NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Belum Pulih

Malam pertama di gubuk kayu reyot itu terasa sangat panjang bagi keluarga kecil

yang terusir dari klan utama.

Sambil merapatkan selimut tipis berlubang ke dada suaminya, seorang wanita

mencoba merapikan jerami yang menjadi alas tidur mereka. "Cobalah untuk tidur,

Hao," bisik Mu Xue mengusap kening Luo Hao yang terasa panas akibat

demam.

Dengan suara lirih dan serak, pria yang kini tidak lagi memiliki kekuatan itu

menatap kegelapan di atas langit-langit gubuk. "Tempat ini... sangat dingin

untukmu dan Chen'er. Aku benar-benar tidak berguna sekarang."

"Jangan berbicara seperti itu," sahut Mu Xue menarik Luo Chen ke dalam

pelukannya untuk membagi kehangatan tubuh mereka yang tersisa. "Kita masih

hidup, dan itu adalah hal yang paling penting saat ini."

Beberapa bulan bergulir dengan lambat di kaki Gunung Tiga Jari, membawa

penderitaan yang semakin nyata bagi keluarga tersebut. Tabungan koin emas yang

mereka bawa dari kediaman utama habis dalam waktu singkat demi membeli

obat-obatan pereda nyeri untuk jalur meridian Luo Hao yang rusak.

Dari arah luar gubuk, kepulan asap tipis dari tungku tanah liat mulai membubung

tinggi setiap pagi hari.

Sambil membawa sebaskom besar pakaian kotor milik warga Desa Yin Yang, Mu Xue

melangkah menuju ke sungai kecil di pinggiran hutan dengan tangan yang mulai

mengeras dan memerah akibat detergen murah. "Aku pergi mencuci dulu, Chen'er.

Jaga ayahmu baik-baik di rumah," ujarnya berpamitan pada putranya yang

berdiri di ambang pintu gubuk.

"Iya, Ibu," jawab Luo Chen membawa sebuah ember kayu kecil, berniat

membantu mengambilkan air bersih dari sumur desa yang berjarak seratus meter

dari rumah mereka.

Di pinggiran sungai desa yang berbatu, beberapa anak laki-laki setempat yang

bertubuh lebih besar tampak sedang melempar kerikil ke dalam air.

"Lihat, anak si sampah lumpuh dari gunung datang!" teriak seorang anak laki-laki

bertubuh gempal yang dikenal sebagai Hu San menunjuk ke arah kedatangan

Luo Chen. "Hei, anak buangan! Apakah ayahmu hari ini masih mengompol di atas

ranjangnya?"

"Jangan mendekatinya, Hu San," sahut temannya yang bertubuh kurus dengan tawa

mengejek yang keras. "Nanti kau bisa tertular penyakit lumpuhnya. Kudengar

ayahnya adalah sampah klan yang diusir karena kalah bertarung."

Dengan tenang, anak berusia enam tahun itu terus berjalan melewati mereka tanpa

mengalihkan pandangan dari ember kayunya. Ia tidak membalas ejekan tersebut,

juga tidak menunjukkan kemarahan di wajahnya yang bersih, hanya terus melangkah

dengan ritme kaki yang konstan.

Satu dorongan keras mendarat di bahu kanan Luo Chen hingga membuatnya terhuyung

dan menjatuhkan ember kayunya ke atas tanah berlumpur. "Kenapa kau diam saja,

hah?" tanya Hu San berdiri menghalangi jalan anak itu dengan tangan

bersilang di dada. "Kudengar kau dulu adalah tuan muda di kota. Tunjukkan pada

kami bagaimana gaya seorang tuan muda klan Luo saat marah!"

"Permisi, aku harus mengambil air untuk ayahku," ujar Luo Chen dengan suara

pelan dan datar membungkuk untuk memungut ember kayunya yang kotor

terkena lumpur.

"Ambil air ini saja!" teriak Hu San menendang ember kayu tersebut hingga

menggelinding masuk ke dalam sungai yang mengalir deras. "Keluarga sampah

sepertimu tidak pantas menggunakan sumur desa!"

Sambil berdiri dan menatap ember kayunya yang perlahan hanyut terbawa arus

sungai, Luo Chen menarik napas panjang tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia

membalikkan tubuhnya dan memutuskan untuk kembali ke gubuk tanpa air,

mengabaikan sorakan kemenangan dari kelompok anak-anak desa yang terus

melemparinya dengan lumpur kering dari belakang.

Dua jam setelah kejadian di sungai, Luo Chen tiba di halaman gubuknya yang sepi,

namun langkah kakinya mendadak terhenti di dekat jendela kayu yang terbuka

lebar.

Suara pecahan tembikar terdengar nyaring dari dalam ruangan gubuk, disusul

dengan aroma arak murah yang menyengat hidung.

"Hentikan, Hao!" teriak Mu Xue dengan suara yang serak karena menangis, mencoba

merebut sebuah botol arak tanah liat dari tangan suaminya. "Kau terus meminum

racun murah ini setiap hari! Uang dari hasil mencuci pakaian warga hanya cukup

untuk membeli beras, bukan untuk mendanai kecanduanmu!"

"Lalu apa yang harus kulakukan, Mu Xue?" balas Luo Hao dengan teriakan yang

penuh keputusasaan dengan memukuli ranjang kayunya menggunakan tangan kanan yang

gemetar tanpa tenaga. "Aku hanya seonggok daging tak berguna di atas ranjang

ini! Setiap kali aku menutup mata, aku melihat wajah Luo Jun dan jarum ungu

sialan itu hancur dalam kepalaku!"

"Tetapi kau masih memiliki aku dan Chen'er!" pekik Mu Xue menyembunyikan

wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang kasar, bahunya naik turun dengan

cepat akibat tangisan yang tertahan. "Apakah kau ingin melihat putramu tumbuh

besar tanpa seorang ayah yang peduli pada masa depannya?"

Sambil melangkah masuk ke dalam gubuk dengan perlahan, Luo Chen menutup pintu

kayu reyot di belakangnya sebelum berjalan mendekati ranjang kedua orang tuanya.

"Jangan bertengkar lagi, Ibu... Ayah..." bisik Luo Chen memeluk lutut

ibunya yang masih berlutut di atas lantai tanah yang dingin.

Dengan napas terengah-engah dan mata yang memerah akibat pengaruh alkohol, Luo

Hao menatap putranya dengan pandangan yang kosong dan penuh rasa bersalah yang

mendalam. "Chen'er... maafkan ayahmu yang tidak berguna ini..."

"Ibu, jangan menangis lagi," ujar Luo Chen menyeka air mata di pipi

ibunya menggunakan lengan bajunya yang kasar. "Aku berjanji akan berlatih keras

setiap hari di hutan. Kelak, aku pasti akan membalaskan dendam Ayah kepada Luo

Jun!"

Mendengar nama tersebut diucapkan oleh putranya yang baru berusia enam tahun,

tubuh Luo Hao mendadak kaku dengan mata yang melebar penuh kengerian. "Apa yang

kau katakan?" tanyanya dengan suara yang mendadak meninggi dan bergetar hebat.

"Aku akan membalas dendam kepada Luo Jun," ulang Luo Chen dengan pandangan mata

yang lurus dan tegas, penuh dengan tekad yang tidak goyah.

"Jangan pernah sebut nama itu lagi!" teriak Luo Hao dengan kemarahan yang

meluap-luap, wajahnya memerah padam hingga urat-urat di keningnya menonjol

keras. "Kau hanyalah anak kecil! Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia kultivasi!

Menyebut namanya hanya akan membawa kematian bagi kita semua!"

Suara pecahan botol arak kembali terdengar keras saat Luo Hao menyapu sisa botol

tanah liat di samping ranjangnya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai,

serpihan tajamnya hampir mengenai kaki kecil putranya.

"Pergi dari sini! Jangan pedulikan aku !" teriak Luo Hao

menunjuk ke arah pintu luar dengan tangan yang bergetar hebat. "Jangan pernah

kembali ke gubuk ini sebelum kau melupakan nama bajingan itu!"

Sambil menatap ayahnya yang masih mengamuk di atas ranjang, Luo Chen merasakan

matanya mulai memanas dan berair. Ia melepaskan pelukannya pada ibunya, berbalik

arah dengan cepat, dan berlari keluar melewati pintu gubuk yang terbuka lebar.

Langkah kaki kecil Luo Chen bergerak cepat menerobos rimbunnya semak-semak liar di belakang gubuk, masuk semakin dalam ke dalam hutan lebat yang terletak di kaki Gunung Tiga Jari. Air mata mengalir deras di pipinya saat ia terus berlari tanpa arah, mengabaikan duri-duri semak yang sesekali menggores lengan dan kakinya yang telanjang.

Hingga akhirnya, anak laki-laki itu jatuh terduduk di bawah sebuah pohon bambu besar yang rindang, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya seraya menangis dengan suara yang teredam di tengah kesunyian hutan yang dingin.

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!