Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Sosok bayangan hitam akhirnya muncul di ambang pintu lorong. Tubuhnya tinggi menjulang, dengan rambut panjang terurai hingga menyentuh lantai yang menutupi seluruh wajahnya. Ia mengenakan pakaian putih kumal yang mengeluarkan bau busuk kaya bangkai. Dari sela-sela rambutnya yang kusut, terlihat satu mata melot. berwarna putih. Tanpa ada warna hitam sama sekali.
Jari makhluk itu terangkat, menunjuk langsung ke arah Anya. "Akhirnya..." suaranya berbisik serak, terdengar seperti pita suara yang robek dipaksakan. "Kau mendengarku..."
Tanpa membuang waktu, Bu Mimi langsung menyambar ember berisi sisa air yang telah dibacakan surat Yasin sebanyak tiga kali, lalu menyiramkannya sekuat tenaga ke arah sosok tersebut.
"AAAAAGGGGHHHH!!!!"
Jeritan melengking seperti daging yang disiram air keras menggema, membuat bulu kuduk meremang. Kaca jendela kos sampai bergetar. Bayangan itu mundur ke belakang. Asap putih tebal mulai mengepul dari tubuhnya.
"Keluar kau dari rumah ini! Dengan nama Allah, aku usir kau!" seru Bu Mimi sambil merangsek maju.
Makhluk itu mendadak menengok. Kepalanya berputar patah-patah hingga miring 90 derajat. Bibirnya perlahan menarik senyuman lebar yang mengerikan, memamerkan deretan gigi runcing berwarna hitam.
"Kalau aku tak mau pergi..." bisiknya. Suaranya tiba-tiba terdengar tepat di belakang telinga mereka semua.
Seketika mereka berbalik. Sosok itu sudah berdiri di tengah-tengah ruang tamu, hanya berjarak dua meter dari tempat Anya berada. "Dia ikut aku selamanya..."
Tangan makhluk itu terangkat tinggi. Jari-jarinya yang panjang hitam meruncing teracung tepat ke arah leher Anya. Bekas memar yang kini kian menghitam.
Anya mendadak lemas, dadanya terasa sesak. Melihat hal itu, Serra langsung pasang badan. berdiri di depan Anya. "Jangan sentuh dia!"
Ujung jari makhluk itu sempat menyambar pipi Serra. Seketika, tiga garis merah melintang muncul di wajah Serra. mengucurkan darah segar.
"SERRA!!" teriak Anya menjerit panik.
Bu Mimi tidak berpikir panjang lagi. Ia langsung mendekap tubuh Anya erat-erat sambil melafalkan Surat Al-Falaq sekeras-kerasnya. Tio menyusul dengan Ayat Kursi yang kian lantang, sementara Wulan dan Tari yang menangis histeris ikut merapalkan doa seadanya. Ruang tamu itu mendadak bising oleh perpaduan doa, jeritan ketakutan, dan deru angin dari luar.
Bayangan itu sempat terkekeh sinis. 'Hehe...' Namun seiring dengan semakin kuatnya lantunan doa yang menggema, tubuh makhluk itu mulai kejang-kejang. Ia tampak kesakitan, seolah terbakar hebat dari dalam.
"Bakar dia! Siram air doanya lagi!" komando Bu Mimi.
Tio dengan sisa tenaganya langsung menyambar dan menyiramkan isi ember terakhir tepat ke arah makhluk tersebut.
SSSSSSSS!!!
Asap putih pekat seketika mengepul memenuhi ruangan, membawa bau gosong yang sangat menyengat mata. Sebelum benar-benar menghilang, makhluk itu menatap Anya untuk terakhir kalinya. Dari matanya yang putih bersih, mengalir tetesan darah segar.
"Bukan sekarang..." bisiknya parau. "Nanti... kita ketemu lagi..."
BOOOOM!!!
Lampu kos tiba-tiba mati total. Gelap pekat melanda. Terdengar suara pusaran angin yang kuat seperti ada sesuatu yang menyedot ke atas menuju lubang angin.
Beberapa saat kemudian, lampu kembali menyala secara otomatis. Klek.
Lorong dan kamar mandi luar kini tampak kosong dan kering. Tulisan merah di dinding telah lenyap tanpa bekas, hanya menyisakan noda gosong kehitaman. Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara deru napas mereka yang terengah-engah dan kacau.
Serra terduduk lemas di lantai sambil memegangi pipinya yang terluka. "Nya... kamu tidak apa-apa?"
Anya yang tubuhnya gemetar hebat hanya mengangguk pelan. Memar di lehernya masih terasa sangat panas dan berdenyut-denyut.
Bu Mimi terduduk lemas di lantai tikar sambil mengusap keringat dingin di dahinya. "Dia belum benar-benar pergi. Dia masih mengintai di sekitar sini," kata Bu Mimi dengan suara berat sambil menatap Anya.
Beliau langsung bergerak cepat mengambil kendali. "Semuanya bangun! Kunci kembali semua pintu dan pastikan dobel! Tutup semua jendela, jangan sampai ada gorden yang terbuka sedikit pun! Besok subuh kita langsung pergi ke tempat Ustadz. Malam ini, tidak ada satu pun yang boleh tidur terpisah. Kita jaga bergantian."
Mereka bergerak cepat. Tio buru-buru memastikan kembali gerendel pintu depan. Klek. Krek. Wulan dan Tari menutup jendela ruang tamu dengan tangan yang masih gemetar hebat hingga gagangnya berbunyi berisik.
Sementara itu, Serra ditarik oleh Anya untuk berdiri menuju ke tengah ruangan. Darah di pipi Serra sudah dibersihkan seadanya menggunakan tisu basah. "Ayo Nya, kita ke tengah. Jangan dekat-dekat dengan dinding."
Mereka menggelar tikar di tengah-tengah ruang tamu. Kelimanya duduk melingkar dengan sangat rapat hingga bahu mereka saling bersentuhan satu sama lain, mencari rasa aman. Bu Mimi duduk di bagian tengah lingkaran sambil memegang Al-Qur'an kecil dan sebotol air doa yang tersisa.
"Kita bagi giliran jaga," kata Bu Mimi pelan namun tegas. "Dua jam sekali ganti. Yang mendapat giliran jaga harus tetap duduk tegak dan melafalkan zikir. Yang lain boleh istirahat, tapi tetap jangan sampai lengah."
Bu Mimi mulai melantunkan surat Yasin dengan suara lirih yang konsisten, sementara Tio komat-kamit membaca Ayat Kursi tanpa berani melepaskan pandangannya dari arah lorong kamar mandi.
Di luar, hujan justru turun semakin deras. Serra kini mengambil posisi duduk paling depan, memposisikan badannya sebagai tameng hidup untuk melindungi Anya yang berada disampingnya. Tangan mereka berdua masih saling menggenggam dibawah selimut tipis. Anya memejamkan mata erat-erat, tapi ia sama sekali tidak bisa tidur, bayangan mata putih makhluk itu terus terbayang di benaknya.
"Takut, ya?" bisik Serra pelan, memastikan keadaan temannya.
Anya mengangguk kecil dengan bibir bergetar. "Leherku rasanya panas sekali, Ra."
Serra segera menyentuh tengkuk Anya untuk mengeceknya, namun anehnya kulit Anya justru terasa sedingin es. "Istigfar terus, Nya. Kita pasti kuat melewati malam ini."
Di luar sana, hujan badai semakin menggila diselingi suara petir yang menggelegar menyambar-nyambar. Di sela-sela gemuruh hujan, tiba-tiba terdengar suara lain yang sangat tipis dan menyedihkan. Suara seorang perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Hiks... hiks... Temani aku..."
Suara tangisan rintihan itu terdengar bergerak memutari rumah; mulai dari arah halaman depan, berpindah ke belakang, lalu bergeser ke samping jendela.
Bu Mimi yang mendengar hal itu langsung kembali terjaga. Beliau berdiri dan memercikkan air doa ke empat sudut ruangan sekali lagi. "Allahu Akbar! Pergi kau!" bentak beliau.
Suara tangisan itu seketika terhenti. Namun beberapa detik kemudian, suara itu berubah menjadi lengkingan tawa yang dingin. Hehe... hehehe... Suara tawa itu perlahan menjauh, bergema di luar sana.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?