Settt...

Warok membuka mata dan langsung menjepit jarum itu dengan dua jari secara tenang, hanya dalam satu gerakan. Dengkuran pun terhenti. Suasana seketika terasa mencekam.

Warok memandang jarum itu beberapa saat, lalu tersenyum. "Jarum Gagak. Sudah lama aku tidak melihatnya."

Di atas atap, seseorang langsung melompat mundur.

Duk!

Warok lebih cepat. Tubuhnya melesat keluar gubuk seperti anak panah.

Brak!

Atap bambu jebol diterjang tubuh besarnya. Jangkrik ikut berlari keluar.

Di bawah cahaya rembulan, sosok berpakaian serba hitam berdiri tegap di atas dahan pohon jati. Tubuhnya ramping dan wajahnya tertutup kain hitam. Hanya kedua matanya yang tampak—dingin tanpa emosi. Di bahu kirinya bertengger seekor gagak hitam.

Warok memutar goloknya perlahan. "Akhirnya kau datang."

Orang berpakaian hitam itu tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada Jangkrik.

"Jadi... inilah bocah yang kau pelihara," ucapnya tenang, hampir menyerupai bisikan.

Warok melangkah satu langkah ke depan. "Kalau ingin bicara, turun."

Pria berjubah hitam menggeleng pelan. "Aku tidak datang untuk bertarung."

"Tidak?"

"Aku hanya ingin memastikan kabar itu benar."

"Kabar apa?"

Bahunya bergerak pelan saat gagak hitam itu mengepakkan sayap. "Bahwa Sang Warok akhirnya menerima seorang murid."

Jangkrik menggenggam pisau lemparnya. Instingnya menegaskan bahwa orang ini jauh lebih berbahaya daripada tiga pria yang pernah menghadang mereka.

Pria berjubah hitam menatap Jangkrik beberapa saat, kemudian tersenyum tipis di balik kain penutup wajahnya.

"Rawat dia baik-baik, Warok. Jangan sampai mati terlalu cepat. Sebab, kelak kami sendiri yang akan mengambil nyawanya."

Kalimat itu membuat mata Jangkrik menyipit tajam. Belum sempat ia melempar pisaunya, sosok berjubah hitam itu sudah melompat mundur. Bersamaan dengan itu, tiga ekor gagak hitam terbang keluar dari balik pepohonan, menutupi pandangan sesaat.

Ketika burung-burung itu terbang menjauh, sosok misterius tersebut telah lenyap tanpa jejak.

Jangkrik langsung hendak mengejar, namun Warok menahannya. "Berhenti."

"Tapi dia kabur!"

Warok menggeleng. "Itulah yang dia inginkan."

Jangkrik menghentikan langkahnya. Warok lalu memungut jarum hitam yang tadi dijepitnya. Di ujung jarum itu terdapat cairan hitam pekat. Warok mengendusnya sebentar, lalu sorot matanya berubah.

"Celaka..."

Jangkrik menoleh. "Ada apa?"

Warok mengepalkan tangan yang menggenggam jarum itu. "Ini bukan sekadar kunjungan biasa."

"Lalu?"

Warok memandang ke arah barat, tempat sosok berjubah hitam tadi menghilang. "Dalam tiga hari, akan ada yang datang mencariku. Dan orang itu jauh lebih kuat daripada Gagak Kelima."

Warok tetap memandangi arah barat. Jarum hitam itu masih berada di sela-sela jemarinya. Jangkrik melangkah mendekat.

"Gagak Kelima?"

Warok mengangguk pelan. "Kelompok Gagak Hitam tidak bergerak sendiri. Mereka memiliki tingkatan. Yang tadi hanyalah Gagak Kelima."

Jangkrik mengernyit. "Hanya?"

Warok menoleh. "Kalau yang datang tadi benar-benar ingin membunuhmu, kau sudah mati bahkan sebelum sempat bangun dari balai bambu."

Jangkrik mengepalkan tangannya. "Aku tidak merasa selemah itu."

Warok tidak membantah. Ia justru melempar jarum hitam itu ke batang jati di dekat mereka.

Tak!

Beberapa detik berlalu. Perlahan, batang jati itu mengeluarkan asap tipis. Kulit kayunya berubah kehitaman.

Krek...

Permukaan kayu retak dan membusuk di sekitar bekas tusukan. Jangkrik membelalakkan mata.

"Racun..."

"Bukan racun biasa," jawab Warok. "Namanya Racun Gagak Malam. Sedikit saja masuk ke aliran darah, otot akan lumpuh. Beberapa saat kemudian jantung berhenti."

Jangkrik menatap batang jati itu lama. "Kalau tadi jarum itu mengenai lehermu..."

Warok tersenyum tipis. "Aku masih punya cara untuk bertahan. Tapi kau?" Warok menggeleng pelan. "Kau belum."

Suasana kembali sepi. Hanya suara api yang sesekali berderak.

Beberapa saat kemudian Warok berkata, "Besok kita pindah."

Jangkrik terkejut. "Meninggalkan gubuk?"

"Ya."

"Kenapa?"

Warok menghela napas. "Karena tempat ini sudah diketahui. Kalau mereka bisa mengirim Gagak Kelima, berarti mereka juga bisa mengirim yang lain."

Jangkrik memandang gubuk bambu itu. Tempat yang selama bertahun-tahun menjadi neraka sekaligus rumah baginya. Aneh, ia tidak menyangka suatu hari akan meninggalkannya.

Warok melangkah masuk ke dalam gubuk. Ia mengambil sebuah peti kayu tua yang selama ini tidak pernah dibuka di depan Jangkrik. Peti itu panjang, kayunya menghitam dimakan usia.

Warok membuka penguncinya.

Klik.

Di dalamnya hanya ada tiga benda: seutas cambuk tua yang warnanya jauh lebih kusam daripada Samandiman, sebilah keris pendek berluk tujuh, dan selembar kain lusuh bergambar kepala harimau.

Jangkrik memandanginya dengan heran. "Warok, itu apa?"

Warok mengangkat keris itu perlahan. "Keris ini milik guruku." Kemudian ia menyentuh kain bergambar harimau. "Sedangkan ini... adalah panji perguruanku."

Jangkrik terdiam. Selama ini Warok hampir tidak pernah bercerita tentang masa lalunya.

Warok mengangkat peti itu ke pundaknya. "Beristirahatlah. Besok perjalanan kita panjang."

Jangkrik mengangguk. Namun ketika ia hendak masuk ke dalam gubuk, telinganya menangkap sesuatu. Sangat jauh, sangat samar.

Suara kepakan sayap. Bukan satu, bukan dua, melainkan puluhan.

Jangkrik langsung menoleh ke langit malam. Yang tampak hanya rembulan yang tertutup awan.

"Warok... aku mendengar sesuatu."

Warok tidak ikut mendongak. "Aku juga."

"Apa mereka kembali?"

Warok menggeleng. "Bukan. Itu hanya utusan."

"Utusan?"

Warok menatap gelapnya langit. "Besok pagi, seluruh dunia persilatan di tanah Mataram akan tahu bahwa Sang Warok memiliki seorang murid."

Jangkrik merasakan hawa dingin merambat di tengkuknya. Ia belum memahami arti ucapan itu, namun satu hal mulai disadarinya: mulai hari ini, ia bukan lagi bocah tanpa nama yang bersembunyi di Pegunungan Sewu. Namanya telah masuk ke dalam permainan para monster dunia persilatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!